Animal Welfare

Rabu, 05 Oktober 2011



Ramai diberitakan tentang penganiayaan terhadap orang hutan di daerah Kutai Timur dan Kutai Kartanegara oleh warga. Musababnya adalah masuknya orang hutan ke kawasan perkebunan dan kemudian memakan pepohonan sawit yang dibudidaya di dalamnya. Meski termasuk primata yang cerdas, tentu saja orang hutan tidak mengenal kepemilikan. Apa yang kelihatan bisa dimakan olehnya akan langsung ditelan, tanpa permisi dan meminta ijin terlebih dahulu kepada sang empunya.

Konon pemilik perkebunan jenggah dan marah atas ulah orang hutan yang menghabisi pohon sawitnya. Agar tidak ikut kotor tangannya maka disuruhlah orang-orang kampung (tentu dengan bayaran) untuk meringkus sang pemangsa pohon sawit dan kemudian menghajarnya hingga KO.

“Jelas ini kelakuan tidak adil dan biadab”, guman Mas Romo menanggapi berita koran hari ini. “Apa mereka yang menyuruh dan kemudian menganiaya tidak sadar, bahwa mereka dululah yang merampas ruang hidup orang hutan. Merubah hutan tempat penghidupan orang hutan menjadi ladang”.

Dalam keprihatinan yang dalam, Mas Romo berandai-andai saling bertukar kata dengan Orang Hutan, sebut saja Si Pongo.

“Pong ..saya prihatin dengan kejadian yang menimpa teman dan saudaramu. Kalau boleh bertanya andai ada kesempatan untuk pindah, kau akan memilih pergi kemana?”, tanya Mas Romo.

Si Pongo tak segera menjawab. Yang nampak justru bulir-bulir air mata menetes dari pelupuk matanya sambil diiringi suara sesenggukan kecil, seperti kena flu saja. Setelah agak tenang, Pongo berkata “Kalau boleh saya akan memilih Eropa, Inggris, Jerman atau Perancis. Atau biar tidak terlalu jauh ke Australia saja”.

“Kenapa memilih Eropa Pong”.

“Masyarakat dan hukum disana sudah menghormati peri kebinatangan universal. Kalau kami diperlakukan semena-mena akan ada banyak yang membela. Negara bahkan bisa dikenai sangsi apabila tidak ramah kepada binatang”.

“Kalau Australia, kenapa?. Bukankah kadang mereka tak suka yang berbau Indonesia kecuali Bali”.

“Jangankan jenis seperti saya yang dilindungi. Sapi yang memang digemukkan untuk dipotong saja apabila diperlakukan tidak baik, mereka marah. Buktinya mereka tak sudi mengirim sapi ke Indonesia saat tahu bahwa sapi-sapi mereka disembelih dengan tidak hormat, disiksa lebih dahulu”.

Mendengar alasan Si Pongo, Mas Romo ingat betapa gerakan penyayang binatang di Eropa memang serius. Kelompok penegak hak binatang, berjuang sepenuh hati, bisa sangat keras bahkan rela mati demi binatang. Militansi mereka layaknya pejuang Taliban di Afganistan. Mereka bukan hanya rajin berdemo, tetapi juga memblokade daerah tertentu dan terus melobby para petinggi agar mengeluarkan peraturan yang menjamin kesejahteraan binatang. Europe Group for Animal Welfare adalah kelompok yang dengan keras berjuang untuk membela binatang. Di Perancis ada Brigitte Bardot, bintang film nan sexy tapi garang jika berhadapan dengan para penyiksa binatang.

“Apakah tidak ada tempat yang aman untukmu di tanah Borneo ini”, tanya Mas Romo pada Pongo.
“Sebenarnya ada, tapi tidak bebas karena berupa penampungan. Sebenarnya enak juga semua sudah tersedia. Namun itu bakal membuat urat kami kaku, tak terampil mencari makan dan malas untuk memanjat pohon tinggi. Lagi pula kalau nanti tak ada bantuan dari luar negeri, siapa lagi yang mau membiayai kami?”.

Keadaan memang sulit untuk Si Pongo dan teman-temannya. Meski banyak dipelajari oleh para peneliti luar negeri, nasibnya tak sebaik para doktor yang memperoleh gelar karena lagak laku Si Pongo dan teman-temannya.

Bunyi pesan masuk mengagetkan lamunan Mas Romo. Sebenarnya Mas Romo enggan meninggalkan percakapannya dengan Si Pongo. Namun isi pesan SMS meminta Mas Romo agar segera datang ke sebuah pertemuan. Sebelum bersiap berangkat Mas Romo sempat berbisik “Sebelumnya saya mohon maaf, jangankan untuk kamu jenis binatang. Nyawa kami, manusia, mahkluk yang paling mulia juga tak punya harga di negeri ini”.

Yustinus Sapto Hardjanto
Sociocultural Networker’s

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum