Kontemplasi : HASTAG (3)

Rabu, 28 November 2012


#saveMunarman

Saat membuka twitter terlihat timeline penuh dengan hastag save munarwan. Saya menduga munarwan yang sedang dijadikan topik adalah mantan aktivis YLBHI yang kemudian menyebrang menjadi pimpinan salah satu satgas yang ada di bawah FPI. Dan dugaan saya benar, ramai kicauan dengan hastag save munarman ternyata dipicu oleh peristiwa pengeroyokkan sekelompok orang terhadap Munarman di jalanan Pamulang.

Menurut cerita, saat jalanan macet Munarwan memainkan klakson mobilnya. Merasa terganggu, rombongan orang yang ada di depannya turun dan mendekati Munarwan. Mereka ribut dan berakhir dengan pemukulan terhadap Munarman. Selain luka lebam di wajah, kaca depan mobil Munarman juga pecah. Entah siapa yang pertama menyebarkan berita pemukulan Munarman di twitter, namun yang pasti bukan polisi. Sebab pihak kepolisian mengatakan tidak menerima laporan dari Munarman tentang pemukulan yang terjadi atas dirinya.

Saya sendiri tak kenal Munarman termasuk sepak terjangnya kala menjadi aktivis di YLBHI. Namun menurut kawan-kawan yang pernah mendapat pelatihan pengorganisasian darinya, Munarman yang dulu tidak seperti Munarman sekarang ini. Menurut mereka Munarman adalah orang yang asyik-asyik saja, tak mudah marah dan tak juga garang. Maka banyak orang yang mengenalnya heran ketika wajahnya muncul di layar televisi saat pasukan FPI menghajar para peserta pawai AKBP di kawasan Monas. Nampak dengan jelas wajah Munarman kala mencekik salah seorang peserta pawai seolah-olah ingin membunuhnya.

Sejak saat itulah Munarman menjadi sosok antagonis dalam dunia gerakan di tanah air. Watak yang juga diamini olehnya sebagaimana terlihat dari mimik wajahnya kala disorot oleh kamera televisi. Loncatan dari satu sisi ke sisi lain yang berlawanan sebagaimana dilakukan oleh Munarman adalah hal yang biasa ditemui dalam dunia gerakan sosial dan politik dalam arti luas. Seorang yang pluralis menjadi anti pluralis dan sebaliknya, bisa terjadi pada siapa saja. Apa yang membedakan antara satu orang dengan orang lainnya adalah motifnya.

Ada seorang aktivis yang dulunya sangat anti pemerintah kemudian menyeberang ke pihak pemerintah dengan menjadi staf ahli, penasehat dan lain sebagainya. Ada juga yang awalnya sangat anti politik praktis, menyerang kinerja dan sistem kepartaian namun kemudian bergabung menjadi anggota partai yang dulu diserang olehnya. Dunia memang berputar, sikap, perilaku, tindak tanduk dan pilihan orang bisa berubah, selama hal itu tidak melanggar hukum dan tidak diatur sebagai tidak boleh maka perubahan pilihan adalah sah-sah saja.

Perubahan dari satu sisi ke sisi lain bisa jadi merupakan pertanda kedewasaan dalam berpikir dan bertindak, bisa pula merupakan perubahan strategi dan jejaring aksi, namun bisa juga dilandasi oleh alasan pragmatis demi mendapat peran yang lebih besar termasuk penghasilan yang lebih pasti dan mapan.

Saya menduga, bertebarannya hastag #savemunarman di timeline twitter muncul sebagai reaksi negatif atas loncatan yang dilakukan oleh Munarman dari YLBHI ke FPI. Meski ada garis merah dalam soal advokasi, namun antara YLBHI dan FPI jelas saling bertolak belakang. YLBHI dikenal sebagai lembaga pembelaan hukum yang getol membela kelompok-kelompok minoritas, yang beberapa diantaranya menjadi sasaran serang FPI. Dan sialnya, Munarman masuk ke FPI bukan pada bagian ‘think tank’ melainkan justru berdiri di garda depan sebagai pemimpin pasukan, operator di lapangan yang berhadapan dan melakukan aksi fisik pada lawannya. Padahal YLBHI jelas merupakan lembaga yang mendidik anggotanya untuk anti kekerasan.

Belum lagi entah benar atau tidak, Munarman dalam baju FPI jelas-jelas menentang dan menyerang aktivitas Amerika Serikat di Indonesia. Namun konon kabarnya Munarwan yang adalah seorang pengacara itu ternyata tercatat sebagai penasehat hukum PT. Freeport Indonesia. Bahwa seorang pengacara tidak boleh membeda-bedakan klien, semua orang juga paham. Namun aneh bin ajaib kalau seseorang dengan ideologi tertentu tiba-tiba menjadi pembela atau bekerja untuk kelompok lain yang ideologinya berseberangan. Ibarat kata, seseorang dengan sah dan sadar menyerahkan diri untuk mengabdi kepada musuh.

Saya bukannya mau gila urusan orang, namun fenomena ketidakkonsistenan kini kerap terhampar telanjang di depan kita. Sebuah contoh buruk dalam persoalan integritas, ketidaksesuaian antara omongan dan tindakan. Mirip iklan sebuah partai yang berteriak keras ‘say no to corruption’ tapi ramai-ramai bintang iklannya tersangkut-sangkut kasus korupsi.

Entah apa reaksi Munarman (andai dia mempunyai account twitter) membaca twit-twit yang bertebaran dan hastag #savemunarman terus diretwitt . Saya membayangkan betapa lucunya andai Munarman dengan wajah yang dibikin-bikin sangar bak aktor watak mengatakan “Masalah buat lo”.

Pondok Wiraguna, 29 November 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum