KORUPSI, KONSUMSI dan PERTUMBUHAN EKONOMI

Senin, 25 Juli 2011


Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi, Anto bukanlah mahasiswa yang baik di kacamata orang tuanya. Penampilannya selalu kurang (kurang rapi, kurang mandi,kurang tidur, kurang sopan,kurang sehat, dll), bahkan bisa disebut sebagai kurang ajar karena sebagai mahasiswa Anto tidak menunjukkan semangat luar biasa dalam mempelajari hal yang seharusnya dipelajari olehnya sebagai mahasiswa. Kalau soal buku tentu saja Anto rajin membaca buku, kalau soal diskusi tentu Anto termasuk kategori macam diskusi, kalau soal jaringan (ingat network penting dalam ekonomi) tentu Anto tak kurang apapun bahkan mirip laba-laba jarena jejaringnya dimana-mana. Cuma sayang apa yang dibaca, apa yang didiskusikan dan apa yang dijejaringkan bukanlah ekonomi mainstreams sebagaimana didapat di bangku kuliah. Bayangkan saja bagaimana muka bapaknya saat bertanya “apa itu IMF?’ , dan dijawab dengan nada geram oleh Anto “Internasional Masacre Fund, itu”. Dan mulai saat itu tak ada lagi perbicangan diantara mereka.

Meski sibuk demo sana-sini toh suatu saat Anto sadar bahwa dia harus menyelesaikan kuliahnya agar tidak terus menerus terkungkung dalam status mahasiswa. Setelah segenap persyaratan dipenuhi dan dengan debat sana-sini, proposal penulisan skripsi selesai diketiknya untuk dibawa kepada dosen pembimbing. Dengan penampilan yang agak berbeda dari biasanya, Anto membawa proposal berjudul Korupsi, Konsumsi dan Pertumbuhan Ekonomi : Sebuah Tinjauan Kritis Atas Perilaku Mahkluk Ekonomi di Indonesia Pasca Krisis.

Belum sempat membaca bagian setelah judul, sang dosen dengan muka tidak mendidik langsung mengeluarkan sumpah serapah “Apa-apapun kamu ini!!”.
“Baca dulu boss!!” jawab Anto tenang saja, sambil melanjutkan “ Begini saja, daripada boss lelah membaca, bagian setelah judul akan saya terangkan”. Dan mulailah Anto menerangkan kegelisahannya mencermati pertumbuhan ekonomi yang konon mencapai antara 3 – 5 % per tahun sebagaimana yang diungkapkan para ekonom (yang sebagian adalah dosen di Universitas-nya) lewat berbagai macam acara talk show yang bertebaran di televisi saat ini. Pertumbuhan itu setinggi itu sebenarnya tidak perlu disyukuri karena berbasis pada ekonomi ekspansif dan bukan distributive atau terbagi merata untuk kesejahteraan rakyat. Pada titik ini Anto setuju, namun keberatan dengan pernyataan yang mendasarkan pertumbuhan ekonomi pada agregat konsumsi belaka. Dimata Anto pertumbuhan ekonomi perlu juga dijelaskan dari agregat korupsi, karena korupsi akan memacu konsumsi.

Meski diam-diam tertarik pada penjelasannya, sang dosen masih dengan galak bertanya “Basis teori ekonomi mana yang kamu pakai untuk melakukan analisa korupsi memacu konsumsi?”.
Kembali Anto menjelaskan bahwa korupsi di Indonesia bukan dipicu oleh kebutuhan melainkan keserakahan dan ini dibuktikan bahwa yang melakukan korupsi umumnya adalah mereka yang berkecukupan atau bahkan sudah berlebihan hingga mampu memberi warisan kesejahteraan pada anak cucunya. Dan terbukti biar ada kenaikan gaji berkali-kali toh tetap saja korupsi jalan terus. Nah, ditengah kondisi ekonomi negara yang kembang kempis, banyak pengangguran,investasi produktif nol besar, tapi kok toko-toko tidak pernah sepi. Mall dibangun dimana-mana, ruko-rukan bak cendawan, perumahan mewah laris manis, pusat-pusat grosir bermunculan dimana-mana, ini menandakan bahwa sector konsumsi tumbuh dengan baik yang ditandai pula dengan pertumbuhan perusahaan pembiayaan untuk kredit konsumsi. Ini kan yang perlu ditanyakan, siapa yang mampu membiayai hobby belanja di tengah susahnya memperoleh uang saat ini?. Tentu saja orang-orang yang bisa memperoleh uang dengan gampang. Mereka ini bisa saja para pemenang undian yang ibarat dapat uang jatuh satu karung, pemenang kontes-kontes popularitas, para artis atau bintang entah nyanyi,sinetron, film atau komedi, atau barangkali para penerima ganti rugi terutama yang tanahnya jadi konsensi perusahaan tambang atau pembangunan proyek komersial, termasuk didalamnya tentu saja para penerima warisan apalagi kalau warisan berupa perusahaan yang sehat dan menguntungkan. Namun pada akhirnya yang paling dinamis mengerakkan sector konsumsi adalah para koruptor.

Kembali sang dosen masih belum percaya walau sedikit terpana, “Coba kamu langsung saja pada intinya, tunjukkan persisnya bagaimana korupsi memacu konsumsi”.
Anto makin bersemangat, mengetahui diam-diam dosennya tertarik. Korupsi bukanlah sebuah tindakan tunggal dan berdiri sendiri. Dalam korupsi selalu ada lingkaran yang saling terkait dan ini menjelaskan kenapa korupsi susah diberantas. Korupsi biasanya merugikan negara tapi sering menguntungkan banyak orang. Dalam proyek pembangunan fisik korupsi bisa menebalkan kantong mulai dari pemberi pekerjaan, pimpro, pemborong (mulai dari pemilik sampai mandor) dan penyedia jasa lainnya yang berkaitan dengan proyek apalagi kalau proyeknya dibiayai oleh APBN (yang biasanya berasal dari utangan luar negeri). Masing-masing koruptor ini punya lingkaran tersendiri baik yang ke atas maupun ke bawah, lingkaran ini harus dipelihara untuk memastikan keamanan ibarat sebuah bumper yang bisa dipakai untuk melindungi jika ada tabrakan. Biaya ‘keamanan’ atau apapun namanya secara tidak langsung menjadi cara distribusi hasil korupsi ke berbagai pihak, namun distribusi hasil korupsi tidak selalu terjadi dalam bentuk seperti itu. Distribusi hasil korupsi bisa muncul dilakukan dalam berbagai cara baikyang berbau politik, social atau bahkan religius. Di tangan koruptor inilah tergantung hidup banyak orang baik yang benar-benar untuk hidup atau sekedar untuk bersenang-senang.

Sebagai negara dengan predikat koruptif kelas wahid, tentu saja jumlah koruptornya berjibun, demikian pula jumlah uang yang dijadikan ‘bancakan’.Oleh karenanya banyak orang ikut menikmati, mencicipi dan kemudian membelanjakannya. “Sehingga dengan semakin banyaknya orang yang korupsi maka akan semakin banyak pula orang yang berbelanja dan hasilnya pertumbuhan ekonomi negara akan meningkat” demikian penjelasan dari Anto mengakhiri sesi diskusinya dengan sang dosen pembimbing. Dengan sikap yang cukup tenang sang dosen mengatakan bahwa apa yang dikemukakan Anto sangat menarik dan baik sambil tak lupa menambahkan apa yang menarik dan baik belum tentu bisa dilakukan. Sang dosen kemudian berdiri dan mengulurkan tangan sembari mengatakan “Coba, cari tema lain yang lebih sesuai dengan teori yang kami ajarkan”.

Meski agak kecewa, pada akhirnya toh Anto bisa menerima sambil berguman “Apa boleh buat , toh pada dasarnya hidup dan kehidupan universitas ini serta yang ada didalamnya bisa jadi terlibat juga dalam lingkaran korupsi”.

Salam Merampok Negeri
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum