Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (73)

Sabtu, 03 November 2012

Sang Koster di Twitland

Saya yakin sebagian dari kita mengenal istilah macan forum, sebuah sebutan bagi seseorang yang selalu bicara berapi-api, panjang dan penuh semangat dalam setiap pertemuan. Penting maupun tidak penting, relevan atau tidak relevan, bukan itu ukurannya. Macan forum menugaskan pada dirinya sendiri harus menyumbangkan suara dalam setiap pertemuan yang dihadirinya. Macan forum masuk dalam kategori kaum vocalis, yang menyakini bahwa dirinya berarti apabila aktif ketika berada dalam sebuah kerumunan. Saat berada di dalam kelas, ketika belum saatnya diberi kesempatan untuk bertanya, sudah lebih dahulu mengacungkan tangan menyela penjelasan guru. Dalam rapat, ketika pemimpin baru membuka rapat, tangannya sudah diacungkan untuk meminta waktu, menginterupsi penjelasan yang belum jelas kemana arahnya.

Kerap kali saya merasa jengkel dengan jenis manusia semacam ini, para macan forum yang merasa pintar dan aktif dengan cara cepat-cepat mengacungkan tangan, mengumbar kata-kata yang hampir tak pernah singkat dan padat. Namun terkadang saya kagum juga pada kemampuan bicara, memutar kata, mencari pembenaran atas alasan dan seterusnya. Banyak kali para vocalis ini memang nampak pintar, membaca banyak buku karena dalam pembicaraan mereka kerap kali menyertakan kutipan kata atau pemikiran dari orang ini dan itu.

Namun pengalaman saya kerap kali mengatakan yang sebaliknya, justru mereka yang kerap kali diam, duduk dan menyimak dalam pertemuan-pertemuan ternyata mempunyai pengetahuan yang jauh lebih banyak dan dalam. Kaum pendiam ini kerap disebut sebagai manusia jenis ‘koster’. Koster adalah sebutan untuk penjaga gereja, selain menjaga kebersihan, koster juga melayani pastor/pendeta dalam mempersiapkan ibadah-ibadah atau kegiatan rohani lainnya. Koster adalah orang yang paling tahu seluk beluk gereja, tetapi tidak pernah bicara tentang gereja dan tidak juga pernah dimintai pendapat tentang problematika yang terkait dengan gereja.

Nah di masyarakat kita sebetulnya banyak tersembunyi jenis manusia ‘koster’, yang tidak pernah bicara maupun diminta pendapatnya meski dia tahu banyak tentang persoalan dalam masyarakat. Maka jika suatu saat sang koster ini punya kesempatan, tak bisa menghindar dan terpaksa bicara banyak orang akan terkejut mendengar paparannya. Kemudian banyak yang berujar, “Eh, selama ini saudara kemana saja, kok tak terdengar suaranya, padahal apa yang saudara katakan tadi adalah apa yang benar-benar kita butuhkan”. Beruntung kini dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tersedia saluran bicara dan berkata-kata dalam rupa jejaring sosial. Perkembangan yang mencelakakan kaum vocalis karena jejaring sosial tidak banyak memberi ruang panjang untuk kata-kata yang berlarat-larat. Vocalis di media sosial juga dengan mudah direspon oleh orang lain. Respon yang lebih lugas karena hambatan psikologis relatif terhapus di media sosial. Seseorang tidak mudah terintimidasi oleh kedudukan, tampilan dan aneka hal fisik lainnya sebagaimana lazim ada dalam pertemuan tatap muka.

Media sosial menjadi kesempatan bagi kaum koster untuk mengungkapkan pendapat dan gagasan-gagasan mereka. Maka tak heran jika kemudian kita menemukan seseorang yang dalam kehidupan sehari-hari pendiam, tak banyak bicara dan jarang memberikan pendapat ternyata menjadi seseorang yang sangat rajin berkicau di twitland. Kehadiran sosial media memang membuat ruang publik menjadi semakin demokratis. Hambatan sosial, kultural dan psikologis semakin terkikis. Ruang kesemena-menaan tak dengan leluasa dipraktekkan. Kata-kata seperti siapa loe, nggak kenal gue ya, dengan mudah ditangkis bahkan membuat siapapun yang mengucapkannya bakal menyesal. Sebab bukannya orang menjadi takut, melainkan malah bisa balik dihajar oleh banyak orang, salah-salah malah borok dirinya sendiri bakal diumbar oleh orang lain.

Akhirnya saya menghimbau kepada para pengambil kebijakan, para pelayan publik, pelayan umat dan jemaat untuk rajin-rajin memantau sosial media. Karena disana voice of voicelless ditemukan, mengatakan hal yang sebenarnya tanpa keinginan untuk mendapat imbalan ini dan itu.

Dan mulailah tutup telinga terhadap bisik-bisik di sekitar anda, bisik-bisik atau teriak-teriakkan keras dengan kata-kata yang tidak dipikir dalam-dalam.

Pondok Wiraguna, 3 November 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum