Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (75)

Rabu, 07 November 2012

Kota Bahagia

Kota mana yang paling membahagiakan di Indonesia?. Kalau membaca slogan dari masing-masing kota semestinya tak ada kota yang tidak bahagia. Ada kota yang mempunyai slogan Berirama (bersih, indah, ramah dan aman), Beriman (bersih, indah dan aman), Bersehati (bersih, sehat, aman, tertib dan rapi), Berseri (bersih, sehat dan rapi) dan seterusnya. Sayang memang sampai sekarang belum ada lembaga survey yang gemar melakukan kajian soal tingkat kebahagiaan masyarakat di kota-kota Indonesia. Lembaga survey lebih gemar menilai persepsi masyarakat atas sosok atau tokoh tertentu apakah layak menjadi calon pemimpin atau tidak, atau pasangan mana yang akan memenangkan pemilu atau pemilukada.

Secara subyektif, dari pengalaman tinggal di beberapa kota, Manado adalah salah satu kota yang membahagiakan, pada saat itu. Tapi terakhir-terakhir ini dengan pesatnya pembangunan di sekitar teluk Manado, kebahagiaan itu seakan mulai sirna. Ukuran membahagiakan atau tidak sebuah kota sebenarnya sederhana saja. Yaitu arus lalulintas yang lancar, bersih dan mempunyai pemimpin yang memperhatikan rakyatnya. Kembali ke Manado di sekitar tahun 90-an, jalanan di kota terasa masih lengang. Masyarakat berpergian dengan menumpangi angkot. Saat itu masih banyak angkot berupa mobil ST 20 atau Suzuki Carry yang bukan stasion, antara penumpang dan supir ada sekat. Interior mobil dihiasi berbagai macam panel temasuk bel yang dipencet ketika penumpang ingin turun.

Saat itu mobil berjalan sesuai dengan jalurnya, yang ditandai dengan papan jurusan yang digantung di kaca depan. Jika ada penumpang yang ingin menyewa mobil, melayani jalur lain maka papan itu akan diturunkan dan sopir hanya mengantar sang penyewa. Motor belum begitu banyak, umumnya yang punya motor adalah pegawai negeri dan kebanyakan berplat merah. Mobil pribadipun jumlahnya juga belum meledak seperti tahun-tahun belakangan ini. Pengendara sepeda umumnya adalah para penjual sayur, roti dan mainan yang menjajakan dagangan keliling kampung.

Soal bersih, Manado waktu itu juga dikenal bersih. Sampah-sampah terangkut dengan baik sehingga berkali-kali mendapat penghargaan Adipura. Tugu yang menandai penghargaan itu terletak tak jauh dari bandara Sam Ratulangi ke arah kota Manado.

Dan soal kepemimpinan, saya saat itu mengalami masa ketika Manado dipimpin oleh Lucky Koraah, dan propinsi Sulut dipimpin oleh EE Mangindaan. Slogan yang terkenal waktu itu adalah Torang Samua Basudara.  Kedua pemimpin itu adalah pemimpin yang dikenal merakyat, tiba-tiba saja bisa muncul di boulevard menemui warga. Mangindaan saat itu dikenal suka membagi-mbagi jam tangan dan bola kaki.

Itu cerita masa lalu, kini sulit rasanya saya menemukan kota yang tidak macet, bersih dan punya pemimpin yang merakyat. Jakarta misalnya bersyukur punya Gubernur yang gemar blusukkan menemui warga sampai ke pinggir kali. Tapi kemacetan di Jakarta masih luar biasa dan daerah kumuh tidak bisa disembunyikan dengan megahnya gedung-gedung di pinggir jalan.

Lalu bagaimana dengan Samarinda?. Kota ini semakin tahun semakin memberanakkan titik-titik macet yang kronis. Macet terjadi di pagi, siang dan sore hari dan akan semakin parah jika kota diguyur hujan. Pertumbuhan kendaraan yang luar biasa besarnya tidak diiringi dengan pertumbuhan dan peningkatan mutu jalan.

Sulit menemukan ruas jalan yang mulus dari ujung ke ujung. Banyak jalan terkelupas, anjlok dan berlubang yang membuat perjalanan menjadi tidak lancar. Soal kebersihan, bisa dikatakan mobil dari dinas kebersihan sudah cukup bekerja keras. Pasukan kuning mulai dini hari sudah mulai membersihkan kota. Tapi fasilitas untuk menampung sampah warga masih belum mencukupi. Di sana sini masih dijumpai tanah kosong menjadi tempat pembuangan sampah. Di ujung-ujung gang dengan mudah ditemukan juga tumpukan sampah yang tidak terangkut. Lalu coba tenggoklah got-got di kota ini, got bukan lagi saluran air melainkan tempat pembuangan sampah raksasan.

Pendangkalan terjadi di mana-mana sehingga tak butuh hujan yang lama-lama untuk membuat got-got di sepanjang kota meluapkan isinya ke jalanan hingga masuk ke rumah-rumah warga. Adalah pemandangan yang biasa para penghuni kota ini berlomba meninggikan pondasi dan lantai rumahnya, untuk berlomba dengan genangan air yang makin meninggi tiap tahunnya.

Soal kepemimpinan, saya tak terlalu mengenal dan tahu sepak terjang para pemimpin kota ini. Hanya saja saya lebih sering menyaksikan mereka mengumbar senyum di baliho-baliho. Hampir tak terdengar gagasan atau rencana-rencana kecil untuk membuat warga kota ini bahagia.

Pemimpin lebih suka merencanakan yang besar-besar, yang megah-megah seolah rakyat akan bahagia kalau ada jalan Tol membelah kota, kalau ada bandara internasional,kalau ada banyak mall yang menyerobot ruang terbuka hijau, kalau ada pertunjukkan kembang api dan artis nasional di perayaan ulang tahun atau hari-hari besar.

Kota ini seakan tumbuh sendiri tanpa kendali dengan mengusung slogan sebagai kota tepian, river front city, tapi nyatanya justru membalikbelakangi sungai. Kota yang mengingkari marwahnya sebagai yang bertumbuh dalam alur dan buaian sungai Mahakam. Maka apakah kota ini adalah kota yang bahagia?. Dilihat dari indikasi utamanya nampaknya tidak, tapi coba saja tanyakan pada warganya siapa tahu penghuni kota ini justru menjawab sebaliknya.

Pondok Wiraguna, 5 November 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum