Amatan Acak : AKU dan NUSANTARA (25)

Kamis, 20 September 2012


Kutai Lama di Ambang Nestapa

Kurang lebih lima tahun yang lalu untuk pertama kali saya berkunjung ke Kutai lama, tepatnya ke kompleks pemakaman Raja perdana dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Perjalanan ke sana kini lebih mudah karena tidak perlu lagi menyebrangi sungai dengan perahu, jembatan megah kini telah membentang gagah di atas sungai.

Kalau ada yang berubah, kini perjalanan ke sana terlihat semakin terang, lantaran lingkungan yang semakin centang perentang akibat aktivitas pertambangan batubara di sepanjang kanan kiri perjalanan kesana. Di wilayah Sambutan, Samarinda dan Anggana, Kutai Kartanegara, terlihat dengan jelas bahwa semakin banyak perusahaan tambang yang meratakan dan mengeruk bebukitan.

Suasana di sekitar kompleks makam sendiri tidak terlalu berubah, tak terlalu ramai juga tak sepi. Terlihat beberapa ibu berjualan air dan kembang untuk perlengkapan peziarahan. Beberapa yang lainnya berteduh di bawah pepohonan. Nampak pula segerombolan anak-anak bermain di sekitar kompleks makam. Mereka ternyata berkumpul situ menunggu peziarah selesai memanjatkan doa di makam untuk dimintai sedekah. Anak-anak disana terlatih benar memasang wajah untuk merayu peziarah agar tergerak merogoh kantong dan dompetnya. Anak-anak itu akan terus menempel dan mengikuti para peziarah yang usai berdoa sampai mendapat apa yang jadi pintanya.

Didalam kompleks makam utama, ada lima juru kunci. Tiga orang berseragam layaknya pegawai pemerintah. Mereka tak banyak bicara, pasif dan duduk bersandar di dinding pendopo. Dua juru kunci lainnya berbaju biasa dengan cepat mengobral cerita. Cerita yang hampir sama saya dengar lima tahun lagi berulang. Betapa sebenarnya tak banyak yang memperhatikan tempat ini lagi. Tempat ini ramai dikunjungi para petinggi kala menjelang pemilu kada. Lepas dari itu dibiarkannya kembali. Nasib para penjaga kuburpun tetap sama, begitu-begitu saja dari waktu ke waktu. Pendapatannya tergantung pada niat baik dan sumbangan para peziarah. Konon para juru kunci yang berseragam mendapat honor dari pemerintah, tapi jumlahnya tak seberapa dan harus diurus ke ibu kota Kabupaten.

Ketiga ditanya soal lembaga adat dan apa perannya dalam menjaga warisan kebudayaan di Kutai Lama, para juru kunci hanya tersenyum lalu berkata, entah apa yang mereka lakukan. Ironis memang sebab Kutai Kartanegara adalah kabupaten terkaya di Kalimantan Timur, namun melupakan daerah yang menjadi cikal bakalnya. Menurut para penjaga kubur, masyarakat di Kutai Lama tak ikut menikmati kekayaan alamnya melainkan hanya mendapat ampasnya. “Kami hanya mendapat debu batubara”, tutur salah satu dari juru kunci.

Dan benar, saat saya berdiri di jembatan naga (dermaga di pinggir sungai), ada pemandangan baru. Tampak di depan sana ponton berjejer panjang, dan di sebelah kanan nampak conveyor mencurahkan aliran batubara ke atas ponton. Jaraknya tak terlalu jauh dari kampung, maka jika angin bertiup kencang tentu saja partikel-partikel lembut, remah-remah batubara akan ikut terbang bersama angin menerpa kampung dan pemukiman.

Batubara bagi Kutai Kartanegara bukanlah cerita baru. Di masa kejayaan Kesultanan Kutai, Sultan telah memberikan hak pengusahaan batubara pada pengusaha Belanda. Namun kala itu mungkin tak jadi persoalan karena aktivitas pertambangan belum semasif saat ini. Kini Wajah Kutai Kartanegara dimana-mana dihiasi tumpukan batubara, bukit yang terbongkar, jalan hauling yang berdebu dan lalu lalang kendaraan double gardan yang tak segan menunjukkan kesombongannya di jalan umum.

Dua kali sudah saya ke Kutai Lama dan tak menemukan sisa-sisa peradaban dan kebudayaan Kerajaan Kutai Kartanegara perdana disana. Apa yang menonjol justru jejak ekploitasi sumberdaya alam yang berlangsung sejak lama, mulai dari Migas hingga kemudian kini Batubara.

Tesis bahwa Kerajaan (kesultanan) Kutai Kartanegara lebih menonjol sebagai organisasi ekonomi tinimbang organisasi politik sepertinya benar adanya. Hal mana ditunjukkan dalam minimnya peninggalan sosial dan kebudayaan serta kurangnya penghargaan atas apa yang ditinggalkan olehnya. Dan Kutai Lama adalah saksi utamanya.

Pondok Wiraguna, 21 September 2012
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum