Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (67)

Rabu, 31 Oktober 2012

Lagu dan Tari : Antara Aku dan Anakku

Secara naluriah bocah-bocah kecil apabila mendengar musik yang rancak pasti akan ikut mengoyang-ngoyangkan, menari-nari. Sambil menari ada pula yang ikut berusaha menyanyikan syairnya. Lucu dan mengemaskan. Seingat saya dulu, kebiasaan menari dan menyanyi ini terus dipupuk hingga sekolah dasar. Di TK misalnya, lagu-lagu diajarkan dengan gerakkannya. Begitu pula di SD, kita mesti siap-siap untuk maju ke depan kelas menyanyikan lagu satu persatu.

Giliran menyanyi satu-satu meski kadang mendebarkan namun menghibur hati, mirip dengan audisi nyanyi popularity contest di TV-TV. Ada yang menyanyi dengan menatap langit-langit, bergoyang tidak ikut irama lagu, keringatan, salah ambil nada dan seterusnya. Beberapa anak yang bagus menyanyinya dan berani biasanya akan dipilih untuk mengisi acara di RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) yang memberi kesempatan kepada TK dan SD secara bergiliran. Di radio, sebelum bernyanyi biasanya anak-anak akan mengucapkan “Bapak dan Ibu, saya ingin bernyanyi, lagu saya adalah ....... “.

Karena saya lahir dan sekolah di Jawa Tengah, maka pada jaman itu bukan hanya lagu-lagu anak-anak dan nasional yang berbahasa Indonesia saja yang diajarkan melainkan juga lagu atau tembang berbahasa Jawa. Ada lagu-lagu dolanan, lagu berbahasa jawa yang kocak dan sederhana semacam “Aku duwe pithik, pithik tukung, saben dino tak pakani jagung ....”. Juga lagu lagu mocopat, yang syairnya berat dan filosofis. Selain lagu, saat itu saya dan teman-teman sekolah dulu diajari pula tarian-tarian tradisional.

Maka pada hari-hari tertentu pergi ke sekolah bukan hanya membawa buku dan alat tulis melainkan juga sampur, selendang panjang yang dipakai oleh penari. Berbagai gerak tari mulai dari gerakan tangan, jari, leher, dagu, pinggang dan kaki diajarkan oleh guru. Tarian bukan hanya diajarkan pada jam pelajaran kesenian melainkan juga saat kegiatan ektrakurikuler pramuka. Biasanya di jam kegiatan pramuka yang diajarkan adalah tari komunal atau grup seperti Ndolalak dan Jaran Kepang. Menguasai satu atau kedua tarian ini bisa membuat kita terpilih menjadi delegasi mewakili sekolah untuk mengikuti Jambore (Pekan Perkemahan Pramuka) Kabupaten.

 Cerita soal lagu dan tari adalah menjadi pengingat bagi saya betapa saat itu masa-masa pendidikan di TK dan SD adalah masa yang menyenangkan, penuh nada dan gerak, yang kerap kali juga mendatangkan gelak, tawa bahagia yang lepas. Adakah anak-anak TK dan SD sekarang juga mengalami hal yang sama?. Sejauh saya amati dari anak saya, ketika masih di TK, pengalamannya mungkin tidak terlalu jauh dengan TK di jaman saya dulu. Yang membedakan mungkin hanya area saja, dimana TK-TK sekarang halamannya tidak seluas TK di jaman saya dulu. Soal mainan bahkan lebih lengkap demikian juga dengan alat bantu pendidikannya. Pendidikan di TK masih penuh dengan gerak dan lagu, meski kini sudah mulai disisipi dengan pengenalan bahasa Inggris, baca, tulis dan berhitung (Calistung).

Tapi ketika memasuki SD, saya tidak menemukan adanya pertambahan perbedaharaan lagu dan gerak yang ditunjukkan oleh anak saya. Saya buka buku paket pelajarannya, ada beberapa lagu yang tertulis di dalamnya namun ketika saya minta anak saya menyanyikannya ternyata tidak bisa. Ternyata bagian lagu itu dilewati tidak diajarkan. Kemudian saya tanya adakah tarian yang diajarkan dalam pelajaran di sekolah ternyata juga tidak.

Anak-anak SD sekarang ini sejak hari pertama masuk sudah dijejali dengan pengetahuan dan pengetahuan. Bocah-bocah kecil ini pagi-pagi sudah harus menanggung beban berat, berangkat sekolah dengan tas penuh berisi buku paket pelajaran. Sekurangnya ada tiga buku paket yang tebal dan lebar, ditambah buku LKS, dan masing-masing pelajaran dua buku tulis. Luar biasa, bahkan tas anak kuliahanpun kalah berat andai tidak berisi Laptop.

Masa-masa pendidikan dasar (tingkat SD) adalah masa dimana anak-anak masih kental dengan kebutuhan bermain. Maka pembelajaran seharusnya menyenangkan, sesuai dengan watak dan perkembangan anak dalam usia itu. Salah jika bangsa ini menaruh beban kegagalan bangsa pada anak-anak dengan menjejali berbagai macam hal yang seolah membuat bangsa ini tertinggal dari bangsa lain dalam mata pelajaran anak-anak SD.

Sadar atau tidak kita secara sengaja menghasilkan generasi stress melalui pendidikan dasar. Dan stress anak adalah juga stress ganda pada orang tuanya. Banyak orang tua akhirnya secara tidak sengaja melakukan kekerasan pada anaknya karena prestasi buruk anak di sekolah. Dengan demikian anak yang tertekan di sekolah semakin tertekan kala kembali di rumah. Stress anak dan juga stress orang tua yang bertemu, kemungkinan akan melahirkan cara-cara ‘kotor’ untuk mengatasinya dengan segera. Cara termudah tentu saja dengan membayar ini dan itu sehingga rapor anak tidak terbakar kala evaluasi semester atau kenaikan kelas.

Sebagai orangtua, saya tak ingin diri saya dan juga anak mengalami stress gara-gara pendidikan yang seharusnya menyenangkan. Maka maafkan saya kalau tidak memberi contoh yang baik, dengan sikap yang amat minimalis, yaitu saya sudah merasa bahagia dan gembira ketika anak saya rajin dan bersemangat bersekolah. Itu saja.

Pondok Wiraguna, 1 November 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum