Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (47)

Senin, 08 Oktober 2012

Koran, Bukan Isi Perut Wartawan

Apa yang dimuat dalam surat kabar setiap harinya?. Berita tentu saja. Dan apa sesungguhnya sebuah berita itu?. Berita adalah sepenggal peristiwa yang ditangkap oleh penulisnya. Maka berita meski diharapkan bersifat obyektif, selalu membawa subyektifitas penulisnya. Subyektifitas tercermin lewat pilihan sudut pandang (angle) yang dipilih oleh penulisnya saat berhadapan dengan sebuah peristiwa. Hanya saja orang terlalu berharap banyak pada sebuah berita. Berita disangka mengabarkan seluruh peristiwa dan kebenaran. Tak heran jika kemudian banyak orang marah atau kecewa dan kemudian menuduh bahwa berita mengabarkan kebohongan, merekayasa kejadian dan seterusnya.

Padahal senyatanya tidak demikian, melainkan berita hanya mampu menyajikan satu serpihan kebenaran, bukan keseluruhannya. Terlalu sempit ruang koran untuk mengambarkan seluruh realitas peristiwa secara rinci. Saya tak hendak mengajak untuk tidak percaya pada koran. Bukan itu maksud saya, melainkan hanya ingin berpesan agar jangan terlalu berharap banyak pada koran. Karena koran pada hari ini kebanyakan memang hanya mampu mengabarkan sepenggal berita. Bukan karena reporter atau jurnalisnya tak mampu menulis dengan dalam (indepth news) melainkan tak tersedia banyak ruang untuk menampung berita yang panjang. Terlalu banyak hal yang mesti diberitakan, belum lagi terlalu banyak pula iklan yang harus dikabarkan. Di luar itu masih ada lagi lembar-lembar kontrak yang tidak lagi bisa diganggu gugat halamannya.

Reporter ibarat produsen berita, mesti mencari 3 sampai 5 berita setiap hari, maka mana sempat lagi mendalami ini dan itu bahkan kalau perlu sekali mendayung dua tiga pula terlampaui. Satu kali wawancara dipecahkan menjadi dua atau tiga berita. Andai jumlah berita yang dikumpulkan oleh reporter tidak mencukupi, masih ada cara mudah mendapatkan berita atau isi lembar koran. Buat saja account twitter atau facebook dan kemudian pindahkan isinya ke dalam lembaran koran berita setiap harinya. Dalam pandangan masyarakat kita, profesi jurnalis adalah profesi yang mulia, seperti layaknya tokoh agama, dokter, polisi, guru dan hakim. Profesi yang dijalani karena panggilan hidup untuk menolong dan melayani masyarakat agar kehidupan berjalan semakin baik.

Tak heran jika kemudian koran (media lainnya) dianggap sebagai pilar ke empat demokrasi. Karena dalam lembar-lembar koran bukan hanya puja-puji saja yang mesti diungkap melainkan juga sederetan fakta dan sikap kritis maupun kritik terhadap perilaku kebijakan pemerintah. Tentu saja pandangan diatas menyiratkan idealisasi atas profesi tertentu. Dan nyatanya dalam banyak kejadian, profesi-profesi yang dipandang sebagai pengabdian, panggilan hidup, justru penuh dengan skandal-skandal. Dokter yang seharusnya lebih mendahulukan ‘kehidupan’ ternyata justru lebih mengabdi pada perusahaan farmasi lewat resep-resepnya. Polisi yang seharusnya mendahulukan keamanan dan keamanan untuk semua ternyata justru lebih berguna untuk mereka-mereka yang kaya. Dan hakim yang semestinya memutuskan perkara atas dasar keadilan ternyata mempertaruhkan kehormatan palunya di bawah lembaran rupiah. Itu sebabnya kerap terdengar seloroh Kasih Uang Habis Perkara (KUHP).

Demikian juga dengan koran dan media-media lainnya, yang kerap diharap membantu menyuarakan suara dari mereka yang tidak punya suara (voice of voiceless), namun justru menjadi corong orang-orang tertentu. Ini terjadi karena koran dan media lainnya tumbuh menjadi industri berita, yang kemudian menjadi alat bagi kekuatan tertentu untuk kepentingannya sendiri. Agar sebuah koran punya pengaruh, dibaca oleh banyak orang, mempunyai tiras yang tinggi tentu butuh modal yang besar untuk mengerakkannya. Cerita koran pada saat ini bukanlah cerita romansa romantika, kisah perjuangan para jurnalis menahan lapar, berjuang mempertaruhkan nyawa di medan yang penuh resiko sudahlah usang. Cerita koran sekarang ini lebih condong pada sebuah investasi, di balik lembaran-lembaran koran selalu ada investor yang siap mengelontorkan uangnya. Tanpa itu maka koran akan hidup segan matipun tak mau. Koran menjadi Kala Warta, kala-kala ada, kala-kala tidak.

Media dengan pengaruhnya memang merupakan alat yang strategis untuk kekuatan-kekuatan tertentu. Dan ini sebagian besar media yang konvergen (pemilik koran biasanya punya televisi, majalah, radio dan media online) dimiliki oleh sosok atau kelompok dengan afiliasi politik tertentu. Maka tak heran jika kemudian kita kerap disuguhi berita-berita yang tidak perlu. Sebab isi berita koran (media lainnya) tak selalu merupakan cermin tulisan berita dari para jurnalisnya.

Pondok Wiraguna, 6 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum