METAMORFOSA : Dari Pejabat Bisnis ke Pejabat Publik

Senin, 25 Juli 2011


Kini banyak dari mereka yang duduk sebagai penyelenggara pemerintahan atau bilang saja sebagai pejabat adalah orang-orang yang berasal dari kalangan eksekutif bisnis yang dikenal ‘sukses’. Mereka adalah para pengelola usaha, pemimpin yang handal dan cakap dalam dunia bisnis. Orang-orang yang layak disebut sebagai yang dihormati, disegani dan diakui mampu membesarkan sebuah usaha bisnis local menjadi usaha yang multinasional. Kini mereka meninggalkan jabatan di kelompok usaha mereka untuk berkecimpung dalam bidang politik dan meraih jabatan publik. Ada yang kemudian melepaskan kaki tangannya dari wilayah bisnis, ada yang menyerahkannya pada istri, anak atau menantu, tetapi tentu saja masih ada yang diam-diam mengendalikan bisnisnya dari tempat dimana dia duduk sekarang.

Masuknya para pebisnis handal dalam bidang politik tentu saja bukan sesuatu yang tidak disengaja. Institusi politik di masa reformasi banyak merekrut para pebisnis handal untuk turut menyumbangkan sumberdaya mereka dengan mengisi pos-pos strategis, utamanya dalam wilayah pengembangan ekonomi. Tentu saja jelas,motivasi merekrut mereka dalam wilayah ini karena selama ini mereka terbukti atau bisa menunjukkan keberhasilannya dalam membangun ‘kerajaan bisnis’ yang mampu menguasai perekonomian dalam tingkatan tertentu. Bagi kalangan bisnis, panggilan untuk menjadi pejabat publik tentu saja sebagai bagian tanggungjawab social mereka sebagai warga negara untuk tidak sekedar mensejahterakan diri mereka dan kelompok bisnisnya melainkan juga masyarakat yang lebih luas. Dan tentu saja ini bagian dari ‘balas jasa’ atas ‘very good governance’ dari pemerintah selama ini yang melindungi mereka lewat berbagai kebijakan dimasa krisis; dimana pemerintah betul-betul baik hati karena mengelontori dunia bisnis dengan uang triyulnan rupiah agar mereka tidak bangkrut.

Masuknya pebisnis dalam wilayah jabatan publik kerap menghasilkan sebutan ‘the dream team’ di pemerintahan. Sebutan ini membutakan kenyataan bahwa misi utama dari pemerintahan adalah melakukan kebaikan dan bukan menghasilkan uang sebanyak mungkin. Dan bak memimpin sebuah ‘kerajaan bisnis’ para mantan pebisnis ini sehari-hari sangat sibuk untuk berusaha sebanyak mungkin ‘mencari’ uang untuk menutup dan menambal APBN yang bolong disana-sini alias defisit. Kalau perlu APBN tertutup sehingga punya cadangan devisa sebagai mana layaknya deposito di bank. Alhasil dengan berbagai trik dan manuver, dan kalau perlu lobby sana-sini ketetapan dan restu untuk menjual asset negara (yang layak jual) dengan judul program privatisasi disetujui. Tentu saja kaum yang tergolong nasionalis dan patriotis tidak setujui, menjual asset negara ke swasta apalagi asing bagi mereka sama dengan jual tanah air, menjual kedaulatan negeri ini. Dan seperti biasa para pebisnis selalu berpatokan pada peraturan bukan perasaan (termasuk didalamnya cinta tanah air), apabila ketetapan politik sudah diambil maka tindakan itu legal dan konstitusional, titik. Kalau soal ada perlawanan itu biasa karena para ‘pelawan’ itu tidak sungguh-sungguh mengerti bagaimana mencari uang untuk negeri ini. Bagi pejabat mantan pebisnis ini bukan tempatnya mencampuradukan kepentingan mengumpulkan uang dengan perasaan atau romantisme terhadap negara. Pendek kata apapun harus dilakukan selama itu legal, konstitusional dan menguntungkan.

Gigihnya perlawanan terhadap usaha yang ‘tidak nasionalis’ ini terus bergulir sampai sekarang. Dan seiring dengan pergantian pemerintah, pejabat mantan pebisnispun berganti, ada yang berganti jabatan tetapi ada pula yang berganti orangnya. Tetapi nafsu untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk negara tidak berubah hanya berganti saja caranya. Barangkali tidak lagi menjual ini itu yang sudah jadi, tetapi dengan membuat lapangan dan kemudian mengundang para pemain untuk bermain didalamnya. Dan biar banyak pemain terkenal datang ke lapangan, mereka diiming-imingi dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang memudahkan mereka mengembangkan permainannya. Melihat tawaran menarik para pemain terkenal ini biasanya bergabung untuk membentuk klub agar bisa menciptakan strategi permainan yang baik dan efektif alias cantik namun yang penting bisa menang lawan siapapun kalau perlu menang lawan yang punya lapangan. Permainan klub ‘luar’ yang cantik dan menjanjikan kemenangan, tak mungkin membuat tumbuhnya klub local. Ibarat sebuah pertaruhan maka tak ada petaruh yang akan menjagokan ‘ayam’ yang jelas-jelas akan lari karena tidak punya taji.

Tapi bukan mantan pebisnis namanya, kalau para pejabat negeri ini tidak mampu berkilah. “Nggak soal, biarpun bukan punya kita toh mereka bermain disini, kalau pertandingannya bagus kan banyak yang nonton. Kita bisa sediakan jasa lain seperti lahan parkir plus tukang parkirnya, jual makanan dan minuman, sediakan penginapan, tempat hiburan, mengelola dan mengolah sampah, dan jasa-jasa lainnya yang tak terbilang jumlahnya”.
“Bagaimana mungkin, kok jadinya seperti itu?”.
“ Ya mungkin saja, apa sih yang tak mungkin di negeri ini!!”.

Alamak!!!, Err…ruar biasa memang eksekutif mantan pebisnis kita.

Salam Double Koin
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum