• Blockquote

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

UMBUL-UMBUL

Rabu, 07 September 2011 0 komentar


Empat bulan lalu Ardi bersama keluarganya pindah rumah, ke tempat tinggal yang kini adalah miliknya sendiri. Bertahun-tahun Ardi, Esta istrinya dan Doni anak semata wayangnya berpindah dari satu rumah ke rumah kontrakkan lainnya. Ardi memilih mencicil rumah di komplek perumahan rakyat “Hijau Asri” karena lingkungan di sana masih alami. Bunyi jengkerik terdengar di sore hari. Kala pagi saat matahari menyembul, udara juga terasa segar dan membangkitkan semangat untuk menyambut hari.
Istri dan anaknya terlihat sangat menikmati “istana” baru mereka. “Ah, serasa kita tinggal di kampung”, kata istrinya, membandingkan tempat tinggal mereka kini dengan kampung halamannya. Kampung yang terletak di sudut kota kecil di bawah lereng gunung yang selalu berkabut.
“Mah…mah..capung, belalang...itu kupu..kejar mah…kejar”, begitu sering kali Doni berteriak kala bermain di halaman depan.
“Selamat siang, sedang sibuk tanam-tanam ya Pak”, sapa seseorang. Ardi yang sedang menanam mangga okulasi menenggok dan mendapati Pak RT, berdiri dengan senyum khas di hadapannya.
“Oh, Pak RT….mari pak, silahkan duduk”, kata Ardi menyilahkan Pak RT duduk di bale-bale bambu yang sengaja di datangkan dari kampung halamannya.
“Terima kasih, di sini saja Pak..tidak lama kok”, jawab Pak RT.
“Saya hanya ingin memberitahukan kebiasaan kami di sini untuk memasang umbul-umbul di halaman depan menjelang 17 Agustus”, kata Pak RT.
“Umbul-umbul” guman Ardi dalam hati. Sama sekali tak terpikir dalam benaknya untuk memasang umbul-umbul di halaman rumahnya, yang ada di benaknya cukup sebuah bendera. Bendera yang selalu di beli setiap tahunnya karena yang lama entah selalu terselip dimana.
“Ehm…baik Pak, nanti akan saya usahakan”, ujar Ardi.
Mendengar jawaban Ardi, Pak RT tersenyum dan kemudian pamit “Baik, pak…kalau begitu saya akan ke tetangga sebelah”.
Ardi kembali meneruskan tanam-tanam pohon buah yang di beli di toko pertanian yang kini banyak bermunculan di kotanya, kota yang sedang demam dengan aneka slogan hijau alias green. Setelah selesai menanam semua bibit buah yang dibelinya, Ardi beristirahat di depan rumah. Duduk-duduk di bale-bale bambu yang sesekali berdecit saat Ardi mengeser pantatnya. Sambil menghisap kretek kesukaannya, dihirupnya pelan-pelan kopi buatan istrinya yang mulai mendingin. Setiap pagi, Esta istrinya selalu membuatkan segelas kopi besar dan menaruh di meja yang ada di teras, sebelum pergi mengantar dan menemani Doni belajar di playgroup tak jauh dari kompleks perumahan mereka.
Tak lama kemudian istrinya pulang bersama Doni yang bernyanyi-nyanyi riang. Bukan karena senang di sekolah melainkan kala pulang, mamanya membelikan es krim kesukaannya. Doni memang punya kebiasaan, menjilat-njilat es krim sambil bersenandung riang.
“Weh, jago …. Belajar apa tadi di sekolah?”, tanya Ardi sambil mengusap kepala Doni penuh dengan rasa sayang. Tapi Doni tak menjawab karena masih asyik menikmati jilatan terakhir cup es krimnya.
“Belajar menyanyikan alphabet Pah”, jawab Esta mewakili Doni. Mereka kemudian duduk-duduk bercengkrama di teras depan rumahnya yang tetap sejuk meski matahari mulai meninggi.
“Pak RT tadi ke sini”, kata Ardi memberitahu istrinya.
“Oh, ya..kenapa pah?”, tanya istrinya.
“Dia meminta kita memasang umbul-umbul di depan rumah, katanya itu kebiasaan warga disini menyambut peringatan 17 Agustus”, jawab Ardi.
“Ah, bikin repot saja, apa hubungannya umbul-umbul dengan peringatan kemerdekaan?”, kata Esta mengomentari pemberitahuan Ardi.
Dalam hati Ardi setuju dengan pernyataan istrinya, memang tak ada hubungan yang substantif antara umbul-umbul dengan makna kemerdekaan.
“Dari dulu peringatan kemerdekaan memang terlalu dangkal”, guman Ardi dalam hati.
Ingatannya kemudian melayang ke keramaian-keramaian yang menyertai peringatan hari kemerdekaan. Aneka lomba seperti lari karung, makan kerupuk, lari kelereng dan lain sebagainya begitu terus berulang setiap tahun. Panjat pinang juga merupakan keramaian yang paling digemari dan menimbulkan kelucuan-kelucuan. Namun sejatinya Ardi tak setuju, sebab banyak pohon pinang yang ditumbangkan, sementara untuk menumbuhkan pinang dengan batang sampai 10-an meter butuh waktu bertahun-tahun.
“Doni…. Ayo ganti baju dulu nak”, teriak Esta, istri Ardi saat melihat Doni mulai berguling-guling di rerumputan yang menghijau di halaman rumah. Ardi terjaga dari lamunannya dan bergegas menuju tempat Doni bermain, diangkatnya tubuh munggil Doni dalam gendongan. Doni terkekeh senang karena digendong oleh papanya. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan melupakan perbincangan tentang umbul-umbul yang diberitahukan oleh Pak RT.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ardi sudah bangun untuk bersiap-siap berangkat ke luar kota melakukan liputan. Proposal rencana liputan yang diajukannya untuk sebuah kantor berita luar negeri diterima. Dalam tiga hari ke depan, Ardi akan melakukan liputan perayaan adat satu komunitas pada tengah-tengah masa puasa. Bunyi klakson mobil sewaan tepat terdengar ketika Ardi menyelesaikan segala persiapannya.
“Aku berangkat dulu ya ma, Doni..baik-baik jaga mamah ya, jangan nakal”, Ardi pamit dan memberi pesan kepada anak istrinya yang juga turut terbangun. Setelah memeluk dan mencium anak-istrinya, Ardi segera keluar menuju mobil yang telah menunggunya. Sebelum masuk mobil dan menutup pintu, Ardi melambaikan tangan kepada Doni anaknya yang berdiri di samping ibunya tepat di pintu depan rumah.
Mobi perlahan meninggalkan kediaman Ardi, menembus pagi yang mulai menjelang. Jalanan masih terasa sepi, sesekali mereka berpapasan dengan penjual sayur yang hendak menjajakan dagangannya di dalam kompleks perumahan. Ardi bukanlah orang yang senang tidur kala berkendara, oleh karenanya dalam perjalanan dia mengisi waktu berbincang dengan sopirnya.
“Kok belum dipasang bendera di spion Pak”, tanya Ardi memancing perbincangan.
“Wah, sepertinya sudah tidak model pak, ini saya pasang stiker merah putih saja”, jawab sopir sambil menunjuk pojok kaca pintu depan.
“Oh..iya..ya ..stiker lebih awet ya pak”, kata Ardi.
“Iya mas, biar kelihatan nasionalis”, jawab sopir sambil terkekeh.
“Kasihan mas, itu penjual umbul-umbul tidak laku dagangannya, habis bertepatan dengan puasa”, kata sopir. “Orang kebanyakan lebih berpikir membeli hidangan buka puasa, dari pada umbul-umbul atau bendera untuk merayakan hari kemerdekaan”, lanjutnya kemudian.
Mendengar umbul-umbul, Ardi jadi teringat permintaan Pak RT untuk memasang umbul-umbul di depan rumahnya. Tapi Ardi tak terlalu risau sebab di kanan kiri jalan belum pula terlihat umbul-umbul atau hiasan merah putih. “Sepertinya Agustusan kali ini tidak semarak ya Pak”, kata Ardi pada sopir.
“Iya Mas semua berpikir bagaimana untuk lebaran nanti. Pokoknya daripada beli umbul-umbul atau bendera, lebih baik beli baju saja”.
“Betul, lagi pula kemerdekaan mestinya tidak perlu dirayakan sebab yang terpenting justru dirasakan”, ujar Ardi.
“Setuju Mas, sepertinya makin lama kita ini tidak makin merdeka, hidup semakin susah, apa-apa mahal”, keluh sopir, “Sama saja tidak ada beda dari orde lama, orde baru sampai orde reformasi, malah sekarang lebih cocok dibilang orde repotnasi”.
“Begitulah pak demokrasi, pemerintah mulai melepaskan banyak wewenangnya pada pasar”, kata Ardi bermaksud memberi pengertian.
“Lha tapi jadinya seperti tidak ada pemerintah saja. Pemimpin kita ini kebanyakan cuma muncul dan ngomong di TV…nda ada kerjanya, sampai harus didesak-desak masyarakat”, tukas sopir dengan ketus.
“Wah, melek politik juga ini pak sopir”, batin Ardi.
Karena obrolan yang mengasyikkan, perjalanan menjadi tak terasa. Setelah menempuh jarak hampir dalam waktu 2,5 jam, akhirnya Ardi sampai ke lokasi liputan. Belum terlihat kesibukan atau tanda-tanda akan adanya sebuah acara besar. Untuk menunggu tibanya waktu, Ardi mengajak sopir beristirahat di sebuah kedai yang cukup besar. Ardi dan sopir ternyata sama-sama tidak berpuasa.
“Ayo pak, kita ngopi-ngopi dulu, sepertinya acara bakal tertunda” ajak Ardi pada sopir. Sopir mengiyakan tanpa menjawab lantaran badannya memang terasa mulai penat.
Tak berapa lama kemudian, tanda-tanda kesibukan mulai kelihatan. Lapangan tempat acara yang tidak jauh dari tempat Ardi beristirahat mulai terlihat ramai. Orang-orang datang dari segala penjuru dengan berbagai macam atribut. Ardi meminta sopir menunggu di kedai dan kemudian dia bergegas mencari panitia untuk melakukan wawancara. Setelah cukup, Ardi kemudian mengambil foto-foto kegiatan sambil sesekali mewawancarai pengunjungnya.
Matahari terasa menyengat dan keramaianpun mulai pudar. Dari keterangan yang didapat lewat panitia, rangkaian acara akan lebih banyak dilakukan di malam hari. Ardi memutuskan untuk kembali ke kedai dan mengajak sopir untuk mencari penginapan.
“Ayo, pak, kita cari penginapan dulu, biar bapak bisa istirahat dan saya akan mulai menuliskan berita”, kata Ardi mengajak sopir meninggalkan kedai.
Selama tiga hari tanpa mengenal lelah, Ardi dengan penuh semangat mendokumentasikan berbagai hal yang ditemui dalam upacara adat masyarakat setempat. Informasi baik catatan maupun gambar cukup untuk membuat satu rubrik reportase khusus. Dan pada hari keempat, pagi-pagi benar, Ardi dan sopir meninggalkan daerah itu. Saat memasuki kawasan perumahaannya Ardi melihat kanan-kiri jalanan mulai diramaikan dengan umbul-umbul. Dan rangkaian umbul-umbul menghilang persis di depan rumahnya. Ardi memang belum memasang umbul-umbul, dia juga tidak memberi pesan apapun pada istrinya tentang soal itu.
“Wah, semarak sekali pemukiman bapak ini. Penuh umbul-umbul, warna-warni seperti hendak kedatangan presiden untuk meresmikan proyek pembangunan”, kata sopir. “Rumah bapak saja yang nampak sepi-sepi, lain daripada yang lain”.
Ardi tersenyum dan berkata “iya pak lupa saya memasangnya”.
Dan setelah membayar semua ongkos sewa, Ardi mengucapkan terimakasih kemudian melangkah masuk ke rumahnya. Istri dan anaknya tidak di rumah, tapi seperti biasa diatas meja teras, segelas kopi telah menunggunya. Ardi mengeluarkan rokok kretek kegemarannya, menghisapnya dalam-dalam sambil menghirup kopi yang masih tersisa hangatnya.


“Selamat pagi pak”.
Sebuah sapaan mengejutkan Ardi dan ternyata Pak RT telah berdiri di hadapannya.
“Oh, Pak RT, mari pak”.
“Biar saja Pak, saya nda lama kok, cuma mau mengingatkan kalau bapak belum memasang umbul-umbul”, kata Pak RT.
“Oh, iya pak”, kata Ardi tersipu. “ Saya belum sempat memasang, karena harus ke luar kota”.
“Iya, pak saya maklum dengan tugas bapak, tapi kalau bisa segera, karena besok adalah hari perayaannya”, kata Pak RT mendesak.
“Begitu saja pak, saya pamit dulu, mau bikin persiapan di lapangan”.
“Silahkan pak, terima kasih sudah mengingatkan dan maaf saya tidak bisa membantu”, jawab Ardi sambil mengantar Pak RT sampai ke pinggir jalan.
Setelah Pak RT pergi, Ardi bergegas masuk rumah, ditaruhnya segala perlengkapan yang dibawa untuk liputan hari yang lalu. Setelah berganti baju dan membersihkan diri, Ardi berbaring-baring di kamar tidur, sambil membaca buku kiriman temannya yang berjudul “Temanku Teroris?”.
“Umbul-umbul…awas…awas….umbul-umbulnya roboh…awasssss”, begitu Ardi berteriak-teriak. Istrinya yang sedang menyuapi anaknya, segera berlari ke kamar untuk melihat apa yang terjadi.
“Mas..mas….bangun..mas, kenapa teriak-teriak”, kata istrinya sambil menguncang-nguncang tubuh Ardi agar terbangun.
Ardi terkaget lalu terbangun sambil mengucak-ucak mata dia bertanya “Eh..kenapa mah, tertidur aku tadi”.
“Iya tapi papah itu teriak-teriak..menyebut umbul-umbul terus”.
“Oh..iya aku mimpi ..umbul-umbulnya roboh”.
“Nah..itu semua gara-gara papa tidak memasang umbul-umbul meski pak RT berkali-kali mengingatkan”, tebak istrinya atas penyebab dari mimpi Ardi.
“Oh, iya…. Jam berapa sekarang, beli umbul-umbul yuk”.
“Papa..papa..sudah malam ini..lagian mana ada lagi yang jualan, kalau kainnya barangkali ada tapi batang bambu untuk memasangnya?”.
“Ah..ya sudah kalau begitu kita tidur lagi aja biar besok pagi-pagi bisa bangun cepat”, kata Ardi sambil merebahkan badannya kembali di kasur.
“Maksudnya papa mau beli besok, pagi-pagi sekali”.
“Tidak, tapi kita bertiga besok akan pergi pagi-pagi dari rumah…berjalan saja kemana gitu. Pokoknya kita harus sudah tidak ada di rumah, siapa tahu Pak RT akan datang untuk kembali mengingatkan soal umbul-umbul”.
“Lho, kenapa harus pergi pa?”.
“Pertama besok kan libur, dan Doni senang kan diajak jalan-jalan dan kedua kita lewatkan hari peringatan kemerdekaan di luar rumah”.
“Ya sudahlah…tapi gimana soal umbul-umbul”.
“Ketika kita pulang di sore hari…umbul-umbul sudah tidak penting lagi”, jawab Ardi singkat sambil memeluk bantal yang dijadikan guling olehnya.

KAPAN JAMAN AKAN MERDEKA?

0 komentar


“Jika kau berpikir negeri ini telah merdeka, maka pikirkanlah kembali agar tak kecewa nanti”.

Kata-kata itu terus menyelubungi Burhan yang beberapa hari ini susah tidur di malam hari. Layaknya orang imsonia, setiap malam Burhan berjuang untuk memejamkan matanya. Tapi meski telah berusaha, matanya selalu gagal terpejam, seakan ada batang korek garis menyangga kelopak matanya agar tidak bertemu. Setelah lembar koran habis dibaca dan bosan menatap layar televisi, Burhan duduk diam di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. Namun dalam kegelapan pikirannya justru semakin liar melanglang buana. Apa yang dibaca dan disaksikan kembali berkelebat hingga semakin susah baginya untuk menggapai kantuk.
Aneka peristiwa dan berita justru mengintimidasi perasaan Burhan. Hatinya teriris pilu menyaksikan berbagai sajian berita yang berisi peristiwa-peristiwa nan menyesakkan dada. Silih berganti bumi nusantara ditimpa berbagai laku yang jauh dari cerita keagungannya di masa lalu. Nusantara kini tak seharum mawar dan melati.
“Mengapa semakin hari, semakin busuk buah yang dihasilkan negeri ini. Kenapa Tuhan membiarkan nusantara terpuruk, padahal sebagian besar penduduknya amat rajin memuji dan memuliakan namaNYA”, tanya Burhan dalam hati entah kepada siapa.
“Kenapa, berita membuatmu jadi gundah gulana”, tiba-tiba terdengar suara entah dari mana.
Burhan mencari sumber suara, ditebarkannya pandangan pada sudut-sudut ruangan, tapi tak ada seorangpun disana. Padahal suara itu terang sekali dan posisinya jelas tak jauh dari tempat duduknya. Tapi tak ada siapa-siapa selain diri Burhan sendiri dalam ruangan itu.
“Sudahlah, tak usah kau cari tahu siapa aku. Jawab saja pertanyaanku tadi”, kata suara itu kemudian seperti paham bahwa Burhan tengah mencari-cari dimana asal suara itu.
“Ya tentu saja aku gundah, karena aku adalah bagian dari negeri ini. Negeri yang kucintai dengan sepenuh hati”, jawab Burhan. “Jadi meski aku tak punya tanah, yang bisa dirampas oleh pembangunan atau investasi, bukan berarti aku tak bisa merasakan kesedihan mereka-mereka yang kehilangan tanah tempat gantungan hidupnya”.
“Bukankah itu sebuah kemestian yang harus terjadi. Pemimpinmu rajin mengundang investasi dan investasi apa lagi yang terbaik di negeri ini kalau bukan menggali harta karun yang tersembunyi di perut bumi”.
“Iya… negeri ini memang kaya, tapi kenapa kalau hanya untuk memperkaya diri dan menebalkan kantong pendapatan negeri, harus menggusur mereka-mereka yang hidupnya susah?”, tanya Burhan.
“Wah, aku tak bisa menjawab itu …. Tanya saja pemimpinmu yang gemar mengampangkan sesuatu, tak mau berpikir panjang dan doyannya hanya berurusan dengan masyarakat lemah”.
Burhan tercenung, betapa benar yang dikatakan oleh suara itu. Negeri ini seolah tanpa pemimpin, rakyat ibarat anak tanpa orang tua, anak yatim piatu. Meski bukan lagi jaman perang, banyak orang hidup layaknya pada jaman perang. Harus awas menebar pandangan sebab begitu lenggah sedikit saja barang dagangan bakal hilang disita oleh petugas trantib.
Mereka yang kaya dan punya kekuasaan, dengan mudah mendapat dukungan entah berupa tambahan modal maupun potongan pajak penghasilan. Sementara mereka-mereka yang hartanya terbatas, berjuang untuk mempunyai simpanan selalu diracuni oleh mimpi untuk cepat memperoleh kekayaan, membiakkan uangnya yang tak seberapa. Para pemimpi inilah yang selalu menjadi korban penipuan entah yang berbau investasi serba cepat maupun penggadaan uang dengan asap kemenyan.
“Kenapa kamu terdiam”, tanya suara itu ketika Burhan diam membisu.
“Aku semakin bingung dan tak paham dengan keadaan ini. Sudah 66 tahun negeri ini merdeka tapi betapa sulitnya menemukan arti kemerdekaan itu”, jawab Burhan.
“Kalian itu merdeka dari apa?. Dari penjajahan?”.
“Iya, bukankah penjajah telah lama keluar dari negeri ini, angkat kaki karena kalah dalam peperangan”, jawab Burhan.
“Secara teknis memang begitu, tapi bukankah penjajahan tidak selalu berwajah perang, melainkan juga bisa berwajah dagang, investasi atau bahkan perjanjian antar negeri”.
“Ya, nampaknya memang begitu. Penjajah bersenjata memang telah pergi dari negeri ini. Tapi tak berarti penjajahan telah menghilang. Bahkan kini antar sesama warga negeri juga saling menjajah”, ujar Burhan mengamini pernyataan suara.
“Peradaban negeri ini memang peradaban tipu-tipuan. Yang kaya menipu yang miskin. Yang berkuasa memperdaya yang lemah. Politik kalian memang politik hitam”.
Burhan jadi ingat pelajaran politik yang diperoleh di lobby-lobby hotel, café dan warung kopi. Politik adalah soal kesepakatan, aku berbuat apa dan dapat apa. Politik adalah matematika tanpa angka, begitu yang sering dikatakan oleh kawannya yang adalah seorang politisi muda, pemimpin partai yang menduduki jabatannya lewat sebuah kudeta. Politik memang hitam, meski dalam pidato di hadapan publik para politisi selalu menyampaikan kata-kata indah, namun dalam bilik-bilik kesehariannya yang ada dalam benak mereka hanya uang..uang dan uang.
“Kamu harus paham …. Politik tanpa uang tak ada artinya. Sekalipun kau punya visi dan misi yang luar biasa, namun tanpa dukungan amunisi semuanya akan sia-sia. Tak akan ada seorangpun yang memberikan mandat atau suara untukmu”, kata suara yang seakan memahami kegundahan Burhan.
“Tapi kan seharusnya tidak seperti itu”, protes Burhan.
“Ya, seharusnya memang tidak seperti itu, tapi ketika tidak ada yang memperjuangkan laku yang sebaliknya, maka politik busuklah yang akan bekerja. Sesuatu yang biarkan busuk namun selalu terbiasa ditemui lama kelamaan aroma busuknya akan hilang. Kebusukan bahkan kemudian dianggap sebagai keharusan. Maka politisi yang tidak busuk bakal di anggap abnormal”, kata suara panjang lebar.
“Sahur..sahur…sahur..sahur….”, teriakkan sekelompok anak muda yang melintas di jalan depan rumah, mengagetkan Burhan. Dengan iringan berbagai bebunyian gerombolan anak-anak muda itu berkeliling kampung menyusuri gang demi gang, membangunkan orang agar tidak lupa makan sahur yang tak lama lagi akan berakhir waktunya.
Burhan melihat jam, “Upps….. sudah jam 3 pagi”, kata Burhan dalam hati. Selepas hilangnya musik sahur, ruangan terasa sepi. Suara yang tadi menemani Burhan telah menghilang entah kemana. Hanya dingin dan semilir angin dini hari yang tersisa, perlahan menyapu wajah Burhan. Namun kantuknya belum juga datang. Tangan dan kaki Burhan mulai terasa gatal akibat serangan nyamuk yang cepat berkembang di awal musim kemarau. Tak tahan dengan gatal yang menyerang, Burhan melangkahkan kakinya menuju kamar, merebahkan diri diatas kasur dan menyelimuti tubuhnya dengan selembar kain tebal.
HP Burhan berbunyi, pertanda sebuah pesan singkat masuk. Diraihnya HP butut buatan China dan dibukanya pesan yang barusan masuk. Tertulis dalam pesan itu “Selamat pagi Mas Bro, selamat menyambut hari kemerdekaan. Semoga sampeyan kian hari kian merdeka”.
Burhan tak tahu siapa yang mengirim pesan itu, karena tak ada nama yang menyertainya. Nomor yang dipakai untuk mengirim juga belum tersimpan dalam daftar kontaknya. Karena merasa tak mengenal secara pribadi maka Burhan tak hendak membalas ucapan yang datang kepagian itu.
“Merdeka apanya ….. kalau semakin hari keadaan justru semakin buruk”, gerutu Burhan dalam hati. “Optimisme di negeri ini hanya ditumbuhkan oleh para analis ekonomi, terutama mereka-mereka yang bergelut di sektor investasi keuangan”, lanjutnya masih dalam hati.
Burhan ingat persis, bahwa para ekonom di negeri ini selalu menolak mengatakan negeri ini berada di jurang negara gagal. Bagaimana mau dibilang berada di ambang gagal kalau pertumbuhan ekonominya selalu di atas 6 %. Saat dilanda krisis, ekonomi negeri ini tidak tumbuh minus dibandingkan dengan negeri tetangga. “Fundamental ekonomi kita stabil dan kuat menghadapi tekanan krisis dari belahan bumi lain”, begitu mantra yang selalu diucapkan para ekonom.
“Terlalu sederhana arti negara jika hanya diserahkan pada ekonom belaka”, kali ini suara Burhan mulai terdengar meski pelan dan tak tahu berkata pada siapa.
“Para ekonom lupa, jika krisis di negeri lain tidak terlalu berpengaruh ke negeri ini, sebab fundamen ekonomi kita adalah ekonomi domestik. Jadi selama rakyat doyan makan dan belanja meski harus utang kanan dan kiri, ya tetap saja ekonomi akan tumbuh, tapi itu ekonomi jeruk makan jeruk”, ujar Burhan layaknya seorang analis jagoan.
“Pemilihan umum mulai dari legislatif, presiden sampai dengan kepala daerah, itulah yang menopang belanja masyarakat. Menjelang pemilihan bahkan setahun sebelumnya banyak uang beredar tidak karuan, terhambur sampai sudut-sudut gang sempit. Dan semua itu dibelanjakan maka konsumsi publik sepertinya terjaga”, begitu lanjutnya.
Sinar mentari pagi mulai mengintip dari sela-sela jendela, hangatnya juga mulai terasa. Kantuk Burhan tak juga tiba dan usaha untuk menggapainya jelas semakin sulit, sebab jalanan mulai ramai. Bunyi-bunyian semakin keras terdengar, mulai dari kamar mandi sampai dapur rumahnya yang kian riuh.
Burhan bangkit dari tempat tidurnya, ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi dan kemudian pamit keluar menuju warung favoritnya untuk ngopi dan sarapan pagi. Saat di warung tiba-tiba saja muncul niatnya untuk membalas SMS ucapan yang diabaikannya tadi.
Jemarinya bermain di keyboard HP yang mulai pudar tanda-tandanya, dituliskannya “Terima kasih prend, hari ini aku memang merdeka karena masih menikmati kopi dan nasi kuning di pagi hari. Dan merdekaku mungkin akan terus terjaga andai aku berhasil mematikan televisi dan tak tergoda untuk membaca koran berita hari ini”.

GOOGLING

0 komentar


Pagi, ketika hampir sebagian besar orang bergegas cepat agar tidak terlambat masuk kantor atau sekolah, Budi justru berleha-leha duduk di teras depan membaca koran yang dilempar dari luar pagar oleh pengantarnya. Sebagai pekerja tidak tetap, Budi memang tidak dikejar oleh waktu, hari-harinya terasa longgar. Begitu juga dengan agenda hari ini, hanya satu yang terbersit dalam benak Budi, yaitu pergi ke warnet untuk googling. Google adalah sahabat terdekat Budi, jadi jangan tanya apa itu internet sebab Budi akan malas menjelaskannya. Persis sama dengan Andra temannya yang sering berkata
“Kalau cari sesuatu jangan diinternet, tapi di google saja karena jauh lebih cepat”.
Sebagaimana Andra, Budi tak peduli dengan cemooh orang yang kerap mentertawakan prinsip google mereka. Dan meski Budi tahu bahwa tak akan ada google tanpa internet, toh tetap saja dia tak mau memperharui imannya, bahwa google memang cepat dan internet cenderun lemot. Gara-gara keteguhannya mempertuhankan google, lama kelamaan teman-temannya terpengaruh juga. Kini mereka jarang menyebut internet, berselancar di dunia maya tak lagi disebut main internet melainkan googling.
Tepat jam sembilan pagi, Budi melangkahkan kaki meninggalkan rumah menuju warnet yang letaknya tak jauh dari kediamannya. “Brownies Net” adalah warnet favorit Budi, selain tarifnya moderat di biliknya tidak dilarang untuk merokok. Googling dengan rokok ditangan membuat Budi leluasa menelusur dunia maya, tidak terganggu oleh mulut yang asam gara-gara tidak mengepulkan asap.
“Eh, mas Googling…. Welcome bro…. sudah beberapa hari nggak terlihat”, sapa penjaga warnet yang hafal betul kebiasaan Budi.
“Keluar kota saya beberapa hari lalu”.
“Travelling terus ya mas ….. kenapa nda mendirikan biro jasa perjalanan saja biar tambah sering menghilang”.
“Bukan jalan-jalan tapi meeting, biasa bertukar gagasan untuk memperbaiki negeri ini”, jawab Budi sambil tersenyum.
“Sampeyan memang top mas …. Sedikit-sedikit meeting, apa gak pening kepala mas”.
“Iya juga …. Tapi ada obatnya kok yang manjur “.
“Googling ya mas” tebak penjaga warnet.
“Nah, itu dia… ternyata kamu sudah tahu juga”.
“Oh..ya silahkan mas, bilik no 13 saja …baru monitornya mas…lebih terang dan tajam”, kata penjaga warnet.
“Oke ..trima kasih ..sudah memberi nomor sial, tapi nda masalah buat saya”, jawab Budi tersenyum sambil melangkahkan kaki menuju bilik nomor 13 sebagaimana ditunjukkan penjaga warnet.
Dan memang benar, monitornya memang baru . Nampak jelas benar merknya yang berasal dari Negeri Gingseng Korea. Budi segera menghidupkan komputer di hadapannya dan kemudian log-in memakai ID dengan tarif yang telah di beri diskon khusus oleh pemilik warnet. Dan segera Budi menulis www.google.co.id di browser favoritnya yang mampu menampilkan beberapa jendela tanpa kehilangan halaman navigasinya.
Budi memasukkan entri sex pada kolom pencarian, hampir 3 juta halaman web yang mengandung kata itu. Kemudian dia melanjutkan dengan kata god, dan hasilnya halaman dalam jumlah yang hampir sama di index oleh google.
“Tuhan dan seks ternyata bersaing memperebutkan ruang di dunia maya”, batin Budi dalam hati. “Ah, tapi seks kan netral jadi tak harus dipertentangkan dengan Tuhan”. Lanjutnya.
Budi kemudian memasukkan entri porno dalam mesin pencari. Hasilnya luar biasa, hampir 10 juta halaman porno diindex oleh mesin pencari.
“Gila ternyata porno menjadi penguasa utama dunia maya”, kata Budi lirih.
Iseng-iseng budi membuka salah satu halaman yang diindex oleh mesin pencari. Tag-nya jelas-jelas sangat porno. Budi mengklik link itu agar terbuka pada tab berikut di browsernya. Link yang dipromote amat porno ternyata halaman yang isinya justru pesan dan buku-buku berbau religius.
“Luar biasa, bahkan untuk mengantar kepada perihal berbau religius, pemilik situs mesti harus memasang tag porno di mesin pencari agar menarik pengunjung” pikir Budi.
“Jadi andai semua situs yang mengandung atau di tag dengan kata porno, di blok maka akan banyak pula perihal yang mulia, suci dan penuh ajaran moral bakal menghilang dari mayantara”.
Budi jadi teringat pada otoritas negara yang mengurusi perihal lalu lintas informasi yang berkaitan dengan IT. Dengan niat mulia ingin melindungi generasi muda bangsa, segala hal yang berbau porno bakal di blok agar tak bisa muncul di layar gadget para pengila informasi. Namun rupanya niat yang walau mulia ternyata tak mudah dilakukan. Sebab ternyata begitu kata porno di blok banyak situs-situs lainnya ikut pingsan dan tak bisa diakses. “Ups..your page is broken”.
Hampir tiga jam, Budi berkutat di depan layar monitor. Matanya mulai berair, capek dan pedih karena bilik mulai dipenuhi dengan asap rokok. Saat meluruskan bagan di kursi, penjaga warnet datang membawa segelas kopi.
“Minum mas… masih anget dan gratis”, katanya sambil tersenyum.
Budi segera meraih cangkir yang diletakkan di samping keyboard. Dihirupnya perlahan, dan hangat kopi merambat pelan di tenggorokannya, harum aromanya sejenak membuatnya serasa tenang. Kopi dan rokok adalah paduan resep yang tepat untuk memancing kerja otak agar tetap bersemangat. Dan tak lama kemudian, alarm googling kembali memanggil dan membimbing jemari Budi untuk kembali menelusuri halaman-halaman web mencari apa yang dimaui oleh pikirannya.
Jemari Budi segera menari, dituliskannya entri spirituallity pada kolom pencarian. Mesin pencari mulai bekerja dan tersajilah halaman berisi perihal spiritualitas. “Cukup banyak ternyata”, gumannya dalam hati.
Budi mulai menjelajah halaman demi halaman, meneliti isinya dan siapa yang mengelola situsnya. Ternyata tak banyak lembaga resmi keagamaan yang menebar ajaran lewat jejaring maya. Padahal peluang, kesempatan dan jangkauan “kerasulan” lewat dunia maya jauh lebih luas dan terbuka lebar. Lingkaran pengaruh mayantara juga terbukti mujarab. Bukankah banyak orang, pemikiran, gagasan dan ajaran menjadi dikenal karena muncul dan bermula dari dunia maya.
“Apakah ini pertanda bahwa lembaga keagamaan resmi sudah membeku, nyaman dalam kemapanan dan hanya gemar mengkritik kemajuan jaman sebagai mengancam kehidupan kaum beriman. Jangan-jangan semua itu hanya pertanda bahwa mereka tidak mampu menyesuaikan dengan kemajuan jaman”, pikir Budi.
Layar nampak berkedip-kedip pertanda ada seseorang menghubungi Budi melalui chat box. Dan Budi segera mengklik tanda adanya ajakan untuk berbincang. Ternyata Dullah teman lamanya di mayantara menunggu dalam bilik perbincangan.
“Pa kabar mas Bro …. Googling forever yo”, begitu pesan Dullah.
“Oey … Pak Boss …. Lagi mau sembahyang di katedral virtual..he…he…”.
“Wah…mulai mendapat panggilan iman rupanya?”.
“Begitu memang rupanya … ternyata kerinduan pada Tuhan itu sifat bawaan”.
“Dalem ini mas Bro …..”.
“Lha iya lah …. He..he…”.
“Teruskan dulu Mas Bro …. Nanti di bagi ya hasil pencariannya”.
“Sip Pak Boss yang penting siap-siap untuk menerima pencerahan”.
Budi menutup chat boxnya dan kemudian meneruskan googling untuk mencari tempat-tempat tujuan wisata spiritual. Ternyata banyak negara menikmati devisa berlimpah dari kunjungan para peziarah. Sebagian besar negara itu ternyata justru berada di Eropa, Perancis dan Italia ternyata banyak menerima kunjungan para peziarah yang rindu untuk menghirup aroma spiritualitas, memuaskan dahaga kerinduan pada Tuhannya.
Di bandingkan dengan negara lain, sebenarnya Nusantara banyak menyimpan tempat untuk diziarahi, tempat-tempat yang bisa memuaskan dahaga spiritual. Hampir setiap daerah mempunyai petilasan yang ramai dikunjungi orang pada waktu-waktu tertentu. Setiap tempat mempunyai tuah yang tersendiri, ada yang melancarkan rejeki, jodoh, kesehatan, olah jiwa bahkan sampai mendapatkan kesaktian.
“Tapi kok nda ada keterangan berapa besar devisa yang didapat dari tempat ziarah di Nusantara”, pikir Budi.
“Apakah tak ada yang melihat potensi ini atau merasa urusan spiritual tak pantas untuk diperjualbelikan”.
“Ah … toh sebenarnya wajar saja, bukankah banyak lembaga dan orang mendapat rejeki karena berjualan Tuhan?”.
Budi terus berdialog dengan dirinya sendiri, mengungkap tanya dan berusaha menjawabnya pula. Tanya dan jawab silih berganti muncul dalam diri Budi, andai ini terjadi dalam ruang diskusi pasti ramai sekali suasananya. Tapi semuanya terjadi dalam diam dan sepi meski hati berkecamuk. Setelah sekian lama berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Budi memutuskan untuk melakukan revolusi sunyi melalui google. Dikumpulkannya segenap keterangan tentang tempat-tempat ziarah di nusantara, lengkap dengan foto dan peta lokasinya sejauh yang ada dalam google map.
Budi berencana dengan semua informasi yang dikumpulkannya hendak membuat dan mengelola sebuah situs bertajuk www.nusantaraspiritualcentre.net yang akan memuat seluk beluk dunia dan tempat-tempat ziarah di nusantara. Cita-cita Budi tidak muluk-muluk, lewat situsnya dia berharap ketika seseorang di manapun dia berada, melakukan pencarian dengan tag spiritual maka sebagian besar halaman yang tersaji adalah tempat-tempat ziarah di nusantara.
“Malam mas Bro …. Masih googling nih?” begitu sapaan Dullah yang kembali muncul di chat box.
“Masih Pak Boss …tapi dah mau out….mulai kabur ni mata”.
“Iya mas Bro … istirahat dulu …… jangan bertempur dengan google, nda bakal kalah dia”.
“He..he… iya nda ada capek-capeknya ini si Pak De Google”.
“Bagi dong …temuannya Mas Bro”
“Ah….cuman mimpi aja yang ketemu hari ini”.
“Mimpi?”.
“Iya…mimpi …. Mimpi tentang Nusantara yang bakal jadi pusat perziarahan dunia”.
“Wadauw ….mantep bener ini mimpi Mas Bro, pertamax dah… kalau begitu sampai jumpa dalam mimpi ya Mas Bro”.
“Lanjut ….. nice dream ya..ha…ha…..”.
Dan kemudian Budi log out ketika chat boxnya kelihatan in-active. Setelah membayar ongkos koneksinya dan sedikit berbasa-basi dengan penjaga warnet, Budi melangkahkan kaki menuju rumahnya. Sepanjang jalan Budi terus menaburkan impiannya dan tak lupa Budi berdoa agar google turut membantu mewujudkan mimpinya.

MAAF DI HARI YANG FITRI

Sabtu, 03 September 2011 0 komentar


Memasuki bulan Ramadhan dan semakin mendekatnya hari lebaran semakin mudah kita mendapati berbagai media memberitakan kegiatan-kegiatan dan iklan bertemakan bulan suci. Para pesohor berlomba-lomba mengelar kegiatan baik, dalam aneka bentuk. Berbuka puasa bersama dengan kaum yang perlu disantuni, membagi berkah untuk mereka yang berkekurangan dan semakin mudah mengucapkan kata maaf bagi siapapun.

Kesalehan tidak hanya ditunjukkan oleh orang perorangan melainkan juga oleh institusi perusahaan. Di bulan puasa berbagai perusahaan mengiklankan produk-produknya sebagai yang tepat dan bermanfaat untuk mendukung upaya kaum muslim menjalankan puasa dengan baik. Baik untuk menjaga kesegaran tubuh maupun kesehatan saat menjalankan kepenuhan masa puasa. Semua nampaknya berlomba-lomba menghubungkan produknya dengan konsumen dengan tema puasa dan lebaran.

Para penjual jasa dan barang beramai-ramai menunjukkan “kebaikan” dengan aneka program potongan harga (discount). Mereka tahu persis bahwa menjelang lebaran tiba, masyarakat akan berbondong-bondong belanja untuk menyambut hari yang Fitri sebaik dan semeriah mungkin. Potongan harga dan aneka program penjualan (paket) yang menarik dimaksudkan agar konsumen melirik apa yang mereka tawarkan.

Berbagai perusahaan berusaha menunjukkan dirinya mampu melampaui “mandat” usahanya. Salah satunya adalah perusahaan kertas, yang di masa puasa ini mengiklankan dirinya dengan kegiatan mewakafkan Kitab Suci Al Qu’ran yang diproduksi dengan kertas hasil usahanya. Ribuan kitab suci dibagikan melalui organisasi yang dikenal mempunyai jumlah anggota terbesar di negeri ini. Upaya lain adalah menyediakan sarana transportasi untuk mudik lebaran. Sebuah pilihan yang sangat bijaksana sebab mudik di saat lebaran memang jadi persoalan dan perjuangan bagi sebagian besar kaum muslim sebelum menikmati kemenangan di hari nan fitri. Tunjangan hari raya (THR) tidak hanya diberikan oleh perusahaan kepada pegawainya melainkan juga kepada masyarakat baik yang merupakan konsumen atau tidak.

Niat mulia dan tindakan baik dari para pesohor (artis, pembesar, pejabat dan kaum kaya) dan sektor usaha serta organisasi lainnya pada bulan ramadhan tentu saja perlu disambut dengan gembira. Perangkat negara juga bekerja keras di masa-masa menjelang lebaran untuk mempermudah masyarakat melakukan ritual mudik. Siang malam petugas polisi dan perhubungan berada di jalan bertahan dalam panas, debu dan segala keruwetan lalu lintas.

Ucapan selamat Hari Raya Lebaran (Idul Fitri) juga mulai muncul dalam berbagai bentuk. Iklan baik “below the line” maupun “up the line” seolah berlomba-lomba mengucap selamat dan memohon maaf kepada khalayak. Sejurus dengan itu, nampak kini banyak orang saleh di negeri ini dan rendah hati untuk meminta maaf.

Akan tetapi maaf adalah sekedar ucapan saja apabila tidak jelas ditujukan untuk siapa atau pada siapa saja. Sebab maaf selalu berkaitan dengan kesalahan atau kekurangan dalam hubungan atau tindakan pada pihak lain. Maka permintaan maaf selalu harus ditujukan pada pihak yang dikecewakan, dirugikan, disakiti, diingkari dan lain sebagainya. Perusahaan Daerah Air Minum pantas meminta maaf pada konsumen karena air mengalir tidak lancar sepanjang hari misalnya. Perusahaan listrik negara, layak meminta maaf karena tak mampu menyediakan pasokan listrik meski calon pemasang sudah membayar jutaan rupiah. Perusahaan penerbangan juga perlu meminta maaf karena berkali-kali membuat calon penumpang kecewa dan rugi waktu karena keterlambatan jadwal terbang.

Kepada siapa permintaan maaf perlu ditujukan akan berbeda-beda, sebab pemangku kepentingan atau pihak yang terkait dengannya juga berbeda. Pejabat Publik barangkali lebih luas pemangku kepentingannya, sehingga bisa meminta maaf secara agak umum. Intinya yang sebenarnya adalah permintaan maaf yang terlalu umum hanya akan membuat mereka yang mendengar, membaca atau melihat menganggapnya hanya sebagai iklan atau tindakan kosong belaka, sekedar mengikuti kebiasaan di hari lebaran.

Ucapan atau permintaan maaf, pemberian bantuan (santunan) dari satu pihak ke pihak lain tidaklah secara otomatis akan mengoreksi atau menghapus kekurangan atau kesalahan di masa lalu. Permintaan minta maaf bersifat restoratif, artinya tanpa dibarengi dengan perubahan di hari sesudahnya dan janji tak akan mengulangi kealpaan yang sama di hari depan sungguh tidak akan bermakna apa-apa. Inilah pentingnya ucapan maaf, agar tidak sekedar menjadi ucapan belaka, kata-kata yang keluar dari bibir dengan senyum tersungging tanpa makna.

Idul Fitri adalah puncak dari sebuah siklus laku spiritual, mulai dari mati raga, refleksi hingga kesadaran untuk merubah perilaku di hari depan guna memperbaiki apa yang kurang di masa lampau. Setelah sebulan penuh menjalani puasa, seseorang baik sebagai pribadi, insan Allah maupun mahkluk sosial lahir kembali dalam kebaharuan agar hidupnya, pekerjaan dan pengabdiannya membawa manfaat. Puasa dari tahun ke tahun memperbesar dampak positif dari keberadaan seorang pribadi terhadap lingkungan sekitarnya.

Bagi para pejabat publik, siklus puasa adalah momentum memperbaiki diri, melihat kembali segenap pelayanan dan pelaksanaan mandatnya di hari yang lampau. Dengan meminta maaf kepada stakeholder berarti menyatakan dirinya pada hari ke depan akan lebih sensitif mendengarkan suara para pemberi mandat. Terutama suara-suara dari mereka yang terabaikan, mereka yang berada dalam posisi paling bawah, mereka yang paling membutuhkan pelayanan dan perlindungan. Ucapan maaf akan menjadi bermakna apabila pejabat publik mampu mewujudkan kebijakan yang memungkinkan mereka yang terlemah dalam masyarakat akan meningkat kondisinya, semakin sehat dan berdaya.

Semangat menahan diri dalam masa puasa dan berbagi di hari raya, tidak sekedar dipuncaki dengan acara “open house” yang megah dan meriah. Open House yang semakin tahun semakin marak, membuktikan bahwa para pembesar menunjukkan watak yang ajeg yaitu gemar didatangi dan bukan mendatangi mereka-mereka yang seharusnya dilayani dan dilindungi. Alangkah bahagianya bagi si miskin, mereka yang tergusur dari tanahnya, apabila di hari nan fitri didatangi oleh pejabat negeri, datang bersilaturahmi, mengucap selamat merayakan hari nan fitri dan meminta maaf atas kesalahan pemerintah negeri di hari yang lalu.

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri sesungguhnya tidak mudah untuk mengucap maaf, sebab maaf akan punya makna jika bukan sekedar kata-kata belaka.

LA MASIA, Rumah Persemaian Barca

0 komentar


Buku itu hanya bungkusan, pengetahuan itu isinya. Begitu salah satu pesan seorang kawan yang mengingatkan soal betapa kita sering menghabiskan waktu dan energi, menguras tenaga dan pikiran untuk mengurus BUNGKUSAN-nya saja dan mengabaikan ISI-nya.

Saya bukanlah seorang penggila sepakbola, tetapi saya penyuka Barcelona. Kenapa Barcelona?. Tentu kekaguman saya pada FC Barcelona bukan dipengaruhi oleh indahnya nada-nada dan syair lagu Barcelona yang dinyanyikan oleh Fariz RM. Bagi saya Barcelona, dalam konteks analisis bungkusan dan isi, menunjukkan bahwa dinamika dan segala prestasi yang dicapai saat ini adalah hasil dari ketekunan dan konsistensi pengurus klub itu untuk memperkuat isi. Barca saat ini tidak terjebak oleh glamour dan membangun prestasi secara instan dengan mendatangkan pelatih dan pemain terkenal dari luar klub.

Apa yang dicapai oleh Barca pada saat ini adalah buah dari sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah filosofi dalam sepak bola. Dalam sepak bola kita mengenal istilah Jogo Bonito, yang muncul dari Amerika Latin, Kick n’rush dari Inggris, Der Panzer dari Jerman dan Total Football dari tradisi bola Belanda. Dan kini muncul filosofi Tiki Taka dari Spanyol (baca : Barca).

Tiki Taka bukanlah sebuah filosofi yang lahir begitu saja melainkan puncak dari evolusi yang dimulai 30 tahun lalu oleh Johann Cruiff pemain legendaris dari Belanda yang datang ke Barcelona dengan membawa prinsip total football-nya. Cruiff meletakkan prinsip ini bukan hanya di klub melainkan juga di sekolah sepakbola Barcelona yang dikenal dengan sebutan La Masia yang dalam bahasa Catalan berarti rumah petani ( tempat pembibitan/persemaian). Ditangan Cruiff, Barcelona berjaya namun tidak sedigdaya Barca saat ini. Cruiff pada masa kepelatihannya masih diwarnai oleh pemain-pemain produk luar La Masia. Meski demikian peran Cruiff sangat besar untuk membangun Barca sampai pada kondisi saat ini. Oleh karenanya dia tetap merupakan orang yang terhormat di Barcelona. Cruiff sampai saat ini tetap merupakan ketua kehormatan Barcelona dan memilih untuk tetap tinggal disana.
Kini di tangan Pep Guardiola, yang adalah produk asli La Masia, Barca menjelma menjadi klub bertabur bintang dan gelar yang kemungkinan besar sulit dicapai oleh klub manapun. Ditangan Pep, evolusi yang dibangun oleh Cruiff menuai buahnya. Dream team Barcelona baik secara kuantitas maupun kualitas secara dominan berasal dari para Canteras (anak didik atau lulusan La Masia).

Para Canteras semenjak berada di La Masia hingga masuk ke klub secara konsisten mempraktekkan hasil revolusi total football menjadi tiki-taka. Dalam total football semua pemain bergerak bebas ke segala posisi sesuai dengan kebutuhan sesaat dan pergerakan itu dilakukan dalam satu kesatuan utuh. Namun posisi dan spesialisasi tugas masih tetap penting, meski penyerangan dilakukan secara total dan bergelombang.

Sementara dalam tiki-taka penyerangan dan pertahanan dilakukan melalui penguasaan bola (possesion of the ball). Penguasaan bola diwujudkan melalui passing dan aliran bola yang efektif dan efisien. Pada titik ini tiki-taka juga mengadopsi kekuatan utama filosofi jogo bonito, yaitu teknik individual yang mumpuni. Bukan hanya aliran bola saja yang penting melainkan juga pergerakan pemain yang mulus. Disini tugas dan spesialisasi pemain menjadi nomor dua. Semua pemain dituntut bisa berada dalam segala posisi dan spesialisasi tugas agar mudah bertukar peran sesaat.
Karena prinsip ini maka Barca lebih senang mengumpulkan pemain tengah yang hebat. Sebab dikaki mereka penguasaan dan aliran bola akan dijaga. Messi misalnya bukanlah striker murni, dia kerap bermain sebagai false nine, turun ke bawah dan memberi umpan matang untuk dikonversi menjadi gol. Fabregas (anak hilang yang telah pulang) berlaku sebaliknya dengan memainkan posisi false ten, karena tidak berdiri di belakang penyerang. Assist matang Messi dalam beberapa pertandingan membuat Fabregas yang dikenal sebagai pemain tengah mampu menghasilkan gol yang bersih di masa perdananya berkostum Barcelona. Fabregas menjadi salah satu contoh dari transfer pemain yang paling berhasil di klub barunya. Namun hal ini tidak mengherankan sebab Fab adalah produk asli La Masia sehingga dalam darahnya mengalir tiki-taka. Walau kemudian bermain di Inggris, namun Arsenal klub yang lama dibelanya juga memainkan gaya bola yang hampir mirip-mirip tiki taka.

Sekali lagi ini menunjukkan bahwa dalam tiki taka posisi menjadi nomor dua, sebab serangan justru dibangun mulai dari belakang (bek dan kiper) yang kemudian perlahan mendekati daerah lawan. Pemain belakang bahkan kerap sampai berada di area dekat gawang lawan untuk memberikan umpan terobosan. Gaya seperti ini mulai ditunjukkan oleh Ronald Koeman yang merupakan salah satu punggawa dream team Barcelona dulu.
Bola di kaki pemain Barca diperlakukan sebagai sahabat dan dinikmati gerakannya. Cruiff dan Pep mengajarkan kepada para pemainnya untuk bergembira saat bermain bola. Pemain Barca ibarat anak-anak yang sangat riang saat diberikan bola sebagai mainannya, mengelundungkan kesana kemari, mengejar tiada henti dan menari-nari seiring pergerakannya. Maka bagi pemain Barca, gol adalah hasil bukan tujuan utama. Gol merupakan konsekwensi karena sudah tidak ada lagi ruang didepannya. Kemenangan dibangun lewat sebuah proses, bukan merupakan tujuan utama. Prinsipnya jika memainkan bola dengan benar maka kemenangan secara otomatis berada di tangan. Maka pemain Barca selalu merayakan gol dalam kebersamaan, jarang berekpresi berlebihan kala melakukan selebrasi pribadi. Salah satu dampak terpenting dari filosofi tiki taka adalah permainan keras bisa dihindari.

Gaya permainan Barca dan kemudian juga menjiwai permainan tim nasional Spanyol (dimana tim intinya sebagian berasal dari Barca) membuat keder banyak pelatih tim-tim lainnya. Bahkan pelatih tim nasional Belanda, tempat asal nenek moyang tiki-taka, kemudian memodifikasi total football dengan tambahan agresifitas. Bumbu permainan keras untuk menganggu konsentrasi lawan. Permainan keras yang ditujukan bukan untuk menyakiti lawan, tentu sah-sah saja. Dan atmosfer gaya seperti ini mewarnai kompetisi bola di Inggris. Namun saat pemain tidak bisa menahan emosi, tensi permainannya tinggi maka agresifitas bisa menjadi “kekasaran”, hasilnya seperti tendangan tae kwon do De Jong kepada Alonzo di laga piala dunia, atau Pepe yang setelah mendorong pemain lawan, lalu terjatuh ditendang-tendang badan dan kepalanya (saat melawan Getafe). Agresifitas tanpa sportivitas akan membuat wajah pemain menjadi beringas dihadapan lawan dan penonton. Ciri kick n’rush dengan sangat baik ditunjukkan oleh Wayne Rooney di Manchester United.

Mengalahkan Barca kini menjadi tujuan dari lawan-lawannya baik dalam kompetisi nasional maupun regional Eropa. Namun kedatangan Ces Fabregas, Alexis Sanches dan masuknya beberapa pemain muda dari Barcelona B dalam laga-laga perdana pembuka musim menunjukkan Barca semakin digdaya dengan tiki-takanya. Ketidakhadiran Puyol, Pique dan Dani Alves ternyata tidak berpengaruh banyak pada produktifitas dan kemenangan Barca.

Mungkin terlalu dini untuk meramalkan perjalanan Barca di kompetisi liga Spanyol dan liga Eropa, namun sebagai penyuka Barcelona, saya “mengimani” bahwa Barca hanya bisa dikalahkan oleh dirinya sendiri dan tim-tim lawan yang tidak “menghormati” sepakbola. Oleh karenanya lawan yang paling mengancam bagi Barcelona dalam kompetisi apapun adalah Real Madrid di bawah asuhan Jose Mourinho. Pelatih yang akan menggunakan jalan apa saja untuk memenangkan timnya meski telah dikalahkan di lapangan.


Petaka cinta dan tarian kematian di Kelian

Jumat, 19 Agustus 2011 1 komentar


Daun-daun masih basah, karena tadi sore hujan baru usai menyirami kampung yang berada di tepi sungai Kelian. Kini malam berganti terang purnama. Bintang di langit juga terlihat berkilauan dalam sungai. Bahkan cahayanya bisa menerangi jari-jemari kayu yang menyentuh permukaan air sungai yang mengandung emas itu. Anak-anak kampung menggunakan malam purnama ini dengan bermain tradisional seperti begasing dan behempas. Sementara para pemuda bermain sampeq (gitar tradisional Dayak) dan berijoq (bernyanyi) mengiringi para gadis kampung yang sedang menumbuk gabah untuk dijadikan beras. Salah satu bait-bait syairnya dalam bahasa setempat, kira-kira bermakna seperti ini :

Purnama pandanglah kami
yang sedang bahagia bersama Kelian
dan gadis-gadis penyejuk jiwa.
Wahai Kelian, purnama
dan sampeq, sampaikanlah galau hati ini kepada gadis- gadis kami

Di kala malam beranjak larut, warga kembali beristirahat. Tak ada satu wargapun yang menyangka, kalau itu menjadi malam terakhir mereka berada di Kampung Long Ha. Lepas tengah malam di bulan April 1991, di saat warga terlelap tidur, segerombolan Brimob suruhan perusahaan tambang emas PT. Kelian Equatorial Mining (KEM) merengsek masuk ke perkampungan yang dihuni oleh mayoritas orang-orang Dayak Benuaq dan Bahau di Kecamatan Linggang Bigung (Sekarang Kecamatan Tering) Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur.

Para Polisi Negara itu, bukan sedang berperang melawan musuh Negara. Tetapi sedang bertugas menumpas warga yang masih bertahan di Kampung Long Ha. Dalam kepala para polisi bersenjata itu hanya satu, Long Ha harus kosong. Sebab tambang emas harus segera beroperasi mengeruk emas di kampung itu.

Warga yang tak berdosa ini dipaksa untuk keluar dari Long Ha yang penduduknya hidup berladang berkebung dan pengerebok (pendulang emas tradisional) dari kampung halaman mereka yang sudah sekian lama mereka bangun. Mereka dipaksa pindah karena kampung itu akan dijadikan pertambangan Emas oleh PT KEM milik perusahaan Rio Tinto yang bermarkas di London dengan menguasai areal 285.233 hektar dengan potensi 105,4 ton emas.

Warga yang sedang lelap itu terkaget-kaget mendengar kegaduhan yang tak biasa itu. Teriakan, suara keras memecah keheningan Long Ha. Puluhan Polisi memukul dinding rumah warga, sambil berteriak dengan suara keras seperti orang yang kesetanan “Segera keluar, segera pindah,” teriak mereka.

Beberapa bulan terakhir orang-orang PT KEM memang sedang merazia sepanjang sungai Kelian, khususnya lingkaran yang dekat dengan konsesi tambang mereka di Prampus yang menjadi tempat eksploitasinya. Ada 500 ratusan pondok pengerebok milik warga di sekitar kampung Long Ha dibakar dan dihanyutkan kesungai. Sembilan kampung disekitarnya dibumi hanguskan. Termasuk kampung Long Ha yang menjadi target terakhir untuk dihancurkan

Pak Jelamuk dengan istrinya Yohana Seting juga sangat ketakutan mendengar kagaduhan itu. Yohana dan suaminya masing-masing memeluk kedua anaknya yang masih berumur 7 dan 8 tahun itu untuk mengusir rasa ketakutan. Yohana bersama kedua anak gadisnya Luciana dan Ilent tampak sangat ketakutan di malam itu. Ia khawatir terjadi sesuatu pada kedua anaknya.

“Kenapa ma kita harus pindah, memangnya kita harus pindah kemana?,”tanya Ilent ketakutan.

“sst, jangan keras-keras yang penting kita selamat, Ilent selamat. Tidak usah bersuara nanti kita jadi sasaran para polisi itu,” jawab Yohana

Belum lama setelah perbincangan Yohana dengan anaknya, tiba-tiba suara gerombolan dari luar kedengaran lagi. “Masih saja di dalam. Segera keluar. Segera kumpul di luar, sebentar lagi kami akan bakar semua rumah dikampung ini,” teriak para polisi itu.

Yohana Seting, suami dan kedua anaknya terpaksa keluar dari rumah mereka lalu bergabung dengan ratusan warga yang lain yang sudah berada di lapangan kampung. Dengan suara terputus-putus sambil berjalan menuju lapangan Yohana tak kuasa menahan air matanya. Perempuan Dayak itu menangis ketakutan sambil mengendong anaknya ke lapangan desa yang tak jauh dari rumahnya. Hanya pakaian dan beberapa peralatan masak yang sempat ia bawa serta.

Di lapangan mereka dipaksa naik kendaraan truk dengan berdesak-desakan seperti memumpuk barang. Mereka harus berada di satu tempat yang sudah di siapkan oleh perusahaan untuk menampung orang-orang kampung yang sebelumnya berada di kawasan areal pertambangan emas. Kampung penampungan itu bernama Murung Baru. Tempat baru mereka itu berada tepat di kaki gunung Kelian. Rencana perkampungan itu belum dibangunin rumah ketika mereka tiba di Murung Baru. Mereka ditumpuk dalam sebuah camp penampungan mirip gedung SD yang dibangun seadanya. Mereka dipindahkan dan dijauhkan dari akses pinggir sungai Kelian. Mereka tidak lagi berhak beraktivitas dan mencari penghidupan di dekat areal konsesi pertambangan emas KEM karena semuanya sudah menjadi hak PT KEM.

Yohana dan suaminya beserta dengan kedua anaknya dan ratusan warga lainya tak kuasa melawan perlakuan sewenang-wenang aparat berseragam polisi dan bersenjata lengkap itu. Mereka yang melawan pasti mendapat perlakuan kasar. Puluhan warga di malam itu memar-memar akibat pukulan dan tonjokan laras panjang para suruhan PT KEM.

Salah satu yang mendapat perlakuan itu adalah suami Yohana Seting, Pak Jelamuk. Mukanya hancur dan berdarah akibat hantaman pukulan dari para Polisi itu karena ia melakukan perlawanan dan mengelaurkan kata-kata protes kepada mereka.

“Pak kenapa kami diperlakukan seperti binatang, kenapa kami diusir dari tanah kami, tanah kelahiran kami. Kami tidak mau pindah,” protes Jelamuk di malam itu. “Kamu siapa, kamu berani melawan,” kata orang suruhan PT KEM. Istri Jelamuk dan kedua anaknya tak henti-hentinya menagis meraung-raung meminta ayahnya dilepas agar tidak berpisah dari rombongan. Jelamuk tetap diboyong ke kantor Polisi setempat karena dianggap bisa menjadi pemicu warga lain untuk protes terhadap pembumihangusan kampung Long Ha. Warga ratusan jumlahnya itu diangkut dengan menggunakan truk. Tidak lama setelah mereka meninggalkan kampung ketika 5 iring-iringan truk berada di puncak gunung Kelian, terlihat dari jauh lidah api besar yang berusah mencapai langit. Kampung Long Ha diluluhlantakan. Rumah mereka telah dibakar malam itu juga.

Jelamuk hanya semalam diintrogasi dikantor polisi dan mendapat perlakuan serta kata-kata kasar. Ia disiksa dan dipaksa untuk tidak lagi melawan dan berniat untuk membangkitkan semangat orang-orang kampung untuk kembali ke kampung Long Ha. Esok paginya, Jelamuk diperbolehkan untuk bergabung dengan warga lainya yang sudah berada di Murung Baru.

Sebulan sudah Yohana dan keluarganya berada di penampungan. Tapi mereka harus melewati hidup semacam itu. Mereka diperlakukan seperti pengungsi saja. Jelamuk yang penasaran bagaimana kampung Long Ha saat ini. Ketika pagi-pagi buta, ia pun berangkat masuk melewati hutan Kelian sekitar 5 Km menembus masuk penjagaan dari pengamanan tambang. Tidak jauh dari kampung Long Ha dipinggiran Kelian, ia mengamati dari jauh memandangi Long Ha yang kini sudah mulai dibanguni sarana dan prasaran tambang emas. Hatinya teriris melihat kampung itu. Ia mengenang seluruh rangkain hidupnya yang berhubungan dengan kampung Long Ha.

“Kami ini sudah diusir dari tanah sendiri, kuburan itu pasti mereka gusur juga,” hati Jelamuk bergumam. Hatinya berkecamuk. Ingin melawan tapi sungguh lemah karena intimidasi kian keras kepadanya. Untuk menghilangkan pikiran yang camuh, ia pun segera turun ke sungai Kelian dan mulai mengerebok ( mendulang emas tradisional) yang ia paham betul amat berat resikonya.

Benar saja, tidak lama setelah ia turun ke pinggiran sungai mencari butiran-butiran emas yang sudah menjadi kebiasaan sejak lama orang-orang di Kelian, tiba-tiba tanpa ia duga segerombolan pengawas dari perusahaan PT KEM memorgokinya mendulang emas di tempat yang sudah dinyatakan terlarang.

“Ini lagi, ini lagi bapak ini,”bentak keamanan tambang itu. Jelamuk tak bisa berbuat apa-apa. Ia ditangkap lalu dipukuli dan boyong ke kantor PT KEM. Begitu sampai di kantor PT KEM ia tidak langsung dibawah masuk ruangan kantor, tetapi ia diikat di tiang bendera dengan pakaian yang nyaris telanjang. Hanya bercelana dalam.

Tiga hari sudah Jelamuk di tiang yang berbendera Rio Tinto itu. Yohana Seting dan anak-anaknya galau bukan kepalang. Mereka sibuk mencari tahu dimana kini Jelamuk suami dan ayah mereka berada. Entah dari mana, kabar Pak Jelamuk ditangkap bahkan disiksa dan diikat di tiang bendera di Kantor PT KEM sampai juga ke telinga mereka di tempat penampungan. Yohana Seting marah dan bergegas menuju kantor PT KEM. Perempuan yang bersuku Bahau itu berusaha menuju kantor PT KEM dimana suaminya diikat dan disiksa. Wajah putihnya merah karena murka dan dari jauh dia sudah melihat suaminya diikat. Ia berteriak sekeras-kerasnya “Segera lepas. Segera lepaskan suami saya. Kalau tidak saya akan membuat sesuatu pada kalian. Dasar penjajah, kalian yang pencuri, kenapa suami saya kalian perlakukan seperti ini?,” teriak Yohana Seting.

Jelamuk pun dibebaskan dengan syarat ia tak boleh lagi mendulang emas dan memasuki kawasan PT KEM tanpa izin.

Nasib Jelamuk tidaklah sendiri, beberapa warga juga mengalami perlakuan yang sama. Mereka yang melawan dan memasuki kawasan KEM akan disiksa dan ditangkap. Bahkan dua tahun terakhir 2 orang warga meninggal karena perlakuan kekerasan oleh perusahaan.

Situasi ketika PT KEM mulai melakukan eksploitasi perlakuan kekerasan terhadap warga Kelian dan sekitarnya sudah menjadi pemandangan yang biasa. Seiring dengan waktu, pelan-pelan perlawanana warga terhadap PT KEM beralih dari mempertahankan tanah dan perkampungan menjadi tuntutan ganti rugi.

Kelian semakin ramai dengan kesibukan pertambangan emas. Ribuan orang-orang baru baik dari dalam negeri Indonesia maupun dari luar terutama orang-orang dari Inggris dan Australia bekerja di tambang emas yang berada di garis khatulistiwa ini. PT KEM juga mempekerjakan dari berbagai tenaga ahli. Mulai dari tenaga teknisi seperti Geolog, ahli bendungan hingga ahli antropologi. Geolog bertugas untuk memastikan tempat-tempat cadangan emas berada dan bagaimana cara mengeksploitasinya. Sementara Antropolognya bertugas merontokkan potensi perlawanan warga terhadap perusahaan.

Sepuluh tahun sudah PT KEM mengeruk emas di Kutai Barat. Riak-riak perlawanan warga lebih banyak bicara seputar ganti rugi. David yang juga antropologi asal Austaralia yang sudah ada sejak PT KEM mulai beroperasi dan menulis buku tentang kebudayaan Dayak Benuaq berteman dengan Handoko yang juga alumni Universitas negeri di Kota Bandung Jurusan Antropologi. Handoko bergabung di perusahaan yang berpusat di London ini semenjak lulus kuliah tiga tahun yang lalu. Ia dan David yang juga antropologi dari salah satu Universitas di kota Sydney, merancang relasi dan kegiatan kegiatan kesenian dalam melibatkan warga di sekitar Kelian.

Tak heran mereka juga yang memikirkan pentingnya simbol-simbol kebudayan Dayak juga hadir dalam ruang penting di PT.KEM. Misalnya ratusan blontang (patung) ukiran Dayak lalu dipasang di berbagai sudut pada setiap jalan dan di depan gedung-gedung milik PT KEM. Maksudnya agar warga tahu dan merasa memiliki dan dekat dengan PT KEM . Termasuk mempersiapkan dan mengundang warga di sekitar Kelian untuk ikut dalam setiap acara-acara di PT KEM dengan pertunjukan kesenian seperti tari tarian Dayak.

Sementara itu perkampungan Murung Baru juga hingar-bingar dengan suasana tambang emas ini. Ratusan pekerja tambang emas juga bergabung bersama warga yang dulu berasal dari Long Ha. Jelamuk dan Yohana Seting masih hidup dari aktivitas berladang dan mendulang emas. Walaupun terasa sangat berkurang penghasilannya karena sudah jauh dari Long Ha pinggiran Kelian yang terkenal banyak kandungan emasnya. Mereka tak bisa menyekolahkan anaknya dua-duanya. Kini Luciana dan Ilent yang perpaduan antara Dayak Benuaq dan Bahau tumbuh menjadi gadis manis dan ayu. Kedua gadis ini menjadi rebutan pemuda kampung dan para pekerja tambang emas di PT KEM. Walaupun demikian sulit sekali untuk menaklukan hati kadua gadis berparas ayu ini. Banyak pemuda yang patah hati dibuatnya. Ilent tak mau buru-buru menjatuhkan hatinya kepada seseorang dulu sebelum ia menyelesaikan kuliahnya yang sejak dulu menjadi cita-citanya.

Luciana mengalah untuk adiknya Ilent. Ia memilih untuk bekerja di PT KEM sebagai salah seorang pegawai di kantin umum setelah diajak oleh Mach salah seorang warga negara Australia. Pekerjaan itu ia terima untuk biaya adiknya sekolah. Karena lahan mata pencaharian orang tua mereka bertani dan mengerebok sudah hilang. Sementara Ilent tinggal bersama tantenya di Barong Tongkok karena ia bersekolah di SMU 1 kelas 3 . Ia sesekali pulang ke rumah ketika sabtu dan hari libur lainnya. Kedua adik kakak ini saling menyayangi dan satu sama lain saling mendukung.

Perusahaan tambang emas kerap mengundang warga dari sekitar Kelian untuk tampil dalam acara di kawasan PT KEM. Acara ini adalah 17-an untuk memperingati hari kemerdekaan. David dan Handoko yang juga petinggi di PT KEM mengangap penting untuk melibatkan komunitas lokal yang dulu pernah mereka usir dari tanahnya sendiri. Merekapun menyiapkan pertandingan dan pertunjukan tari-tarian dari masyarakat lokal. Mereka diundang ke PT KEM untuk menampilkan tari-tarian.

Kepala desa Murung Baru, Pak Mudin terlihat sibuk mencari penari-penari Dayak untuk tampil pada festival tersebut. Ia sendiri tidak mengerti siapa-siapa yang dulu pernah menari dalam upacara sewaktu di kampung lama Long Ha. Karena Pak Mudin tidak berasal dari kampung Long Ha. Pagi-pagi, di minggu akhir bulan Juli tahun 2001 Kepala desa itu berusaha menemui Ilent di rumahnya yang berada di ujung kampung sebelum ia berangkat ke rumah tantenya di Barong Tongkok. Ia berusaha membujuk Ilent agar mau manari pada peringatan kemerdekaan di PT KEM nanti.

“Kami berharap agar Ilent mau tampil dalam festival tari-tarian yang diadakan oleh PT KEM pada peringatan 17-an tahun ini. Ini bakal ramai soalnya tradisi Dayak, seperti manari, main sampeq dan sumpit serta tradisi lainnya telah diundang untuk turut meramaikan hari kemerdekaan kita,” bujuk Pak Mudin.

“ Iya pak, pasti menarik, cuma bukankah kita tahu bahwa tarian yang kita punyai ini khusus untuk acara bersih bumi dan untuk memperingati kematian. Apakah bisa tarian seperti itu tampil dalam acara-acara yang hanya untuk menyenangkan orang-orang PT KEM ?,” tanya Ilent.

Pak desa sesaat terdiam mendengar pertanyaan yang sulit itu, seolah mencari jawaban apa yang bagus agar Ilent tetap mau ikut dalam festival ini. “Ini hanya ditampilkan saja dalam rangka untuk memperingati kemerdekaan bangsa kita,” kata Pak Mudin. “Coba bayangkan pak !, kita juga akan semakin jauh dari makna peringatan itu, karena yang aku pahami justru mereka itu telah merampas kemerdekaan kita, pada waktu yang bersamaan justru kita menari dan menyanyi untuk mereka, bapak coba pertimbangkan lagi kembali lah ?”, Ujar Ilent.

Pak Mudin tidak ingin memperpanjang ceritanya dengan Ilent gadis Dayak yang pandai menari Dayak. Ia menilai pandangan Ilent itu terlalu jauh. Tak kehabisan akal, ia juga menemui ayahnya Ilent, Pak Jelamuk. Ia pun menjelaskan bagaimana festival itu akan berlangsung. Pak Jelamuk pun menyetujui untuk mengirim tim kesenian desanya ke Festival di PT KEM tersebut. Ilent juga tak bisa menolak permintaan ayahnya untuk ikut berpartisipasi dalam peringatan kemerdekaan yang rencananya akan berlangsung di kompleks perkantoran PT KEM. Setelah ia mencari, ia menemukan 9 orang penari Dayak yang akan ia tampilkan di depan petinggi PT KEM.

Suatu sore, di hari minggu Ilent dan kawan-kawan yang sudah dipercaya oleh warga untuk menampilkan tarian Ngrangkau di PT KEM. Tarian ini dalam tradisi Dayak Benuaq dimaksudkan untuk memperingati kematian. Ilent mengenal tarian ini dari ayahnya yang juga salah seorang tetuah Benuaq setempat. Pilihan tarian ini dipilih sendiri oleh Ilent seorang gadis yang masih setia dengan tradisi menari ayahnya. Begitu Ilent dan kawan-kawannya beraksi dengan tarian Ngerangkau yang diiringi oleh suara gong di atas panggung berukuran 5x6 m di lapangan PT KEM.

Para karyawan PT KEM yang ribuan jumlahnya itu bertepuk tangan sambil tertawa menyaksikan tarian Ngerangkau. Hanya David sang antropolog yang paham bahwa tarian itu adalah tarian kematian. Ia hanya diam seribu bahasa menyaksikan anak Perempuan Dayak itu menari. Tubuh dan Kaki Ilent mulai rancak mengikuti alur gong. Ribuan pasang mata tertuju kepada gadis yang bernama Ilent. Paras khas Dayak dipadu dengan gerakan tariannya memicu jiwa berdecak kagum. Handoko yang duduk di barisan depan juga terlihat bertepuk tangan dan mengamati tarian yang tak biasa ia saksikan ini.

Tapi berbeda dengan hati Ilent. Walau senyum menyembur darinya tetapi jiwanya tidak bisa memungkiri bahwa tarian ini adalah tarian kematian. Ia sadar dengan hal itu. Ia memilih tarian ini untuk menyatakan keprihatinan terhadap masa depan komunitas dan kehidupannya yang telah direngkuh oleh mereka yang membongkar dan mengusir orang-orang kampung.

Sepuluh menit mereka manari. Tarian berikutnya adalah tari massal dari Dayak Bahau yang rencananya juga akan ditarikan Ilent dan kawan-kawanya. Namun, entah kenapa tiba-tiba ilent tidak mau lagi menari. Meski banyak orang memintanya menari ia tak mau lagi. Ilent merasa bahwa orang-orang Australia dan Inggris yang menontonnya sedang menggiring karyawannya untuk memandang bahwa kita hanya pelayan dan bertugas sebagai bangsa penghibur mereka. Padahal, setiap hari tanpa disadari mereka membongkar tanah dan membawa emas keluar dari tanah mereka.

“Tidak-tidak, saya tidak mau menari lagi,” kata Ilent kepada kepala Desa. Pak desa Murung Baru berusaha membujuk Ilent agar ia kembali tampil menari, tapi usahanya tak berhasil. Ilent tetap tak mau melanjutkan tariannya. Akhirnya, mereka menampilkan tari massal dari suku Dayak Bahau tanpa Ilent.

Selama hampir seminggu festival olahraga dan seni berlangsung di kompleks PT KEM, berbagai tradisi seperti sumpit dan tarian dari berbagai sub suku Dayak seperti Kenyah, Bahau, Benuaq dan Tunjung, Penihin dan Siang Murung ditampilkan. Kebiasaan ini selalu berlangsung setiap bulan Agustus.

Satu bulan setelah festival tari di KEM upacara orang-orang Benuaq yang dikenal dengan kwangkai (memperingati kematian) dilaksanakan di desa Balui yang tidak jauh dari kampung Murung Baru. Orang-orang dari desa tempat Ilent akan bergabung dalam upacara itu karena di tempatnya sudah tidak layak lagi. Perangkat-perangkat seperti ukiran-ukiran blontang dan lou (rumah panjang) sebagai tempat upacara sudah tidak ada lagi.

Di salah satu Pagi pada bulan September, Ilent dan keluarganya turun dari kaki Kelian menuju Desa Balui untuk mengikuti upacara Kematian. Ilent yang masih sekolah harus pulang pergi dari rumah tantenya di Barong ke Balui sebab selama satu minggu Ilent harus menari Ngarangka yang ia persembahkan kepada kakeknya yang telah meninggal dan akan memberitahukan kepada roh leluhur bahwa mereka telah memindahkan kuburan yang telah digusur PT KEM.

Upacara kwangkai juga dihadiri oleh antropolog PT KEM seperti Handoko dan David. Sudah beberapa tahun ini David mempelajari dan mendalami upacara ini. Mereka tulis dan membukukannya. Buku tersebut kemudian diterbitkan oleh PT KEM. Upacara Kwangkai kali ini agak istimewa karena ada Ilent dan Luciana kakanya yang menjadi penari. Dua gadis yang menjadi buah bibir dikalangan perusahaan PT KEM. Handoko yang telah lama mencari kesempatan benar-benar menemukan momen yang selama ini ia dambakan untuk dekat dengan Ilent.

Pemeliant (pemimpin ritual) tak henti-hentinya menyuarakan mantra di tengah Lou sementara setiap selesai tarian ngerangkau Handoko selalu menyempatkan untuk dekat dan bertanya soal tarian yang Ilent lakukan. Handoko baru paham bahwa tarian ini terasa sakral. Tarian yang pernah ditampilkan di PT KEM hanyalah untuk tampilan yang tak dibarengi dengan mantra-mantra kematian. Dan Handoko juga baru tahu bahwa ngerangkau tujuannya untuk peringatan kematian, menyampaikan rasa haru dan rindu serta terimakasih kepada roh-roh leluhur.

Begitu Ilent selesai menari ngerangkau di malam kedua upacara Kwangkai, Handoko langsung mendekat dan mengajaknya untuk bercerita di beranda Lou.

“Ilent bagus menari, aku mulai bisa merasakan dan memahami apa itu ngerangkau, ” suara Handoko pelan bermaksud memuji tariannya Ilent.

“Apanya yang bagus mas, biasa saja. Saya selalu berusaha menari dengan sepenuh jiwa sebab ini persembahan untuk roh leluhur kami,”

”Diantara penari Ilent yang paling menarik dan aku senang melihatnya”

“Terima kasih mas,” kata Ilent berusaha meladeni perbincangan Handoko.

Setiap kali Handoko bercerita dan berbicara dengan Ilent selalu berusaha bertutur dengan baik. Meski ia paham benar dan ingat selalu pesan-pesan ibu tentang terusirnya mereka dari kampung lama kelahiran mereka di Long Ha dan selalu muncul dalam ingatannya bagaimana perlakuan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang PT KEM.

Dalam hati Ilent bertanya mengapa Handoko selau bertanya tentang tradisi dan tarian kepada tetuah adat dan kepada dirinya. Pada satu kesempatan ia menayakan langsung kepada Handoko.

“Kenapa mas mau mengikuti upacara ini?.”

“Ya saya senanglah melihat ilent menari dan mau belajar tentang upacara ini.”

“Hanya itu mas?” ujar Ilent yang masih penasaran tentang keikutsertaan petinggi PT KEM dalam upacara ini.

“Iya, iyalah Ilent,” ujar Handoko sedikit gugup yang hatinya tengah terbagi antara tugasnya sebagai antrpologi di PT KEM dan jiwanya yang selalu terpaut dengan Ilent.

Tak terasa upacara kwangkai akan berakhir, dan saatnya ritual penombakan kerbau sebagai puncak upacara ini. Hari itu, Sabtu, orang-orang dari berbagai kampung tumpah ruah di lapangan desa di Balui. Sebuah patung blontang setinggi 4 meter yang terbuat dari kayu ulin telah tertancap kuat di tengah lapangan. Patung ini sebagai pusat ritual di mana kerbau akan dipersembahkan kepada roh leluhur.

Tarian dan upacara ini telah mendekatkan antara Handoko sebagai petinggi di perusahaan tambang emas terbesar di dunia dengan Ilent sebagai anak yang diusir dari kampungnya. Handoko selalu berusaha menjelaskan kepada Ilent bahwa antara dirinya sebagai PT KEM dan sebagai pribadi mestinya dibedakan.

Selepas upacara Handoko kerap berkunjung ke rumah tante Ilent di Barong Tongkok. Sehingga keduanya merasa saling dekat dan kini Ilent tahu jelas bahwa Handoko menaruh hati kepadanya. Entah bagaimana ceritanya, Ilent sepertinya terpengaruh dengan gaya dan penjelasan dari Handoko dan ia mulai menyambut hati Handoko. Walau ia tahu benar kalau ibunya tidak akan pernah setuju dengan hubungan ini.

Handoko mulai menjelaskan kepada keluarga Ilent. Ayah Ilent sepertinya sepakat saja dengan hubungan itu, tetapi Ibunya tak setuju. Pertengkaran antara suami istri kini kerap terjadi.

“Pak apa sudah lupa kalau kita ini diusir, disiksa dilecehkan dan direndahkan?.”

“Ya itu kan bukan Handoko, dia kan baru datang?.”

“Ya terserah saja bapak, saya sampai kapanpun tidak akan setuju dengan hubungan mereka itu.” Ujar Yohana kesal.

Pertengkaran yang kerap melibatkan kedua orang tua mereka membuat Luciana kakak Ilent resah dan khwatir. Ia pun pergi ke Barong bermaksud mengajak adiknya pulang kerumah dulu. Ilent yang 3 bulan lagi akan menyelesaikan sekolahnya di SMU Sendawar dan tengah bersiap untuk melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas negeri di Samarinda.

Sabtu sore, di akhir tahun ketika ratusaan karyawan PT KEM keluar dari Kelian untuk berlibur di beberapa kota seperti Barong, Samarinda dan Balikpapan. Ilent dan kakanya justru berangkat dari Barong ke desa Murung baru mereka bermaksud ingin menjelaskan kepada orang tua mereka soal hubungan Handoko dan Ilent. Kabut pagi pelan-pelan datang menyapa desa Murung baru. Warga mulai berjalan menuju lahan-lahan yang tersisa. Keluarga Ilent masih bercerita di ruang dapur. Ibu Ilent mulai memperingati Ilent soal hubungannya dengan Handoko, dia mulai menceritakan bagaimana ia disiksa oleh orang-orang PT KEM. Ibunya merasa malu jika ternyata salah seorang petinggi PT KEM menjalin hungan sebagai kekasih dengan anaknya. Yohana adalah salah seorang yang dikenal menentang dan selalu menyuarakan bagaimana perlawanan terhadap PT KEM.

Suasana keluarga ini masih belum cair, muncul pula keinginan Handoko untuk melamar Ilent tepat sebulan setelah tamat dari SMU Sendawar. Sebelum Handoko benar-benar datang melamar, ia mengutus seseorang untuk bertemu ayah Ilent dan ayahnya pun merespon serta mempersilahkan keluarga Handoko untuk datang melamar anaknya. Pertanyaannya bagaimana dengan sikap Ibunya Ilent? Pak Jelamuk mengatakan bahwa ia akan berusaha menjelaskan kepada istrinya dan menurutnya paling-paling juga dia nanti setuju.

Berbekal persetujuan ayah Ilent, rombongan kecil keluarga Handoko dan beberapa petinggi PT KEM datang melamar setelah Ilent tamat dari sekolahnya. Rombongan itu diterima keluarga Pak Jelamuk di rumah mereka di desa Murung Baru. Ibu Ilent berusah melayani dengan baik. Ia sadar kalau keluarga Handoko datang dengan baik maka ia pun harus menyambutnya dengan ramah. Keluarga Handoko pun menjelaskan kedatangan mereka. Tak lupa mereka juga memperlihatkan cincin emas, sebagai cicin pertunangan mereka. Cincin yang juga hasil dari produksi PT KEM di Kelian.

Orang tua Ilent bergantian mengucapkan terima kasih kasih atas kedatangan dan niat baik dari Handoko serta meminta waktu untuk membicarakan hal ini apakah niat Handoko diterima atau tidak. Karena masih harus ada lagi rembuk keluarga. Dalam rapat keluarga Yohana Seting Menjelaskan mengapa ia menolak ini semua.

“ Cincin emas yang di bawa oleh mereka, kita harus kembalikan. Ini demi leluhur dan demi kehormatan kita. Kita harus menyampaikan kepada mereka bahwa sebelum mendapatkan emas mereka terlebih dahulu mengusir kita dari kampung, menggusur kuburan, menyiksa, mengikat di tiang bendera, membakar rumah dan pondok, pemerkosaan, bahkan membunuh. Semua itu terjadi di kampung kita ini. Bagaimana mungkin hati ini bisa menerima ini semua?”.

Pak jelamuk terdiam saja atas alasan istrinya. Namun, ia tetap pada pendiriannya untuk menikahkan anaknya dengan Handoko.

Sebulan setelah Handoko melamar Ilent, Justru pertengkaran semakin hebat terjadi dalam keluarga Pak Jelamuk. Ibu Ilent tetap bersikukuh untuk menolak Handoko. Bahkan mulai ada ucapan untuk bercerai jika suaminya menerima anak muda asal Jawa Tengah itu. Yohana tak main-main, ia meninggalkan desa Murung Baru ke Barong tempat saudaranya.

Belum lagi selesai persoalan ini, muncul masalah besar baru. Luciana, baru terkuak bahwa ia sedang hamil dua bulan. Ia diperkosa oleh Mack salah seorang ahli bendungan di PT KEM asal Autralia. Ibunya marah besar dan mulai mengamuk serta bermaksud mencari Mack di kantor PT KEM namun usahanya untuk sampai ke kantor itu di gagalkan di pos keamanan yang sangat ketat. Ia kemudian mencaci-maki orang-orang yang menjaga di pos.

Susana seperti ini, membuat Ilent mengikuti Ibunya dan menyatakan tidak akan berhubungan lagi dengan Handoko. Ia menolak kehendak ayahnya untuk menikah dengan Handoko. kedua orang tua Ilent bertengkar hebat, hingga di depan para tetuah adat mereka sepakat untuk mengakhiri perkawinan yang sudah berusia 22 tahun ini. Jelamuk benar-benar bercerai dengan istrinya.

Pasca perceraian suami istri ini, keluarga Jelamuk tercerai berai. Luciana masih harus sibuk menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya. Sementara ayahnya sekarang sakit-sakitan dan Ibunya, Yohana yang kini tinggal di Barong masih menaggung kesedihan yang dalam setelah keluarganya hancur berantakan. Luciana harus menanggung malu karena Mack tidak mau bertanggung jawab dan hanya mau mengganti rugi pada kasus pemerkoasaan ini. Di saat hatinya hancur karena tahu bahwa cintanya tak akan berlanjut ditambah dengan kenyataan pahit kehancuran keluarga, kehidupanya pun semakin menyedihkan saat mengetahui kondisi kakaknya. Ilent menghilang dan hingga saat ini tak ada satu pun yang tahu ia berada di mana.

Abdallah Naem
Gunung Kelua Samarinda, Gerhana di bulan Juni 2011

Ziarah di antara kepungan Tambang dan puing-puing sejarah di Kutai Lama

0 komentar


Hujan rintik-rintik ditemani senja sedang merayap meraih malam di saat saya memasuki pintu gerbang desa Kutai Lama Kecamatan Anggana Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Di dekat pintu gerbang desa itu ada papan plang yang bertuliskan "PT. Alfara Delta Persada, pertambangan batubara luas 2.089 Hektar". Mungkin pesan tulisan ini juga bermaksud agar berhati-hati memasuki kawasan pertambangan yang masih dalam wilayah desa Kutai Lama.

Menuju desa Kutai Lama melalui jalan darat dan melintasi Sambutan dari arah Kota Samarinda Ke Timur dapat ditempuh 50 menit kendaraan sepeda motor.

Saya menikmati perjalanan ke Kutai Lama kali ini. Betapa tidak, sebelum mencapai Anggana terhampar di sisi kiri kanan jalan, panorama sawah yang sedang menebar pesonanya, karena ia tumbuh subur setinggi dua jengkal orang dewasa. Apalagi barisan Dewi Sri itu diterpa angin sepoi sehingga ia bergoyang. Bagi orang yang memperhatikannya bisa dibuat tersenyum sambil menggit bibir dan mulai mengikuti alunannya.

Sebelum tiba perkampungan Kutai Lama saya sempatkan diri memandangi sejenak arsitektur klasik bergaya Belanda yang lapuk dan ditelantarkan begitu saja di dekat Kawasan Medco, perusahaan gas alam. Hati saya berdetak berkata, betapa kuat penetrasi kolonial yang masih berlanjut hingga hari ini. Walau bangunannya lapuk namun watak koloninya masih terus berjalan tanpa henti.

Betul saja dugaan saya. Selepas dari pintu gerbang desa, saya menyaksikan kawanan pengangkut batubara melintasi dan memotong jalan desa yang telanjang tak beraspal menuju tempat pengapalan. Perusahaan Alfara Delta Persada ibarat penyambut tamu bagi siapa saja yang berkunjung ke desa Kutai Lama. Tidak jauh dari lintasan perusahaan batubara pertama, berturut-turut ada kawanan perusahaan batubara yang ditandai dengan pos keamanan Perusahaan Sinar Kumala Naga (SKN) dan Kartanegara Perkasa sambil seorang dari satpam mengacung-acungkan bendera bewarna merah untuk mengatur di jalur lintas pengangkut batubara.

Sejarah Kutai yang multitafsir
Kutai Lama memainkan peran penting dalam sejarah, karena ia selalu disebut-sebut sebagai pusat awal kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara dengan raja pertama bergelar Batara Agung Dewa Sakti yang turun dari langit dengan permaisuri Puteri Karang Melenu yang konon datang dari buih Sungai Mahakam. Selain itu, Kutai Lama disebut-sebut sebagai perjumpaan awal kedatangan Islam yang dibawah oleh Tunggang Parangan dan Ribandang.

Saat ini, Kutai masih menjadi klaim tersendiri bagi masing-masing komunitas di dua kampung antara Muara Kaman (hulu mahakam) dan Kutai Lama (hilir Mahakam). Bagi Komunitas Muara Kaman, Kutai sesungguhnya diawali dari Muara Kaman. "Kutai Tenggarong itu sebenarnya adalah buatan Belanda," ujar Asminan salah seorang penduduk Muara Kaman yang rajin mengumpulkan peninggalan purbakala.

Hal yang sama juga saya temukan penguakuan sebagian masyarakat di Kutai Lama yang meyakini bahwa asal muasal ke-Kutai-an berawal dari Kutai Lama. "Kutai itu menurut orang tua kampung disini ya ini sudah (Kutai Lama) bukan Muara Kaman" kata pak Haji Azis sambil ia menjelaskan keberadaan makam raja Aji Mahkota dan raja Aji Dilangga. Riwayat asal mula nama Kutai ini juga datang dari Muis salah satu tetua kampung di Kutai Lama yang menyebut bahwa konon, suatu saat ketika hendak memberi nama kampung Kutai ini,seorang warga yang diberi tugas dengan mengelilingi kampung ditemani sebuah sumpit, tiba-tiba orang itu melihat tupai di atas pohon petai lalui menyumpitnya. Setelah tupai itu terjatuh ia kemudian berpantun "Tupai di pohon petai jatoh ke kumpai". Dari pantun itulah munculnama Kutai. Riwayat ini sebetulnya ingin menjelaskan bahwa awal ditemukannya nama Kutai ada di Kutai Lama.

Jika di Kutai Lama banyak disebut-sebutsebagai tempat awal kedatangan Islam yang ditandai dengan Makam Tunggang Parangan sebagai pembawa misi Islam (Islamisasi), maka di Muara Kaman juga terdapat sebuah Makam yang dikenal di masyarakat setempat sebagai Syekh Al-Magribi yang mereka yakini sebagai pembawa Islam pertama kali di KalimantanTimur. Sayangnya di Makam Syekh Al-Magribi, saya hanya bisa membaca tulisan Arab "Sallallahu alaihi wasallam" di nisan kayu setinggi 60 cm itu. Selebihnya, tulisan pahat itu terabaikan karena tulisannya mulai kabur termakan zaman.

Tetapi yang menarik adalah di desa Kutai Lama, ada perbincangan tentang tafsir masa silam. Sebagaian mereka memaknai bahwa masa silam yang banyak dibicarakan itu disayangkan karena bukti-bukti peninggalan sejarahnya tidak ditemukan. Bukti yang ada hanya makam Tunggang Parangan dengan dua raja yang berhasil di Islamkannya, raja Aji Mahkota dan raja Aji Dilangga yang di kunjungi oleh ribuan peziarah setiap bulannya."Sejarah disini tidak jelas karena bukti-bukti peninggalannya tidak ditemukan",kata Syahrul salah seorang penduduk Kutai Lama. Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa menurut tetua kampung Kutai Lama, apa yang disebut negeri Jahitan Layar yang disebut-sebut sebagai pusat kekuasaan, sama sekali tidak ada jejak peninggalan yang bisa membuktikan sebagai kerajaan. Konon kerajaan ini disembunyikan dengan maksud tertentu untuk menghindari serangan musuh. "Boleh juga area kerajaan ini tertimbun dan ditutupi oleh pasir karena bencana alam," lanjut Syahrul berusaha meyakinkan.

Untuk melihat lebih dekat bagaimana kondisi Jahitan Layar yang selalu disebut-sebut dalam sejarah mainstream itu, saya mengajak Syahrul ke lokasi yang diyakini sebagai Jahitan Layar. Ternyata wilayah itu adalah kawasan perbukitan pasir seluas 4 kali lapangan sepak bolayang sebagiannya gundul dan sebagian lainnya ditumbuhi pohon-pohon kecil setinggi 4-5 meter. Saat ini masyarakat setempat ada yang mencoba menanam karetdi areal tersebut. Di Jahitan Layar yang terletak 700 meter dari perkampungan Kutai Lama, saya hanya menemukan fosil kayu yang sudah membatu berdiameter 40cm dan panjang 8 meter. Sementara di depan bukit pasir itu terdapat tulisan di papan kecil seperti nama jalan. "Butuh pasir silahkan hubungi 0852..". Ya kawasan itu adalah tempat penambangan pasir yang biasa digunakan oleh penduduk desa.

Sejarah Gelap VS Sejarah Terang.
Sepulang dari bukit Jahitan Layar saya bertanya dalam hati. Apa sesungguhnya yang disebut sebagai "sejarah jelas"?. Apa itu tirai kegelapan?. Apakah sejarah selalu harus "jelas"?. Apakah salah jika sejarah itu kadang-kadang jelaskadang-kadang gelap?. Atau apakah tidak boleh andai kata saya menafsirkan dalam sejarah gelap ada terang dan dalam sejarah yang disebut sejarah terang ada gelap?.

Bagi Syahrul, jika ini pusat kerajaan maka mestinya ada yang membuktikannya. Begitu juga makam raja-raja sebelum raja Aji Mahkota yang tidak ditemukan rimbahnya. Pandangan lain juga datang dari Pikal salah seorang penduduk setempat yang menganggap bahwa masa silam KutaiLama tidak peduli apakah jelas atau tidak, itu juga terbukti dengan sikapnya yang acuh tak acuh dengan masa lalu di Kutai Lama. Meski demikian Pikal sendiri masih menjalani ritus ziarah makam kepara aulia yang mereka sebut makam keramat. Lain lagi dengan pandangan Iwan yang memadukan antara sejarah tulis dan sejarah yang turun-temurun (tutur). "Saya disamping membaca buku sejarah Kutai yang ditulis oleh para sejarawan,saya juga mempercayai dan mendengar cerita-cerita dari orang tua kampung disini," kata Iwan yang juga pemegan kunci Makam raja Aji Dilangga.

Boleh jadi pandangan Syahrul ini berkaitan dengan soal banyaknya penulis "sejarahKutai" yang menyebut-nyebut tentang masa gelap. Salah satunya Adib MA yang juga dosen STAIN Samarinda ini misalnyamenulis artikel sejarah Kutai di salah satu situs yang menganggap perlunya merekonstruksi sejarah Kutai karena adanya tabir kegelapan. Menurutnya analisis artefak belum dapat mengungkap tabir kegelapan itu. Sayang, Adib tidakmenyebut mengapa harus ada rekonstrusi? Untuk apa?. Apa keuntungan komunitasnya. Malahan ia hanya menyebut rekonstruksi untuk kepentingan melestarikan aspek sejarah dan budaya kesultanan Melayu di wilayah Nusantara. Saya khawatir rekonstruksi sejarah semacam itu hanya untuk diinvensidan dan dikomodifikasi untuk kepentingan kekuasaan. Terbukti ritus Erau yang belakangan terlaksana sudah dikomodifikasi yang konon tidak lagi "menguntungkan" pemeluknya.

Saya kira ada juga baiknya untuk merenungkan pendapat Edwar Said (1978) tentang cara kerja sejarah. Menurutnya cara melihat masa silam menentukan cara kita memperlakukan masa kini dan yang akan datang.Justru disinilah persoalannya, kita dapat menyaksikan dewasa ini bagaimana cara pemerintah dalam memperlakukan apa yang disebut "masa kini" yang selalu ingin membuat pariwisata budaya, dan sejarah dalam bentuk seperti Pulau Kumala yang dibanguni Lamin dan patung lembuswana ditambah dengan agenda lomba tari-tarian yang sama sekali sudah tidak lagi dibutuhkan oleh pemeluknya.

Bukankah perlakuan semacam itu karena"kekeliruan" dalam memandang "masa lalu". Bagi saya, sejarah bukanlah "barang baku" ia adalah teks masa silam yang senatiasa berubah-ubah. Tergantung bagaimana cara melihatnya. Melestarikan aspek sejarah dan budaya bisa terjebak pada romantisme masa silam yang hanya memandang masyarakatnya seperti museum. Padahal masyarakat punya tafsir sejarah yang dinamis dan berdialektika terus-menurus dengan zamannya. Masyarakat juga berubah-ubah termasuk dalam membaca masa silamnya.

Pada persoalan ini saya bukan mau mengatakan bahwa menyingkap tabir sejarah itu tidak penting. Tetapi mengkategorisasi sejarah gelap dan terang secara sederhana, itu yang tidak penting bagi saya. Menurut saya, kalau dianggap ada tabir kegelapan dalam sejarah Kutai maka mengapa tidak ditulis saja proses menjadi gelapnya sejarah Kutai itu?. Bahkan yang seringkali terabaikan dalam studi sejarah adalah bahwa kekuasaan senantiasa mengkonstruksi model sejarah yang akhirnya menjadi penyokong kekuasaan. Nah, disinilah persoalan kita saat ini mengenai "sejarahKutai". Karena ternyata sejarah Kutai masih didominasi sejarah kekuasaan dan penaklukan. sejarahyang tersimpan dalam ingatan orang-orang kecil selalu diabaikan bahkan dianggap bukan sejarah.Terlepas dari persoalan itu, saya mencoba menelusuri jejak yang tersimpan dalam kepala (ingatan) masyarakat Kutai Lama. Saya kemudian mulai melacak dari riwayat desa Kutai Lama.

Dalam pengetahuan Muis yang sekarang pemegang kunci makam raja Mahkota bahwa diyakini ada suatu masa setelah zaman para raja Kutai berkuasa di Jahitan Layar (Kutai Lama) pindah ke Jembayan dan Tenggarong, Kutai Lama ini sudah tidak lagi berpenghuni. Itu dibuktikan dengan pengakuan Muis bahwa yang membuka pertama hutan rimba di Kutai Lama ini ada 4 orang. Mereka berasal dari Sungai Meriam yang meminta izin kepada Sultan Kutai di Tenggarong untuk membuka lahan perkebunan di Kutai Lama yang dulu disebut Jahitan Layar atau Tepian Batu.

Berbekal izin dari Sultan Muhammad Parikesit, H. Japri, Arsa Jaya, Paman Tungku dan seorang lagi tidak diingatnamanya, mengelola Kutai Lama ini untuk kepentingan perkebunan dan pemukiman. Lambat laun setelah empat orang ini membuka lahan di Kutai Lama secara berangsur-angsur banyak masyarakat datang untuk bermukim di Kutai Lama yang saat ini dihuni oleh campuran Bugis dan Koetai. "Setelah ditinggal para raja,kampung ini berubah menjadi hutan. Makanya orang takut membuka kampung ini, selain pohonnya besar-besar juga tempat ini (Kutai Lama) dianggap keramat dan penuh misteri. Nah kakek sayalah yang memulai membuka kembali," kata Muis Yang juga penjaga makam Raja Aji Mahkota dan Raja Aji Dilangga.

Dalam amatan saya di beberapa sejarah tulis Kutai, ternyata dari dokumen-dokumen sejarah itu hanya membincang sejarah tahun (waktu sekuler) berikut aktor-aktornya.Saya tidak menemukan bagaimana setting sosial dan laku budaya lokal (perjumpaan kebudayaan) ketika raja membangun tahta kerajaan Kutai Kertanegara. Begitu pula sejarah di saat Tunggang Parangan datang untuk mengislamkan raja Mahkota yang hanya memuat adu kesaktian dua pembesar itu yang selalu dimenangkan olehTunggang Parangan.

Untuk sementara abaikan saja dulu perbincangan soal masa silam yang "kusut" itu . Yang pasti masyarakat Kutai Lama yang mayoritas bekerja di tambak muara Mahakam ini tengah menggelisahkan tentang mata air dibalik bukit Jahitan Layar. "Saya menghawatirkan mata air yang sudah menghidupi dan mengaliri sekitar 700-an rumah di Kutai Lama selama bertahun-tahun akan mati seperti di wilayah lain,gara-gara aktivitas pertambangan. Kalau terus-terus digali dan dikerumuni kampung ini oleh perusahaan batubara lama-lama bencana akan datang juga," tutur Syahril yang dibenarkanoleh Pikal yang juga generasi muda Kutai Lama.

Dalam kepungan Tambang
Kutai Lama di samping memendam sejarah masa silam yang penuh dengan pesona, ternyata juga tersimpan dalam perut buminya batubara dan gas alam yang menggiurkan bagi pemburu fosil yang tak terbarukan ini.

Tak heran jika kampung ini tengah dikepung oleh aktivitas pertambangan baik minyak maupun batubara. Misalnya disebelah Utara Barat dan Selatan ada perusahaan Tambang batubara PT.Kartanegara Perkasa, PT, Sinar Kumala Naga. Dan perusahaan sub kontraktor tambang seperti PT. Petrona, PT. Areda, Koperasi Pangkalan Jaya, PT,Borneo Raja Kutai dan PT, Subur Makmur. Sementara di sisi Barat dan Timur terdapat perusahaan Migas Medco Energi, Vico (Virginia Indonesia Company). Di tengah-tengah terdapat makam raja Kutai Yang pertama masuk Islam yang berdekatan dengan makam Pembawa Islam Pertama di Tanah Borneo Timur. Kutai Lama yang amat penting dalam sejarah Borneo kini mengalami krisis ekologi akibat ancaman aktivitas tambang.

Abdallah Naem
Awal Ramadhan 1431 H.
di tepi danau Maninjau

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum