Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (30)

Selasa, 25 September 2012


Lebih Besar Mata dari Perut

“Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni mereka yang bersalah kepada kami. Dan jangan masukkan kami dalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat”.

Begitulah cuplikan doa Bapa Kami yang harus saya hafal sejak kecil dahulu. Doa itu berisi permintaan yang tidak muluk-muluk, bukan kekayaan yang diminta kepada Tuhan, tetapi rejeki yang cukup untuk hari ini. Permintaan akan hidup dalam satu hari ini berjalan dengan baik sebagaimana adanya hidup, tidak berlebihan tapi tak juga berkekurangan.

Doa dan juga ayat-ayat suci yang ada dalam Kitab Suci memang tidak mengajarkan sesuatu yang berlebihan. Tentu kita semua ingat pesan “Makanlah sebelum lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang”. Pesan ini tentu saja bermakna sama yakni makanlah secukupnya. Perut yang terlalu lapar akan membuat mulut menjadi kalap. Sementara perut yang kekenyangan akan membuat badan menjadi tidak nyaman. Bukankah kita juga sering diingatkan oleh pepatah lebih besar mata dari pada perut. Maknanya mata memang melihat berbagai hal yang mungkin kita suka, tapi perut kita terbatas untuk menelan apa yang diinginkan oleh mata. Perut tak akan mampu menampung isi satu meja meski mata bergetar melihat nikmat dan lezatnya seisi meja.

Tapi dimasa kini kita tahu persis bahwa rejeki tak sekedar dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan perut semata. Akan ada banyak orang yang tidak perlu bekerja terlalu keras apabila yang ingin dipenuhi hanya kebutuhan perut. Meski perut menjadi alasan, dengan mengatakan seperti ‘ini adalah tempat kita mencari makan’ tapi kenyataannya tak begitu. Apakah perlu harus melakukan korupsi andai seorang bupati hanya mencari makan?.

Perut kita sudah mengalami komplikasi, karena tak sekedar butuh makanan yang lezat belaka. Kini perut bukan hanya menampung makanan tapi juga mereproduksi keinginan. Keinginan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan perut. Apa urusannya jika berhubungan dengan perut orang kemudian merampok bank, mengambil segepok uang yang akan membuatnya terkapar jika dibelikan makanan.

Hidup biasa-biasa saja nampaknya memang sudah tak enak lagi dan rejeki yang secukupnya tak membuat orang bahagia. Untuk menjadi bahagia sekarang ini perlu rejeki yang berlimpah, agar bisa membeli banyak hal yang kita inginkan. Kalau hanya makan nasi pecel, tahu tempe perut rasanya belum puas. Mulut agak susah mengunyah apabila makan malam tidak disertai dengan alunan lagu yang dimainkan oleh pianis di resto yang temaram. Hidup terasa indah apabila meja makan berhiaskan lilin dan sebotol anggur.

Episode makan memakan menjadi absurb. Bagi kebanyakan orang makan merupakan persoalan. Besok makan atau tidak, apa yang harus dimakan besok. Tapi bagi orang lainnya makan menyulitkan, bukan karena tidak mampu tetapi sulit untuk menentukan akan makan dimana, di resto apa, ditemani siapa dan menu istimewanya apa. Dan ada pula sebagian kecil orang yang sudah melewati semua makanan, tempat-tempat yang prestisius dan menu-menu nan luar biasa sulit penyebutannya, mereka inilah yang sibuk berpikir dan bertanya besok siapa lagi yang hendak dimakan?.

Sekali lagi urusan makan memakan tidak lagi sekedar urusan perut. Dibalik kegiatan makan ada kebutuhan badan, ada kebutuhan keinginan, ada gengsi tetapi juga ada kekuasaan. Pada masing-masing tingkatan, makan adalah ritualita yang berbeda.

Ah ternyata makan saja bikin bingung ya. Saya sendiri juga bingung urusan makan memakan ini. Terkadang saya begitu bernafsu, terkadang tidak. Terkadang saya suka ini dan itu , namun lain kali sama sekali tak mau.

Akan lebih baik dalam urusan ini kita kembali kepada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang memberi kita rejeki sehingga kita bisa makan pada hari ini. Dan agar makan kita benar adanya, jangan hanya sekedar berkoalisi antara mata, mulut dan perut melainkan juga hati.

Pondok Wiraguna, 23 September 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum