Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (35)

Minggu, 30 September 2012


AIR MATA DARAH

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan .....
Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan ...

Lagu Ebiet yang sudah melegenda ini biasanya menjadi lagu latar pada saat televisi memberitakan kabar tentang kejadian bencana.

“Dulu ketika jalan ini masih tanah dan kemudian diaspal, waktu musim kemarau kalau melewati jalan ini mata saya kerap berair, tak tahan terterpa debunya”, demikian ungkap seorang kawan.  Tak lama kemudian dia melanjutkan “tapi sekarang mata bukan hanya berair melainkan pedih dan perih, memerah kalau dikucak-kucak”. Menurutnya jalanan yang kini banyak disemen, meski enak di telusuri namun kala kemarau partikel-partikel debu yang terburai dari jalanan semakin tajam. Partikel debu yang berasal dari semen selain menimbulkan panas di mata juga potensial menyebabkan iritasi.

Jalanan sekurangnya yang saya tahu di Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara kini memang banyak yang agregatnya adalah semen. Meski kerap longsor, jalanan semen yang menurut saya terbaik adalah jalanan yang menghubungkan antara perbatasan Samarinda, sampai ke jembatan Kartanegara yang runtuh itu. Di luar itu jalanan semen yang dikerjakan sepotong-sepotong, kualitasnya tidak baik sebab tak berapa lama lapisan mulus diatasnya cepat terkupas dan menyisakan ‘gronjal-gronjal’ karena tonjolan batu-batu koral.

Jalan memang jadi persoalan, karena jumlah dan panjangnya kalah bertumbuh dengan jumlah kendaraan yang melewati atasnya. Pertumbuhan yang tidak seimbang antara jalan dan kendaraan terlihat dengan bertambahnya titik-titik macet. Kemacetan tidak hanya terjadi di jalan-jalan utama atau jalan poros melainkan sudah merambah ke jalan-jalan penghubung.

Di Samarinda misalnya, perempatan di dekat ruko Pasundan  yang bisa menghubungkan antara Jalan Bhayangkara dan Antasari ( melewati KS Tubun dan Siradj Salman), macet di pagi, siang dan sore hari. Kendaraan tertumpuk di perempatan karena saling berebut untuk mendapat jalan.

Mulailah muncul ‘Pak Ogah’, beberapa bulan lalu saya lihat mereka memakai rompi bertulis relawan lalu lintas. Namun kini tidak lagi, mungkin rompi murahnya itu sudah robek-robek karena sering dicuci. Biasa ada sekitar 4 sampai 6 orang berada disana mencoba mengatur lalu lintas. Meski bekerja sebagai tim, namun pengetahuan akan sistem pengaturan lalu lintas yang dipelajari sendiri kerap kali justru malah menyebabkan kemacetan kian parah. Sistem buka tutup yang tidak padu, timing yang tidak konstan membuat banyak kendaraan tak bisa maju juga tak bisa mundur.

Awalnya para relawan lalu lintas mungkin saja tergerak utk membuat jalanan menjadi lancar. Tapi lama kelamaan ada godaan ‘ekonomisasi’ kemacetan. Jika kemacetan intensitas tinggi maka berada di jalanan untuk membantu mengatur lalu lintas bisa menjadi ‘pekerjaan’ yang mendatangkan uang. Mereka memang belum meminta uang dari pengendara yang lewat, tapi selalu ada satu dua pengendara yang suka rela memberi lembaran rupiah saat terbebas dari jebakan macet.

Dan dimana-mana dalam kemacetan yang kian parah, biasanya polisi enggan berada disana. Mungkin mereka tahu bahwa kemacetan itu bakal susah diatasi. Dan jika ada polisi lalu macet malah tambah parah tentu saja itu akan ‘mempermalukan’ diri mereka sendiri. Jadi ketimbang malu, mungkin mereka lebih memilih berdiam di pos-pos polisi di perempatan lain menunggu untuk menangkap pengendara yang khilaf berbuat kesalahan.

Ebiet mungkin kini tak lagi menulis lagu, namun diam-diam dalam hati saya berharap dia menulis lagi sebuah syair lagu sekurang-kurang sebua revisi untuk lagu berita kepada kawan. Bencana kini tak lagi identik dengan bencana alam, melainkan juga bencana-bencana yang tak kurang dahsyatnya karena ulah manusia, karena perilaku kebijakan.

Dalam sepuluh daftar penyakit yang banyak diderita olah warga Samarinda, tercatat gangguan ISPA berada di peringkat atas. Jika kita berkaca di jalan maka jalanan bukan hanya menyebar debu (terutama kini partikel semen) melainkan karena kepadatannya juga menyebar asap kendaraan yang mengandung polutan.

Di akhir perjalanan menyusuri jalanan, teman saya berkata “Tak lama lagi kita bakal meneteskan air mata darah, karena debu yang terhambur dari jalan bukan hanya serpihan semen melainkan juga serpihan besi yang menjadi tulangan jalan semen ini”.

Pondok Wiraguna, 28 September 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum