Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (7)

Kamis, 06 September 2012

Merayakan Perbedaan

Dalam sebuah diskusi, sebut saja seorang tokoh muda yang dikenal produktif dalam menghasilkan buku dengan topik yang tidak banyak digeluti orang lain mengungkapkan keberatan atas premis bahwa konflik di Indonesia dilatarbelakangi oleh perbedaan. Menurutnya perbedaan seharusnya tidak disoal, karena perbedaan itu fitrah. Sampai disini penjelasannya betul, bahwa setiap manusia berbeda dan perbedaan itu bawaan alias alamiah dan kemudian juga dilengkapi dengan perbedaan-perbedaan yang diperoleh karena eksistensinya di dunia. Yang menjadi persoalan justru adalah sikap atau perilaku dalam menghadapi perbedaan. Ada watak dasar manusia untuk menghapus semua perbedaan, melakukan peleburan, persatuan. Seolah dengan bersatu maka akan diperoleh kekuatan besar.

Dari sisi imajiner niat ini bisa diterima namun dalam realitasnya tak mungkin untuk diwujudkan. Bahkan Tuhan yang kita yakini satu dalam fakta ternyata tidak tunggal, terbukti yang meyakini Tuhan yang satu saling berkelahi sendiri, meyakini Tuhannya sebagai yang paling benar. Satu dunia satu pemimpin, Satu dunia satu bangsa dan Satu dunia satu agama misalnya adalah obsesi yang terbukti gagal sepanjang sejarah manusia, namun sampai hari ini masih banyak yang meyakini bahwa itu bisa diwujudkan. Beberapa berjuang untuk berusaha terus mewujudkannya dan perjuangan malah mencerai beraikan, sayang keyakinan yang sudah tertanam di tulang sumsum jadi meski gagal tetap saja pendiriannya tak berubah. Tunjukkan agama mana yang satu di dunia ini?. Sebutannya mungkin satu Kristen misalnya, tapi variannya pasti banyak, demikian juga Budha, Hindu dan juga Islam.

Setiap agama mempunyai aliran-aliran besar, ada mazhab-mazhab utama dan juga tarekat-tarekat tertentu. Belum lagi jika ditambah dengan organisasi yang berbasis agama, pasti agama menjadi lebih berwarna. Dengan demikian meski agama kerap mendiskripsi diri sebagai ‘satu’ dalam kenyataannya ternyata ‘beragam’. Dan sebetulnya keragaman itu tidak bermasalah sepanjang tidak ada kepentingan politik, ekonomi, kultural dan kekuasaan masuk didalamnya. Keragaman adalah keniscayaan namun menjadi persoalan ketika mulai muncul persaingan, memperebutkan pengikut, pengaruh dan sebagainya.

Dan disitulah mulai muncul intoleransi atas keberagaman. Semangat untuk menjadi satu adalah semangat klaim dan tafsir sepihak. Kerap kita tidak sadar bahwa teologi atau ajaran iman lahir dalam konteks baik budaya maupun politik tertentu. Dan konteks itu tak mungkin atau mustahil bisa diterapkan dimanapun. Adalah simplifikasi kalau sebuah kelompok menuduh kelompok lain sesat dan kemudian meminta yang sesat meninggalkan keyakinan. Tentu tidak semudah itu, coba saja permintaan itu dibalik, bersediakah kita dengan serta merta merubah keyakinan?. Perubahan keyakinan bukan semata soal teologi, ada banyak soal lain terkait didalamnya. Saya ingat sebuah peringatan yang diberikan oleh dosen sewaktu kuliah dulu, contradiction in actu.

Kita kerap jatuh dalam laku yang berlawanan, mau menyatukan tapi membeda-bedakan misalnya. Mau melahirkan dunia yang lebih baik tapi dengan pemaksaan, kekerasan, terror yang justru membuat warga atau masyarakat menjadi tidak nyaman. Ketika semua agama mengajarkan ‘tidak boleh ada paksaan’, kenapa kita harus melarang ini dan itu pada orang lain sehingga tidak bisa menjalankan kepercayaannya.

Bukankah hambatan-hambatan itu secara tidak langsung adalah untuk membuat orang tidak nyaman dalam kepercayaannya hingga kemudian putus asa dan mungkin mengalah sehingga masuk dalam sistem kepercayaan kita?. Kita hampir tidak pernah belajar bahkan dari diri kita sendiri yang punya slogan berbangsa “Bhineka Tunggal Ika”, slogan yang mirip dengan USA yang bunyinya “Pluribus Ut Unum”. Di jaman Sukarno dan Suharto tekanannya pada Persatuan, Ika dan cenderung memberangus Bhineka, hasilnya adalah resistensi masyarakat.

Orang merasa terpaksa melakukan sesuatu, seperti took-toko harus dinamai dengan bahasa Indonesia, hasilnya Swett jadi Suwit, aneh dan tak jelas maknanya. Atau nama-nama yang berbau Thionghoa harus diganti menjadi nama Indonesia. Hingga lucu, teman-teman saya yang berwajah Chen Lung bernama Gunawan, Mulyadi, Suryadi dan Sri Mulyani serta Evy Setyowati. Persatuan memang penting tapi bukanlah menjadi satu saja. Persatuan yang hakiki justru terjadi karena kita menerima perbedaan dengan kesadaran akan pentingnya kerjasama antar yang berbeda demi kepentingan bersama.

Persatuan bukan peleburan yang justru akan berakhir dengan hasil yang semu. Adalah salah memang melihat perbedaan sebagai sumber perpecahan, sebab dunia, ekosistem kita justru membuktikan bahwa perbedaan, berbagai macam unsur justru bekerja saling bahu membahu, mengisi dan membuat bumi bisa ditinggali. Apa indahnya hutan Papua jika isinya hanya pohon merbau, apa uniknya hutan Kalimantan jika hanya Ulin saja pepohonannya. Maka mari rayakan perbedaan.

Pondok Wiraguna, 5 September 2012
 @yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum