AGAMA : Inspirasi Bukan Aspirasi

Jumat, 22 Juli 2011

“Ketaatan kami disini bukan karena kesadaran, tetapi karena dipaksa” (Mohammad Khatami)

Praktek pemaksaan ketaatan terhadap Tuhan dibanyak tempat oleh negara memang masih lazim. Kecenderungan seperti ini bahkan semakin menguat di negeri kita pasca reformasi. Muncul banyak kelompok masyarakat yang turut memaksa negara untuk semakin mencampuri urusan privat, hubungan manusia dengan Tuhan. Hak untuk berhubungan dengan Tuhan adalah hak paling dasar yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun. Negara hanya berfungsi untuk menjaminnya, memberi rasa aman dan nyaman untuk mengekpresikannya. Berbagai peristiwa kekerasan, diskriminasi dan pelecehan terhadap kelompok tertentu berkaitan dengan ekspresi serta praktek hubungan dengan Tuhan menunjukkan bahwa negara mau memperluas wilayah dan kekuatan kekuasaannya. Negara dan kelompok-kelompok tertentu mendorong campur tangan dalam suatu wilayah yang seharusnya bukan menjadi urusannya. Negara dan kelompok sesungguhnya adalah sistem yang tidak tunggal karena didalamnya ada beberapa unsure sehingga tidak mungkin mereka hadir menjadi ‘wakil Tuhan’ di bumi.

Praktek di banyak wilayah dimana negara atau kekuasaan setempat memegang kendali atau memaksakan ketaatan pada Tuhan hanya akan melahirkan ‘hipokrisi religius’. Simbol dan tanda-tanda religiusitas ada dimana-mana menyembunyikan buruk muka dan segenap penyelewengan di balik ketaatan massal. Apakah bisa dipastikan seseorang yang mengenakan symbol religious seharian penuh, melahap hafal isi kitab suci dan menjalankan ibadah secara teratur dengan sendirinya akan menjadi mahkluk yang taat dan beriman penuh kepada Tuhan?. Sudah banyak kita mendapat contoh atau bahkan melihat perilaku mereka yang gemar memakai symbol-simbol religious tetapi bertindak dan bertutur tanpa adab orang beriman. Padahal siapapun yang secara serampangan bertindak seolah-olah sebagai ‘wakil Tuhan’ sesungguhnya justru dia tengah menista Tuhan.

Kepemerintahan kita dibangun atas legitimasi politik, pemberian mandat melalui pilihan suara rakyat. Dalam pemilu atau pemilukada tidak pernah ada pemberian mandat spiritual atas orang yang kita pilih atau kita beri suara. Dengan demikian mandat para pengelola pemerintahan adalah mengurus warga dalam urusan hidup duniawi. Kita hanya menempatkan mereka menjadi pimpinan tinggi negara atau suatu daerah bukan pimpinan tertinggi spiritual keagamaan. Menyerahkan urusan duniawi dan surgawi kepada satu tangan penguasa hanya akan mengantar kita kepada kekuasaan totaliter yang akan sulit untuk dikoreksi. Dan apabila ini terjadi maka akan sulit untuk diperbaiki lagi, sulit untuk dirubah sebab tidak ada lagi kekuasaan yang lebih tinggi. Pengalaman di Eropa pada masa lalu ketika gereja dan negara bersekutu melahirkan banyak horror dalam kehidupan warganya.

Di beberapa negara, bentuk pemerintahan teokrasi juga masih dipraktekkan. Akibatnya praktek kehidupan kenegaraan tidak lagi didasarkan atas kontitusi. Pemimpin spiritual tertinggi kata dan keputusannya bisa mengatasi konstitusi. Maka praktek partisipasi, kritisisme terhadap kekuasaan dan aspirasi warga menjadi mustahil untuk diwujudkan. Indonesia pasca reformasi juga memunculkan gerakan baik dari kelompok maupun unsur pemerintahan untuk mengaspirasikan teokrasi baik secara terbatas maupun menyeluruh. Modus yang dipilih bermacam-macam atau dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam koridor demokrasi, UU tentang Pornografi misalnya bisa merupakan jalan kecil atau pintu masuk untuk negara mencampuri urusan moralitas warganya. UU ini sesungguhnya menempatkan warga negara sebagai kelompok tertuduh yang bobrok secara moral sehingga perlu ditakut-takuti dengan pasal dan ancaman hukuman. Dalam banyak sisi pembatasan atas gaya berbusana, bertindak dan berpenampilan bagi perempuan sesungguhnya hinaan pada laki-laki yang dianggap selalu ‘bernafsu dan berpikir ngeseks melulu’ apabila melihat perempuan.

Aspirasi teokrasi yang sangat luas, tidak dijabarkan dengan jelas (kabur), penuh dengan idealisasi dan tak disertai dengan argumentasi keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan dalam perdebatan public kemudian bersekutu dengan nafsu berkuasa kelompok atau orang tertentu yang disembunyikan di belakang topeng kesalehan akan menjadi bahaya besar kehidupan bangsa di masa depan. Pragmatisme politik yang memainkan sentiment teokrasi menunjukkan bahwa kehidupan para pemburu kekuasaan menghalalkan segala cara untuk merengkuh kedudukannya. Sebuah sikap dan perilaku yang sesungguhnya ditentang oleh sistem dan ajaran religious apapun.
Adakah sesungguhnya ide-ide teokrasi tak lebih dari wajah keputusasaan dan ketidakmampuan para pengelola pemerintahan untuk menyelesaikan persoalan. Kenapa harus mengurus cara berpakaian, cara berjalan, cara berbicara dan lain-lain kalau untuk mengurus kebutuhan air bersih, sumber energy dan angkutan umum saja tidak becus sampai sekarang. Apa gunanya jika seluruh bangsa ini tiap hari berdoa, mendaras ayat kitab suci, tempat ibadah penuh dimana-mana dan sebagainya tapi kita hidup sengsara. Adakah kalau rakyat kita miskin lalu pemerintah hanya mengatakan sabar, sebab orang miskin lebih berharga di hadapan Tuhan dari pada orang kaya. Lalu jika rakyatnya bodoh, berkilah bahwa orang bodoh akan lebih jauh dari dosa dibanding dengan orang yang pandai.

Sebagai bangsa kita adalah bangsa yang religious, semua orang beragama, sebagian besar taat beribadah tapi toh adab kita sebagian besar tidak mencerminkan hal itu. Dan kenapa kita masih berpikir bahwa pemerintahan teokrasi akan mampu memperbaiki kondisi bangsa ini. Ide seputar teokrasi adalah ide orang-orang gila urusan, orang yang putus asa mencari jalan dan asa untuk memperbaiki kondisi negeri ini. Menjadikan negeri ini sebagai negeri teokrasi tidak akan membuat mata Tuhan berpaling ke negeri ini, mengulurkan tangan-NYA membantu kita menyelesaikan persoalan bangsa ini.

Berhentilah mengkhayal campur tangan Tuhan dalam mengatasi segenap masalah yang membelit negeri ini. Kerja keras penyelenggara pemerintah dan segenap jajaran birokrasinyalah yang seharusnya diutamakan. Hentikan perselingkuhan politik, tegakkan hukum dan fungsi negara untuk melindungi serta mengutamakan kepentingan warganya. Jadikan agama sebagai inspirasi, untuk bekerja sungguh-sungguh, mengabdi kepada pemberi mandat, jujur dalam mengambil keputusan. Jangan bertopeng dibalik aspirasi agama yang justru menghantar warga kepada ketaatan semu, karena terpaksa. Tuhan membenci kemunafikan sekalipun kita bermaksud untuk menyenangkanNYA.

Salam Damai Dalam TUHAN
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum