Jannah, Jun dan Dani, Doaku untukmu

Jumat, 08 Juli 2011

Pagi menjelang siang, seperti biasa laku pertama setelah bangkit dari peraduan adalah mencari rokok dan koran.  Sebetulnya hari ini tak terlalu bernafsu untuk segera membacanya sebab saya menduga headline beritanya tak akan jauh-jauh dari Nazzarudin, mantan bendahara dari partai yang tanda gambarnya mirip lambang mobil ternama dari Jerman.  

Menyedot rokok dengan dalam dan menyeruput kopi dingin sisa semalam, membuat perut meniup tanda untuk segera melangkah menuju jamban. Tapi langkah kaki tertahan, ketika mata tertumbuk pada judul berita halaman pertama, koran Tribun Kaltim, Jum’at, 8 Juli 2011. Anak Saya tak Kembali : 3 Bocah Tewas di Kolam Bekas Tambang. Sontak hilang rasa ke belakang, luruh tersaput panas dan sesak yang mencengkeram di dada. Hati siapa yang tidak panas membaca berita itu, mata siapa yang tak akan meneteskan buliran duka melihat wajah tiga bocah yang tengah menikmati masa-masa liburan sekolah yang hampir berakhir itu kini telah tiada.

Muhammad Junaidi dan Ramadani adalah kakak beradik, bersama Miftahul Jannah dan teman-temannya, murid Sekolah Dasar di RT 05 Kelurahan Sambutan bermain di sekitar kolam bekas tambang. Barangkali mereka bukanlah anak-anak yang bisa menikmati liburan sekolah dengan berenang di kolam hotel berbintang atau waterpark yang kini marak di kota ini. Orang tua yang sibuk bekerja barangkali tak bisa menemani mereka menyusuri tempat bermain di mall-mall yang adem. Kemungkinan besar mereka juga bukan bocah yang sudah akrab dengan aneka gadget terbaru yang memungkinkan langlang buana tanpa meninggalkan rumah. Mereka hanyalah bocah-bocah kampung yang taat memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar mereka untuk menuruti naluri bermain yang memang kuat di dalam diri anak-anak.

Saya membayangkan bahwa saat mereka melihat kolam bekas tambang yang konon berukuran 6 x 25 meter, di benak mereka pasti muncul keinginan untuk mencebur dan menikmati segarnya. Anak-anak selalu mempunyai dunia sendiri dan dengan cepat mengimajinasikan genangan air yang seadanya itu sebagaimana layaknya kolam-kolam indah yang kerap mereka saksikan di layar televisi. Soal waspada terhadap resiko bahaya tentu tak ada dalam benak mereka. Genangan air yang barangkali jernih, tidak berombak dan tenang ibarat lambaian tangan yang mengajak bocah-bocah menceburkan dirinya.

Niat bergembira yang berubah jadi petaka. Tiga bocah itu tenggelam tak lama sesudah menceburkan dirinya dalam kolam bekas tambang itu. Teman-teman seusianya yang lain, namun belum turut menceburkan diri tak kuasa menolong, ketiga bocah yang ‘megap-megap’ melepas diri dari luruh ke dasar kolam. Usaha mencari pertolongan dari rekan-rekannya pada orang dewasa, terlambat sudah. Ketiganya ditemukan meninggal dengan badan berlumur lumpur tambang.

Saya tidak mengenal ketiga bocah itu, wajah mereka yang riang menatap masa depan baru pertama saya lihat di halaman koran. Saya juga tidak tahu bagaimana lingkungan mereka tinggal di Sambutan sana. Tapi yang saya tahu bahwa tambang batubara di Samarinda telah berkali-kali memakan korban, baik kolektif maupun individual. Sehari yang lalu, saya juga menatap wajah di lembaran koran dengan cukup lama, foto Nazaruddin yang kini entah lari kemana. Ingin rasanya diri ini meludah di mukanya. Tapi hari ini tak kuasa saya berlama-lama menatap wajah ketiga bocah yang lugu itu. Hidup dan kematian adalah kuasa Tuhan, tapi siapa yang mampu dengan mudah menerima kematian ketiga bocah yang sedang senang-senangnya menikmati kehidupannya. Membangun cita-cita dan meniti masa depannya yang barangkali seadanya. Andai Tuhan bisa didemo dan mau mengembalikan kehidupan ketiga bocah itu, saya akan berdiri pada barisan paling depan untuk memintanya.

Saya ta ingin memanfaatkan kematian ketiga bocah ini untuk mengingatkan para pemangku kepentingan yang berurusan dengan dunia tambang di Samarinda maupun Kalimantan Timur pada umumnya. Sebab tanpa diingatkanpun, andai anda sekalian tidak buta huruf dan buta hati berita di Koran Tribun Kaltim dan pasti juga ada di media lainnya akan menyuarakan peringatan itu dengan sendirinya. Meski hati anda sekalian telah membatu, namun tangis orang tua, sanak kerabat, saudara dan teman-teman ketiga bocah itu akan melumerkan batu sekeras apapun.

Kematian ketiga bocah ini adalah “teriakkan tanpa bunyi” memungkasi aneka suara yang selama ini dihamburkan oleh berbagai pihak, betapa perilaku para pengusaha tambang di Samarinda begitu serampangan. Suara yang oleh para pengambil kebijakan ditanggapi dengan acuh tak acuh, jawaban yang normatif “yang baik kita apresiasi, yang nakal kita amputasi” sembari tak lupa menganggap para pengkritiknya sebagai “tak paham dan menghambat laju pembangunan”. 

Kepulangan ketika bocah pada hadirat Tuhan pemilik kehidupan, adalah penanda bahwa para pemangku kepentingan yang bertanggungjawab atas aktivitas pertambangan di kota ini telah “membunuh peradaban”. Aktivitas investasi yang mengemukkan pundi-pundi kekayaan pemerintah kota dan dipuji mengerakkan roda pembangunan ternyata tak mampu menyediakan teman bermain yang nyaman dan aman untuk anak-anak. Anak-anak adalah mahkluk tanpa prasangka dan tak peduli resiko, adalah tugas bagi penanggungjawab masyarakat untuk menyediakan dan memfasilitasi kebutuhan mereka. Menyalahkan bocah dan orang tuanya adalah tanda bahwa kita menghindari tanggungjawab kolektif dalam membesarkan dengan benar para penerus bangsa.

Kota ini abai mendidik warganya akan resiko yang ada di kesekitaran mereka. Papan peringatan hanya gemar melarang-larang dan menakut-nakuti warganya. Tak ada sebuah papanpun yang dengan jujur mengatakan misalnya “sungai ini telah tercemar dengan aneka polutan. Mohon tidak menggunakan airnya sebab akan berisiko menimbulkan gangguan pada kulit, pernafasan, pencernaan dan lain-lain”. Tanda peringatan yang gemar dipasang selalu berisi “jangan membuang sampah sembarangan”, “dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan”, “awas listri tegangan tinggi”, “awas anjing galak”, “pemulung di larang masuk”, “ngebut benjut” dan lain sebagainya.

Usaha pertambangan bukanlah usaha siluman maka tak pantas seperti layaknya maling yang “masuk tidak diundang (tanpa permisi) dan pergi diam-diam”. Tak perlu berkelit bahwa aktivitas tambang adalah penyumbang terbesar kerusakan alam. Tidak perlu kita berdebat dengan memakai aneka undang-undang dan peraturan, kembali saja pada rumusan sederhana yang mungkin kita pandang bodoh bahwasannya “Siapa yang merusak, dia yang harus memperbaiki. Kalaupun tidak bisa mengembalikan pada kondisi semula, sekurang-kurangnya tidak meninggalan bahaya”.

Para pemangku kepentingan yaitu pengambil kebijakan dan pengusaha tambang (pekerja di level manajemen) bisa dipastian bukan sekumpulan orang bodoh dan tolol. Sebagian besar telah menamatkan pendidian kesarjanaannya, bahkan pasti ada yang bergelar master dan tak sedikit yang telah mencapai tingkat doktoral. Maka tentu saja tidak sulit untuk memahami dan mengerti ayat bodoh dan rumus termudah di atas. 

Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan turut berduka bagi keluarga Jun dan Dani serta keluarga Jannah. Semoga Tuhan menerima ketiga anak ini dalam pangkuanNYA dan memberikan tempat bermain terindah dalam haribaanNYA. 

Akhirnya untuk para pengambil kebijakan, pelaksana pemerintahan di kota ini, para pemimpin, pelaksana teknis dan wakil rakyat, jangan hanya gemar mempersoalkan dan ingin mengeruk dana CSR saja. Tugas anda bukan hanya “mengemis” dana CSR dari maskapai tambang, melainkan mengharuskan mereka untuk menghormati kehidupan, mengeruk kekayaan alam dengan “beradab”. Tanggungjawab bukan hanya pada manusia saja melainkan juga alam dan kehidupan lainnya. Berkaitan dengan dunia anak-anak, berhentilah memasang baliho yang memameran senyum manis kalian seolah mengatakan dan menyatakan bahwa “KOTA INI LAYAK ANAK”. Kematian ketiga bocah adalah affirmasi bahwa senyum anda tak lebih dari seringai vampir atau zombie yang menghisap kehidupan.

Salam Hancur Lebur
Batu Lumpang, 8 Juli 2001
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum