Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (38)

Minggu, 30 September 2012

Agama dan Transformasi

Jika kita menyusuri kembali sejarah perjalanan para Nabi, Agama dan para tokohnya di masa perdana, lepas dari berbagai catatan hitam konfliknya, ada sebuah benang merah bahwa agama hadir dan diterima karena membawa nilai-nilai transformatif. Agama dengan ajaran yang diturunkan dari para Nabinya membawa arus baru untuk merubah praktek kehidupan masyarakat masa itu menuju perilaku baru.

Ajaran-ajaran agama adalah refleksi atas keadaan sejaman yang tidak sesuai dengan tugas-tugas kemanusian. Hasil refleksi itu kemudian muncul dalam sebuah tuntunan dan tuntutan baru atas dasar ajaran tertentu yang apabila diikuti akan membawa ‘paktek’ yang melahirkan kondisi baru bagi manusia dan masyarakatnya. Praktek dan kondisi yang semakin mendekati ‘citra’ manusia sebagaimana dikehendaki oleh Sang Pencipta-nya. Setiap jaman selalu menghadapi persoalannya sendiri, persoalan yang sejatinya berakar pada watak dasar manusia yang tidak pernah berubah dari jaman ke jaman. Salah satu watak yang menetap adalah keserakahan, keinginan untuk memuaskan dirinya sendiri jauh melampaui kebutuhannya. Salah satu manifestasi untuk mendapat lebih banyak dari yang dibutuhkan adalah dengan menggali dan menggali semakin dalam.

Industri keruk dan ektraktif yang kini semakin marak di Bumi Etam, negeri Borneo adalah salah satu cermin dari bentuk keserakahan itu. Industri keruk merupakan babak lanjut dari keserakahan lain yaitu babat habis. Citra Borneo yang hijau kini telah sirna, tegakkan pohon raksasa sebagai mana tersurat dalam film Ananconda telah sirna digantikan kehijauan gerombolan semak-semak belaka. Kerap kali jika saya kembali melihat perjalanan agama versus jaman, muncul pertanyaan bagaimana peran agama dalam memberi inspirasi dan menyemangati umatnya untuk melawan laku keserakahan ini. Laku yang membuat keadilan kian menjadi mahal dan sulit ditemukan.

Saya yakin banyak orang mengalami kegalauan serupa. Bahkan beberapa orang dan kelompok bertindak lebih maju, mengekplisitkan bahwa agama adalah jawaban atas persoalan jaman yang semakin rumit. Meski apa yang mereka ungkapkan terlalu sederhana atau bahkan cermin dari keputusasaan mereka untuk mencari jalan pemecahan. Agama sejak semula selalu bicara soal kesadaran, niat yang tumbuh dari dalam, perubahan yang muncul dari diri dan kemudian menyinari sekitarnya sehingga mendorong semakin banyak orang mengikuti jalan dan lakunya. Agama bukanlah jalan pemaksaan, apalagi di dasari oleh ‘praktek’ yang dalam bayangan kita dilakukan oleh para jemaah dan tokoh-tokoh perdana yang tentu saja menghadapi persoalan yang jauh berbeda dengan masa ini. Agama mempunyai dimensi tranformatif karena berlaku kritis pada situasi jamannya. Bukan membeku pada teks-teks.

Pada masa perdananya para pemula melakukan dekonstruksi dan kemudian merekonstruksi kembali sehingga lahirlah teks-teks yang sesuai dengan jamannya. Teks yang kemudian kini kita wakili sebagai final dan tak tergantikan. Kenyataan yang kemudian membuat kita cenderung membekukan teks itu sebagai bongkah es batu yang keras.

Teks jelas tak lagi bisa kita rubah, sesat dan celakalah kita apabila melakukannya. Namun perubahan, transformasi memang tidak mengisyaratkan perubahan teks. Yang utama dan pertama serta selalu harus dilakukan adalah refleksi, refleksi yang semakin dalam atas teks-teks itu. Refleksi yang kemudian melahirkan perspektif yang lebih luas dalam memandang situasi dan persoalan jaman serta melahirkan keberanian untuk bertindak, melawan demi menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal. Jaman kita adalah jaman dengan pertalian yang semakin erat antar manusia. Persoalan yang jauh disana bisa mempengaruhi kita yang ada disini.

Jaman ini adalah jaman yang interkoneksi. Maka tranformasi hanya akan menjawab persoalan apabila kita mampu berpikir dan bertindak dalam konteks yang luas, tidak memandang secara sempit kelompok kita sendiri. Semakin jelas bahwa kini agama-agama menghadapi persoalan yang sama dan mempunyai misi yang sama yaitu menghadapi dehumanisasi dan praktek perilaku kebijakan yang menimbulkan penderitaan dalam rupa ketidakadilan, ketimpangan, kesenjangan sosial serta praktek korupsi yang makin masif. Inilah saatnya kita sebagai umat beragama menyatukan langkah menata masa depan dan meninggalkan glorifikasi atas pengalaman sejarah masa lalu yang sempit.

Pondok Wiraguna, 1 September 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum