Kontemplasi : HASTAG (17)

Jumat, 11 Januari 2013

#MenelanLudahSendiri

Roy Suryo konon dalam sebuah percakapan di twitter pernah mengatakan akan menolak dengan elegan apabila ditunjuk menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga. Menurutnya bidang itu bukanlah bidang yang sesuai dengan kompetensinya. Pernyataan itu diungkap ketika ada yang menanyakan andai dalam kesempatan reshuffle presiden menunjuknya sebagai menteri.

Tapi hari ini (Jum’at 11 Desember 2013) atas ijin presiden, Mas Roy boleh berbicara kalau dirinya dipilih oleh presiden untuk menggantikan Andi Malarangeng yang mengundurkan diri karena telah ditetapkan KPK menjadi tersangka korupsi. Dengan legowo, Mas Roy menerima penunjukkan dirinya sebagai menteri yang tidak sesuai dengan bidangnya. Tak ada nada keberatan sedikitpun, bahkan konon beberapa hari lalu, Mas Roy sudah pamit sana-sini di gedung DPR sana. Dan itu disentil oleh Eddy Baskoro, Sekjend Partai Demokrat yang juga adalah putra presiden. Ibas mengingatkan agar jangan ada yang ke G Er –an lebih dahulu sebelum dinyatakan resmi oleh presiden.

Apakah ini berarti Mas Roy menelan ludahnya sendiri. Mungkin saja begitu, kalau apa yang diucapkan di twitter waktu lalu adalah ucapan yang serius. Tapi bisa jadi twit-nya itu hanya celoteh biasa saja. Untuk apa seseorang menanggapi pertanyaan dengan serius kalau yang ditanyakan bukan hal yang mungkin akan terjadi pada dirinya saat itu. Atau karena kaitan pertanyaan adalah andai terjadi reshuffle, maka Mas Roy memakai adat sopan santun, tak boleh langsung mengiyakan, karena kalau jadi menpora waktu reshuffle berarti mengeser koleganya sendiri, jadi itu tidak elok.

Apa yang terjadi kini lain, kursi Menpora kosong karena ditinggal oleh Andi Malarangeng yang memilih untuk berkonsentrasi pada kasus yang menimpanya. Konon Andi dari tersangka ingin berubah menjadi ‘justice colaborator’ untuk mengungkap kasus Hambalang secara terang benderang. Jadi kalau sekarang Mas Roy “Sendhiko Dawuh” atas apa yang ditetapkan oleh Presiden, itu adalah bentuk kesiapan warga negara, kader partai untuk selalu siap sedia ditempatkan dimana saja karena negara memanggil.

Bicara kompeten atau tidak dalam urusan jadi menteri toh juga persoalan yang sumir, antara ya dan tidak, ada dan tiada. Toh pos-pos menteri adalah pos jatah-jatahan. Dan dalam urusan jatah menjatah ini, calon yang diajukan oleh pihak yang diberi jatah biasanya juga tidak berdasar kompetensi.

Buktinya kebanyakan partai yang diberi jatah, mengutus ketua atau petinggi lainnya. Menteri juga bukan jabatan karier, yang menuntut orang untuk meniti perjalanan dari bawah, membangun kompetensi dalam bidangnya. Jadi tak perlu heran, seseorang yang belum pernah ke hutanpun bisa menjadi menteri kehutanan. Seorang yang gaptek-pun bisa menjadi menteri Komunikasi dan Informasi yang sarat dengan urusan teknologi informasi yang laju perkembangannya luar biasa. Jadi karena tidak ada sekolah atau kursusnya maka untuk apa pula bicara soal kompetensi.

Jadi kalau beberapa waktu lalu Mas Roy bicara soal kompetensi, ya itu sekedar basa-basi saja. Omong-omong di warung kopi. Sekarang apa bedanya dengan aktivis lingkungan hidup yang tengah gencar melakukan advokasi pada PSDA yang berkelanjutan. Pasti dia akan menjawab ‘haram hukumnya kerja di perusahaan tambang”. Namun 2 atau 3 tahun kemudian ternyata kemudian bekerja di perusahaan tambang. Apa mau dikata, barangkali yang bertanya yang salah kira. Ya jelas kalau seseorang sedang berada dalam posisi A lalu ditanya akankah menerima jika ada tawaran dari B, kemudian menjawab tidak. Jika satu atau dua tahun kemudian pandangannya berubah, barangkali karena sudah mengalami pencerahan. Bukankah banyak yang mengatakan “ternyata tidak efektif berjuang dari luar, kita harus masuk ke dalam, masuk dalam sistem dan mempengaruhi dari dalam”. Mantra semacam ini dulu juga kerap dipakai oleh aktivis akar rumput yang kemudian beramai-ramai masuk ke arena politik praktis.

Mungkin ada yang bertanya kemana nilai-nilai yang selama ini dipegang kukuh oleh mereka, kok kemudian beralih 180 derajad. Ya tentu saja menguap, atau sudah dikoreksi oleh mereka sendiri. Toh pemahaman akan nilai juga bisa berkembang, bisa jadi selama ini nilai-nilai yang dipegang adalah nilai yang sempit dan pilihan sekarang ini dilandasi oleh nilai yang lebih luas. Pendek kata selalu ada alasan bagi seseorang yang dituduh ‘menelan ludah sendiri’ untuk memberi alasan pembenaran atas apa yang dipilihnya saat ini.

Dan itu sah-sah saja, toh pilihan Mas Roy untuk menerima penunjukkan sebagai Menpora, tidak melanggar hukum dan konstitusi. Demikian juga dengan aktivis lingkungan yang kemudian memilih menjadi pekerja industri ekstraktif, atau main dalam politik praktis. Mereka tahu bahwa banyak orang yang dongkol atau jengkel, tapi selalu ada mantra lain untuk menghadapi tanggapan seperti itu. “Anjing menggongong kafillah tetap berlalu”.

Selamat bekerja Mas Roy semoga anda mampu memperbaiki keanehan-keanehan dalam dunia kepemudaan dan olahraga kita.

Pondok Wiraguna, 11 Januari 2013
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum