Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (93)

Minggu, 18 November 2012


Undur-Undur

Dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian atas upaya-upaya yang telah dilakukan namun belum memberikan hasil yang memuaskan apa yang kerap diimpikan oleh seseorang atau sekelompok masyarakat?. Adalah biasa dalam kondisi tadi ada yang meyakini sesuatu yang belum pasti terjadi sebagai nyata atas dasar cerita masa lalu yang dimutlakkan benar sebagaimana diyakini.

Secara tradisional harapan akan perbaikan instan muncul lewat mekanisme ratu adil, datangnya satu sosok tertentu yang ‘terpilih’ dengan segala kedigdayaannya untuk menyelesaikan segala persoalan. Konsep lain dikenal sebagai ‘cargoisme’ dimana sekelompok masyarakat menyakini keberadaan sebuah gudang yang menyediakan segala sesuatu, perbaikan terjadi dengan datangnya seseorang yang memegang kunci gudang itu. Harapan-harapan seperti ini muncul dari latar cerita tradisional maupun ramalan-ramalan dari pujangga besar di masa lalu.

Selain berdasar pada tradisi, jalan untuk menyelesaikan persoalan terkini juga kerap ditawarkan dan dicita-citakan oleh kelompok keagamaan. Mereka berkeyakinan berbagai carut marut dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara akan mencapai ideal jika didasarkan atas sistem yang didasari ajaran agama. Masyarakat akan mencapai kondisi ideal jika hidup dalam situasi sebagaimana yang dijalani oleh para ‘bapa-bapa perdana’ di masa lalu. Cerita keberhasilan dan gambaran jaman keemasan agama yang tidak selalu terkonfirmasi namun diimani sebagai bisa dengan serta merta diterapkan dalam jaman ini.

Saya ingat ada binatang yang disebut Undur-Undur. Disebut demikian karena binatang ini maju dengan cara mundur. Barangkali apa yang dilakukan oleh berbagai kelompok ini tengah meniru prinsip Undur-Undur dengan cara melihat praktek di masa lalu untuk kemudian diterapkan pada saat ini demi masa depan yang gemilang. Persoalan apa yang dipraktekkan di masa lalu selalu mempunyai keterbatasan yaitu ruang dan waktu. Setiap praktek pengelolaan kehidupan bersama selalu terjadi sebagai pengalaman semasa, apabila terjadi jeda atau diskontinuitas maka sistem atau praktek itu akan beku. Menjadi sebuah catatan sejarah dan pengalaman jaman itu.

Praktek atau sistem yang telah beku dan kemudian dicomot untuk dihadirkan pada masa kini bisa-bisa hanya akan menjadi sebuah peragaan layaknya pentas di panggung sandiwara. Apa yang dihadapi oleh jaman itu jauh berbeda dengan yang dihadapi oleh jaman ini, banyak persoalan yang tidak dialami dan bahkan belum dipikirkan saat itu menjadi sesuatu yang normal terjadi saat ini. Bagaimana sistem itu akan menghadapi persoalan seperti ini andai tak ada dialog yang terus menerus antara sistem itu dengan jaman yang melingkupi dari waktu ke waktu.

Saya tak punya pretensi untuk menolak praktek adat, tradisi maupun iman keagamaan pada saat ini untuk menjadi alat mencari jalan penyelesaian persoalan. Namun saya agak ngeri melihat kecenderungan untuk memutlakkan, seolah hanya kebijakan adat dan ajaran agama beserta hukum-hukumnya sebagai satu-satu cara yang memungkinkan untuk menyelesaikan persoalan jaman. Buat saya ini merupakan sebuah keyakinan yang buta sekaligus membabi buta, mengingkari kenyataan bahwa ada banyak sistem lain yang menopang bumi dan dunia hingga mencapai kondisi perkembangan sampai dengan saat ini.

Benar bahwa tidak banyak orang atau kelompok yang mempunyai keyakinan seperti di atas. Namun meski kecil, sepak terjang kelompok seperti ini memberi pengaruh psikologis yang besar untuk masyarakat umum. Apalagi kelompok seperti ini gemar mengembangkan apologi-apologi yang simplistis yang kerap membuat mereka yang berseberangan segera mati kutu. Siapa juga yang mau dikatakan tak beriman, tak beragama, kafir dan melawan kehendak Allah misalnya. Dan kelompok seperti ini tak malu-malu dikatakan sebagai pengklaim kebenaran tunggal, sebab mereka merasa menjalankan semua itu dalam terang tradisi, adat nenek moyang dan perintah agama yang adalah juga perintah Allah.

Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu khawatir dengan kehadiran kelompok seperti ini, karena dalam jaman manapun akan selalu ada kelompok seperti ini. Bisa jadi mereka sangat frustasi kepada keadaan, mencoba berbagai cara namun tak menyelesaikan persoalan, maka wajar jika kemudian semua dikembalikan kepada kebijakan nenek moyang dan diserahkan dalam tangan Allah. Apa yang menjadi kekhawatiran sekaligus persoalan bagi saya adalah kecenderungan dari pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkan kelompok seperti ini demi kepentingan jangka pendek, kepentingan kekuasaan maupun ekonomi sesaat.

Banyak kali kelompok elit entah penguasa politik, pemerintahan maupun ekonomi memanfaatkan kelompok-kelompok seperti ini. Menjadikan kelompok ini untuk dijadikan tameng atau dipinjam tangannya untuk menyelesaikan persoalan yang membuat kesulitan bagi mereka. Persoalan-persoalan dilematis yang apabila ditangani oleh mereka sendiri akan memerosotkan derajad pengaruh maupun popularitasnya di hadapan rakyat.

Dan atas salah satu cara modus inilah yang membuat hukum, peraturan dan kebijakan pemerintah kerap diterabas dengan perilaku-perilaku diluar hukum yang mengatasnamakan massa maupun umat.

Pondok Wiraguna, 17 November 2012
@yustinus_esha


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum