Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (91)

Kamis, 15 November 2012


Malioboro bukan Malboro

Ingat Yogya, pasti ingat Malioboro. Sebuah kawasan yang selalu menjadi tujuan para pelancong nusantara kala berkunjung ke Yogyakarta. Dulu kerap kali saya tertukar-tukar kala menyebut Malioboro dengan Malboro, merk rokok putih produksi Amerika. Setiap kali ke Yogya, saya selalu menyempatkan diri mampir ke Malioboro, berjalan dari ujung mulai dari ‘teteg’ Stasiun Tugu sampai Pasar Bringhardjo atau Mirota Batik sebelum perempatan dekat Kantor Pos.

Malioboro bukan sekedar nama sebuah jalan dan tempat keramaian tradisional  yang konon sudah ada semenjak tahun 1758. Malioboro merubahan garis dalam ruang spiritual yang menghubungkan antara Gunung Merapi, Tugu, Keraton Yogya dan Segoro Kidul (laut selatan). Nama Malioboro sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga. Dinamakan begitu karena dulu di kanan kirinya dipenuhi dengan tanaman bunga.

Berhubungan dengan bunga atau kembang, tak jauh dari ujung Malioboro yang berada di sebelah timur Stasiun Tugu, ada sebuah gang yang menjadi legenda. Daerah yang terkenal dengan sebutan Sarkem alias Pasar Kembang. Dilihat dari namanya maka Sarkem mempunyai hubungan dengan Malioboro yaitu sama-sama mengandung kata bunga. Dan bunga-bunga di Sarkem adalah wanita-wanita malam yang berawal dari sejarah ‘pergundikan’ di masa-masa pendudukan Belanda.

Menelusuri jalan Malioboro dan sekitarnya cukuplah bagi kita untuk mendapat adukkan pengetahuan dan pengalaman tentang Yogya mulai dari sejarah sampai kehidupan kontemporernya. Bangunan bersejarah berada di bagian selatan, sekitar perempatan dimana disana ada Monumen Serangan Umum 11 Maret. Monumen dengan halaman yang luas itu sering dipakai sebagai lokasi konser dadakan dan pertunjukan tari serta seni tradisional lainnya. Berhadapan dengan monumen itu, diseberang jalan adalah Istana Negara dengan hamparan rumput hijau di halaman. Disebut sebagai Istana Negara karena pernah ditempati oleh presiden Sukarno kala ibukota Indonesia pindah ke Yogyakarta.

Di sebelah monumen masih berdiri kokoh Benteng Vredeburg, yang kini ramai menjadi lokasi wisata sejarah sekaligus kerap menjadi tempat ekshibisi untuk memamerkan karya-karya seniman di berbagai bidang. Vredeburg dalam bahasa Belanda berarti jembatan kemerdekaan. Diseberang jalan bagian selatan monumen, masih tersisa bangunan tua bercorak Belanda dan kini dipakai sebagai Kantor Pos, Gedung BI dan BNI. Dan ke arah timur tak jauh dari monumen itu, ada tempat favorit kesukaan anak saya yaitu Taman Pintar. Taman yang dibangun di lokasi yang dulu lebih dikenal sebagai Shopping Centre, pasar buku besar di kota Yogya.

Di bagian utara monumen, terletak pasar monumental yaitu Bringhardjo yang berasal dari kata Beringin (pohon Beringin) dan Hardjo (harapan akan kesejahteraan rakyat). Pasar tradisional ini dulu dikenal sebagai kerajaan copet, tak heran disepanjang lorong pasar ini diberi papan peringatan ‘awas copet’. Pasar yang merupakan pusat dari segala macam produk batik ini lorongnya memang sempit, maka pada hari-hari yang ramai perlu kesabaran untuk mencari apa yang kita inginkan karena kita mesti berdesak-desakkan di lorongnya yang sempit.  Diseputaran pasar ini, bagian depan, kanan dan kiri kita bisa menemukan penjual pecel disertai baceman tahu-tempe-ayam, sate, dawet dan jajanan tradisional lainnya. Bahkan saya masih menemui penjual buah ‘cimplukan’ di samping bagian depan.

Malioboro sebagai sebuah kawasan sesungguhnya adalah Mall yang maha raksasa dengan arcade panjang di sisi kanan kirinya. Dan disepanjang kanan kiri itu berjejer baik toko maupun lapak-lapak pedagang kaki lima dengan komoditas utama pakaian dan pernak-perniknya serta makanan dan jajanan. Cinderamata aneka rupa, dengan trend berganti tahun demi tahun berjejer di sepanjang jalan Malioboro, soal harga, ketrampilan menawar menjadi kuncinya. Menelusuri jalanan Malioboro pasti kita akan menemui sekelompok orang menawarkan Dagadu, kaos Yogya yang melegenda hingga menjadi merk generik untuk kaos-kaos dengan kata-kata unik. Sejatinya kini di sepanjang Malioboro muncul brand-brand lain seperti garenk, capung, mronggos dan lain sebagainya, namun nama Dagadu terlanjur lebih mudah melekat di lidah. Dagadu berarti matamu, diambil dari bahasa yang diramu berdasar huruf Jawa yang dipakai di kalangan GALI (Gabungan Anak Liar), kelompok preman yang dulu tersohor di Yogyakarta.

Di chanel HBO ada sebuah mata acara yang berjudul Scam City, berisi modus-modus penipuan maupun kelicikan dari orang-orang setempat di lokasi keramaian kota. Dan Malioboro pun mempunyai cerita yang sama. Warung-warung makan di sepanjang Malioboro di malam hari (terutama di jalur depan antara hotel Ina Garuda dan Malioboro Mall) dulu dikenal hanya memasang nama menu tanpa disertai harga. Mereka yang memesan makanan dan ditenggarai berasal dari luar Yogya (dikenali dari logat atau wajahnya) akan dikenai harga yang selangit. Praktek ini kemudian membuat orang-orang malas bersantap di sepanjang jalur Malioboro.

Masih ada banyak cerita tentang Malioboro yang bisa diekplorasi. Tak cukup waktu sehari untuk mengenali berbagai macam cerita dan pengalaman di sekitar Malioboro. Namun jangan khawatir, ketika ke Yogya dan ingin mengenal Malioboro dari dekat, maka tinggallah di sekitar jalan Ndagen, Sosrowijayan atau Pasar Kembang, disana banyak hotel, losmen, guest house mulai dari yang bertarif puluhan  hingga ratusan ribu semalam, tergantung dari tebal tipisnya kantong kita. Hanya saja pada masa-masa liburan besar perlu perjuangan untuk mendapatkan kamar.

Kala malam, kaki pegal dan badan cape tapi tak ingin menghabiskan waktu di dalam kamar, carilah taksi dan minta sopir untuk mengantar ke Taman Purawisata. Dengan tiket masuk 10 – 15 ribu kita akan menyaksikan penampilan grup musik mulai dari lagu-lagu kenangan sampai goyang dangdut nan asoy. Buat saya, duduk di Taman Purawisata, ditemani sebotol bir sambil menyaksikan sekelompok orang menari-nari bergoyang di depan panggung menjadi hiburan tersendiri.

Nah, bagi yang punya keinginan untuk mendapat pengalaman ‘lebih’, coba saja pulangnya naik becak. Kalau kita naik becak sendirian di malam hari, kebanyakan tukang becak akan bertanya “tidak cari teman mas/pak, mahasiswi, masih muda-muda dan tidak mahal”. Nah ...lo ....!!!. Selanjutnya terserah anda.

Pondok Wiraguna, 15 November 2012
@yustinus_esha


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum