Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (53)

Senin, 08 Oktober 2012


Basa-Basi Pariwisata

Sekali waktu saya menghadiri perayaan  upacara adat, dan adalah lazim dalam upacara seperti itu akan diundang para pejabat pemerintahan. Dalam perayaan itu pejabat pemerintahan diminta memberi sambutan. Isinya kira-kira begini, “Hutan kita hampir habis, juga kekayaan-kekayaan alam lain seperti batubara dan emas. Kalau itu semua sudah habis, kita akan jatuh miskin, tak punya apa-apa lagi. Karena itulah kita harus mulai mencari dan mengembangkan kekayaan kita yang belum tergali. Pariwisata adalah salah satu alternative yang paling potensial, apalagi kita mempunyai kekayaan budaya yang luar biasa dan tak akan habis walau pun kita suguhkan setiap bulan”.

Harusnya saya terharu mendengar kesadaran dari seorang pejabat bahwa sumberdaya alam yang tak bisa diperbaharui bukan merupakan sandaran bagi kehidupan masyarakat ke depan. Tapi ‘sorry to say’ kalau diri saya ta sedikitpun tersentuh dengan ucapan pejabat itu. Apa bedanya ucapan itu dengan pembicaraan para pejabat tentang pertanian, tanaman pangan, kemandirian energi dan lain sebagainya.

Bagi saya isu pariwisata adalah isu andalan para pejabat ketika tak tahu harus bicara apa. Para pejabat dan sebagaian besar dari kita memang kerap melakukan gloryfikasi atas apa yang disebut sebagai kekayaan bumi Nusantara yaitu budaya. Padahal sadar atau tidak apa yang kita anggap sebagai kekayaan itu sesungguhnya telah kita habisi.

Setahu saya dalam berbagai kebudayaan Nusantara, ada kaitan erat antara hidup matinya kebudayaan dengan lingkungan (alam). Dan kita tahu persis ditempat-tempat yang kekayaan alamnya luar biasa, telah terjadi ekploitasi besar-besaran yang membuat bentang alam berubah drastis. Jenis kekayaan flora dan fauna yang menopang kebudayaan tertentu sulit untuk ditemukan atau bahkan punah. Dalam kondisi seperti ini sesungguhnya kebudayaan masyarakat di sekitarnya juga mati suri. Kalaupun ada yang tersisa maka tak lebih bentuk-bentuk kebudayaan dalam rupa kesenian, tari-tarian, musik atau nyanyian. Tapi apa artinya musik, gerak dan lagu, jika apa yang digambarkan atau dihadirkan lewat kumandang telah sirna.

Pidato pejabat pemerintahan dalam banyak kerap merupakan simplifikasi. Seolah membangun pariwisata itu gampang. Banyak yang secara serampangan pingin berkiblat pada Bali atau sekurang-kurangnya Yogyakarta. Dua daerah wisata yang kental dengan nuansa kultural setempat. Maka beramai-ramai pemerintah setempat dan tentu saja dengan mereka yang merasa atau dianggap sebagai tokoh seni-budaya mulai mencari dan menggali khasanah setempat yang layak untuk diangkat atau ditampilkan sebagai ikon wisata seni-budaya. Bahkan beberapa daerah mulai melangkah lebih jauh dengan menetapkan kawasan entah desa atau komunitas tertentu menjadi desa atau daerah wisata. Sebutan kerennya adalah desa budaya, entah apakah ini berarti desa lain yang tidak ikut ditetapkan secara otomatis menjadi desa tak berbudaya.

Atas perilaku seperti ini, saya menganggap mereka tengah mengalami rabun senja, melangkah dalam remang-remang. Mereka lupa, Bali dan Yogya menjadi kuat karena ditopang oleh spirit budaya yang hidup dan kuat. Bali dengan Hindu-nya dan Yogya dengan ketaatan serta hormat warganya kepada Sri Sultan sebagai junjungan.

Padahal kalau mau belajar dari pengalaman, desa-desa atau kawasan yang kemudian berkembang menjadi lokasi wisata budaya, biasanya berkembang secara alamiah. Setapak demi setapak mereka melangkah hingga kemudian dikenal oleh wisatawan karena disana hidup aktifitas kebudayaan entah berkaitan religiusitas, adat istiadat yang termanifestasi dalam bentuk seni, kerajinan, upacara dan bahkan kehidupan sehari-hati. Berbeda dengan wisata alam baik yang asli maupun artifisial yang bisa dibuat begitu saja dan indah, wisata seni-budaya harus menempuh jalan panjang untuk mencapai reputasinya. Menetapkan sebuah daerah menjadi desa budaya tidak secara otomatis atau serta merta membuat desa itu mampu menarik wisatawan serta menghasilkan pendapatan.

Setahu saya di Samarinda ada satu desa wisata yang cukup dikenal yaitu desa Pampang, kampung masyarakat Dayak Kenyah. Setiap hari minggu atau hari libur di lamin dipentaskan aneka tarian untuk dipertontonkan pada pengunjung. Pengunjung mesti menyesuaikan diri dengan waktu itu atau tak bisa datang sewaktu-waktu ke sana. Pada hari biasa kampung itu tak lebih dari kampung lainnya.

Di sebelah desa Pampang, ada desa Sungai Bawang yang masuk wilayah Kutai Kartanegara. Desa Kali Bawang juga merupakan salah satu dari puluhan desa di Kutai Kartanegara yang ditetapkan menjadi desa budaya. Dan nasib desa budaya di Kutai Kartanegara jauh lebih buruk daripada Pampang, desa Budaya di Kota Samarinda.

Ada kecenderungan di daerah yang kaya dengan sumberdaya alam untuk menghibur diri ketika kekayaannya mulai terkikis maka mulailah muncul impian tentang pariwisata. Atau bahkan ada yang lebih aneh lagi, misalnya dari sebuah daerah yang bertumpu pada pertambangan kemudian pasca tambang berharap akan menjadi daerah pertanian (agrobisnis, agropolitan). Terus terang saya gagal paham soal logika apa yang sedang dipakai oleh para pemimpinnya. Apakah pemimpin berarti pemimpi di siang bolong?.

Pondok Wiraguna, 6 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum