ESAI : Tujukkan Gayamu

Jumat, 15 Juli 2011

Esai adalah tulisan non fiksi yang mengijinkan penulis menyertakan sudut pandang personal (subyektifitas) di dalamnya. Esai berasal dari kosa kata Perancis, essayer yang berarti “mencoba” atau “menantang. Michel de Montaigne (1533 – 1592) penulis dari Perancis, adalah pioner dalam penulisan esai. Dia, penulis pertama yang menyebut karyanya sebagai esai. Hingga kini Montaigne tetap menjadi “batu penjuru” bagi para esais terkenal. Dari Monteigne kita belajar bahwa esai selalu membawa misi atau tujuan khusus dari penulisnya. Esai ditujukan untuk memecahkan kebuntuan dengan daya gebraknya. Lewat esai, penulis menawarkan atau menguraikan pemikirannya perihal hal tertentu.

Di masa pergerakan sebelum kemerdekaan, R.M Soewardi Soerjoningrat dikenal sebagai esais yang terus menguncang praktek kolonialisme Belanda dengan memompakan semangat kebangsaan. Salah satu tulisan darinya berjudul “Als ik eens Nederlander was ..” (Seandainya Saya Orang Belanda). Kita juga mempunyai seorang penulis esai yang andai dikumpulkan akan menghasilkan buku berjilid-jilid. Goenawan Mohammad lewat rubrik catatan pinggir di majalah berita Tempo, selalu menawarkan pemikiran alternatif yang mendobrak kemampanan atas berbagai macam hal.

Struktur Esai
Karena bukan merupakan tulisan ilmiah yang penuh dengan catatan kaki dan taburan kutipan teori, maka tak ada rumus baku atau struktur dalam penulisannya.Yang terpenting dalam esai penulis mampu merangkai pemikiran yang dipadu padankan dengan pengalaman (pribadi maupun bersama) , observasi lapangan, anekdot, dan pergulatan batin (refleksi) tentang pokok yang ditulisnya.

Namun secara umum struktur sebuah esai terdiri atas tiga bagian utama yaitu :
1. Pengantar (introduction)
2. Pengembangan (development of idea)
3. Kesimpulan (conclusion)

Ingat bahwa rumus diatas bukanlah rumus baku. Andai kita terbiasa menulis esai maka urutan-urutan atau elemen itu bisa dibolak-balik komposisinya. Hal terpenting pada esai bukanlah struktur melainkan isi yang mampu menarik perhatian pembaca, melahap sampai habis dan menyisakan pengaruh (makna) di benak pembacanya.

Bagian pengantar merupakan pokok bahasan, tesis, pertanyaan utama yang disampaikan oleh penulis. Bentuknya bisa berupa pertanyaan paparan masalah yang berat, hal-hal yang kontroversial, fenomena aneh/tidak biasa, peristiwa yang mengejutkan atau ajakan refleksi.

Apa yang dipaparkan di bagian pengantar diurai dan diberi keterangan serta argumentasi pada bagian pengembangan. Disini penulis menyajikan pergulatan pemikiran dan gagasan untuk membangun sebuat tulisan yang kuat.

Kemudian diakhiri dengan kesimpulan atau penutup. Tidak selalu kesimpulan berupa sebuah jalan keluar, solusi atau tawaran alternatif bagi penyelesaian masalah secara final. Kesimpulan bisa jadi sebuah pertanyaan, ajakan untuk melakukan refleksi. Model penutup seperti ini justru mampu menghadirkan sesuatu yang segar dan mengejutkan. Adalah hal yang biasa bahwa sebuah tulisan justru diakhiri dengan pertanyaan balik atau ajakan reflektif untuk khalayak pembaca.

Bidik Angle Paling Menarik
Esai yang menarik selalu diawali oleh pemilihan angle yang tepat dan tajam agar tulisan fokus dan persoalan mampu dijelaskan dengan terang serta jernih. Mencari angle sekali lagi merupakan persoalan yang gampang-gampang susah. Selain berpikir jernih dan kreatif, butuh kejelian agar angle yang dipilih tidak biasa-biasa saja atau sudah ditulis oleh banyak orang lain.

Peristiwa antre yang berkepanjangan di Stasiun Pomba Bensin Umum (SPBU) di berbagai kota akhir-akhir ini bisa dilihat dari beberapa angle :
1. Siapa yang bertanggungjawab atas pola distribusi bahan bakar, apakah mereka tidak bisa memprediksikan kebutuhan sehingga berkali-kali antrean massal terjadi?.
2. Kenapa pertamina sebagai pemasok utama bahan bakar tidak segera menjawab persoalan, selalu memberikan jawaban normatif berupa gangguan pasokan karena angkutan terlambat?.
3. Pertamina adalah perusahaan negara yang mempunyai tanggungjawab melayani kepentingan umum, kenapa selalu cuci tangan, meyalahkan pihak lain dan tak pernah meminta maaf atas keterlambatan yang massif di seluruh negeri.
4. Apakah tidak ada seorangpun ahli di pertamina yang mampu membuat integrasi data pertumbuhan kendaraan bermotor dengan tingkat kebutuhan pasokan bahan bakar?.
5. Apakah antrean kendaraan untuk mengisi premium ini merupakan sebuah kesengajaan, pemilik kendaraan bermotor sengaja dibuat frustasi agar kemudian beralih menggunakan pertamax?.
6. Seberapa besar kerugian dan kehilangan produktifitas akibat mengantri premium, apakah pertamina tidak bangkrut jika harus menganti kerugian itu?.
7. Antrian pembeli premium, duka pengendara tapi pesta untuk para pengecer premium.

Cara yang termudah untuk membantu perumusan angle yang tajam adalah mengemasnya dalam kalimat tanya. Gunakan rumus 5W + 1 H untuk menggali berbagai sudut pertanyaan.

Outline, Sekali Lagi Outline

Setelah sudut pandang tulisan ditentukan, jabarkan dalam kerangka tulisan atau outline. Tentukan point-point utama yang hendak diuraikan secara rinci. Susun dengan alur atau plot tertentu entah berdasar pada kronologi, prioritas atau hubungan sebab akibat, masalah dan respon.

Lembar gagasan atau kerangka tulisan ini penting untuk dibuat agar penulis bisa mengungkapkan pendapatnya secara runtut, runut dan menarik. Uraian gagasan di jalin lewat paragraf demi paragraf yang sambung menyambung, logis, menyatu dan menarik. Dalam menyusun kerangka tulisan perlu dipertimbangkan jenis-jenis paragraf yang hendak kita susun agar tulisan dari paragraf menyambung dalam satu kesatuan. Setiap paragraf mesti terdiri dari kalimat utama, kalimat pendukung dan kalimat penutup.

Hubungan Antar Paragraf

Pada semua bentuk tulisan ada tiga bentuk hubungan antara ide, kalimat, dan paragraf yaitu :

a. Hubungan saling menjelaskan dan saling menguatkan, tipe “and”
b. Hubungan memberikan alternatif atau cara pandang lain, tipe “or”
c. Hubungan negasi terhadap ide pokok, tipe “but”

Hubungan tersebut biasanya tersambung dalam jembatan (bridging) antar paragraf, perpindahan dari satu paragraf ke paragraf lainnya bisa berupa:

1. Kata sambung seperti namun, selain itu, dengan demikian, oleh karena itu, sehubungan dengan itu, dan lain, sebagainya. Kata-kata sambung seperti ini membuat hubungan antar paragraf menjadi kaku kalau terlampau sering digunakan. Oleh sebab itu tidak dianjurkan untuk sering menggunakannya..

2. Paragraf dimulai dari kata inti atau kalimat terakhir dari paragraf sebelumnya. Dengan mengambil pokok atau mengulang kalimat inti, format tulisan akan menjadi lebih terasa mengalir dan lentur.

Tunjukkan Gayamu
Esai mewakili pandangan atau pemikiran penulis tentang suatu pokok tertentu. Meski membahas hal-hal yang sifatnya obyektif, dalam esai yang menonjol adalah subyektifitas penulisnya. Esai bukanlah paparan akan sesuatu dengan “apa adanya” melainkan sebuah usaha dari penulis (subyektifitas) untuk mempersuasi pembaca agar menerima atau mengadopsi pemikiran, sikap dan bahkan terdorong untuk bertindak sesuai harapan penulis.

Sifatnya yang subyektif membuat esai berbeda dengan opini ilmiah. Esai bukanlah tulisan yang panjang dan serius, menyajikan analisis yang dingin, juga bukan tepat menunjukkan kepintaran penulisnya. Justru karena subyektifitasnya esai memungkinkan untuk menulis dengan renyah, dibumbui dengan humor dan gaya atau karakter penulis di dalamnya. Esai yang baik adalah yang mampu dikunyah dengan mudah, karena ringkas, memakai bahasa yang mudah dimengerti, ringan karena disertai dengan humor tapi tetap bermutu.

Menulis esai adalah menulis dengan gaya dan karakter sendiri. Dengan demikian esai masuk dalam kategori penulisan kreatif, sebab kreatifitas penulis memang dituntut untuk menghasilkan sebuah tulisan yang memikat namun tetap bermakna. Disebut penulisan kreatif karena para penulis esai biasanya mengadopsi gaya penulisan fiksi seperti memakai dialog, narasi, anekdot, klimak dan antiklimak serta ironi dalam tulisannya.

Pingin menjadi penulis yang “dirindui” pembaca karena tulisannya stylist, nge-pop (mudah dipahami), menawarkan sudut pandang yang unik (orisinil)?. Tidak susah sebenarnya asalkan mampu bersikap dan menjaga mental berikut :
• Pelihara rasa ingin tahu. Seorang yang mempunyai keingintahuan yang tinggi akan selalu mencari tahu hal-hal yang berada di bawah permukaan, tidak terjebak pada gejala yang terlihat. Menggali lebih dalam entah dengan membaca buku referensi, riset atau observasi yang dalam. Selalu bertanya kenapa?. Mencari jawaban, menggali fenomena lebih dalam. Hasilnya adalah rangkaian temuan yang mungkin tidak dilihat orang lain. Temuan-temuan ini tentu akan menarik jika dibagi kepada orang lain. Sebelum memikat orang lain, kita mesti selalu terpikat oleh sesuatu.
• Semangat berbagi. Temuan akan berarti kalau dibagikan kepada orang lain, bukan disimpan sendiri sebagai sebuah rahasia. Untuk apa kita bekerja keras kalau hanya ingin memuaskan diri sendiri. Kita tentu ingin bahagia, temuan hal-hal yang baru selalu mengembirakan dan kegembiraan akan semakin besar apabila dibagikan. Kesediaan berbagi dengan orang banyak ditandai dengan gaya tulisan yang mudah dipahami oleh orang banyak. Menaburi tulisan dengan banyak istilah teknis tertentu atau terma pada bidang tertentu berarti kita tengah membatasi siapa yang pantas dan bisa membaca tulisan kita.
• Merasa senasib. Melihat kesekitaran kita dengan perasaan (peka) dan mau turut mengalami apa yang orang lain alami (terlibat). Bagaimana mungkin kita mau menulis tentang kemiskinan secara menyentuh apabila kita tak turut merasakan apa yang dirasakan kaum miskin. Penulis esai sosial yang memikat tentu saja orang-orang yang mau merasa senasib dan sudi bergaul dengan pengamen, pedagang kecil, petani pengarap, nelayan dan penjual sayur di pasar keliling. Tulisan bukan sekedar rangkaian kata-kata indah nan memikat tetapi juga menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.
• Memperluas Wawasan. Kita bisa saja sangat paham akan sesuatu hal. Namun apabila menghadirkan tulisan dengan perspektif tunggal, niscaya tulisan akan membosankan dan kering. Penulis esai bukanlah penulis yang memakai kaca mata kuda. Maka membaca apa saja itu perlu untuk memperkaya tulisan, memperluas hubungan antara satu persoalan dengan persoalan lain yang dimata orang nampak tak terkait sama sekali. Film yang ditonton, musik yang didengar selalu akan memperkaya bahan tulisan. Penulis esai bukanlah orang yang maha tahu, tetapi tahu dimana bahan-bahan tulisan bisa ditemukan. Dia adalah orang yang akrab dengan perpustakaan, toko buku, acara televisi, radio, rubrik koran dan internet.
• Pencerita bukan pengkotbah. Penulis esai adalah penutur cerita, bukan pengkotbah yang gemar menggurui pembacanya. Kotbah terbaik adalah dengan tidak berkotbah. Cara mempengaruhi orang lain bukan dengan menggurui tapi menyajikan melalui metafora, anekdot, ironi, alegori, narasi atau dialog layaknya dalam pertunjukkan drama, ketoprak atau panggung boneka.


Semua Hal Bisa Kita Tulis
Semua tema bisa dijadikan bahan tulisan esai. Salah kalau kita mengira bahwa esai hanya bermain di wilayah sosial politik. Kini banyak pula penulis esai kesehatan dan ekonomi yang secara rutin mempublikasikan tulisan yang dilahap oleh masyarakat banyak. Semua aspek kehidupan bisa ditulis dalam esai karena esai bicara tentang kehidupan dan kemanusiaan serta hal-hal yang terkait dengannya.

Kalau kita adalah “gosip mania” kenapa kita tidak mendalami urusan gosip menggosip sampai ke akar-akarnya. Kalau kita pengemar komik kenapa tidak meriset komik dari masa ke masa, memperbandingkan tren tema cerita, gaya pengambarannya dan lain sebagainya. Mulailah untuk belajar memfokuskan diri pada tema tertentu agar kita semakin cepat menemukan karakter dan gaya penuturan yang khas.

Ada banyak tema-tema besar yang kemudian bisa kita urai menjadi tema-tema kecil untuk kita dalami atau kita pilih menjadi spesialisasi agar kita bisa meraih pembaca atau pengakses dari segmen tertentu, seperti :
1. Politik lokal
2. Olah raga
3. Adat istiadat
4. Bisnis dan marketing
5. Keuangan
6. Teknologi Informasi
7. Media dan Telekomunikasi
8. Seni-Budaya
9. Pekerja migran (trafficking)
10. Kimia dan Fisika Terapan
11. Elektronika
12. Otomotif
13. Perilaku dan gaya hidup
14. Keluarga dan parenting
15. Psikologi dan kesehatan
16. Arsitektur, interior, gardening
17. Pertanian dan lingkungan
18. Tata ruang kota
19. Kuliner
20. Pendidikan dan lain sebagainya.

Membaca tulisan para esais ternama mungkin membuat kita gentar untuk bersaing, tapi jangan takut sebab setiap orang mempunyai pengetahuan, pengalaman dan cara pandang yang khas. Dan semua itu pantas untuk dibagikan kepada orang lainnya. Untuk menjadi berarti tidak selalu harus dengan mengirimkan tulisan ke media massa (koran). Sekarang kita bisa menjadi penulis sekaligus publisher, misalnya melalui blog, baik blog kita sendiri maupun blog komunitas semacam kompasiana atau blog detik. Jadi kalau kamu merasa punya gaya, kenapa tidak mulai menulis dari sekarang?.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum