Kontemplasi : HASTAG (15)

Rabu, 09 Januari 2013


#SayaJurnalisbukanPencariIklan
Surat terbuka seorang kawan.

Siang ini saya membaca surat terbuka yang ditulis seorang kawan untuk pabrik berita tempat dimana dia dulu bekerja. Dalam surat itu dia menuliskan alasan harus meninggalkan (keluar) dari tempat kerja yang sangat dicintai lantara praktek kerja yang menciderai prinsip dasar dari kerja produksi berita. “Saya Jurnalis bukan Pencari Iklan” demikian dia menjuduli surat terbukanya.

Surat itu sesungguhnya berisi pergulatan dari seseorang yang mencoba mempertahankan filosofi kerja seorang jurnalis. Jurnalis adalah pemburu berita, mencari dan menulis apa yang perlu diberitakan dan dibutuhkan oleh konsumen berita. Sebuah pekerjaan yang sebenarnya kian sulit saat ini ketika kantor berita dan media-media tumbuh menjadi industri untuk menghasilkan laba.

Pada industri media yang sudah mapan, barangkali reporter atau jurnalisnya bisa berkonsentrasi penuh untuk menghasilkan berita terbaik, berita yang sesuai dengan proyeksi pemberitaan tanpa dicampuri urusan untuk ikut ‘menghidupi’ perusahaan. Tapi jumlahnya tak banyak.

Kebanyakan media masih menempatkan awak pemberitaan dengan tugas-tugas tambahan yang bahkan kemudian menjadi tugas utama, yaitu mencari ‘klien’ pemasang berita dengan bayaran atau barter pembelian (koran atau majalah). Bukan rahasia lagi kalau banyak media hidup karena halaman (air time) kontrak. Yang semestinya diperlakukan sebagai halaman advetorial, namun karena rutin maka tak lagi ada ‘pagar api’. Halaman advetorial diperlakukan sama dengan pemberitaan biasa.

Lalu apa bedanya jurnalis dengan marketing kalau demikian, gugat kawan yang menulis surat terbuka tadi. Perusahaan justru memakai jurnalis untuk sekaligus bertindak sebagai marketing karena posisi jurnalis lebih menguntungkan dihadapan calon klien. Jurnalis bisa mempunyai daya tawar, posisi yang menekan dan kelebihan lainnya dibandingkan dengan marketing biasa. Memberdayakan jurnalis sebagai pencari iklan ibarat satu kali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Dalam pengelolaan perusahaan atau usaha praktek semacam ini bisa dianggap sebagai efisiensi, baik dari sisi keuangan maupun jumlah personel. Namun dari sisi filosofis dan etika jurnalisme, praktek ini adalah pengingkaran terhadap martabat dan kerja seorang jurnalis. Jurnalis sebagaimana guru, pengajar, dokter, ulama adalah profesi yang berdasarkan panggilan, pengabdian untuk meningkatkan martabat dan harkat manusia, bukan untuk mengeruk keuntungan, menjadi mesin dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

Kreatifitas kerja seorang jurnalis bukan pada menghasilkan berita yang memberi pemasukan bagi perusahaan secara langsung, melainkan berita yang membuat orang loyal (konsumen media) dan akan terus mengakses pemberitaan. Loyalitas konsumen media pada gilirannya akan meningkatkan oplah dan potensi atau daya tawar media untuk para pemasang iklan. Jadi jurnalis bukanlah pencari iklan, melainkan lewat kerjanya membuat media menjadi terpercaya sehingga akan jadi pilihan pembaca juga pemasang iklan.

Maka saya memahami kegelisahan kawan yang akhirnya lebih memilih keluar dari pabrik berita tempatnya bekerja. Yang meski disesali karena keluar tidak dalam keadaan ‘baik-baik’ namun tentu saja akan melegakan dirinya, tidak membuat dirinya berada dalam persimpangan, pertentangan batin setiap hari. Apahalnya yang membuat sebuah badan usaha menilai kinerja jurnalis yang salah satunya adalah berdasar pada berapa income yang dihasilkan olehnya dari pemasang iklan dan berita?. 

Padahal para awak media, mulai dari level teratas hingga ke bawah pasti akan paham kalau jurnalis tidak boleh diintervensi dan dibebani kerja-kerja yang tak ada kaitannya dengan profesinya sebagai pencari dan penulis berita.

Saya yakin yang berada dalam persimpangan bukan hanya kawan saya tadi melainkan banyak juga jurnalis-jurnalis lainnya. Banyak orang menyuarakan kebenaran, mengenali ketidakbenaran namun ketika mempunyai dampak membahayakan karir, masa depan, pendapatan dan hal-hal lainnya maka lebih memilih untuk diam, menyimpan dalam hati, bergunjing di belakang sambil berharap keadaan akan berubah. Namun jika tidak perlahan-lahan mereka akan melakukan pemakluman, mencari alasan pembenaran untuk larut di dalamnya.

Namun kawan saya ini tidak memilih untuk diam, melainkan bersuara dan bertindak. Ketika semua yang disuarakan tidak mendapat tanggapan dan keadaan masih bertahan pada posisi yang menurutnya tidak sesuai, maka dia memilih untuk keluar. Keluar agar tidak menjadi bagian dari praktek yang menciderai nilai-nilai luhur dari profesinya.

Menjaga integritas memang bukan pekerjaan dan perjuangan yang mudah. Kukuh mempertahankan integritas banyak kali bermakna kita harus siap terpental dan bukan dikenang sebagai pemenang. Tapi integritas memang bukan soal menang atau kalah, melainkan berjalan dalam keselarasan antara nilai dan tindakan. Integritas tidak dikenali oleh orang lain melainkan pertama-tama oleh dirinya sendiri. Dan sesungguhnya banyak orang ‘kecil’ kukuh mempertahankan dan menjaga integritas dirinya tanpa harus memasang baliho besar dan berkoar-koar tentang pakta integritas.

Pondok Wiraguna, 10 Januari 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum