Bermedia Secara Sehat : Mengasah Otak Dengan Berita

Selasa, 05 Juli 2011

Agar pikiran senantiasa sehat, otak harus senantiasa digunakan. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengasah otak secara terus menerus adalah menulis. Karena pada saat menulis kita akan mendayagunakan keseluruhan kemampuan kerja otak untuk berpikir dengan cara mengingat atau mengeluarkan yang kita ketahui (alami, dengar, lihat, dll), mempertimbangkan, membanding-bandingkan atau menganalisa, menyusun sebuah kerangka yang logis (berlogika), memutuskan dengan alasan, menyimpulkan dan lain sebagainya. Otak bagaikan mesin, apabila tidak selalu digunakan akan menjadi lelet atau kurang lancar kinerjanya.

Otak yang selalu diasah akan menghasilkan pemikiran yang tajam dan dalam. Tulisan yang dihasilkan oleh pemikiran yang tajam dan dalam akan mempunyai pengaruh atau dampak pada siapapun yang membacanya. Kata-kata yang terangkai ibarat pedang yang tajam menghujam ke jantung kesadaran, atau silet yang mampu mengiris-iris perasaan. Pada sisi lain juga karena kedalamannya mampu menjadi air yang menyejukkan, angin yang membuai dan pelukkan yang menghangatkan.

Ada banyak hal yang bisa dituliskan agar kita bisa secara terus menerus mengasah pikiran melalui karya tulis. Sekali lagi setiap orang adalah unik, maka pandangan atau cara melihat (point of view) terhadap sesuatu hal akan berbeda-beda. Oleh karenanya sebuah tema akan bisa terus menerus diproduksi atau direproduksi dengan banyak sudut pandang dan tetap menarik seta relevan untuk disajikan. Meski demikian masih banyak orang yang kebingungan ketika diminta atau ingin menulis. Ide tidak mudah untuk datang dan ketika ditunggu ternyata tak muncul juga. Menulis adalah aksi yang aktif, menunggu datangnya ide atau ilham sering kali identik dengan membuang-mbuang waktu dengan sia-sia. Atau sebenarnya kita tengah berdamai dengan kemalasan.

Menulis Berdasarkan Berita
Cara terbaik untuk terus menerus mendatangkan gagasan atau ide penulisan adalah menulis berdasarkan berita. Setiap hari dihadapan kita tersaji aneka berita baik lewat media cetak (koran dan majalah), elektronik (televisi dan radio), pesan instan (SMS dan BBM) maupun dotcom (situs berita dan jejaring sosial). Apa yang tersaji lewat semua moda komunikasi dan informasi di atas menyediakan banyak bahan untuk dijadikan tulisan
Tulislah mulai dari apa yang kita senangi, begitu kira-kira nasehat kaum bijak. Kalau kita menyenangi dunia gaya hidup (life style) televisi atau majalah menyediakan bahan yang berlimpah ruah. Life style berspektrum luas mulai dari pakaian (mode), musik, pergaulan atau hubungan antar manusia, kuliner, wisata, dunia hiburan, tubuh aksesories, gadget dan lain sebagainya. Dalam tulisan life style biasanya disajikan soal trend/kecenderungan tertentu, yang terkini (up date), tip dan triks, dinamika psikologi pelaku, faktor-faktor pendorong dan lain sebagainya.

Rubrik Parodi di harian Kompas (hari Minggu) adalah salah satu contoh tulisan life style yang secara rutin ditulis oleh Samuel Mulia. Tema yang banyak itu bisa diperluas dengan melakukan segmentasi baik berdasarkan umur, kelas sosial, geografis maupun tingkat pendidikan. Moammar Emka dengan Jakarta Undercover, menguak gaya kelompok tertentu dalam dunia hiburan malam termasuk perilaku seksual mereka. Penglihatan atas fenenomena ini bisa diperluas lagi lewat gaya penulisan. Moamaar Emka misalnya menulis seperti dia melihat semua itu, terlibat di dalamnya entah sebagai “pengintip” atau bahkan pelaku. Sementara Wahyudin dalam bukunya berjudul Pengakuan Pelacur Jogya menempatkan diri sebagai seorang pendengar yang baik. Dia membiarkan mucikari dan anak-anak asuhnya menceritakan dirinya, menyanyikan atau menuturkan “Parikan” secara lepas. Ridho “Bukan” Rhoma menceritakan apa yang dilihat, didengar, dialami dan dibaca tentang perilaku seksual berbagai kelompok dalam buku Jogja Edan, Bro. Ada juga Adre Syahreza, yang menuliskan laporan jurnalistik secara mendalam tentang perilaku manusia Jakarta dalam buku The Innocent Rebel : Sisi Aneh Orang Jakarta dan kemudian disusul dengan Black Interview.

Barangkali kita tidak bisa seintens atau terlibat dalam apa yang kita amati seperti mereka-mereka itu. Namun dengan menyimak berita-berita di televisi maupun media cetak terutama dalam kolom atau program yang berkaitan dengan gaya hidup, akan ada banyak hal yang bisa kita tuliskan. Lewat rubrik atau program infotainment kita bisa menyaksikan berbagai polah kaum selebritas. Konflik dan perseteruan, trik dalam mempertahankan popularitas termasuk ideologi apa yang mendasari karya-karya mereka. Konflik antara kelompok dangdut sealiran Rhoma Irama dengan Inul Daratista serta pengekornya ditulis dengan sangat bagus oleh Farukh HT dalam sebuah artikel berjudul “Biarkan Kami Bergoyang”.

Tingkah polah atau perilaku yang juga selalu menarik adalah yang ditampilkan lewat berita-berita politik (politisi). Berita seputar politik dan politisi di media masa ibarat sumber yang tak pernah kering meski kemarau panjang sekalipun. Banyak sekali tulisan yang lahir atas dasar amatan tingkah dan polah para politisi baik secara institusional maupun personal. Kemungkinan temanya menjadi sangat luas karena kita bisa bermain dari sudut persepsi masyarakat atas apa yang dilakukan oleh kaum politisi. Satjipto Wirosardjono, Sukardi Rinakit, Budiarto Shambazy merupakan contoh yang baik untuk belajar bagaimana menuliskan tema yang berkaitan dengan dunia politik secara populer. Sementara Burhanudin Murtadi dan Eep Syafulloh Fattah secara memikat mampu melahirkan tulisan-tulisan atas dasar riset persepsi publik. Sementara dengan gaya yang lebih liar dan imajinatif, kita bisa belajar dari AS Laksana.

Persoalan lain yang tidak kalah menariknya adalah korupsi. Setiap hari kita selalu dikejutkan oleh berbagai drama yang berkaitan dengan tema ini. Banyak kejutan, sesuatu yang tidak terduga atau bahkan kita tidak pikirkan sama sekali ternyata bisa terjadi. Tema tentang korupsi justru berpotensi dekat dengan kita, barangkali ada sosok yang kita kenal sebab berita-berita di tingkat lokal juga tak kurang banyaknya. Fenomena berkaitan dengan hal ini terjadi di depan kita. Kalau kita masih ingat misalnya dalam kasus Suwarna AF, di berbagai penjuru muncul spanduk-spanduk bertuliskan kata-kata yang memintanya keluar dari Kaltim. Atau ketika Bupati Kutai Kartanegara Syaukanie HR tersangkut kasus korupsi, banyak sekali drama tersaji di hadapan kita. Bukan hanya spanduk dan baliho saja melainkan juga munculnya berbagai posko-posko dukungan untuknya. Dan itu sampai melintasi wilayah Kutai Kartanegara.  Yang terakhir dan mungkin masih segar di ingatan kita adalah hujan spanduk yang menghujat perilaku penegak hukum (kejaksaan) saat Irianto Lambrie, Sekretaris Daerah Propinsi Kaltim ditetapkan sebagai tersangka korupsi.
Daftar tema yang bisa diangkat dari sajian media masih terus bisa diperpanjang. Bahkan kalau kita punya kecenderungan analitik, gaya pemberitaan juga merupakan sumber yang bisa kita terus gali. Gaya atau model pemberitaan pada masing-masing media bisa merupakan tema tulisan yang menarik. Tulisan dengan model seperti ini penting, baik untuk memberi pandangan kritis pada media dan mendidik konsumen media untuk tidak terjebak dalam gaya pemberitaan. Bukankah kita menyaksikan bahwa berkali-kali masyarakat terguncang oleh pemberitaan dan bahkan ada yang mengambil langkah keliru atau merugikan karena pemberitaan.

Dokumentasi dan Pendalaman
Untuk menuliskan tema-tema yang kita ambil dari pemberitaan tentu saja tidak berbeda dengan penulisan sebagaimana umumnya. Ketika sudah menentukan atau mengambil pilihan perihal apa yang hendak kita tulis, langkah berikutnya adalah mengumpulkan bahan. Yang paling umum dilakukan adalah dengan mendokumentasi pemberitaan itu. Untuk media cetak bisa kita kliping secara tematis. Sementara untuk media elektronik atau radio, bisa kita buat catatan, sebab untuk mendokumentasi dalam bentuk rekaman butuh sumberdaya yang besar atau merepotkan.

Rumit dan buang waktu, bisa jadi kita akan berpikir begitu. Jangan khawatir ada cara lain yang tak kurang efektifnya yaitu dengan mengumpulkan bahan melalui internet. Hampir keseluruhan media cetak mempunyai situs pemberitaan dan biasanya berita yang berkaitan sudah dihimpun atau diindeks dalam kluster tertentu sehingga mudah bagi kita untuk membaca urutan-urutannya. Jadi bukalah internet dan ambil pokok-pokok yang kita perlukan atau baca-baca agar kita mempunyai kerangka dan konteks dalam melakukan penulisan.
Internet juga merupakan sarana sekaligus pustaka untuk melakukan pendalaman atas pokok-pokok yang hendak kita angkat. Dengan menuliskan kata kunci melalui mesin pencari, kita bisa mendapatkan bahan bacaan (pustaka) yang berguna untuk memperdalam tulisan kita. Tentu saja butuh kejelian dan ketrampilan untuk mengorganisasikan bahan-bahan itu. Sebab internet adalah ruang terbuka sehingga kita mesti selektif dan memperhatikan akurasi informasinya.

Tulisan yang didasarkan pada pemberitaan selalu memerlukan analisa atau perbandingan baik menyangkut urutan kejadian, perubahan dari waktu ke waktu, kaitan dengan isu yang lain dan sebagainya. Maka diperlukan riset kecil-kecilan untuk pendalaman agar tulisan semakin kaya dan berbeda dengan tulisan lain yang mengambil pokok pada persoalan serupa. Salah satu cara yang termudah adalah dengan mendiskusikan atau memperbincangkan pokok itu dengan teman-teman kita. Dari diskusi itu kita bisa menarik point-point apa yang menarik, apa pendapat atau persepsi orang lain tentang pokok persoalan itu. Catat semua itu dan kemudian susun dalam lembar gagasan sebagai panduan penulisan.

Internet juga merupakan sarana untuk melakukan riset secara mudah. Ketik pokok, tema atau kata kunci kita di mesin pencari. Pusatkan perhatian pada 10 situs pertama yang muncul dalam mesin pencari. Cermati isinya, siapa yang bicara, bagaimana nadanya (positif, negatif atau netral) dan point-point apa yang paling menarik, banyak disebut atau diulang. Dari analisis ini kita bisa menghasilkan kesimpulan atau tawaran-tawaran tertentu andai pokok yang kita angkat adalah problem atau persoalan yang mesti diatasi secara bersama.
Salah satu gaya yang tidak banyak dilirik adalah profil. Kebanyakan orang berpikir bahwa itu hanya ditulis oleh jurnalis untuk mengisi rubrik pokok dan tokoh. Padahal profiling atas orang tertentu bisa ditulis oleh penulis non jurnalis dan bukan untuk kepentingan pemberitaan. Kita bisa menuliskan rekam jejak seseorang untuk berbagai kepentingan. Dan andai orang itu adalah orang terkenal namun kita tidak mengenalnya atau tak punya akses untuk mendapat informasi langsung darinya maka sekali lagi riset profiling bisa dilakukan melalui internet.

Pada akhirnya tulisan ini hanya mau mengatakan bahwa kita tak perlu menunggu datangnya sebuah ide untuk memulai tulisan. Di hadapan kita setiap hari tersaji berbagai macam berita menyangkut berbagai hal yang bisa dijadikan sumber atau bahan untuk membuat tulisan. Dengan duduk manis di hadapan televisi kita bisa memunggut serpihan-serpihan peristiwa untuk kita rangka menjadi sebuah tulisan yang menyehatkan pikiran dan mendayagunakan otak. Dengan demikian kita telah turut mengembangkan perilaku bermedia, bertelevisi dan berinternet secara sehat.

Batu Lumpang, 4 Juli 2011
Salam Sehat
@yustinus_esha

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Memuat...
 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum