Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (49)

Senin, 08 Oktober 2012


Pengusiran Setan

“Ada kurang lebih 50.000 aduan yang masuk ke tahta suci tentang kerasukan setan. Oleh karenanya tahta suci kembali berniat membuka kembali fakultas eksosisme”. Begitu kira-kira sebuah cuplikan dialog dalam film The Rite yang menceritakan kisah kerasukan dan pengusiran setan dengan latar belakang Gereja Katolik. Alm. Paus Yohannes Paulus II sendiri pernah menyatakan bahwa tugas untuk mengusir setan sebagaimana dilaksanakan oleh Santo Michael Agung masih berlangsung hingga sekarang. Gereja terus melakukan hal itu karena kerajaan iblis masih bekerja dan semakin merajalela.

Sebagai orang Katolik yang lahir di Jawa tengah, saya mengenal tradisi pengusiran setan (exorcis).Upacara pengusiran setan biasanya dilakukan saat melakukan pemberkatan rumah baru. Pastor melakukan pembersihan rumah dari anasir-anasir jahat dengan memercikkan air suci mengelilingi rumah dan ruangan-ruangan yang ada dalam rumah itu. Selain itu juga dilakukan pemasangan salib yang telah diberkati. Dengan upacara ini diharapkan rumah itu mendatangkan ketentraman bagi penghuninya karena telah terbebas dari gangguan setan dan iblis.

Tradisi pengusiran setan bukan hanya tradisi dalam agama-agama samawi. Kebudayaan dan kepercayaan masyarakat tradisional juga melakukan hal itu. Dalam berbagai kebudayaan dan kepercayaan adat diyakini bahwa ada kekuatan-kekuatan baik dan kekuatan jahat di luar diri namun bisa merasuk ke dalam diri manusia. Kemasukan roh yang baik akan membuat seseorang mampu melakukan hal-hal yang istimewa, seperti menyembuhkan penyakit, mencari barang hilang dan lain sebagainya. Maka di Jawa sering kali terdengar istilah ‘dukun tiban’, seseorang yang tidak mempelajari ilmu tertentu tiba-tiba saja mampu melakukan berbagai penyembuhan. Lain halnya jika kemudian kemasukan roh jahat dimana orang tiba-tiba berperilaku aneh, menakutkan dan bahkan merusak. Tak heran jika kemudian ada orang yang ngamuk dan marah-marah tanpa alasan kerap dibilang ‘kemasukan setan’.

Dulu sewaktu masih tinggal di kampung halaman, saya dan teman-teman gemar menyaksikan Jaran Kepang dan Ndolalak. Tarian tradisonal yang secara sengaja mengundang roh untuk merasuki para penarinya. Jika seorang penari terasuki maka akan melakukan tindakan-tindakan yang tak lazim dilakukan oleh orang normal. Contohnya mengupas kelapa dengan mulut, memakan kembang seolah-olah makanan lezat, mengunyah beling serasa seperti keripik, tahan di pecut dan sebagainya. Ketika dahi mereka ditepuk oleh pawang dan dibawa bersimpuh di depan kendang biasanya penari itu sadar. Terlihat mereka kelelahan setelahnya.

Saya tak tahu roh apa yang merasuki mereka, entah baik atau jahat. Namun yang pasti kerasukan menjadi hiburan tersendiri. Contoh lain adalah pertunjukan Nini Towok. Boneka yang terbuat dari Siwur, semacam gayung yang terbuat dari batok kelapa yang diberi gagang bambu. Sebelum dipakai untuk pertunjukkan, Siwur itu ditaruh terlebih dahulu di kuburan. Roh dipanggil dan kemudian ‘manjing’ dalam Siwur itu, bergerak kesana kemari. Perlu dua orang untuk memegangnya. Pertunjungan Nini Towok ini mirip permainan yang sering dimainkan anak-anak dahulu yaitu Jalangkung. Kadang kala dalam pertunjukkan seperti ini konon roh yang diundang tak mau pulang dan bahkan kemudian merasuki orang yang ada disekitar situ.

Saya kemudian berpetualang ke Sulawesi Utara, tinggal bergantian di Minahasa maupun Manado. Dan saya tak menemui apa yang lazim saya saksikan di Jawa. Masyarakat Minahasa dan Manado setahu saya termasuk salah satu masyarakat yang modern. Masyarakat yang sudah meninggalkan kepercayaan-kepercayaan lama. Bahkan ada seloroh kalau di Minahasa yang menakutkan itu bukan setan melainkan orang mabuk di jalanan. Menurut mereka Kuntilanak-pun  kalau sudah dikasih rica-rica akan jadi ikang (lauk).

Pandangan saya berubah ketika suatu saat saya menyaksikan Om Utu’ sibuk mempersiapkan sesuatu. Dia memotong ruas-ruas bambu menjadi semacam gelas, mengulung tembakau menjadi rokok lintingan dan kemudian menaruh nasi dalam kepalan untuk dibentuk menjadi bola-bola. Saya tidak bertanya, hanya melihat dengan penasaran. Tak lama kemudian Om Utu’ berjalan ke belakang rumah, sebuah pondok yang baru selesai dibangun. Ditaruhnya daun nasi sebagai alas, ada tujuh lembar. Kemudian masing-masing lembar diberi bola-bola nasi, sebutir telur dan segelas bambu cap tikus di sampingnya. Lintingan rokok disulut lalu ditaruh di atas gelas bambu. Kemudian Om Utu berkomat-kamit entah mengucapkan apa.

Setelah selesai semuanya saya bertanya soal apa yang dilakukan tadi. Om Utu menjawab “Kase makang voor yang batunggu ini tampa supaya nyanda baganggu pa torang yang tinggal disini”. Nah, ternyata orang Minahasa juga mempunyai tradisi atau kebiasaan berkaitan dengan roh-roh halus. Tradisi memberi makan pada roh halus agar tidak menganggu orang yang tinggal di sekitar wilayah roh itu berada. Penunggu demikian sering dikatakan untuk menyebut roh-roh yang berada di suatu tempat. Entah itu pekarangan, pohon besar, belokkan, jembatan, sumber air dan lain sebagainya. Dan tidak seperti ajaran agama samawi, ajaran adat atau tradisi biasanya lebih akomodatif pada roh-roh, bukan diusir melainkan diberi ‘makan’ dengan permintaan tidak menganggu. Manifestasi gangguan roh pada masyarakat dalam kepercayaan adat adalah kesialan yang terus menerus, bencana, wabah penyakit , gagal panen dan sebagainya.

Namun baik kepercayaan tradisional maupun ajaran agama anak cucu Ibrahim sama-sama mempunyai keyakinan ada mahkluk-mahkluk di luar mahkluk hidup lainnya (manusia, binatang dan tumbuhan) yang bisa mempengaruhi manusia. Pengaruhnya bisa berupa pengaruh baik dan pengaruh buruk. Oleh sebab itu harus ditangkal. Nah urusan menangkal ini caranya beda-beda, ada yang melalui negosiasi (akomodatif) tapi ada juga yang melalui konfrontasi (pengusiran).

Saya sendiri tak bisa menyangkal maupun menerima 100% soal urusan setan, iblis dan segala macam pasukannya itu. Saya tak juga khawatir soal kerasukan atau gangguan dari para ‘penunggu’. Saya saya khawatirkan justru sekarang ini bukan lagi jamannya orang kerasukan setan, melainkan setan mungkin sudah kerasukan orang. Alhasil kitalah yang menjadi setan bagi yang lainnya sesuatu yang atas salah satu cara dikatakan lewat pepatah latin, Homo Homini Lupus.

Pondok Wiraguna, 8 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum