Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (17)

Minggu, 16 September 2012


Korupsi : Konsumsi vs Produksi

Orang yang kecanduan alkohol akan disebut alkoholic. Suatu masa saya pernah mengalami hal itu, jika waktu sudah menunjukkan jam 5 sore dan belum setetespun alkohol melewati tenggorokan dunia sepertinya terasa kacau. Sekarang saya merasa beruntung karena tinggal di Samarinda, daerah yang cukup sulit untuk membuat saya kembali menjadi alkoholic, sebab jenis minuman yang mengandung zat itu tak bebas dijual disini. Dan kalaupun ada harganyapun akan membuat saya berpikir 13 kali untuk membelinya.

Untuk urusan alkoholic mungkin Samarinda bisa menghindari, tapi bagaimana dengan shopoholic aliat gila belanja. Nampaknya sulit, sebab di Samarinda hal yang paling nampak berkembang luar biasa adalah pusat-pusat perbelanjaan. Bukan hanya kebutuhan pokok melainkan gadget dan gaya hidup. Industri gaya hidup dalam bentuk mall, caffee dan tempat-tempat hiburan berkembang pesat di sini. Masyarakat disini adalah masyarakat konsumsi, rajin membeli ini dan itu, tak heran disetiap outlet toko-toko elektronik dan motor selalu ada counter leasing atau kredit turut serta. Kartu kredit pun ditawarkan seperti balon di pasar malam. Para marketer kartu kredit membujuk-mbujuk orang untuk berhutang.

Saya ingat cara pandang Pramudya Ananta Toer terhadap korupsi. Sederhana saja, korupsi adalah hasil dari  keadaan kemiskinan produksi. Sebuah daerah atau bangsa yang rendah produksinya, akan tinggi korupsi. Saya tidak mengkaji dengan dalam pandangan Pram ini, namun saya merasa teori ini benar adanya. Contohnya ya di Samarinda, apa produksi yang dihasilkan secara kreatif oleh masyarakat disini?. Adakah orang-orang yang mempunyai rumah besar, bertingkat dan sederet mobil serta segepok buku rekening adalah para produsen?. Orang-orang kaya disini yang kehadirannya sangat kontras itu mendapat kekayaan dari mana?.

Patut diduga bahwa mereka yang kaya raya, keren dan mentereng memperoleh harta bendanya karena menjarah alam dan merampok anggaran negara (daerah). Mereka tidak berproduksi tapi hanya memanen, tak heran jika kemudian seperti sim salabim, tak perlu cerita seluk beluk derita langsung menjadi kaya.

Menjadi kaya di daerah yang rendah produksinya memang mudah, cukup bermodal akses dan mulai ‘memproduksi’ kekayaan dengan proyek-proyek pembangunan dan setelah itu dilanjutkan dengan ‘proyek pemeliharaan’ dan lama-lama diteruskan dengan ‘proyek renovasi’ hingga kemudian kembali pada ‘proyek pembangunan kembali’. Dan disinilah siklus ‘produksi kekayaan’ akan berkelanjutan.
Dengan demikian ramai proyek pembangunan sebenarnya tidak bertujuan untuk pembangunan, melainkan sebagai cara ‘mengeruk uang’ besar secara berjamaah. Tak heran jika rencana pembangunan biasanya berupa gedung-gedung megah, jembatan panjang, jalan nan lebar dan panjang, polder, kolam retensi, pelabuhan dan lapangan terbang. Pembangunan yang butuh waktu bertahun-tahun, terus dijadwal dan dibahas tiap tahun kenaikan harga dan anggarannya di gedung Dewan.
Urusan kecil-kecil seperti jalan berlubang dan terkelupas, got mampet, trotoar jebol, devider jalan yang rusak, bus sekolah yang mogok tak beroperasi, bekas galian ditutup tanah seadanya, jelas tak menarik hati untuk dikerjakan. Jumlah uang yang masuk kategori pemeliharaan  terlalu kecil. Jadi biarpun orang jengkel dan ngomel-ngomel, pihak yang bertanggungjawab akan tutup mata saja, dibiarkan dahulu sampai parah, hingga bisa dianggarkan sebagai pembangunan ulang. Proyek akan diusulkan jika ‘nilai belanja’-nya besar.

Di sebuah iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh sebuah perusahaan bahan kimia, narator menyebutkan bahwa Bumi Borneo menyediakan segalanya. Yang dimaksud tentu saja sumberdaya alam yang melimpah dan punya nilai besar. Tapi coba apa yang terjadi, Bumi Borneo ternyata hanya bisa  ‘mengimpor’ hampir semua kebutuhannya. Data dari BPS menunjukkan komoditi yang surplus hanyalah daging ayam dan ubi. Di luar itu harus didatangkan dari luar pulau. Kenapa tidak mencoba menghasilkan sendiri?. Lagi-lagi tentu saja karena proyek. Mendatangkan sesuatu dari luar akan membuka peluang bagi ‘oknum-oknum’ tertentu untuk menarik fee atau komisi dan sebagainya.

Dan kebijakanpun adalah sebuah proyek, maka membuat daerah ini terus kekurangan daging sapi, sayur, beras, bibit tanaman, dan seterusnya adalah peluang bagi kebijakan untuk terus mengembangkan proyek yang berbasis pada ‘kekurangan’. Maka dilakukanlah proyek-proyek pengembangan yang sebenarnya tak sungguh-sungguh dimaksudkan untuk dicapai outputnya. Yang dikejar dari proyek adalah inputnya, nilai belanjanya bukan nilai hasil. Dengan demikian proyek akan berjalan terus dan tujuan utamanya tidak dicapai. Contoh caranya untuk menghasilkan daging dibuatlah proyek pengemukkan sapi, bukan pembibitan sehingga menghasilkan sapi sendiri. Jadi begitu sapi gemuk dipotong dan habis, maka didatangkan lagi sapi-sapi muda dan bujang untuk kembali digemukkan.

Berkali-kali di lakukan aneka ‘launching’ dan pencanangan untuk mandiri ini dan itu. Setiap hari besar dijadikan momentum dan momentum. Momentum terus berulang, niat untuk bangkit, memnuhi kebutuhan sendiri terus diteriakkan dalam setiap kesempatan. Tapi lagi-lagi itu hanya ‘liur’, niat yang keluar dari mulut pembaca pidato, tapi di hati para perencananya yang terpikir adalah fee dan komisi. Tak ada niat untuk mandiri, memenuhi kebutuhannya sendiri, tak ada cita-cita untuk berproduksi, sebab melakukan produksi itu melelahkan, butuh perjuangan dan keuntungan yang dibagi tak selalu besar jumlahnya.

Kesimpulannya dalam kata ‘pembangunan’ yang dimaksud dengan produksi adalah belanja sebesar-besarnya untuk menghasilkan wujud bangunan semegah-megahnya. Dengan demikian ‘kue’ pembangunan itu bisa dibagi-bagi rata, komisi, fee, supliernya dan lain-lain. Dengan demikian banyak orang akan dapat dan kemudian menghabiskan lagi dengan membelanjakannya. Dan siklus ‘perampokan’ kembali berulang dan berulang.

Pondok Wiraguna, 16 September 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum