Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (45)

Kamis, 04 Oktober 2012


Untung Saya Lahir di Desa

Saya selalu merasa beruntung terlahir sebagai anak desa di sebuah kota kecil pada masa Indonesia sedang berusaha bangkit menjadi negara dengan model pembangunan yang modern. Pada masa itu sebagai anak-anak, saya bermain dengan segala jenis permainan yang dibuat sendiri dan berasal dari bahan-bahan yang ada di sekitar rumah. Kalaupun ada yang dibeli itu adalah jenis-jenis mainann yang tidak bisa dibuat sendiri seperti balon, pancing, gambaran, kartu dan kelereng.

Permainan elektronik belum dikenal, meski sudah ada saat itu. Hanya cucu eyang Bupati yang mempunyainya dan saya serta teman-teman tidak berusaha untuk ikut memilikinya. Tinggal di desa yang paling utama adalah bukan apa yang kita miliki melainkan sebanyak apa teman yang kita punyai. Berteman itu yang paling penting, semakin banyak teman akan semakin beragam jenis permainan yang bisa kita mainkan. Saya ingat persis, untuk membaca majalah atau buku bacaan lainnya diluar pelajaran sekolah, kami berpindah-pindah. Mulai dari teman yang punya koleksi majalah cerita bergambar yaitu EPPO, dikirim oleh orang tuanya yang bekerja di Jakarta. Setelah selesai pindah ke teman yang berlangganan majalah Hai. Sesekali kami bermain ke luar desa, ke rumah teman yang mengkoleksi komik Tintin terbitan Indira Yogyakarta.

Soal komik Tintin ini, karena begitu nge-fans, tak mampu membeli dan koleksi teman sudah habis dibaca maka saya dan teman-teman beramai-ramai pergi ke Yogyakarta. Saya pergi ke toko buku Indira bukan untuk membeli melainkan masuk dan membaca komik Tintin disana. Dengan bekal uang seadanya saya dan teman-teman berangkat ke Yogyakarta naik bus dan kemudian menyusuri jalanan disana dengan berjalan kaki mencari toko buku Indira. Dengan menahan haus, akhirnya ketemu juga toko buku Indira, segera saya masuk dan mulai membaca komik Tintin sepuasnya.

Sebagai anak desa, dimata saya banyak hal yang istimewa. Piknik mungkin sudah biasa bagi anak kota, tapi bagi saya jelas tidak. Saya hanya bisa bepergian ke tempat-tempat wisata saat sekolah mengadakan acara dharmawisata. Dengan menaiki bis tua, saya dan teman-teman menelusuri jalanan hingga kota lain, melihat candi yang selama ini hanya ditemui di buku pelajaran. Mulai dari Candi Borubudur, Candi Mendut, Candi Prambanan hingga Candi Gedong Sanga.

Selain tempat-tempat bersejarah biasanya dalam dharmawisata juga akan menyinggahi tempat rekreasi macam kebun binatang (bonbin), air terjun, waduk dan gua. Terkadang juga mengunjungi desa kerajinan untuk melihat kehidupan masyarakat yang menghasilkan karya-karya seperti keramik dan kerajinan lainnya.

Di masa liburan dengan segala keterbatasan biasanya saya dan teman-teman juga merencanakan liburan dengan bersepeda. Menempuh jarak puluhan kilometer menuju pantai selatan untuk melihat pantai berpasir dan bermain dengan air laut. Kalau tidak ke pantai, biasanya saya juga pergi ke gunung, bukan gunung api tapi bukit yang disana tumbuh aneka pohon buah-buahan. Ada yang dinamakan gunung jambu karena banyak jambu monyet dan jambu batu disana.

Tumbuh sebagai anak desa, membuat ukuran kesenangan dan kebahagiaan itu sederhana saja. Bukan karena apa yang miliki tapi apa yang bisa saya lakukan bersama kawan-kawan. Pasti bagi anak-anak sekarang apa yang saya lakukan dulu jelas tidak membahagiakan. Pergi puluhan kilometer dengan uang seadanya, hanya cukup untuk membeli beberapa biji ketimun untuk menyegarkan tenggorokan yang terasa kering karena terik matahari.

Anak-anak mana sekarang ini yang sudi pergi menempuh perjalanan 65 km hanya untuk membaca buku disana dan tidak membelinya. Capek deh ..mungkin itu kata mereka. Siapa juga yang mau naik sepeda, lalu jalan kaki menaiki bebukitan hanya untuk mengambil jambu monyet yang tidak enak rasanya dan salah-salah bisa bikin bibir terluka. Jelas itu semua nggak level untuk anak-anak sekarang.

Tentu saja bukan salah mereka, sebab kini bukit yang ditumbuhi buah-buahan tak ada lagi, sungai-sungai semakin keruh dan kotor hingga main dengan mandi-mandi disana tentu saja sebuah tindakan konyol. Dan sekarang ini untuk pergi melanglang buana kemana-mana, menikmati berbagai keindahan di kota-kota lain, melihat berbagai hal aneka warna tidak perlu dilakukan dengan berkendara kesana. Cukup satu kali klik dan semua tersaji di layar. Dan itulah yang diingini oleh anak saya, yang menurutnya akan lebih afdol apabila dilakukan dengan Samsung Galaxy tab. Sebuah gadget yang sampai hari inipun belum pernah saya pegang.

Pondok Wiraguna, 4 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum