Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (55)

Kamis, 18 Oktober 2012

Antara Logika dan Logistik

Minggu kedua bulan Oktober 2012 saya mengikuti kegiatan refleksi dan proyeksi dari jejaring antar iman se Indonesia. Sebuah pertemuan yang kemudian membuat saya mengingat lagi pertemuan pertama yang dilakukan 12 tahun lalu di Malino, Sulawesi Selatan. Di tempat yang dingin itu berkumpul para pendekar-pendekar antara lain Th. Sumartana, Julius Siranaymual, KH. Arifin Assegat, Kyai Dian Nafi, KH. Ahmad Tohari, Mansyur Faqih dan lain sebagainya. Semua sepakat bahwa Indonesia tengah menghadapi ancaman disintegrasi karena masyarakat gagal merayakan perbedaan. Setelah pertemuan Malino pertemuan serupa terus diadakan, sekurangnya telah 5 atau 6 kali, kelompok jejaring interfaith ini berkumpul.

Satu demi satu para pendekar surut dan pendeka-pendekar baru mulai bermunculan mesti level dan pengaruhnya belum setinggi para pendahulunya.Jejaring serupa juga bermunculan di berbagai tempat dan itu merupakan sebuah angin sejuk, betapa banyak orang dan kelompok yang mencintai takdir bangsa ini sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman.

Saya tak selalu ikut dalam pertemuan refleksi dan proyeksi secara rutin, setelah pertemuan pertama, kemudian saya ikut lagi pertemuan yang entah keberapa yang dilaksanakan di Banjar Baru Kalimantan Selatan, hingga kemudian ikut dalam pertemuan terakhir di University Club Hotel UGM. Ada banyak muka-muka baru, tetapi masih banyak tersisa muka –muka lama yang mulai menua. Isu hubungan antar iman secara luas adalah isu yang muncul bersama dengan lahirnya agama-agama. Agama yang lahir untuk membawa pembebasan dan kebebasan dalam prakteknya banyak menimbulkan perpecahan entah karena ajaran teologi, penghayatan atau tafsir penganutnya atas kitab suci maupun praktek-praktek lain yang terkait dengan politik dan ekonomi.

Persoalan ini kemudian menjadi persoalan yang mengakar yang tidak mudah untuk diselesaikan. Kalau disebut penyakit, maka ini merupakan sakit yang kronis dan berat serta mengandung komplikasi, akibatnya treatment pada satu gejala tertentu bahkan bisa memperberat gejala yang lain. Makanya saya tak heran jika banyak muka-muka lama bertahan, bertekun untuk terus berusaha menemukan formula terbaik yang bisa memberi sedikit kesembuhan atas penyakit jaman ini. Mereka adalah pejuang yang berjalan dalam senyap. Issu interfaith mau tak mau membuat kita sendiri melakukan otokritik atas agama yang kita anut. Sesuatu yang mungkin saja membuat kita tidak populer dalam lingkungan sendiri tetapi juga dicurigai oleh kelompok lainnya.

Hormat dan salut saya untuk mereka yang tidak lelah berjuang dalam rentang waktu yang lama. Bertahan untuk terus optimis dan punya energi meski keberhasilannya nampak tidak terlalu banyak. Catatan-catatan keberhasilan nampaknya bernada anekdotal, berhasil disini, dalam rentang waktu tertentu tapi kemudian bisa lenyap tanpa bekas. Sulit menduplikasi dan mereplekasi keberhasilan-keberhasilan di satu tempat untuk bisa diterapkan di tempat lainnya. Saya sendiri selalu senang hadir dalam pertemuan seperti ini meski tak bisa lagi serius dan fokus menemukan jalan dan alternatif pemecahan untuk berbagai masalah yang dikumpulkan dan ditemukan berbagai tempat. Tapi saya selalu sepakat bahwa bangsa ini saat ini sekarat karena kegagalan menyikapi perbedaan dengan dasar kemanusiaan.

Ada terang disana sini, ada optimisme yang tetap terjaga dan ada silaturahmi yang semakin meluas antar para pejuang dan aktor (sekaligus provokator) perdamaian. Secara logika jejaring ini tak menemui persoalan yang substansial. Semua sepakat dan saling mendukung gerakan pada wilayah dan lapangan masing-masing. Persoalan yang besar justru selalu muncul pada sisi logistik. Jejaring semacam ini hidup dari prinsip ‘bantingan’ dengan sumberdaya yang terbatas. Sisi positifnya mungkin menjadi mandiri dan tak terikat pada pihak (sponsor atau donor) lain. Tapi lantaran persoalan yang dihadapi begitu besar maka model ‘urunan’ akan membuat gerak jejaring ini menjadi terbatas dan terkendala. Persoalan yang didepan mata yang butuh respon cepat kerap tak bisa ditangani dengan segera.

Sudah lebih dari 16 tahun, saya memberi perhatian pada persoalan fund rising, tetapi selama 16 tahun itu pula saya kebingungan soal model atau jenis fund rising apa yang tepat untuk gerakan seperti ini. Memproduksi uang dengan usaha sendiri jelas sulit karena pegiat gerakan biasanya tidak terampil memproduksi ini dan itu yang bisa menghasilkan uang dalam jumlah yang cukup besar. Mencari sosok figur yang kaya, bersih, baik tanpa pamrih dalam memberi uang juga mustahil untuk dilakukan.

Persoalannya apa untungnya bagi orang itu menginvestasikan dananya pada gerakan ini. Mengambil dana CSR dari perusahaan besar tentu juga bermasalah karena tidak semuanya akan bersepakat. Di akhir pertemuan selalu ada rangkaian persoalan penting yang bisa disimpulkan serta alternatif langkah untuk menyelesaikannya. Namun lagi-lagi hingga pertemuan berakhir urusan logistik selalu tidak jelas juntrungannya.

Mungkin memang hanya Tuhanlah yang bisa menyelesaikan, sayang rencana Tuhan selalu saja merupakan sebuah misteri.

Pondok Angkringan, 13 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum