Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (59)

Kamis, 18 Oktober 2012


Kemiskinan Vs Modernitas

Seorang bapak di Gunung Kidul terjun ke gua vertikal untuk mengakhiri hidupnya. Jasadnya ditemukan oleh kru film yang tengah melakukan shooting di dasar gua. Usut punya usut bapak itu mengakhiri hidupnya karena putus asa karena tak mampu memenuhi permintaan anaknya. Sang anak minta dibelikan motor dan hp.

Gunung Kidul sejauh saya ingat dan kenal adalah daerah yang sering menderita kekeringan. Tanahnya keras, karena sebagian besar adalah batu karang sehingga hanya jenis tanaman tertentu saja yang sanggup hidup disana. Fakta tentang kesulitan air dan perjuangan warga untuk mendapatkannya direkam dengan baik dalam film semi dokumenter berjudul Guyang yang diproduksi oleh Bingkai Yogyakarta.

Sewaktu mengikuti Kelas Pendidikan Atas (KPA) di Kolese Petrus Canisius Mertoyudan, saya dan teman-teman seangkatan berkemah di pantai Sundak, salah satu pantai yang ada di Gunung Kidul. Pantainya memang eksotis, karena tebingnya tinggi-tinggi dan dinding tebing itu membentuk gua-gua karena benturan ombak laut Kidul yang terkenal ganas. Konon dibagian-bagian tertentu tebing itu ada aliran air tawar yang jernih karena tersaring oleh bebatuan. Di bawah tanah yang tandus di Gunung Kidul tersimpan alur sungai jernih namun jauh dibawah sana.

Melihat profil alam Gunung Kidul maka dengan segera kita akan tahu betapa sulitnya perjuangan orang-orang setempat untuk mencari air, baik untuk kebutuhan keluarga maupun ternaknya. Di beberapa tempat ada jombor atau situ, tempat menampung air hujan yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk mencuci dan memandikan ternak selama beberapa waktu. Air di situ lama kelamaan akan menguap dan semakin kotor, tapi tak ada pilihan lain sampai kemudian kering sampai tanahnya terbelah-belah.

Apa yang tergambar diatas adalah kondisi geografi daerah yang disebut sebagai Gunung Kidul. Daerah yang meski gersang namun kehidupan masyarakatnya tidak dengan sendirinya juga gersang. Anak-anak Gunung Kidul tentu saja sama dengan anak-anak di tempat lain, gemar menonton Smash dan juga Cheribelle. Mereka doyan juga memakai gadget yang terbaru dan pingin bergaya keliling kampung dengan mengendari motor matic.

Dulu, sebagai mana yang saya alami. Kehidupan dan keinginan anak-anak di desa dengan anak di kota akan berbeda. Saya yang adalah anak desa, jauh ketinggalan pengetahuan tentang games. Karena tidak tahu maka saya tak ingin. Tapi kondisi itu jauh berbeda dengan anak-anak di masa ini. Siaran televisi bisa diterima dimana-mana, salurannya juga banyak. Internet juga masuk hingga ke desa-desa, maka online-pun bisa dilakukan dari tengah sawah, kebun dan atas bukit. Jadi gap atau jarak pengetahuan antara anak desa dan anak kota tak lagi berbeda jauh.

Jarak antara anak kota dan anak desa kini terpangkas oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Meski mungkin tidak bisa menonton secara langsung boyband manggung, anak-anak di desa tetap saja bisa mengelu-elukannya lewat streaming di youtube, berhubungan melalui twitter dan fanspage di facebook.

Pengetahuan yang setara tentu saja menghasilkan keinginan yang hampir sama. Sebagaimana anak-anak kota, anak desapun bisa menggilai gadget, pingin punya ini dan itu. Keinginan yang mungkin tidak dipahami dan dimengerti oleh orang tua mereka yang gaptek. Pasti orang tua di kampung pusing mendengar istilah android, touchscreen, keypad, bbm, whatapps dan seterusnya.

Soal lain dulu di jaman saya kecil, sebagai anak desa bahagia sekali jika orang tua membelikan sepeda. Sepeda jengki, merek phoenix buatan China. Tapi sekarang ini tentu saja bukan sepeda lagi ukurannya melainkan sepeda motor dan bukan sembarang motor melainkan yang matic. Sayang yang namanya keinginan itu tak memilih-milih untuk hinggap. Siapa saja tak peduli kaya atau miskin sama-sama bisa punya keinginan yang sejenis.

Dahulu ada istilah ‘pungguk merindukan bulan’ yang kurang lebih berarti orang nggak mampu merindukan sesuatu yang diluar kemampuannya. Tapi sekarang ini tak berlaku lagi, sebab penjual memberikan jalan dan pilihan yang membuat orang bisa mencicil pelan-pelan. Penjual tahu kalau semua harus dibayar cash tak bakal banyak barang yang terjual. Sulit menunggu orang menabung dahulu hingga kemudian cukup untuk membeli apa yang diinginkan.

Kasus yang terjadi di Gunung Kidul ibarat pepatah adalah anak polah bapak kepradah. Polah anak membuat orang tua tak sanggup menahan beban. Barangkali bapak itu amat menyayangi anaknya dan merasa selama ini belum mampu memberi kebahagiaan padanya. Maka ketika anak meminta sesuatu dan bapaknya tak tahu harus memenuhi dengan cara apa dirinya begitu putus asa. Tidak ada banyak pilihan yang mampu membuatnya memenuhi keinginan anaknya. Pilihan satu-satunya adalah tidak lagi mendengarkan permintaan anaknya dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Persoalan bapak yang tak mampu memenuhi permintaan anaknya, bukanlah persoalan pribadi melainkan persoalan bangsa ini. Kita mungkin memang gagal untuk memberikan pendidikan yang mampu membuat anak-anak mengukur kekuatan dan kemampuan orang tuanya untuk memenuhi keinginannya. Pendidikan kita telah gagal menciptakan generasi yang merasa percaya diri dan berarti bukan karena motor dan hp.

Pondok Angkringan, 12 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum