Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (2)

Rabu, 05 September 2012

Mencipta Rekor Lewat Kuliner


Siapa yang tak butuh prestasi?. Rasanya tak banyak yang berani menjawab dirinya tak butuh prestasi. Prestasi atas salah satu cara merupakan bahan bakar yang mampu memompa semangat seseorang untuk menjalankan hidup dan kehidupannya dengan benar. Ada banyak ukuran bahwa seseorang disebut sebagai berprestasi atau tidak. Namun di ruang publik, ukuran prestasi semakin lama semakin tinggi. Standar yang dituntut semakin berat karena kemajuan jaman telah mencapai kecepatan yang luar biasa. 

Demam untuk mencipta rekor dengan jeli ditangkap oleh Jaya Suprana lewat MURI (museum rekor Indonesia). Pasti Pak Jaya sadar betul, bakal sedikit sekali orang Indonesia yang akan mencatatkan dirinya di Guinnes World Records. Maka perlu dicari wadah lain yang paling sejenis walau cakupannya ada di wilayah nasional.  Dan kehadiran MURI ternyata disambut baik, berbagai macam rekor lahir atau dicatatkan. Muncul kebanggaan-kebanggaan baru baik bagi seseorang, kelompok maupun daerah karena namanya dicatatkan dalam piagam rekor MURI. 

Tanpa bermaksud untuk mengecilkan makna rekor yang pada dasarnya selalu luar biasa, sebenarnya ada dalam diri saya muncul sedikit pertanyaan. Apakah benar peristiwa-peristiwa yang dicatatkan di musium rekor Indonesia itu pantas disebut rekor karena pencapaian tertentu. Yang agak aneh bagi saya adalah catatan-catatan rekor yang berkaitan dengan makanan. Ada rekor barisan tumpeng terpanjang, sate terpanjang, lemang terpanjang, makan durian terbanyak dan lain sebagainya. Bukan apa-apa, kalau ada nasi tumpeng sebesar stupa candi Borubudur ya wajar kalau kita berdecak kagum, tapi kalau jajaran tumpeng biasa lalu ditata atau diarak sepanjang satu kilometer, ya sebetulnya biasa saja, tak ada hebat-hebatnya. 

Tapi ya sudahlah, barangkali kita memang rindu akan sebuah prestasi. Karena bulutangkis keok, sepakbola amburadul, pemerintahan kacau, suap disana sini, maka perlu stimulus lain agar masyarakat tak frustasi. Disitulah pentingnya ada kebanggaan dan syukur-syukur dianggap sebagai prestasi bersama. Prestasi tentu saja tak mudah untuk diciptakan dalam waktu sesaat, tapi toh banyak orang tak kehilangan akal dengan cara memanfaatkan apa yang sudah ada. Setiap daerah selalu (merasa) mempunyai makanan yang khas. Ini yang kemudian dimanfaatkan untuk menciptakan rekor, menorehkan prestasi dan pengakuan dengan selembar piagam dari MURI.

Kuliner sekarang ini memang sedang naik daun. Acara masak memasak di televisi sudah lama ada, namun Bondan Mak Nyus yang barangkali membuat acara makan makan menjadi populer. Rasanya makanan apa saja jika disajikan oleh Pak Bondan, rasanya bakal mak nyus, kerasa di lidah dan membekas di hati. Popularitas Mak Nyus membuat acara kuliner di televisi mencapai rekor tersendiri. Kalau dulu acara kuliner TV hanya tayang di hari minggu atau hari libur, kini mulai dari pagi hingga malam hari, acara kuliner susul menyusul. Ada yang dipadu dengan berita pagi, musik, talkshow dan bahkan liputan hangat didunia hinggar binggar malam hari. 

Selain dunia IT, Gadget dan musik, dunia kuliner adalah salah satu yang dengan sangat pesat berkembang di Indonesia. Kalau dulu Rica-Rica hanya populer di Manado, kini bahkan di kota kelahiran saya Purworejo, menu rica-rica tertulis besar-besar di kain pembatas kios atau warung makan. Kalau di tanah asal rica-rica, masakannya berbahan daging ayam, ikan, babi dan anjing, kini bahkan di Samarinda bisa ditemui bakso rica-rica.

Entah angin apa yang tiba-tiba membuat pencinta kuliner doyan yang serba pedas-pedas. Selain rica-rica muncul juga oseng-oseng mercon, bebek super pedas dan lain sebagainya. Masakan yang bisa membuat rambut berdiri dan mata meleleh saat mencicipinya. 

Gairah dalam dunia kuliner memunculkan istilah wisata kuliner. Entah apa maksudnya, saya sendiri tak begitu paham dengan sebutan wisata kuliner. Barangkali istilah itu mau menunjukkan kalau motif seseorang untuk datang ke tempat tertentu pada saat ini didorong oleh keinginan untuk mencicipi atau menikmati makanan yang ada di daerah itu. Kini barangkali ragam dan pesona makanan suatu daerah merupakan daya tarik bagi warga atau masyarakat untuk mendatanginya.

Hanya saja istilah wisata kuliner sekarang menampakkan gejala latah. Lihat saja, di sekitar stadion Segiri terutama di dekat kolam renang berjejer tenda-tenda bertuliskan wisata kuliner kota Samarinda. Atau begitu memasuki kawasan Lambung Mangkurat, tertulis juga pesan yang hampir kurang lebih sama yaitu menyatakan kita tengah memasuki kawasan wisata kuliner, utamanya nasi kuning.
Kenapa latah?. Seseorang berwisata tentu saja bukan sekedar untuk merasa, menikmati dan kemudian memperoleh sensasi kebahagiaan. Namun wisata juga mempunyai unsur penambahan pengetahuan, wisata memperkaya wawasan seseorang. Coba pengetahuan apa yang hendak diberikan kepada yang datang, andai disitu hanyalah deretan warung, yang menjual aneka makanan mulai dari gado-gado, bakso, rawon, soto, ayam penyet, gepuk dan seterusnya, itu saja tanpa embel-embel lain. 

Apakah kemunculan pusat-pusat jajanan sungguh-sungguh direncanakan sebagai bagian dari pendidikan masyarakat atas kekayaan kuliner nusantara, atau sekedar (sadar atau tidak sadar) mendorong masyarakat untuk lebih menyukai makan di luar rumah, menjadi lebih konsumtif karena membelanjakan uang untuk makanan jadi?. 

Jumlah rumah makan (warung, kios, tenda,dll) yang luar biasa bagi pemerintah adalah potensi. Andai dikenai retribusi (bahkan pajak) makan jumlah uang yang dikumpulkan tentu saja besar. Ingat tidak ketika pemda DKI hendak menerapkan pajak resto dan rumah makan ke warung tegal di Jakarta, motivasinya jelas, jumlah warung tegal yang banyak akan menyumbangkan sejumlah pendapatan untuk mengisi pundi-pundi APBD. 

Dan andai retribusi atau pajak (makanan dan minuman) bisa diterapkan sampai ke warung, kios, tenda dan grobak, maka bisa tercipta rekor baru di MURI, rekor pendapatan pemerintah dari sektor kuliner. Maka patut dicurigai gembar-gembor wisata kuliner yang tidak disertai dengan perencanaan dan program yang jelas adalah sekedar jalan halus pemerintah daerah untuk mengenjot pendapatan melalui bidang isi mengisi perut. 

Pondok Wiraguna, 1 September 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum