KAMPUNG TUNGGANG LANGGANG

Jumat, 22 Juli 2011

Mengalami ruang kebersamaan bagi sebagian besar dari kita adalah saat sedang melaju atau berada di jalan. Rentang waktu berada di jalan semakin hari semakin besar seiring dengan perkembangan dinamika perkotaan. Jalan merupakan faktor penentu relasi dan psikologi social masyarakat. Nyaman tidaknya saat berada di jalan menentukan kualitas hubungan social di ruang-ruang lainnya kemudian.

Kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan orang berada di jalan tetapi tidak mendiaminya. Kita bisa melaju di jalan dengan kecepatan dan kemacetan seperti apapun tetapi tetap nyaman duduk dalam kabin, disiram dingin AC, berhubungan dengan dunia luar dengan sms, mms, video chat dan blackberry messenger. Sekalipun ada di jalan kita bisa duduk manis dengan layar laptop terbuka dan jari-jari memainkan tuts untuk terus meninggalkan jalan sembari menghubungkan diri dengan dunia luar, berselancar dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa gangguan.

Ruang kini tidaklagi berdimensi antropologis-geografis, melainkan lebih berkembang dalam hubungan yang cair tergantung dari koneksi jejaring komunikasi. Ruang yang makin dinamis, ekpasif dan membebaskan ini kemudian menjadi sebuah jebakan yang bisa membuat orang abai atas ruang-ruang fisik di sekitar lingkungannya. Asalkan koneksi internet lancar, orang tak punya kepentingan entah dengan kemacetan atau ketidak lancaran di jalanan. Kerjasama dan hubungan lebih terpelihara di alam maya. Sementara ikatan social dan kepedulian atas jalan misalnya tak terbangun secara sepadan. Padahal di Manado misalnya, gerak dan langkah dinamika kota ini hanya ditentukan oleh hegemoni satu moda yaitu jalan raya. Jalan yang semakin hari semakin ruwet, mendatangkan terror bagi siapa saja yang tak awas melihat tanda-tanda lalulintas. Terkadang tak cukup waktu untuk memikirkan kemana arah yang benar harus diambil. Jalanan Manado pasti membingungkan dan membuat linglung orang-orang yang sudah satu bulan tidak mengunjunginya.

Hubungan social yang menjijikkan di jalanan diungkap oleh Walter Benjamin (1892 – 1940). Dia kecewa dan mengkritik terhadap sikap tak peduli, cuek, saling salup, berebut untuk menjadi yang tercepat tanpa memperdulikan orang lain di jalan yang sama. Apa yang dikritik oleh Benjamin sedang terjadi di jalanan kita sekarang ini. Jalanan makin hari nampak semakin sempit karena jejalan ribuan orang diatasnya dengan aneka moda angkutan. Aneka kelas masyarakat yang tumpah di jalan menjadi sama-sama bergegas, tergesa dan tak memperdulikan yang lain. Jalan bukan lagi penghubung antara ruang yang satu dengan ruang yang lain, Jalan bukan lagi jalinan yang menyatukan pengalaman hidup keseharian kita. Jalan menjadi pengalaman perjuangan, perebutan dan bahkan terror yang menakutkan.

Pertanyaan jalan itu untuk siapa dan apa?. Apakah jalan hanya untuk modil, motor, truk dan bis; atau masih ada ruang untuk pejalan kaki, pengendara sepeda dan pedagang kaki lima?. Lalu jalan untuk apa, melancarkan hubungan, menunjukkan kekuasaan, kesombongan atau makan puji dan gila-gilaan. Andai jalan itu untuk semua orang tanpa membedakan, kenapa mobil mengkilap, berkaca gelap terus bisa melaju dengan cepat karena kawalan foreder dengan sirene yang memekakkan telinga. Watak pejabat tinggi di jalanan memperlihatkan tabiat yang sesungguhnya untuk tidak mau bersentuhan dengan masyarakat.

Sungguh kasihan para ‘peziarah kota’ dan pengembara jalanan karena tak ada ruang bagi mereka untuk membenamkan diri di bentang kota. Menjelajahi arcade dan boulevar sembari menerbangkan imaji di antara ruang ekonomi, social dan budaya. Siapa yang betah menziarahi jalanan di kota ini. Bahkan mereka yang mencari kehidupan dengan menyusuri jalan ini sudah mulai frustasi. Kembali ke sang peziarah, andaipun ingin mereguk aura kota ini dengan menyusuri trotoar pasti celaka yang ditemui. Hampir tak ada trotoar yang beres di kanan kiri jalan. Beberapa terlalu sempit dan seadanya. Terlalu banyak interupsi, entah oleh penutup got yang terbuka atau patah (sudah banyak orang mendapat malu dan bau karena terperosok ke dalamnya), jalan masuk ke rumah atau halaman lainnya, TPS (tempat pembuangan sampah sementara), halte (yang tidak melindungi dari panas maupun hujan), tidak rata atau bergelombang karena kontruksi asal-asal (meski ada juga yang saking pingin bagusnya ditegel dengan keramik licin sehingga banyak orang mau tergelincir) dan lebih aneh lagi di beberapa lajur jalan tengah-tengah trotoar ditanami pepohonan.

Yogyakarta mempunyai arcade jalan yang membentang panjang. Malioboro memelihara semangat cultural jalan sebagai ruang publik, tempat kehidupan, roh dan jiwa kota mengejawantah. Jalan sebagai ruang ekonomi atau ruang transaksi sesungguhnya bukanlah sesuatu yang diharamkan. Sebelum kehadiran moda-moda angkutan sesungguhnya pemilik asli jalan adalah para pejalan kaki. Banyak kejadian bisa terjadi di jalan, menunggu teman, mejeng sore-sore, janjian sambil minum kopi atau hidangan kecil lainnya, menikmati udara pagi dan lain-lain. Tapi kini jalan dan trotoar menjadi panggung tempat kita berkelahi. Tidak pernah ada sebuah komitmen, kesepakatan dan visi bersama tentang jalan dan daerah milik jalan. Semua terus ditentukan secara sepihak, pembangunan atasnya lebih didasari atas tinjauan proyek kontruksi, bukan karena kajian social dan budaya masyarakat yang akan memakainya.

Ketiadaan ruang public yang nyaman di daerah milik jalan membuat mall-mall dan pusat perbelanjaan tumbuh subur di perkotaan. Mall sejatinya sebuah kawasan yang mencomot jalanan, arcade dan plaza dalam satu kompleks secara sistemik. Suasana pasar tradisional, pasar kaget, perdagangan kali lima dan pedagang keliling secara selektif dihadirkan kembali dalam ruang yang nyaman. Memori masa lalu jalan sore-sore, cuci mata, mejeng, nyari jodoh dan lain-lain dihadirkan kembali secara lebih sempurna di mall-mall. Balkon tempat kita berdiri memandang sekeliling hadir di mall-mall. Foodcourt menjadi tempat nyaman untuk memilih aneka makanan dan duduk ngobrol ngalor ngidul. Caffeshop memanjakan pengunjung dengan alunan music dan sambungan wifi. Mall menghadirkan suasana secara selektif secara ketat. Hasilnya kita bak berjalan di plasa dan arcade tanpa gangguan panas, hujan, pengamen, pengemis, tukang semir dan lain sebagainya.

Mall hadir sebagai katedral modernitas tempat kaum perkotaan mereguk kembali spirit dan kesegaran jiwa setelah seharian lelah bekerja. Mall menjadi tempat rekreasi yang tidak pernah membosankan karena terus dikreasi penataannya. Mall di rancang untuk membuat orang terus bergerak, mengelana mengikuti dan memburu selera. Di dalam mall oang bisa menghabiskan hari meski tidak membeli apa-apa. Tapi sebaliknya mall juga menyediakan apa saja yang dibutuhkan dalam satu tempat. Tapi apakah mall mampu mengantikan ruang public yang tergusur dari kesekitaran kita?. Adakah mall merupakan ruang demokratis dan mampu menghapus sekat-sekat kelas aik ekonomi maupun pengetahuan. Adakah kaum yang mengamini ‘saya belanja maka saya ada’ alias shopaholic mampu merasa diri setara dengan orang yang ternganga melihat sepatu karet berharga ratusan ribu.

Mall tidak akan menjadi ruang public. Mall justru hadir untuk menunjukkan perbedaan kelas. Dengan mudah kelompok kelas menengah atas teridentifikasi, entah dari pakaian yang mereka kenakan, gadget yang mereka pegang dan pilihan counter perbelanjaan. Mall justru mematikan minat orang akan ruang public. Memasuki mall membuat kita tidak melihat kenyataan diluar, seperti pengemis, gelandangan dan kaum miskin papa lainnya. Mall mengajar kita untuk semakin tak peduli dan tak mau tahu akan apa yang terjalan di luar disekitar jalanan sana. Selamat datang matinya peradaban perjumpaan dan jangan heran jika sebuah persoalan antara kelompok kecil di jalanan tiba-tiba menjadi ledakan kerusuhan yang melibatkan banyak orang.

Salam Saling Tunggang
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum