Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (57)

Kamis, 18 Oktober 2012


Dari Bung ke Bang
Lelaki di Ambon akan dipanggil Bung dalam pergaulan sehari-hari. Demikian pula dengan perempuan yang akan dipanggil dengan sebutan Usi.  Kebiasaan itu kemudian berubah setelah konflik Ambon. Kini di kelompok Muslim, laki-laki dipanggil dengan Bang dan perempuan dipanggil dengan Caca. Begitulah cerita dari seorang kawan yang kini menjadi Ketua MUI di Kota Ambon. Cerita ini tentu saja sebuah cerita keprihatinan, betapa setelah proses perdamaian di Ambon, justru menghasilkan segregasi yang kian mengental antara kelompok non muslim dan muslim. Tentu saja yang disebut dengan non muslim itu identik dengan kristen.

Kabar gembiranya kesadaran atau refleksi bahwa perdamaian di Ambon belum tuntas atau bahkan menyimpan bara yang kelak bisa meletupkan konflik kembali tidak muncul hanya dalam diri Pak Kyai muda ini saja. Ada rekan-rekannya dari kelompok agama lainnya yang juga mempunyai kesadaran yang sama dan saling bahu membahu untuk tetap meneruskan langkah menuju perdamaian Ambon yang substantif.

Konflik memang bisa berhenti atau mengalami jeda dan kemudian dianggap sebagai damai dengan cara memisahkan, memberi batas atau sekat. Keadaan damai karena segregasi, resikonya jika kelompok ini berada dalam satu wilayah administratif maka semua hal mesti dibagi. Alhasil dalam pemilihan ketua daerah misalnya, jika walikotanya berasal dari kelompok A maka wakilnya mesti dari kelompok B. Jika periode ini dipimpin oleh kelompok A maka periode berikutnya dipimpin oleh kelompok B.

Mungkin tidak terlalu menjadi soal jika kedudukan itu bisa dibagi dua, tapi bagaimana dengan jabatan-jabatan lain yang tidak selalu bisa dibagi adil dan merata . Misalnya jika anggota DPRD-nya berjumlah 35, nah bagaimana membaginya. Kerumitan tentu saja tidak saja berada dalam gedung DPRD melainkan juga di dalam tubuh partai, terutama pada partai-partai yang non sektarian.

Saya ingat cerita yang sama meski tidak dilatari oleh konflik. Saat Gorontalo menjadi bagian dari Sulawesi Utara, ada semacam kesepakatan bahwa kalau gubernurnya kristen maka wakilnya harus muslim dan begitu sebaliknya. Atau kalau tidak, misalnya gubernur dan wakilnya adalah kristen maka ketua DPRD-nya harus muslim. Hal ini berlaku pula untuk pemilihan komisi-komisi yang dibentuk di daerah seperti KPU dan lain-lainya. Setiap kali proses dimulai selalu ada perbincangan tentang kuota, berapa kristen berapa muslim.

Kuota seperti itu seolah-olah adalah jalan termudah untuk mengatasi atau mencegah terjadinya benturan antar kelompok. Mungkin benar tapi hanya untuk sementara. Toh dalam realitasnya komunitas muslim dan komunitas kristen bukanlah entitas yang tunggal. Didalam masing-masing kelompok itu ada faksi-faksi yang juga berpotensi menimbulkan friksi tertentu. Dan sesungguhnya jabatan, kedudukan dan keanggotaan dalam lembaga-lembaga kepemerintahan tidak didesain berdasarkan kuota melainkan berdasarkan kompetensi dari yang mendudukinya (the right man on the right place). Maka model kuota-kuota-an ini dalam jangka panjang justru menyingkirkan mereka-mereka yang seharusnya duduk atau tepat berada dalam kursi tertentu tidak bisa mendudukinya karena tidak ada kuota untuk dirinya.

Maka tidak salah jika kemudian rekan saya di Ambon menjadi begitu gelisah. Perdamaian di Ambon belum menyatukan kelompok yang bertikai kembali hidup bersama, membangun kehidupan bersama, bahu membahu sehingga keadaan makin baik.  Bagaimana kehidupan dan perdamaian yang hakiki akan tercapai kalau mereka yang berada di tempat yang sama ternyata tidak bersama-sama ‘meng-ada’. Orang di Ambon barangkali hidup bersama, tapi tidak dalam kebersamaan.

Namun Ambon tidak kekurangan “provokator perdamaian” baik dari kelompok kristen maupun muslim yang bekerja bersama-sama, bahu membahu mengembalikan Ambon kembali jadi Ambon Manise. Hanya saja perlu waktu dan energi yang besar untuk membuat semua orang Ambon kembali menyanyikan lagu “Katong Samua Basudara”.

Pondok Angkringan, 14 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum