Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (32)

Jumat, 28 September 2012

Antara Antri IPAD dan Bensin

Ketika masih duduk di bangku sekolah, libur kenaikan kelas adalah sebuah kegembiraan yang tidak terkira. Sebulan penuh tak akan duduk di bangku sekolah, bangun pagi, mandi dalam dingin, cepat-cepat sarapan agar tak terlambat datang ke sekolah. Saya biasa memanfaatkan waktu liburan secara maksimal dengan berlibur ke rumah nenek yang berjarak kurang lebih 10 kilo meter dari tempat tinggal saya. Jarak yang tidak jauh tapi karena kontur geografi dan minimnya angkutan ke sana, maka menempuh jarak itu adalah perjuangan. Sampai dengan kelas 6 SD, perjalanan ke rumah nenek saya separuhnya ditempuh dengan berjalan kaki, menapaki bebukitan dengan jalan berbatu dan disana-sini bercampur dengan tanah liat yang licin di kala hujan.

Perjalanan itu tak mungkin ditempuh tanpa istirahat, sebab banyak bawaan yang menyertai perjalanan itu. Yang terberat tentu saja satu buah jerigen berisi minyak tanah mengingat jaman itu listrik belum sampai kesana. Peristirahatan pertama adalah kilang penyulingan daun cengkeh. Air buangan yang ada di kolam limbah adalah parem yang dahsyat untuk mengurut kaki yang cenat-cenut karena pegal. Harum sulingan cengkeh membuat hidung kembali terasa lega bernafas dan siap kembali menempuh perjalanan yang masih jauh ke depan.

Peristirahatan kedua adalah warung Mbah Tilah, warung sederhana sebelum tanjakan Kalikotak yang dahsyat. Tanjakan yang tinggi, dikanan kiri adalah jurang lalu melewati sungai dan persis diujung jembatan ada belokkan yang juga menanjak. Kelak ketika jalan mulai diaspal, di daerah ini kerap terjadi kecelakaan karena mobil tak kuat menaiki tanjakkan hingga mundur dan berakhir di jurang.

Di warung Mbah Tilah biasanya saya minum limun untuk mengusir kehausan. Terkadang terasa lapar, tapi kalau makan dan kenyang maka pasti malas berjalan. Jadi untuk menganjal perut kalau tidak makan geblek panas, Mbah Tilah biasanya juga menyajikan tempe koro bacem. Tempe yang khas dan tak banyak orang membuatnya.

Ketika sudah mencapai warung Mbah Tilah, rumah nenek terasa sudah dekat meski sebenarnya masih cukup jauh. Limun dan tempe koro bengguk Mbah Tilah memacu semangat untuk cepat melangkah agar tidak terlalu sore tiba di rumah nenek. Jika terlalu sore maka badan akan mengigil ketika nenek memaksa mandi.

Tapi sebenarnya perjalanan ke rumah nenek tidak selalu harus seseru dan sesusah itu, terkadang jika bertepatan waktu atau bisa memberi kabar lebih dahulu, Pak Lik atau Pak De atau orang suruhannya akan menjemput di dekat kantor kecamatan, tempat terakhir kendaraan angkutan dengan kuda. Saya selalu bersorak jika dijemput dengan kuda, karena dengan cepat segera akan sampai ke rumah nenek.

Entah berapa umur nenek saya saat itu, yang pasti sudah sangat tua karena mulai terlihat gejala pikunnya. Nenek terkadang salah bumbu atau minyak saat memasak. Tak heran berkali-kali saya merasa makanan yang disajikan nenek beraroma dan berasa minyak tanah. Di luar urusan nenek yang mulai sedikit pikun, liburan di sana terasa sangat menyenangkan. Ada satu kebiasaan baik di rumah nenek, disaat sore hari sehabis mandi, semua akan berkumpul di ruang tengah untuk menikmati minum teh sore. Teh diseduh kental dan diminum ditemani kue, gorangan atau serpihan gula aren.

Disaat lega seperti itu nenek biasanya bercerita atau memberi nasehat kepada cucu-cucunya termasuk saya. Ya, hampir semua saudara bapak saya tinggal disekitar rumah nenek sehingga kalau berkumpul ramai sekali rasanya. Yang saya ingat, nenek selalu mengatakan betapa kami harus bersyukur bahwa hidup saat ini jauh lebih mudah ketimbang jaman bapak atau ibu saya kecil dulu.

Jaman itu semua serba terbatas, banyak kali harus mengantri ini dan itu serta belum tentu dapat. Saat itu saya tak punya gambaran sengsara soal ngantri. Seingat saya ketika ngantri tiket bioskop atau tontonan yang lain saya malah senang kalau berdesak-desakkan. Antrian yang panjang malah menyenangkan karena ramai.

Saya ingat persis ketika berlibur ke rumah kakek dan nenek dari garis ibu yang dekat stasiun, yang mana saya suka sekali berlibur disana saat menjelang lebaran karena stasiunnya ramai sekali. Dan biasanya saya bersama teman-teman sepermainan saat itu akan pergi ke stasiun menikmati keramaian, melihat segala sesuatu yang harus dilakukan dengan antri.

Kelak saya sadar dengan arti antri yang menyengsarakan ketika suatu masa saya mulai harus antri untuk memperoleh minyak tanah yang langka karena adanya rencana konversi. Hati terasa tak karuan ketika jerigen belum terisi sementara minyak di kompor yang ada di rumah sudah hampir kandas. Kemudian ketika antri bensin, saat di penjual eceranpun bensin menghilang. Bukan hanya capek, lelah dan jengkel tapi juga kekhawatiran yang dalam kalau tidak dapat. Esok mesti berjalan dengan apa kalau bensin di tangki motor kosong.

Di televisi dalam beberapa tahun terakhir ini saya juga menyaksikan antrian yang kerap mengiris hati. Ribuan orang berdesakkan hanya untuk satu paket sembako yang mungkin harganya tak lebih dari 50 ribu. Ironis, sebuah niat baik yang justru kerap berakhir dengan celaka. Sebegitu sengsaranyakah bangsa ini hingga demi selembar uang puluhan ribu, mereka rela berjibaku layaknya mempertahankan negeri dari serangan musuh.

Tapi di televisi pula bisa disaksikan kontras yang lain, antrian yang tak kalah panjang dari orang-orang yang kelebihan uang. Bahkan jauh sebelum loket atau outlet dibuka mereka sudah mengantri demi mendapat model gadget terbaru, demi mendapat selembar tiket konser bintang pujaan mereka yang datang dari seberang sana. Beruntung nenek saya tak lagi melihat antrian seperti ini sehingga tak perlu lagi mengkoreksi kisah, pengalaman dan nasehatnya untuk saya.

Dan pada akhirnya saya setuju pada apa yang diungkapkan oleh nenek bahwa sesungguhnya antri, apapun kepentingan dan perasaan yang ada di benak kita, sesungguhnya memang tidak mengenakkan.

Pondok Wiraguna, 26 September 2012 @yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum