Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (80)

Kamis, 08 November 2012


OBAMA Bukan Presiden Kita

Tidak sengaja saya menyaksikan pidato kemenangan Obama di layar televisi tak lama setelah beberapa stasiun televisi internasional merilis jumlah elektoral vote yang diperoleh Obama telah melewati jumlah minimal untuk memenangkan pemilihan presiden USA.  Obama, presiden USA pertama keturunan Afrika memang tampil memikat dalam pidato tanpa teks. Hadirin yang kebanyakan orang muda (dan saya yakin terdidik) menyimak dengan taat kata demi kata yang keluar jelas dari mulut Obama.

Sesekali hadirin bertepuk tangan memberi aplaus yang meriah manakala Obama mengucapkan kata-kata yang menyentuh, kata-kata yang penting dan punya impresi untuk para pendengarnya. Kerapnya aplaus diberikan membuat Obama mempunyai jeda untuk menarik nafas dalam dan menjaga ritme pidatonya agar tetap tertata.

Terus terang jarang saya melihat penyampaian pidato yang membuat orang terpaku, menyimak dengan tekun dan penuh perhatian. Yang sering kali saya temui justru orang mulai menyumpah-nyumpah dan ngerundel maksudnya dalam hati tapi terartikulasi secara pelan di mulut. Atau sekarang lebih sering orang asyik sendiri dengan gadget manakala di depan sana ada sosok tertentu tengah menyampaikan pidatonya. Dan tentu saja kalau pidatonya panjang dan berlarat-larat maka banyak orang seolah memperhatikan dengan menopang dagu dan menutup mata.

Presiden SBY berkali-kali marah, bahkan kepada anak-anak tatkala dalam penyampaian arahan atau pidato darinya para hadirin tidak memberi perhatian. Tentu SBY tahu bahwa tak banyak orang di Indonesia yang mampu mendengar atau menyimak pidato sambil memejamkan mata, tidur terpengkur. Konon yang mampu melakukan hal itu hanyanya almarhum Gus Dur, Abdurahman Wahid, presiden Indonesia ke 4.  Ada banyak cerita tentang alhmarhum Gus Dur yang meski tertidur namun tetap bisa menyimak diskusi yang diikutinya dan mampu menjawab persoalan-persoalan yang diungkap ketika ditinggal tidur dengan tepat.

Dalam tidur namun tetap bisa menaruh perhatian, mungkin ibarat seseorang yang tengah dihipnotis. Bukankah ketika Uya Kuya  kerap melakukan itu saat mempunyai acara reality show di salah satu stasiun televisi. Sasaran diminta tidur dan dalam tidurnya ternyata bisa menyimak pertanyaan-pertanyaan Uya Kuya dan menjawabnya.

Dalam tradisi spiritualitas tertentu, sessi-sessi pengajaran atau pemberian wejangan dari sang guru atau sesepuh biasanya didengar oleh para murid atau jemaah sambil bersila, menunduk dan memejamkan mata. Seolah-olah seperti tertidur dan sang guru tidak pernah terganggu dengan gaya murid-muridnya yang mana beberapa memang tertidur betulan.

Hal-hal yang berat mungkin saja memang lebih enak diterima dalam keadaan tenang, mata terpejam sehingga pikiran bisa fokus pada apa yang tengah diungkapkan. Persoalan atau penjelasan yang berat memang akan terasa lebih mudah diterima apabila badan dan pikiran dalam kondisi rileks. Dan diam, tertunduk serta memejam mata akan membuat badan dan jiwa cepat terasa rileks.

Hanya saja soal sikap dalam mendengarkan pidato, wejangan atau penyampaian, ada orang-orang tertentu yang sensitif, cepat tersinggung manakala yang hadir tidak duduk dengan tegap, kepala lurus memandang ke depan dengan dagu rata, dan mata menatap penuh perhatian. Siapa yang tidak berlaku begitu akan dianggap tidak menyimak dengan baik. Dan saya kita presiden kita sekararang ini, yaitu SBY mempunyai pandangan seperti itu. Maka bukan sekali dua kali, beliau menghentikan penyampaiannya dan menegur hadirin yang asyik berbisik-bisik ke kanan kiri, terkantuk-kantuk atau ribut sendiri.

Kalau saya sendiri dalam urusan bicara di depan publik, tak pernah sekalipun berpikir untuk menuduh hadirin dihadapan saya sebagai tidak memperhatikan apa yang saya sampaikan. Saya menyadari orang pasti akan memperhatikan apa yang kita sampaikan kalau pokok yang kita sajikan itu menarik, penting untuk mereka dan menimbulkan impresi tertentu entah itu motivasi, penguatan atau hiburan. Maka ketika saya bicara di depan banyak orang apa yang saya perhatikan adalah sinyal yang dikirim melalui bahasa tubuh orang-orang yang ada di hadapan saya. Manakala mereka seperti tak tertarik maka saya ganti topik, manakala mereka bosan maka perlu saya selipkan sedikit humor untuk menarik kembali perhatian. Namun jika semua jurus sudah mempan maka saya dengan sukarela akan mengakhirinya.

Dalam banyak kasus, kurangnya perhatian hadirin pada penyampaian di podium kerap terjadi bukan karena tidak mau memperhatikan. Kebanyakan acara terutama acara resmi susunan agenda acaranya begitu panjang dan melelahkan. Hingga kemudian ketika tiba pada mata acara yang penting, para hadirin sudah kelelahan memasang mata dan telinga untuk menatap penuh perhatian dan menyimak penuh kesadaran. Belum lagi banyak acara yang dihadiri oleh orang-orang penting kerap molor dari jadwal semula, padahal biasanya para hadirin diminta sudah berada dalam ruangan satu atau setengah jam sebelum acara dimulai. Saya misalnya yang adalah perokok berat pasti akan gelisah dan sulit konsentrasi apabila telah berada dalam ruangan lebih dari 2 jam tanpa menghisap tembakau gulung.

Saya bukan ahli ‘public speaking’, namun tentu saja boleh berharap dan memberi sedikit kiat serta masukkan bagi siapapun yang punya kesempatan untuk berbicara di depan umum. yang pertama dan utama adalah tahu diri, dalam arti siapkan benar apa yang hendak kita ungkapkan sehingga bermanfaat untuk mereka yang mendengarkannya. Dan akhirnya jangan salahkan apalagi marahi para pendengar kalo tak memperhatikan apa yang kita katakan melainkan tanyakan pada diri sendiri ‘Jangan-jangan apa yang kita sampaikan memang tidak menarik dan tidak penting untuk para hadirin’.

Pondok Wiraguna, 7 November 2012
@yustinus_eshaA

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum