Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (96)

Minggu, 18 November 2012


Penyapu Jalan Yang Terlupakan

Menonton bola dari tengah malam sampai matahari memancarkan terangnya membuat saya menyentuh kasur sekitar jam 7 pagi. Dan tahu-tahu terbangun sekitar jam 1 siang, bukan karena kantuk sudah hilang melainkan karena rasa lapar mulai menyerang perut. Dalam keadaan ‘ayam-ayam’ saya diberi tahu bahwa ada tetangga yang meninggal dini hari tadi dan sudah dikebumikan. Saya kenal baik ibu itu karena dulu dia yang membantu mengantar jemput kemenakan dan kemudian juga anak saya ketika mereka sekolah di TK. Bantuan mengantar jemput itu kemudian terhenti karena ada kesibukan lain yang dilakukan oleh ibu itu.

Kabarnya, ibu itu meninggal karena mengalami kecelakaan ditabrak mobil saat hendak berangkat bekerja sebagai petugas kebersihan. Ya, setiap pagi (dini hari) ibu itu bersama anak sulungnya bekerja menyapu salah satu ruas jalanan di kota Samarinda. Pada hari yang naas, minggu dini hari sebuah mobil double cabin yang melaju kenjang, menghantam motor ibu itu sehingga terlempar cukup jauh. Sang ibu meninggal di tempat, sementara putranya dalam kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit tanpa sadar serta tahu kalau ibunya telah tiada.

Saya tak mendapat gambaran persis soal siapa yang berada di mobil double cabin itu, namun katanya sang sopir mabuk setelah semalaman menghabiskan waktu di tempat hiburan. Ya, malam itu malam minggu, malam dimana banyak orang yang kelebihan duit menghamburkannya di table tempat hiburan malam. Bisa dipastikan bahwa jutaan rupiah dihabiskan oleh pengendara mobil itu hingga kehilangan kesadaran dan memacu mobil kesetanan di dini hari.

Sungguh ironis, seseorang yang menghabiskan uang berjuta-juta dalam waktu beberapa jam dan hanya menghasilkan penurunan kesadaran diri (mabuk) kemudian berkendara dan mencelakai orang lain yang bekerja keras di kala orang lain terlelap dengan penghasilan yang mungkin hanya senilai sebotol minuman luar negeri yang ditenggak penabraknya.

Bukan sekali dua kali, ibu-ibu penyapu jalan ditabrak atau disambar oleh pengendara yang pulang dari tempat hiburan malam. Saya pernah mendapat cerita, tentang ibu penyapu jalan yang ditabrak hingga patah kakinya. Dan sang penabrak kabur, lari entah kemana. Untuk biaya operasi kakinya yang patah, ibu penyapu jalan itu harus menanggung biaya hingga puluhan juta rupiah, yang mungkin saja tak akan terkumpul meski dia menabung semua penghasilannya selama bertahun-tahun.

Ada puluhan tetangga saya yang kebanyakan adalah ibu-ibu bekerja sebagai petugas kebersihan kota. Ada yang bekerja dari pagi hingga siang hari, ada yang siang hingga sore hari, namun banyak pula yang mulai berangkat untuk membersihkan jalanan semenjak jam 2 – 3 dini hari. Yang bisa mengendarai motor akan berangkat sendiri atau berboncengan dengan rekan sekerjanya, namun ada juga yang perdi diantar suami atau anaknya.

Berangkat dan bekerja pada dini hari tentu saja mempunyai resiko yang tinggi. Suasana jalan yang lenggang dan sepi adalah saat yang tepat bagi orang-orang yang punya niat tak baik untuk melakukan aksinya. Belum lagi pengendara-pengendara lain yang menganggap jalanan masih sepi sehingga memacu kendaraan tanpa sikap waspada. Pada jam itu pula biasanya orang-orang penggila dunia hiburan malam pulang dalam keadaan ‘teler’ sehingga tidak awas dalam membawa kendaraan.

Di dalam kondisi seperti itulah ibu-ibu penyapu jalan bekerja tanpa dilengkapi alat atau perangkat keamaan seperti rompi dengan warna mencolok atau berpendar kala terkena sinar lampu. Atau tanda lain yang membuat pengendara bisa melihat bahwa tengah ada orang yang bekerja membersihkan jalanan. Bunyi sapuan sapu  lidi di jalanan tidak cukup untuk membuat pengendara yang akan lewat berhati-hati, mengurangi kecepatan kala melewati ibu-ibu penyapu jalan.

Karena bangun kesiangan, saya tak sempat melayat untuk memberi penghormatan kepada ibu penyapu jalan yang meninggal kala melaksanakan tugas dan pengabdiannya pada kota ini. Hanya doa yang bisa saya panjatkan dengan harapan agar arwahnya beristirahat dengan tenang dalam rumah Allah. Tak lupa saya berdoa agar putra sulungnya diberikan jalan terbaik pada masa kritisnya. Semoga pula pihak yang berwenang, pemerintah kota dan dinas yang terkait memberi perhatian pada keluarga yang ditinggalkan olehnya. Saya tahu persis, salah satu putranya yang bernama Ariel adalah teman sekelas putri saya kala duduk di TK dahulu. Tentu saja Ariel butuh bantuan untuk melanjutkan pendidikan dasar yang baru saja dijalaninya.

Dan untuk penabraknya yang saya tahu tidak sengaja, namun sengaja memabukkan dirinya. Dari jenis mobil yang dipakai, bukannya saya mau menuduh sembarangan tapi kemungkinan besar terkait dengan dunia pertambangan. Saya berharap mereka cepat sadar, bahwa uang besar yang mereka peroleh jangan lagi dihambur-hamburkan untuk mendapat kesenangan sesaat yang menyengsarakan orang lain seumur hidupnya. Gunakanlah uang yang diperoleh dengan mengaduk-aduk bumi dan tanah di Samarinda ini, andai kemudian berlebih untuk kebaikan kota dan warga Samarinda.

Pondok Wiraguna, 18 November 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum