Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (13)

Rabu, 12 September 2012

Ndeso Ala Jokowi

Joko Widodo, Walikota Solo yang kemudian populer dengan sebutan Jokowi dari sisi manapun bukanlah sosok yang istimewa. Penampilannya yang biasa saja, gaya bicara yang cenderung ‘klemak-klemek’ tak menunjukkan sosok pemimpin yang biasa ada dalam gambaran kita. Namun justru karena ‘biasa-biasa’ saja itulah kemudian Jokowi justru menjadi ‘luar biasa’. Cerita yang ‘biasa’ justru menjadi ‘luar biasa’ sebenarnya kisah yang biasa saja dalam dunia kepemimpinan.

Mahatma Gandi menjadi inspirasi yang luar biasa karena ‘kesederhanaan’ dengan tampil dan berlaku biasa. Memakai produk bikinan bangsa sendiri (yang dibuat sendiri), memakan makanan yang dihasilkan oleh masyarakatnya sendiri. Mother Theresa, yang kemudian menjadi ‘orang suci’ juga karena perbuatan yang biasa, yaitu menolong orang yang sekarat agar mati sebagaimana layaknya manusia, mati di rumah, bukan di pinggir jalan. Jokowi sebagai pemimpin sadar betul bahwa masyarakat tidak butuh pemimpin dengan cita-cita besar, rencana besar. Sebab dalam konteks pembangunan sudah ada departemen, lembaga dan lain sebagainya yang isinya orang-orang pintar merencanakan hal itu. Tugas pemimpin mendengar masukkan, memikirkan dan membuat keputusan, mendukung atau tidak.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang ‘memanusiakan, orang atau masyarakat yang dipimpinnya. Masyarakat butuh bukti bahwa pemimpinnya ‘memanusiakan’, tidak perlu melalui rangkaian program yang keren dan wah, seperti pakta integritas, land of integrity dan clean and green city, dll. Cukup buktikan bahwa pemimpin bukanlah orang yang zalim, dengan menggusur pedagang kecil tanpa ha-hi-hu, mengusir dengan pentungan., merobohkan lapak dengan traktor.

Cukup dengan menjadi ‘orang tua, teman atau sahabat’ yang mau ditemui dan menemui, bukan hanya menyahut di koran atau televisi. Rakyat atau masyarakat perlu bukti, bukan hanya sekedar slogan yang indah dan terpasang di baliho-baliho yang ada di halaman kantor, pinggir jalan dan lapangan. Pemimpin yang melayani terbukti lewat pembuatan KTP yang tak perlu waktu berbulan-bulan, melainkan menit. Bukan sekedar gratis tapi juga cepat dan tidak berbelit-belit. Pemimpin yang mengayomi, terbukti lewat ruang-ruang terbuka hijau, rindang, enak dan nyaman untuk mengaso di kala hari panas, menikmati mentari sore hari dan malamnya bukan menjadi tempat ‘adu mesum’.

Di luar segala macam proyeksi dan proyek pencintraan, dari Solo nama Jokowi moncer lewat aneka pemberitaan. Tingkah lakunya sebagai Walikota yang mencerminkan ‘dirinya sendiri’ membuat programnya tidak neko-neko. Jokowi menjadi antitesis dari banyak sosok yang ketika menjadi pemimpin berlaku menjadi ‘orang lain’. Segala sesuatunya mulai berubah, mulai dari cara jalan, cara bicara, cara makan, cara menyapa orang lain, bahkan senyum dan tawapun diatur. Sosok yang menjadi kaku karena dibentengi oleh berbagai kaidah-kaidah laku pemimpin yang dicipta oleh para penasehatnya.

Nama Jokowi semakin meroket ketika dicalonkan menjadi gubernur DKI Jakarta dan kemudian mampu meraup suara terbanyak pada pemilukada putaran pertama. Jakarta, kota ultra metropolitan, tempat segala kemajuan, garda terdepan dari gaya hidup ternyata memberikan suaranya untuk sosok ‘ndeso dan katrok’. Sosok yang jelas sangat biasa saja untuk masyarakat Jakarta. Maknanya jelas bahwa masyarakat sebenarnya rindu pemimpin yang sederhana, jujur dan apa adanya. Soal apa yang diperlukan oleh Jakarta, ada berjibun cerdik pandai yang sangat paham dan mampu membantu merumuskan aneka program dan proyek yang diperlukan oleh Jakarta dan warganya.

Pemimpin yang tidak berpretensi untuk membangun ‘monumen kedirian’ akan terbuka terhadap masukkan dan kebutuhan warganya. Kemenangan Jokowi di putaran pertama pemilukada DKI Jakarta barangkali mengejutkan bagi mereka yang mendukung ‘status quo’, pendukung kemapanan. Bagaimana mungkin seorang yang gemar ‘blasak-blusuk’ bakal memimpin Jakarta, andai dia kemudian menang di putaran ke dua.

Orang mungkin khawatir jika kemudian wajah birokrasi di DKI Jakarta akan berubah. Perubahan yang mungkin saja akan merugikan atau mengeser kelompok-kelompok kepentingan tertentu yang selama ini telah menikmati keuntungan dan ingin terus menikmatinya. Serangan demi serangan yang dilancarkan ke kubu Jokowi pasca kemenangan pada putaran pertama pemilukada DKI Jakarta barangkali tidak berasal dari kubu lawannya. Melainkan dari kubu yang kemungkinan besar akan dirugikan andai kemudian Jokowi berhasil memimpin Jakarta. Kubu yang tidak selalu berasal atau ada dalam pemerintahan.

Adalah normal dalam hajatan pemilihan muncul kampanye-kampanye hitam. Menyoal dari yang masuk akal sampai yang mengada-ada. Yang terpenting justru bagaimana pihak yang diserang menanggapi ocehan-ocehan yang bebas berkeliaran di luaran. Dan dari Jokowi, saya kira kita bisa belajar bagaimana menanggapi serangan dengan proporsional. Tidak juga cuek bebek namun tak juga kebakaran jenggot. Tidak semua serangan harus ditanggapi atau dihadapi secara khusus, misalnya lewat pidato atau konperensi pers. Apalagi jika serangan itu berasal dari sumber-sumber yang tidak jelas.

Dan saya berharap, SBY sebagai presiden RI bisa belajar dari Jokowi untuk tak terlalu reaktif dalam menghadapi serangan dan juga kritikan. Tak ada gunanya meski ganteng, santun dan tinggi besar apabila dalam berbagai kesempatan sering marah-marah gara-gara persoalan yang tidak penting.

Pondok Wiraguna, 7 September 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum