Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (46)

Kamis, 04 Oktober 2012


Time Is Money

Secara tradisional masyarakat kita mengajarkan bahwa tujuan hidup atau cita-cita kemanusiaan kita adalah menjadi orang yang mulia, berguna bukan hanya bagi keluarga, melainkan untuk masyarakat, nusa dan bangsa. Maka tak heran jika anak-anak ditanya apa cita-citanya ketika besar nanti, jawabannya adalah profesi-profesi yang dipandang penuh pengabdian. Contoh yang paling populer adalah guru, dokter, polisi dan kadang ada juga yang nyeleneh seperti menjadi pasukan kuning (tukang sapu jalan). Hampir dipastikan tidak ada yang menjawab ingin menjadi politisi dan anggota DPR. Kalo ada yang berkaitan dengan politik, biasanya anak-anak akan menjawab ingin jadi Presiden. Itu karena Presiden kerap dicitrakan sebagai orang yang mengabdi pada bangsa, bapak bagi rakyat, baik dan tersenyum kepada siapa saja tanpa membeda-mbedakan.

Semakin anak-anak bertumbuh kemudian sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, ajaranpun akan semakin berkembang. Anak-anak berhadapan dengan apa yang disebut tuntutan dunia nyata. Bahwa untuk mendapat nilai yang baik bukan hanya bermodalkan otak yang encer dan pintar, melainkan juga mesti rajin membeli buku, ikut les yang diselenggarakan oleh guru dan tidak menolak atau keberatan saat diminta sumbangan sukarela oleh sekolah. Anak-anak muda ini sadar atau tidak mulai diajari bahwa duit itu penting. Dalam ajaran kaum munafik dikatakan uang memang bukan segala-galanya, tapi tanpa uang tak akan ada segalanya. Jadi apa bedanya dengan mengatakan uang adalah yang pertama dan utama. Apapun bisa didapat asal ada uang. Maka wajar peribahasa yang pertama dikenal dalam bahasa Inggris adalah “time is money”.

Dan coba tanyakan kembali apa cita-cita mereka kali ini. Mungkin saja masih menyebut dokter atau polisi, coba tanyakan kenapa?. Jawabannya kemungkinan besar masih ada bau-bau pengabdian tetapi sudah cenderung memandang bahwa itulah jenis pekerjaan yang mampu menghasilkan duit. Dokter dianggap bisa meresepkan obat yang setengah menyembuhkan sehingga pasien datang kembali. Belum lagi fee dari perusahaan-perusahaan obat yang terbantu karena sang dokter terus menerus meresepkannya. Menyebut polisi bukan untuk urusan gaji, sebab bisa jadi gajinya kecil, tapi sebagai polisi kemungkinan untuk mencari penghasilan diluar gaji cukup terbuka lebar.

Selain profesi itu akan mulai muncul profesi-profesi lain yang intinya bakal menghasilkan duit dengan cepat seperti menjadi artis, penyanyi, model, bintang film, teknisi tambang, pilot, pramugari, ahli IT, akuntan, pengusaha kuliner, distro dan sebagainya. Menjadi politisi terutama anggota DPR meski tidak terlalu lantang pasti mulai ada yang menyebutkannya. Semua tentu sadar bahwa jenis profesi yang mampu dengan cepat merubah nasib adalah dengan menjadi anggota dewan. Contohnya jelas, mereka yang datang naik angkot saat dilantik, tak lama kemudian akan bermobil dan segera membangun rumah baru.

Pilihan cita-cita kemudian erat dengan apa yang diperoleh lewat pekerjaan (profesi) yaitu uang atau penghasilan yang besar. Kesadaran bahwa uang itu penting memang dibangun lewat pengalaman di sekolah, pengalaman dalam masa pendidikan.

Saya tak akan memberikan contoh orang lain, cukup anak saya saja. Sampai dengan saat sekolah di TK, anak saya tak tahu uang sama sekali. Bekal di bawa dari rumah dan pada hari tertentu sekolah membagikan makanan tambahan. Di belakang sekolahnya ada kantin, tapi gurunya selalu melarang anak-anak keluar dari kompleks sekolah. Saya ingat persis, guru-guru mereka juga akan menegur anak-anak apabila membawa bekal sejenis snack dalam kemasan.

Keadaan berubah setelah masuk SD, setiap kali berangkat sekolah selalu meminta uang merah. Anak saya menyebut uang merah karena belum tahu nilai uang, tapi dia tahu uang yang berwana merah cukup untuk membeli jajanan di kantin sekolah. Dan tentu penjual di kantin juga sudah paham soal anak-anak yang belum tahu nilai persis selembar uang. Mereka fasih menerangkan dengan uang yang ada di tangan anak-anak, mereka bakal dapat apa, ini atau itu.

Sering kali saya berpikir, jangan-jangan anak saya ini semangat bersekolah karena disekolahnya ada kantin. Belanja itu menyenangkan dan itu intinya. Sebab kalau memang karena haus atau lapar karena lelah belajar maka sebenarnya bekal bisa dibawa dari rumah. Dan nyatanya begitu masuk SD, anak saya tak lagi mau membawa bekal dari rumah. Khan, di sekolah ada kantin, soto dan nasi gorengnya enak kok, begitu kilahnya kalau disiapkan bekal dari rumah.

Setelah beberapa bulan mengikuti pelajaran di SD, anak saya mulai bisa membaca mesti masih pelan-palan sambil mengeja. Selain itu juga mulai bisa berhitung hingga puluhan, baik tambahan maupun pengurangan. Tapi tetap saya merasa bahwa perkembangan yang paling cepat adalah persoalan uang. Anak saya dengan cepat memberitahukan pembayaran dan iuran ini itu, beli buku ini dan itu, harga ini dan itu di kantin serta berapa uang saku yang harus dibawanya setiap berangkat sekolah. Hari-hari sekolah adalah uang saku. Time is Money.

Pondok Wiraguna, 5 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum