Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (66)

Rabu, 31 Oktober 2012


Galau

Siapa yang tidak pernah galau?. Barangkali tidak pernah ada orang yang belum pernah mengalami kegalauan. Soal mengakui atau tidak, tentu saja bukan itu masalahnya. Memang banyak yang tidak mau mengakui atau berbagi pada orang lain soal kegalauannya, agar tidak dianggap lemah atau takut dicap lebay. Padahal sesungguhnya galau itu penting, galau pertanda seseorang sadar akan tantangan dan hari esok. Maka mereka yang sungguh-sungguh tak pernah galau bisa kita sebut sebagai orang tak punya kesadaran alias bebal terhadap kehidupan.

Saya merasa sebagai bangsa, kita adalah bangsa yang tengah galau. Galau akan masa depan bangsa ini yang dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran melihat berbagai perkembangan yang terjadi disana-sini. Jayabaya pernah meramalkan fase-fase yang akan dijalani oleh bangsa ini sebelum memasuki kejayaannya kembali. Fase dimana terjadi kekacauan karena ulah atau perilaku individu yang berkuasa, kemudian fase kekacauan akibat ulah komunitas, dan kemudian memasuki fase keteraturan dimana masyarakat dan penguasa telah belajar dari pengalaman yang lampau sehingga bertindak lebih bijaksana.

Fase pertama dan kedua terus saja terjadi, silih berganti, namun fase ketika tidak segera datang. Ketika Suharto jatuh dan orde baru digeser oleh orde reformasi dan otonomi daerah, harapan memasuki fase baru kehidupan menyembul dalam benak seluruh warga bangsa ini. Tapi nyatanya ditunggu sekian lama perbaikan tak juga kelihatan, demokratisasi tidak bekerja sebagaimana yang diharapkan. Dalam banyak hal situasi saat ini jauh lebih buruk dari masa-masa bangsa ini berada dibawah kepemimpinan Diktator Suharto.

Saya tentu tak hendak berpikir untuk kembali ke masa-masa kepemerintahan otoriter Suharto yang di permukaan menghasilkan ketertiban sosial yang cukup tinggi. Bagi saya demokrasi, meski bukan sebuah sistem yang barangkali terbaik, namun tetap merupakan sistem yang tercocok untuk kita sebuah bangsa yang punya keragaman tinggi. Demokrasi memungkinkan terjadinya koreksi kebijakan secara sistematik oleh kekuatan masyarakat dan ini yang selalu kita perlukan.

Kalau kemudian kini seolah demokrasi belum menghasilkan ketentraman, keamanan dan bahkan kesejahteraan bagi masyarakat itu bukan karena kesalahan sistemnya. Kegagalan demokrasi lebih dikarenakan belum tingginya komitment dan kehendak politik dari aktor-aktor demokrasi untuk melaksanakan perangkat dan sarana demokrasi secara benar. Partai sebagai salah satu pilar terpenting dari demokrasi, belum menjadikan pendidikan politik sebagai program utama, rekruitment masih berjalan serampangan, platform dan perjuangan partai masih mengikuti arus populer demi mengejar peluang kekuasaan dan kedudukan politik.

Untuk menghindari konflik, menghindari gangguan dan ganjalan dalam menjalankan kekuasaan, partai pemenang pemilu membangun koalisi dengan partai-partai lain. Koalisi yang di atas permukaan dibangun dengan niat baik, mengelola negara dan bangsa secara bersama, sesungguhnya adalah sebuah persekongkolan untuk mengamankan perjalanan kekuasaan lima tahun ke depan. Tak heran jika kemudian koalisi justru penuh gejolak, tenang di dalam tetapi kerap main sindir dan cubit di luaran.

Tak heran jika kemudian koalisi politik juga menjadi koalisi galau, koalisi yang tidak ‘blended’ melainkan antara satu dan lainnya bertindak dalam kerangka aksi dan reaksi. Masing-masing saling meneropong, terus menghitung untung dan rugi sendiri-sendiri. Politik akhirnya diabdikan pada kepentingan partai atau para petingginya tapi bukan untuk daulat rakyat.

Kembali ke soal galau yang sesungguhnya merupakan pertanda adanya kesadaran dan harapan akan masa depan yang lebih baik, saya tetap merasa bahwa kegalauan tak boleh terlalu lama dibiarkan tanpa jawaban yang pasti. Kalau galau kemudian hanya melahirkan kegalauan yang lebih dalam, saya khawatir bangsa ini akan memasuki tahapan bangsa yang depresi dan tidak waras. Bangsa yang kemudian bertindak tanpa kesadaran dan bersandar pada insting atau dorongan sesaat dalam merespon sesuatu. Dan tanda bahwa bangsa ini mulai kehilangan akal sehatnya dengan mudah disaksikan dimana-mana.

Pondok Wiraguna, 30 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum