Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (40)

Kamis, 04 Oktober 2012


Ada Nanah Dalam Amanah

Magister, guru spiritual saya mengatakan puncak dari kebahagiaan manusia adalah apabila merasa hidupnya berarti. Berarti karena berguna untuk orang lain, punya peran dalam kehidupan bersama. 

Namun kemudian dia mengingatkan bahwa apa yang disebut dengan makna, guna dan peran itu berbeda-beda untuk setiap orang. Dan patokan itu tidak selalu substansial.

Bicara soal peran, saat ini terbuka banyak sekali ruang peran itu. Salah satunya adalah peran dalam kehidupan bersama melalui organisasi terutama organisasi kader. Organisasi yang selalu mengadakan secara rutin pendidikan kader, pendidikan kepemimpinan yang membuat banyak anggota organisasi itu berebut menjadi pimpinan.

Tak mengherankan jika kemudian kala tiba saatnya untuk melakukan pemilihan ketua baru ada sejumlah calon yang berebut untuk mendudukinya. Dan dalam organisasi semulia apapun, kalau ada banyak orang yang memperebutkan jabatan ketua maka secara otomatis akan terjadi persaingan yang panas dan cenderung kotor.

Berkali-kali saya menemukan peristiwa suksesi dari sebuah organisasi yang dihari-hari normal hampir tak ada yang membicarakannya. Kalaupun ada biasanya tentang betapa organisasi itu tak ada dinamika, kegiatannya itu-itu saja dari waktu ke waktu, pendek kata tak ada signifikasinya sama sekali untuk masyarakat. Namun ketika tiba saat pergantian pengurus atau ketua, tiba-tiba ramai diperbincangkan dan organisasi yang tadinya dipandang sebelah mata kini menjadi seperti amat penting.

Jika kemudian dipetakan aktor-aktor dan kelompok kepentingan yang ikut dibalik perebutan ketua dan struktur pengurusnya, maka bisa jadi kita akan heran. Betapa banyak aktor dan kelompok kepentingan yang terlibat didalamnya, jika ditarik garis antar mereka maka akan tercipta ‘spider web’, jaring laba-laba yang ruwet.

Bagi para pengamat, pengembira dan tim peramai, jaring laba-laba ini akan jadi ‘jaring raba-raba’ yang menarik untuk dibicarakan. Siapa mendukung siapa, restunya dari mana, apa bentuk dukungannya, apa kepentingan yang diperjuangkan oleh aktor-aktor itu dan bagaimana nanti akan berakhir. Tidak ada perbincangan tentang visi misi, toh para calon kerap kali sudah diketahui isi otak sampai dengkulnya.

Sebenarnya dalam benak saya betapa mengembirakan bahwa banyak orang ingin berperan, memberi diri untuk memimpin suatu organisasi, apalagi jika organisasi itu mempunyai mandat sosial dan demi kemahslahatan orang banyak. Ini berarti banyak pengabdi, apalagi ketua atau pemimpin selalu berarti sebagai pemegang amanah, amanah dari para konstituen organisasi.

Tapi kembali kepada peran substantif dari seorang pemimpin atau ketua, nyatanya kedudukan sering kali dianggap sebagai tujuan, bukan peran. Maka yang terpenting adalah menjadi ketua, sehingga jalan bisa tegak gagah, diundang dalam berbagai pertemuan penting, dan disapa serta bisa memerintah hingga kerap mendapat jawaban “siap ketua”.

Menjadi ketua bisa jadi merupakan candu, tak heran ada yang tak sudi diganti, sejak organisasi berdiri hingga mau bubar. Ada juga yang merangkap jabatan ketua kanan kiri, hingga jumlahnya melewati hari dalam satu minggu. Bayangkan mengurus satu organisasi saja sulit, tapi ternyata banyak yang merangkap jadi ketua sampai puluhan organisasi. Alangkah hebatnya orang ini dan di negeri ini jumlahnya tak sedikit. Maka jika benar mereka ini adalah orang-orang hebat, bukankah seharusnya negeri ini juga menjadi negeri hebat.

Inilah sebuah ironi kalau kedudukan adalah tujuan, sehingga kedudukan bukanlah pencapaian. Kedudukan bukan sebuah kehormatan atas apa yang dicapai oleh seseorang dalam suatu bidang tertentu. Tak heran jika kemudian kedudukan bukan dicapai melainkan direbut atau bahkan ada yang dibeli. Jika kedudukan adalah kehormatan, maka kehormatan di negeri ini sebagian besar adalah kehormatan yang dibeli.

Menjelang pemilihan, biasanya di jalanan akan terpampang baliho, dengan pesan “Pilihlah yang Amanah”. Dan tentu saja semua orang setuju, karena pemimpin adalah pemegang amanah. Tapi jika kemudian para pemegang amanah tak berhasil mendatangkan kebaikan bersama, maka tak perlu heran sebab ada nanah dalam amanah.

Pondok Wiraguna, 4 Oktober 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum