Kaderisasi Koruptor

Rabu, 05 Oktober 2011


Saat diminta komentarnya perihal KPK yang terus menerus dihantam dari segala jurusan, Mas Romo hanya menjawab singkat “Para penyerang tak sadar betapa beratnya kerja KPK”. Dan benar memang maha berat kerja KPK. Pertama karena korupsi telah menjelma menjadi penyakit yang kronis, berurat berakar sampai masuk dalam urusan sehari-hari. Kedua, perilaku koruptif selalu menyangkut segerombolan orang, persih seperti kue lapis dimana dalam setiap potongnya terdiri dari beberapa layer. Dan yang ketiga, pencegahan korupsi menjadi tidak populer karena semua merasa sedari kecil sudah dibekali dengan norma dan ajaran suci entah yang berasal dari kebudayaan maupun agama.

“Maka yang menonjol dari KPK hanyalah penindakan, sementara yang berbau pencegahan menjadi tidak populer, jarang diperbincangkan apalagi diberitakan”, ujar Mas Romo. “Akibatnya tindakan KPK berpeluang menimbulkan kontroversi, apalagi jika sudah menyangkut orang atau lembaga yang terhormat”, lanjut Mas Romo.
Nardi yang sedang mengerjakan tugas menulis paper berjudul “Memahami Korupsi Untuk Membasmi” tak berusaha memancing keterangan dari Mas Romo melalui pertanyaan. Dia tahu persis, hanya dengan diam maka Mas Romo pasti akan kembali melanjutkan untaian kata-katanya.

Dan benar saja, karena Nardi hanya diam dan menunjukkan wajah siap mendengarkan, maka Mas Romo melanjutkan analisis panjangnya. “Siapa di negeri ini yang sudi disangka korupsi, apalagi kalau sudah merasa mengabdi untuk bangsa ini”, ujar Mas Romo. “Maka penindakan terhadap orang tertentu selalu menjadi riuh, sebab akan muncul kelompok-kelompok pendukung baik yang terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Semuanya berkeinginan untuk mengatakan betapa KPK salah karena menyangka orang tersebut telah melakukan tindakan tercela”, lanjut Mas Romo.

“Bukankan setiap penindakan terhadap sebuah kasus, selalu memunculkan narasi”, tanya Mas Romo pada Nardi. Kali ini Nardi merasa tidak enak kalau tidak menjawab. “Iya Mas Romo, selalu muncul narasi soal politisasi, dizolimi, dikorbankan dan kriminalisasi kebijakan”, jawab Nardi.

“Ada ribuan kasus, tetapi silang pendapat soal satu kasus saja sudah berlarat-larat. Semua mau terlibat meski berkali-kali menyatakan diri tak mau intervensi. Lihat saja anggota legislatif kita gemar membuat panja, pansus dan lain sebagainya”, tambah Ahmad.

“Kaum eksekutif juga tak kalah genit, sedikit-sedikit bikin tim ini dan itu, yang lebih banyak membuat sebuah kasus jadi semakin ruwet. Belum lagi kalau banyak yang menyoal kinerja dan sepak terjang tim bentukan eksekutif itu. Wah ..tambah ribut”, tambah Nardi melanjutkan keterangan Ahmad.

“itulah sebabnya penanganan korupsi menjadi berlarat-larat. Kasus bertumpuk-tumpuk dan semakin susah diurai. Sementara itu calon-calon koruptor dengan cepat juga bermunculan. Setiap koruptor selalu mendidik kader untuk melanjutkan sepak terjang dan menjaga kepentingannya”, keluh Mas Romo.

“Lho koruptor dikader juga ya Mas Romo”, tanya Nardi heran.

“Lha iya lah ..... coba lihat semua pemilihan ketua ini dan itu selalu ricuh, berebutan orang ingin menjadi calon. Nah disitulah ladang dan lahan korupsi dimulai. Uang bukan hanya dihamburkan dalam pemilihan bupati, walikota, gubernur dan sebagainya, sekarang ini pemilihan ketua perhimpunan mahasiswa saja perlu dana untuk mengamankan suara”, jawab Mas Romo.

“Pantas saja ya, calonnya sibuk sowan kesana kemari, membuat tim untuk menyebar proposal. Menggali dana dari berbagai jurusan tapi minim pertanggungjawaban”, sambung Ahmad.

“Demikianlah adanya, maka jangan sering-sering mengadakan kaderisasi, sebab jangan-jangan kita bukan hanya menghasilkan kader yang militan melainkan juga bajingan yang siap menilep uang negara saat punya kedudukan nanti”, pesan Mas Romo.

“Kalau begitu koruptor seperti pahlawan saja ya, mati satu tumbuh seribu”, guman Nardi.
“Oh, ya Mas Romo, kira-kira ada gak sih jabatan yang tidak diperebutkan sehingga tidak memerlukan uang untuk mendudukinya”, tanya Ahmad lagi.

“Kalau kamu mau, sebenarnya ada. Ketua rukun kematian”, jawab Mas Romo sekenanya sambil berpamitan.

Yustinus Sapto Hardjanto
Sociocultural Networker’s

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum