• Blockquote

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Puisi Esai : Ziarah Tanpa Ujung

Senin, 07 Januari 2013 0 komentar


“Dulu air sungai ini jernih sekali,
dasar sungai dan ikan di dalamnya kelihatan dari sini.”.
Diarahkannya pandang ke batang sungai Berambai.
Amai Pesuhu[1] membabar kilas kisah hidupnya.

Batang kayu jembatan kian rapuh dimakan usia.
Berderit menyangga tubuh yang  makin  renta.
20 tahun sudah mengolah belukar ini.
Jalan dari Apokayan[2] hingga Berambai masih terus bergelombang.

Terbayang kala susah hidup disana.
Lamin mulai ditinggalkan karena pesan pembangunan.
Desa jadi sepi, harga-harga melambung tinggi.
Anak muda malu kalah gengsi.

Hanya besi bersayap yang singgah berkala.
Tiada jalan merayap di daratan.
Anak sungai mengular diantara rimbunan hutan.
Perlu berhari-hari hanya untuk sebongkah garam.

Dari Apokayan, semua berpencar.
Ada yang hingga Malaysia.
Ada tersinggah  Kutai Kartanegara.
Ada pula yang mencapai Samarinda.

Bukan hanya hitungan hari.
Bulan bahkan mencapai tahun.
Kaki terus melangkah.
Kanak dan tetua dibawa dalam pikulan.

Di beberapa tepian.
Kami bangun penyinggahan.
Berburu dan berladang sementara.
Menabung tenaga dan semangat untuk melangkah ke hilir sana.

Tak selalu mudah bertemu, hidup bersama orang lain.
Orang hutan itu sebutan kami.
Ada cerita dusta kalau kami berekor.
Gemar memuja roh-roh di pepohonan.

Mereka bilang kami kafir,
hanya karena tak menyebut-nyebut nama Tuhan.
Mereka bilang kami kafir,
hanya karena kami tak mempunyai kitab suci.[3]

Siapa bilang kami tak berjunjungan?.
Siapa bilang kami tak punya ajaran suci?.
Siapa bilang kami tak mempercayai dunia atas?.
Mengapa kami disebut animis primitif?[4].

Tiada benar kami memuja pohon.
Tiada benar kami percaya kekuatan batu.
Sejatinya hutan dan seisinya kami hormati.
Kami jaga selayaknya sebuah harga diri.

Hutan perlambang kehidupan.
Swalayan, supermarket penyedia segala kebutuhan.
Pohon tiada ditebang tanpa alasan kuat.
Ladang tak dipaksa terus menerus menghasilkan panen.

Bumi perlu sesekali istirahat.
Memulihkan duka dan luka.
Membiarkan apapun tumbuh diatasnya bebas.
Ladang berpindah[5], itu cara menghormati bumi.

Atas nama pembangunan.
Demi langkah mengejar kemajuan.
Modernisasi.
Mengejar ketertinggalan dari luar negeri.

Demi mengejar impian kemajuan.
Modernitas.
Sejahtera.
Keluar berpencar.

Mendekat kota.
Bukankah di kota semua kebutuhan lebih mudah didapat?.
Tapi sebenarnya kota tetap selalu jauh disana.
Di pinggiran dalam kami berlabuh.

Tetap kami masih dipandang udik.
Tetap kami disebut masyarakat terpencil.
Tanpa jalan aspal.
Tanpa angkutan umum.

Obyek dan bukan subyek.
Di agama kan.
Disatukan dalam sebuah pemukiman.
Dan hutan yang kami tinggalkan dibagi-bagi untuk pemegang HPH[6].

Bukan hanya tanah dan hutan yang hilang.
Kebudayaan fisik pun dihabisi.
Tatto dipandang sebagai budaya preman.
Telinga panjang diolok-olok sebagai sebuah keanehan.

Habis sudah harga diri.
Simbol dan artefak kebudayaan dirampas tangan penguasa.
Menghias gedung dan fasilitas kebanggaan kota.
Entah menjadi milik siapa?[7].

Kami adalah penanda tanah ini.
Identitas, jatidiri dan wajah nan tersurat.
Namun adab sesungguhnya telah mati.
Kami bahkan tak lagi memiliki diri kami sendiri.

Dari tanah terpencil , kemudian berdiam di tanah pinggir.
Memandang dari jauh hinggar binggar kota.
Pekik derita dan nestapa,
Tertelan dalam senyap kejauhan, makin pudar oleh deru pengeruk batubara.

Tahun 1990, rombongan 36 keluarga tiba.
Disambut belukar dan pokok-pokok tinggi.
Yang punya ngijin kami membuka belukarnya.
Ujar Amai Pesuhu mengingat kembali saat itu.

Hidup indah terbayang di mata.
Air berlimpah, tanah subur, sungai penuh dengan ikan.
Keberkahan terus tiba.
Tanah dan ladang diberi selembar tanda kepemilikan.

Dusun Berambai, menjadi bagian Bukit Pariaman.
Urusan semakin mudah.
Tak perlu bersampan dan berjalan kaki.
Demi selembar kertas bercap di Separi.

Pokok coklat tumbuh menantang langit.
Bunga mekar berbuah padat.
Panenan demi panenan.
Hidup kian tertata.

Tak ada angin tak ada hujan.
Buldozer membuka jalanan.
Lebar dan panjang perlambang keterbukaan.
Namun ternyata adalah petaka[8].

Tanah kami masuk konsesi tambang besar.
Amai menghela nafas panjang.
Hidup perlahan terancam.
Sungai kian coklat tanda pelumpuran.

Gemericik air dan lalu lalang ketinting,
Kicau dan kepak burung,
hilang terbuang.
Berganti deru pengangkut raksasa yang selalu bergegas.

Kebun kami terbelah.
Satu di sisi kanan.
Satu disisi kiri.
Debu di kala panas, limpas air lumpur di kala hujan.

Berpacu dengan waktu.
Kami ingin terus bertanam.
Perusahaan ingin segera menggali.
Kami harus bertahan.

Ke kebun kami ingin berladang.
Berarak membawa cangkul dan parang.
Mereka mengira kami hendak menghadang dan menghalang.
Se-peleton aparat bersenjata datang meradang.

Kami diam tak melawan.
Hanya sekedar mempertahankan tanah kami.
Kami ditangkapi.
Dikriminalisasi karena menghalang-halangi investasi.

Bermalam kami di balik jeruji[9].
Serasa mati berdiri.
Ancaman pasal demi pasal sungguh menakutkan.
Tak pernah kami berurusan dengan aparat yang tak ramah.

Sendiri.
Tak tahu pada siapa dan kemana mesti bersandar.
Banyak organisasi dan lembaga yang bervisi membela.
Hanya tiada yang datang menemani, mendampingi kami.

Aparat dan hukum jelas menakutkan.
Apalagi ditopang mesin investasi.
Uang dan kuasa mereka punya.
Penguasa membela dan berdiri di belakangnya.

Perusahaan kerap bernama,
Jaya, Sejahtera, Prima, Lestari juga Abadi.
Nama indah dan mulia,
Berpondasi nista, duka dan celaka bagi kami.

Otonomi dan reformasi hanyalah janji indah.
Kemandirian masyarakat lokal hanyalah candu.
Kami terpuruk di tanah sendiri.
Dalam iklim demokrasi berbaju reformasi.

Di mana keterbukaan?.
Kalau investasi datang dan ditentukan diam-diam?.
Bukan maling tapi perampok besar.
Menyingkirkan kami terang-terangan.

Dimana partisipasi.
Dimana kami bisa menentukan apa yang baik bagi kami.
Jika kemudian hanya karena selembar kertas,
mereka bisa seenaknya merusak dan merampas bumi kami.

Sudahlah kami yang tua ini.
Bagaimana dengan anak-anak dan cucu kami.
Lihatlah sekolah kosong, guru tak sudi lagi tinggal disini.
Rumah-rumah mulai dibiarkan, sebagian sudah berpindah.

Andai kami menyingkir dari sini.
Lagi..lagi kami akan kalah.
Berpindah dan terus berpindah.
Sampai kapan akan berakhir?.

Ini tanah kami, ladang kehidupan untuk masa depan.
Berlawan bukan tanda tak taat pada negara.
Ada hak kami tertulis diatas tanah ini.
Kalau bukan kami yang menjaga dan menghormatinya, lalu siapa lagi?.

Ditatapnya air sungai yang kian coklat.
Ikan hilang.
Perahu karam.
“Kulit gatal..tumbuh kudis kalau mandi disitu”, keluhnya dalam.

Sebenarnya hidup semakin sulit.
Jangankan menabung, makan hari ini saja belum tentu ada.
Dusun semakin muram.
Tiang-tiang lamin tak jadi dibangun berhias ilalang.

Sakit, sunyi, sendiri.
Biarlah duka ini tersimpan dalam di hati.
Tak ingin kami ribut,
apalagi mengamuk , bakar membakar, membabi buta.

Meski hati berontak.
Raga tersiksa.
Pikiran tak lagi tenang.
Tak sedikitpun makar terbersit.

Tak butuh lebih.
Cukup hargai, akui dan hormati hak kami.
Beri kami kepastian.
Bukan terombang-ambing dalam pusaran.

Amai duduk termenung.
Disenandungkan sebuah tembang.
Kita harus tetap bersatu,
meski berat beban yang harus dipikul.

Angkatlah ..angkat..biarpun berat.
Hanya inilah yang tersisa.
Jika ingin tetap bertahan dan menang.
Tak lagi mengayun kaki kelana.

Amai duduk termenung.
Riuh celoteh cucunya.
Memanjat-manjat pohon,
melompat ke batang air sungai.

Sebentar lagi mereka akan pergi.
Tak mungkin menuntut ilmu disini.
Meski sebenarnya tak tega,
membiarkan mereka pergi keluar sana.

Amai duduk tersenyum.
Cucunya datang membawai setangkai Ihai.
Buat manis yang masih tersisa.
Meski tinggal di pucuk tingginya.

Amai duduk tersenyum.
Cucunya masih bisa menari.
Bahkan ikut delegasi seni hingga luar negeri.
Walau budaya kini jadi komoditi.

Amai duduk tersenyum.
Masih terdengar bunyi lesung.
Alu berpadu.
Emping beris ketan penawar rindu.

Tinggal sedikit, selesailah kami.
Amai tak berniat tenggelam dalam keluh.
Tak bakal lagi ada yang bisa memahat.
Tak ada lagi yang menganyam Anjat.

Bocah-bocah itu lebih suka bermain gitar.
Ketimbang memetik Sampeg.
Bocah-bocah itu lebih suka bermain handphone.
Dari pada mengayun parang dan cangkul.

Bocah-bocah itu tak lagi tahu Balian.
Dedaunan bukan lagi obat.
Akar-akar tak lagi diseduh menambah semangat.
Pupur mengantikan lulur di wajah gadis-gadis.

Perubahan tak mesti harus ditolak.
Karena perubahan adalah keniscayaan.
Namun semua mesti dilandasi atas kesadaran.
Bukan dirampas dari genggam tangan.

Terlalu lama hidup kami ditentukan orang dan kekuasaan.
Amai tegas mengambil kesimpulan.
Dalam usianya yang kian senja.
Amai memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Kebun umat, itu masa depan kami.
Berkumpul, bersekutu untuk bahu membahu.
Mengerjakan ladang kehidupan.
Memutuskan untuk tak lagi menyingkir.

Nyanyian Amai semakin perlahan.
Bocah-bocah lelah dalam peraduan.
Gelap mulai menyergap.
Desing dan kepak nyamuk keras  berirama.

Dua puluh tahun telah lewat.
Berambai semakin kusam.
Amai berniat dalam tekad.
Ini adalah tanah terakhir, persinggahan paripurna.

Samarinda, 24 Juni 2012. Pondok Batu Lumpang
@yustinus_esha


[1] Amai Pesuhu (71 tahun), salah satu tetua kampung Berambai, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Tahun 1990 bersama 36 kepala keluarga lainnya datang ke Berambai setelah bermukim di berbagai tempat. Salah satunya adalah lokasi proyek respen (resetlement penduduk) di Data Bilang.
[2] Wilayah Apokayan masuk di Kabupaten Bulungan. Dalam laporan majalah Tempo (24 Mei 1984) dengan judul ‘Desa-Desa Makin Sepi’ diungkapkan tentang fenomena perpindahan, migrasi penduduk keluar dari Kayan secara bergelombang, keluar dari sana menuju Kutai Kartanegara, Samarinda bahkan hingga ke Malaysia.
[3] Van Linden, seorang Antropolog Belanda pernah mengatakan bahwa nasib orang Dayak adalah dijajah, bukan memerintah. Senada dengan itu Magenda (1991) melukiskan betapa orang Dayak selama berabad-abad mengalami marjinalisasi dalam skala yang massif baik oleh kekuatan politik kolonial, nasional dan lokal.Citra populer sebagai kelompok yang ‘terkebelakang, primitif dan liar’ semakin memperparah marjinalisasi yang mereka derita.
[4] Setelah peristiwa G 30 S/PKI, Suku Dayak menjadi obyek untuk diagamakan. Mereka harus memilih untuk menganut agama resmi yang diakui negara, entah itu Muslim atau Kristen. Sekelompok masyarakat Dayak di wilayah Kalimantan Tengah tetap berupaya menjadikan kepercayaan adat mereka menjadi agama, namun tak berhasil. Hingga kemudian mereka menyebut diri sebagai penganut Agama Hindu (Kaharingan) dengan Panuturan sebagai kitabnya.
[5] Perladangan berpindah adalah salah satu cara masyarakat Dayak dalam menjaga daya dukung tanah (natural resources management). Mereka berladang secara alamiah sehingga penting untuk menjaga kesuburan alami tanah. Dengan berpindah mereka melakukan jeda tanam atas ladang mereka untuk kembali memulihkan kesuburan alamiahnya. Namun perladangan ini menjadi tidak populer karena dianggap memicu kebakaran hutan. Sistem ini juga tidak cocok dengan sistem kepemilikan individual dan menyulitkan pemberian hak penguasaan hutan kepada investor.
[6] Di masa orde baru masyarakat Dayak yang hidup dalam lamin (rumah panjang-rumah komunal) di beri rumah-rumah individual dan warga dalam berbagai Lamin disatukan dalam satu wilayah administratif (re grouping desa), serta diberi ladang menetap (seperti transmigran). Proyek ini mengeluarkan mereka dari wilayah hutan yang secara tradisional mereka kuasai. Hutan yang ditinggalkan kemudia dibagi-bagikan kepada para pemegang HPH untuk mengolahnya menjadi industri kayu.
[7] Artefak atau simbol-simbol kebudayaan Dayak (ragam hias, lamin,blawing) secara mencolok bisa ditemui dalam berbagai gedung dan fasilitas umum di Kalimantan Timur. Seolah warna kebudayaan Dayak sangat menonjol. Namun sesungguhnya semua hanya dalam bentuk benda-benda mati. Kebijakan yang berpihak pada kebudayaan yang hidup sangat tidak komprehensif. Warga dan kebudayaan Dayak terus menjadi obyek pembangunan terutama wisata.
[8] Wilayah dusun Berambai dan ladang mereka terkepung oleh lahan konsensi perusahaan tambang PT. Mahakam Sumber Jaya. Untuk masuk dusun berambai harus melalui jalan hauling yang selain berdebu juga berbahaya karena lalu lalang dump truk pengangkut batubara. Dusun ini seperti dusun terpencil, tanpa akses jalan masuk, tidak dialiri aliran listrik dan tak ada angkutan umum ke sana. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara.
[9] Aksi damai warga dusun Berambai berakhir dengan penangkapan sebagaian warga. Mereka dikriminalisasi dan hingga kini beberapa diantaranya berstatus sebagai tersangka. Mesti tidak ditahan tetapi mereka dikenai wajib lapor. Dan ini sungguh memberatkan karena mereka harus rutin bolak-balik ke Tenggarong yang tentu saja memerlukan biaya besar untuk ongkos kendaraan.

Petaka cinta dan tarian kematian di Kelian

Jumat, 19 Agustus 2011 1 komentar


Daun-daun masih basah, karena tadi sore hujan baru usai menyirami kampung yang berada di tepi sungai Kelian. Kini malam berganti terang purnama. Bintang di langit juga terlihat berkilauan dalam sungai. Bahkan cahayanya bisa menerangi jari-jemari kayu yang menyentuh permukaan air sungai yang mengandung emas itu. Anak-anak kampung menggunakan malam purnama ini dengan bermain tradisional seperti begasing dan behempas. Sementara para pemuda bermain sampeq (gitar tradisional Dayak) dan berijoq (bernyanyi) mengiringi para gadis kampung yang sedang menumbuk gabah untuk dijadikan beras. Salah satu bait-bait syairnya dalam bahasa setempat, kira-kira bermakna seperti ini :

Purnama pandanglah kami
yang sedang bahagia bersama Kelian
dan gadis-gadis penyejuk jiwa.
Wahai Kelian, purnama
dan sampeq, sampaikanlah galau hati ini kepada gadis- gadis kami

Di kala malam beranjak larut, warga kembali beristirahat. Tak ada satu wargapun yang menyangka, kalau itu menjadi malam terakhir mereka berada di Kampung Long Ha. Lepas tengah malam di bulan April 1991, di saat warga terlelap tidur, segerombolan Brimob suruhan perusahaan tambang emas PT. Kelian Equatorial Mining (KEM) merengsek masuk ke perkampungan yang dihuni oleh mayoritas orang-orang Dayak Benuaq dan Bahau di Kecamatan Linggang Bigung (Sekarang Kecamatan Tering) Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur.

Para Polisi Negara itu, bukan sedang berperang melawan musuh Negara. Tetapi sedang bertugas menumpas warga yang masih bertahan di Kampung Long Ha. Dalam kepala para polisi bersenjata itu hanya satu, Long Ha harus kosong. Sebab tambang emas harus segera beroperasi mengeruk emas di kampung itu.

Warga yang tak berdosa ini dipaksa untuk keluar dari Long Ha yang penduduknya hidup berladang berkebung dan pengerebok (pendulang emas tradisional) dari kampung halaman mereka yang sudah sekian lama mereka bangun. Mereka dipaksa pindah karena kampung itu akan dijadikan pertambangan Emas oleh PT KEM milik perusahaan Rio Tinto yang bermarkas di London dengan menguasai areal 285.233 hektar dengan potensi 105,4 ton emas.

Warga yang sedang lelap itu terkaget-kaget mendengar kegaduhan yang tak biasa itu. Teriakan, suara keras memecah keheningan Long Ha. Puluhan Polisi memukul dinding rumah warga, sambil berteriak dengan suara keras seperti orang yang kesetanan “Segera keluar, segera pindah,” teriak mereka.

Beberapa bulan terakhir orang-orang PT KEM memang sedang merazia sepanjang sungai Kelian, khususnya lingkaran yang dekat dengan konsesi tambang mereka di Prampus yang menjadi tempat eksploitasinya. Ada 500 ratusan pondok pengerebok milik warga di sekitar kampung Long Ha dibakar dan dihanyutkan kesungai. Sembilan kampung disekitarnya dibumi hanguskan. Termasuk kampung Long Ha yang menjadi target terakhir untuk dihancurkan

Pak Jelamuk dengan istrinya Yohana Seting juga sangat ketakutan mendengar kagaduhan itu. Yohana dan suaminya masing-masing memeluk kedua anaknya yang masih berumur 7 dan 8 tahun itu untuk mengusir rasa ketakutan. Yohana bersama kedua anak gadisnya Luciana dan Ilent tampak sangat ketakutan di malam itu. Ia khawatir terjadi sesuatu pada kedua anaknya.

“Kenapa ma kita harus pindah, memangnya kita harus pindah kemana?,”tanya Ilent ketakutan.

“sst, jangan keras-keras yang penting kita selamat, Ilent selamat. Tidak usah bersuara nanti kita jadi sasaran para polisi itu,” jawab Yohana

Belum lama setelah perbincangan Yohana dengan anaknya, tiba-tiba suara gerombolan dari luar kedengaran lagi. “Masih saja di dalam. Segera keluar. Segera kumpul di luar, sebentar lagi kami akan bakar semua rumah dikampung ini,” teriak para polisi itu.

Yohana Seting, suami dan kedua anaknya terpaksa keluar dari rumah mereka lalu bergabung dengan ratusan warga yang lain yang sudah berada di lapangan kampung. Dengan suara terputus-putus sambil berjalan menuju lapangan Yohana tak kuasa menahan air matanya. Perempuan Dayak itu menangis ketakutan sambil mengendong anaknya ke lapangan desa yang tak jauh dari rumahnya. Hanya pakaian dan beberapa peralatan masak yang sempat ia bawa serta.

Di lapangan mereka dipaksa naik kendaraan truk dengan berdesak-desakan seperti memumpuk barang. Mereka harus berada di satu tempat yang sudah di siapkan oleh perusahaan untuk menampung orang-orang kampung yang sebelumnya berada di kawasan areal pertambangan emas. Kampung penampungan itu bernama Murung Baru. Tempat baru mereka itu berada tepat di kaki gunung Kelian. Rencana perkampungan itu belum dibangunin rumah ketika mereka tiba di Murung Baru. Mereka ditumpuk dalam sebuah camp penampungan mirip gedung SD yang dibangun seadanya. Mereka dipindahkan dan dijauhkan dari akses pinggir sungai Kelian. Mereka tidak lagi berhak beraktivitas dan mencari penghidupan di dekat areal konsesi pertambangan emas KEM karena semuanya sudah menjadi hak PT KEM.

Yohana dan suaminya beserta dengan kedua anaknya dan ratusan warga lainya tak kuasa melawan perlakuan sewenang-wenang aparat berseragam polisi dan bersenjata lengkap itu. Mereka yang melawan pasti mendapat perlakuan kasar. Puluhan warga di malam itu memar-memar akibat pukulan dan tonjokan laras panjang para suruhan PT KEM.

Salah satu yang mendapat perlakuan itu adalah suami Yohana Seting, Pak Jelamuk. Mukanya hancur dan berdarah akibat hantaman pukulan dari para Polisi itu karena ia melakukan perlawanan dan mengelaurkan kata-kata protes kepada mereka.

“Pak kenapa kami diperlakukan seperti binatang, kenapa kami diusir dari tanah kami, tanah kelahiran kami. Kami tidak mau pindah,” protes Jelamuk di malam itu. “Kamu siapa, kamu berani melawan,” kata orang suruhan PT KEM. Istri Jelamuk dan kedua anaknya tak henti-hentinya menagis meraung-raung meminta ayahnya dilepas agar tidak berpisah dari rombongan. Jelamuk tetap diboyong ke kantor Polisi setempat karena dianggap bisa menjadi pemicu warga lain untuk protes terhadap pembumihangusan kampung Long Ha. Warga ratusan jumlahnya itu diangkut dengan menggunakan truk. Tidak lama setelah mereka meninggalkan kampung ketika 5 iring-iringan truk berada di puncak gunung Kelian, terlihat dari jauh lidah api besar yang berusah mencapai langit. Kampung Long Ha diluluhlantakan. Rumah mereka telah dibakar malam itu juga.

Jelamuk hanya semalam diintrogasi dikantor polisi dan mendapat perlakuan serta kata-kata kasar. Ia disiksa dan dipaksa untuk tidak lagi melawan dan berniat untuk membangkitkan semangat orang-orang kampung untuk kembali ke kampung Long Ha. Esok paginya, Jelamuk diperbolehkan untuk bergabung dengan warga lainya yang sudah berada di Murung Baru.

Sebulan sudah Yohana dan keluarganya berada di penampungan. Tapi mereka harus melewati hidup semacam itu. Mereka diperlakukan seperti pengungsi saja. Jelamuk yang penasaran bagaimana kampung Long Ha saat ini. Ketika pagi-pagi buta, ia pun berangkat masuk melewati hutan Kelian sekitar 5 Km menembus masuk penjagaan dari pengamanan tambang. Tidak jauh dari kampung Long Ha dipinggiran Kelian, ia mengamati dari jauh memandangi Long Ha yang kini sudah mulai dibanguni sarana dan prasaran tambang emas. Hatinya teriris melihat kampung itu. Ia mengenang seluruh rangkain hidupnya yang berhubungan dengan kampung Long Ha.

“Kami ini sudah diusir dari tanah sendiri, kuburan itu pasti mereka gusur juga,” hati Jelamuk bergumam. Hatinya berkecamuk. Ingin melawan tapi sungguh lemah karena intimidasi kian keras kepadanya. Untuk menghilangkan pikiran yang camuh, ia pun segera turun ke sungai Kelian dan mulai mengerebok ( mendulang emas tradisional) yang ia paham betul amat berat resikonya.

Benar saja, tidak lama setelah ia turun ke pinggiran sungai mencari butiran-butiran emas yang sudah menjadi kebiasaan sejak lama orang-orang di Kelian, tiba-tiba tanpa ia duga segerombolan pengawas dari perusahaan PT KEM memorgokinya mendulang emas di tempat yang sudah dinyatakan terlarang.

“Ini lagi, ini lagi bapak ini,”bentak keamanan tambang itu. Jelamuk tak bisa berbuat apa-apa. Ia ditangkap lalu dipukuli dan boyong ke kantor PT KEM. Begitu sampai di kantor PT KEM ia tidak langsung dibawah masuk ruangan kantor, tetapi ia diikat di tiang bendera dengan pakaian yang nyaris telanjang. Hanya bercelana dalam.

Tiga hari sudah Jelamuk di tiang yang berbendera Rio Tinto itu. Yohana Seting dan anak-anaknya galau bukan kepalang. Mereka sibuk mencari tahu dimana kini Jelamuk suami dan ayah mereka berada. Entah dari mana, kabar Pak Jelamuk ditangkap bahkan disiksa dan diikat di tiang bendera di Kantor PT KEM sampai juga ke telinga mereka di tempat penampungan. Yohana Seting marah dan bergegas menuju kantor PT KEM. Perempuan yang bersuku Bahau itu berusaha menuju kantor PT KEM dimana suaminya diikat dan disiksa. Wajah putihnya merah karena murka dan dari jauh dia sudah melihat suaminya diikat. Ia berteriak sekeras-kerasnya “Segera lepas. Segera lepaskan suami saya. Kalau tidak saya akan membuat sesuatu pada kalian. Dasar penjajah, kalian yang pencuri, kenapa suami saya kalian perlakukan seperti ini?,” teriak Yohana Seting.

Jelamuk pun dibebaskan dengan syarat ia tak boleh lagi mendulang emas dan memasuki kawasan PT KEM tanpa izin.

Nasib Jelamuk tidaklah sendiri, beberapa warga juga mengalami perlakuan yang sama. Mereka yang melawan dan memasuki kawasan KEM akan disiksa dan ditangkap. Bahkan dua tahun terakhir 2 orang warga meninggal karena perlakuan kekerasan oleh perusahaan.

Situasi ketika PT KEM mulai melakukan eksploitasi perlakuan kekerasan terhadap warga Kelian dan sekitarnya sudah menjadi pemandangan yang biasa. Seiring dengan waktu, pelan-pelan perlawanana warga terhadap PT KEM beralih dari mempertahankan tanah dan perkampungan menjadi tuntutan ganti rugi.

Kelian semakin ramai dengan kesibukan pertambangan emas. Ribuan orang-orang baru baik dari dalam negeri Indonesia maupun dari luar terutama orang-orang dari Inggris dan Australia bekerja di tambang emas yang berada di garis khatulistiwa ini. PT KEM juga mempekerjakan dari berbagai tenaga ahli. Mulai dari tenaga teknisi seperti Geolog, ahli bendungan hingga ahli antropologi. Geolog bertugas untuk memastikan tempat-tempat cadangan emas berada dan bagaimana cara mengeksploitasinya. Sementara Antropolognya bertugas merontokkan potensi perlawanan warga terhadap perusahaan.

Sepuluh tahun sudah PT KEM mengeruk emas di Kutai Barat. Riak-riak perlawanan warga lebih banyak bicara seputar ganti rugi. David yang juga antropologi asal Austaralia yang sudah ada sejak PT KEM mulai beroperasi dan menulis buku tentang kebudayaan Dayak Benuaq berteman dengan Handoko yang juga alumni Universitas negeri di Kota Bandung Jurusan Antropologi. Handoko bergabung di perusahaan yang berpusat di London ini semenjak lulus kuliah tiga tahun yang lalu. Ia dan David yang juga antropologi dari salah satu Universitas di kota Sydney, merancang relasi dan kegiatan kegiatan kesenian dalam melibatkan warga di sekitar Kelian.

Tak heran mereka juga yang memikirkan pentingnya simbol-simbol kebudayan Dayak juga hadir dalam ruang penting di PT.KEM. Misalnya ratusan blontang (patung) ukiran Dayak lalu dipasang di berbagai sudut pada setiap jalan dan di depan gedung-gedung milik PT KEM. Maksudnya agar warga tahu dan merasa memiliki dan dekat dengan PT KEM . Termasuk mempersiapkan dan mengundang warga di sekitar Kelian untuk ikut dalam setiap acara-acara di PT KEM dengan pertunjukan kesenian seperti tari tarian Dayak.

Sementara itu perkampungan Murung Baru juga hingar-bingar dengan suasana tambang emas ini. Ratusan pekerja tambang emas juga bergabung bersama warga yang dulu berasal dari Long Ha. Jelamuk dan Yohana Seting masih hidup dari aktivitas berladang dan mendulang emas. Walaupun terasa sangat berkurang penghasilannya karena sudah jauh dari Long Ha pinggiran Kelian yang terkenal banyak kandungan emasnya. Mereka tak bisa menyekolahkan anaknya dua-duanya. Kini Luciana dan Ilent yang perpaduan antara Dayak Benuaq dan Bahau tumbuh menjadi gadis manis dan ayu. Kedua gadis ini menjadi rebutan pemuda kampung dan para pekerja tambang emas di PT KEM. Walaupun demikian sulit sekali untuk menaklukan hati kadua gadis berparas ayu ini. Banyak pemuda yang patah hati dibuatnya. Ilent tak mau buru-buru menjatuhkan hatinya kepada seseorang dulu sebelum ia menyelesaikan kuliahnya yang sejak dulu menjadi cita-citanya.

Luciana mengalah untuk adiknya Ilent. Ia memilih untuk bekerja di PT KEM sebagai salah seorang pegawai di kantin umum setelah diajak oleh Mach salah seorang warga negara Australia. Pekerjaan itu ia terima untuk biaya adiknya sekolah. Karena lahan mata pencaharian orang tua mereka bertani dan mengerebok sudah hilang. Sementara Ilent tinggal bersama tantenya di Barong Tongkok karena ia bersekolah di SMU 1 kelas 3 . Ia sesekali pulang ke rumah ketika sabtu dan hari libur lainnya. Kedua adik kakak ini saling menyayangi dan satu sama lain saling mendukung.

Perusahaan tambang emas kerap mengundang warga dari sekitar Kelian untuk tampil dalam acara di kawasan PT KEM. Acara ini adalah 17-an untuk memperingati hari kemerdekaan. David dan Handoko yang juga petinggi di PT KEM mengangap penting untuk melibatkan komunitas lokal yang dulu pernah mereka usir dari tanahnya sendiri. Merekapun menyiapkan pertandingan dan pertunjukan tari-tarian dari masyarakat lokal. Mereka diundang ke PT KEM untuk menampilkan tari-tarian.

Kepala desa Murung Baru, Pak Mudin terlihat sibuk mencari penari-penari Dayak untuk tampil pada festival tersebut. Ia sendiri tidak mengerti siapa-siapa yang dulu pernah menari dalam upacara sewaktu di kampung lama Long Ha. Karena Pak Mudin tidak berasal dari kampung Long Ha. Pagi-pagi, di minggu akhir bulan Juli tahun 2001 Kepala desa itu berusaha menemui Ilent di rumahnya yang berada di ujung kampung sebelum ia berangkat ke rumah tantenya di Barong Tongkok. Ia berusaha membujuk Ilent agar mau manari pada peringatan kemerdekaan di PT KEM nanti.

“Kami berharap agar Ilent mau tampil dalam festival tari-tarian yang diadakan oleh PT KEM pada peringatan 17-an tahun ini. Ini bakal ramai soalnya tradisi Dayak, seperti manari, main sampeq dan sumpit serta tradisi lainnya telah diundang untuk turut meramaikan hari kemerdekaan kita,” bujuk Pak Mudin.

“ Iya pak, pasti menarik, cuma bukankah kita tahu bahwa tarian yang kita punyai ini khusus untuk acara bersih bumi dan untuk memperingati kematian. Apakah bisa tarian seperti itu tampil dalam acara-acara yang hanya untuk menyenangkan orang-orang PT KEM ?,” tanya Ilent.

Pak desa sesaat terdiam mendengar pertanyaan yang sulit itu, seolah mencari jawaban apa yang bagus agar Ilent tetap mau ikut dalam festival ini. “Ini hanya ditampilkan saja dalam rangka untuk memperingati kemerdekaan bangsa kita,” kata Pak Mudin. “Coba bayangkan pak !, kita juga akan semakin jauh dari makna peringatan itu, karena yang aku pahami justru mereka itu telah merampas kemerdekaan kita, pada waktu yang bersamaan justru kita menari dan menyanyi untuk mereka, bapak coba pertimbangkan lagi kembali lah ?”, Ujar Ilent.

Pak Mudin tidak ingin memperpanjang ceritanya dengan Ilent gadis Dayak yang pandai menari Dayak. Ia menilai pandangan Ilent itu terlalu jauh. Tak kehabisan akal, ia juga menemui ayahnya Ilent, Pak Jelamuk. Ia pun menjelaskan bagaimana festival itu akan berlangsung. Pak Jelamuk pun menyetujui untuk mengirim tim kesenian desanya ke Festival di PT KEM tersebut. Ilent juga tak bisa menolak permintaan ayahnya untuk ikut berpartisipasi dalam peringatan kemerdekaan yang rencananya akan berlangsung di kompleks perkantoran PT KEM. Setelah ia mencari, ia menemukan 9 orang penari Dayak yang akan ia tampilkan di depan petinggi PT KEM.

Suatu sore, di hari minggu Ilent dan kawan-kawan yang sudah dipercaya oleh warga untuk menampilkan tarian Ngrangkau di PT KEM. Tarian ini dalam tradisi Dayak Benuaq dimaksudkan untuk memperingati kematian. Ilent mengenal tarian ini dari ayahnya yang juga salah seorang tetuah Benuaq setempat. Pilihan tarian ini dipilih sendiri oleh Ilent seorang gadis yang masih setia dengan tradisi menari ayahnya. Begitu Ilent dan kawan-kawannya beraksi dengan tarian Ngerangkau yang diiringi oleh suara gong di atas panggung berukuran 5x6 m di lapangan PT KEM.

Para karyawan PT KEM yang ribuan jumlahnya itu bertepuk tangan sambil tertawa menyaksikan tarian Ngerangkau. Hanya David sang antropolog yang paham bahwa tarian itu adalah tarian kematian. Ia hanya diam seribu bahasa menyaksikan anak Perempuan Dayak itu menari. Tubuh dan Kaki Ilent mulai rancak mengikuti alur gong. Ribuan pasang mata tertuju kepada gadis yang bernama Ilent. Paras khas Dayak dipadu dengan gerakan tariannya memicu jiwa berdecak kagum. Handoko yang duduk di barisan depan juga terlihat bertepuk tangan dan mengamati tarian yang tak biasa ia saksikan ini.

Tapi berbeda dengan hati Ilent. Walau senyum menyembur darinya tetapi jiwanya tidak bisa memungkiri bahwa tarian ini adalah tarian kematian. Ia sadar dengan hal itu. Ia memilih tarian ini untuk menyatakan keprihatinan terhadap masa depan komunitas dan kehidupannya yang telah direngkuh oleh mereka yang membongkar dan mengusir orang-orang kampung.

Sepuluh menit mereka manari. Tarian berikutnya adalah tari massal dari Dayak Bahau yang rencananya juga akan ditarikan Ilent dan kawan-kawanya. Namun, entah kenapa tiba-tiba ilent tidak mau lagi menari. Meski banyak orang memintanya menari ia tak mau lagi. Ilent merasa bahwa orang-orang Australia dan Inggris yang menontonnya sedang menggiring karyawannya untuk memandang bahwa kita hanya pelayan dan bertugas sebagai bangsa penghibur mereka. Padahal, setiap hari tanpa disadari mereka membongkar tanah dan membawa emas keluar dari tanah mereka.

“Tidak-tidak, saya tidak mau menari lagi,” kata Ilent kepada kepala Desa. Pak desa Murung Baru berusaha membujuk Ilent agar ia kembali tampil menari, tapi usahanya tak berhasil. Ilent tetap tak mau melanjutkan tariannya. Akhirnya, mereka menampilkan tari massal dari suku Dayak Bahau tanpa Ilent.

Selama hampir seminggu festival olahraga dan seni berlangsung di kompleks PT KEM, berbagai tradisi seperti sumpit dan tarian dari berbagai sub suku Dayak seperti Kenyah, Bahau, Benuaq dan Tunjung, Penihin dan Siang Murung ditampilkan. Kebiasaan ini selalu berlangsung setiap bulan Agustus.

Satu bulan setelah festival tari di KEM upacara orang-orang Benuaq yang dikenal dengan kwangkai (memperingati kematian) dilaksanakan di desa Balui yang tidak jauh dari kampung Murung Baru. Orang-orang dari desa tempat Ilent akan bergabung dalam upacara itu karena di tempatnya sudah tidak layak lagi. Perangkat-perangkat seperti ukiran-ukiran blontang dan lou (rumah panjang) sebagai tempat upacara sudah tidak ada lagi.

Di salah satu Pagi pada bulan September, Ilent dan keluarganya turun dari kaki Kelian menuju Desa Balui untuk mengikuti upacara Kematian. Ilent yang masih sekolah harus pulang pergi dari rumah tantenya di Barong ke Balui sebab selama satu minggu Ilent harus menari Ngarangka yang ia persembahkan kepada kakeknya yang telah meninggal dan akan memberitahukan kepada roh leluhur bahwa mereka telah memindahkan kuburan yang telah digusur PT KEM.

Upacara kwangkai juga dihadiri oleh antropolog PT KEM seperti Handoko dan David. Sudah beberapa tahun ini David mempelajari dan mendalami upacara ini. Mereka tulis dan membukukannya. Buku tersebut kemudian diterbitkan oleh PT KEM. Upacara Kwangkai kali ini agak istimewa karena ada Ilent dan Luciana kakanya yang menjadi penari. Dua gadis yang menjadi buah bibir dikalangan perusahaan PT KEM. Handoko yang telah lama mencari kesempatan benar-benar menemukan momen yang selama ini ia dambakan untuk dekat dengan Ilent.

Pemeliant (pemimpin ritual) tak henti-hentinya menyuarakan mantra di tengah Lou sementara setiap selesai tarian ngerangkau Handoko selalu menyempatkan untuk dekat dan bertanya soal tarian yang Ilent lakukan. Handoko baru paham bahwa tarian ini terasa sakral. Tarian yang pernah ditampilkan di PT KEM hanyalah untuk tampilan yang tak dibarengi dengan mantra-mantra kematian. Dan Handoko juga baru tahu bahwa ngerangkau tujuannya untuk peringatan kematian, menyampaikan rasa haru dan rindu serta terimakasih kepada roh-roh leluhur.

Begitu Ilent selesai menari ngerangkau di malam kedua upacara Kwangkai, Handoko langsung mendekat dan mengajaknya untuk bercerita di beranda Lou.

“Ilent bagus menari, aku mulai bisa merasakan dan memahami apa itu ngerangkau, ” suara Handoko pelan bermaksud memuji tariannya Ilent.

“Apanya yang bagus mas, biasa saja. Saya selalu berusaha menari dengan sepenuh jiwa sebab ini persembahan untuk roh leluhur kami,”

”Diantara penari Ilent yang paling menarik dan aku senang melihatnya”

“Terima kasih mas,” kata Ilent berusaha meladeni perbincangan Handoko.

Setiap kali Handoko bercerita dan berbicara dengan Ilent selalu berusaha bertutur dengan baik. Meski ia paham benar dan ingat selalu pesan-pesan ibu tentang terusirnya mereka dari kampung lama kelahiran mereka di Long Ha dan selalu muncul dalam ingatannya bagaimana perlakuan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang PT KEM.

Dalam hati Ilent bertanya mengapa Handoko selau bertanya tentang tradisi dan tarian kepada tetuah adat dan kepada dirinya. Pada satu kesempatan ia menayakan langsung kepada Handoko.

“Kenapa mas mau mengikuti upacara ini?.”

“Ya saya senanglah melihat ilent menari dan mau belajar tentang upacara ini.”

“Hanya itu mas?” ujar Ilent yang masih penasaran tentang keikutsertaan petinggi PT KEM dalam upacara ini.

“Iya, iyalah Ilent,” ujar Handoko sedikit gugup yang hatinya tengah terbagi antara tugasnya sebagai antrpologi di PT KEM dan jiwanya yang selalu terpaut dengan Ilent.

Tak terasa upacara kwangkai akan berakhir, dan saatnya ritual penombakan kerbau sebagai puncak upacara ini. Hari itu, Sabtu, orang-orang dari berbagai kampung tumpah ruah di lapangan desa di Balui. Sebuah patung blontang setinggi 4 meter yang terbuat dari kayu ulin telah tertancap kuat di tengah lapangan. Patung ini sebagai pusat ritual di mana kerbau akan dipersembahkan kepada roh leluhur.

Tarian dan upacara ini telah mendekatkan antara Handoko sebagai petinggi di perusahaan tambang emas terbesar di dunia dengan Ilent sebagai anak yang diusir dari kampungnya. Handoko selalu berusaha menjelaskan kepada Ilent bahwa antara dirinya sebagai PT KEM dan sebagai pribadi mestinya dibedakan.

Selepas upacara Handoko kerap berkunjung ke rumah tante Ilent di Barong Tongkok. Sehingga keduanya merasa saling dekat dan kini Ilent tahu jelas bahwa Handoko menaruh hati kepadanya. Entah bagaimana ceritanya, Ilent sepertinya terpengaruh dengan gaya dan penjelasan dari Handoko dan ia mulai menyambut hati Handoko. Walau ia tahu benar kalau ibunya tidak akan pernah setuju dengan hubungan ini.

Handoko mulai menjelaskan kepada keluarga Ilent. Ayah Ilent sepertinya sepakat saja dengan hubungan itu, tetapi Ibunya tak setuju. Pertengkaran antara suami istri kini kerap terjadi.

“Pak apa sudah lupa kalau kita ini diusir, disiksa dilecehkan dan direndahkan?.”

“Ya itu kan bukan Handoko, dia kan baru datang?.”

“Ya terserah saja bapak, saya sampai kapanpun tidak akan setuju dengan hubungan mereka itu.” Ujar Yohana kesal.

Pertengkaran yang kerap melibatkan kedua orang tua mereka membuat Luciana kakak Ilent resah dan khwatir. Ia pun pergi ke Barong bermaksud mengajak adiknya pulang kerumah dulu. Ilent yang 3 bulan lagi akan menyelesaikan sekolahnya di SMU Sendawar dan tengah bersiap untuk melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas negeri di Samarinda.

Sabtu sore, di akhir tahun ketika ratusaan karyawan PT KEM keluar dari Kelian untuk berlibur di beberapa kota seperti Barong, Samarinda dan Balikpapan. Ilent dan kakanya justru berangkat dari Barong ke desa Murung baru mereka bermaksud ingin menjelaskan kepada orang tua mereka soal hubungan Handoko dan Ilent. Kabut pagi pelan-pelan datang menyapa desa Murung baru. Warga mulai berjalan menuju lahan-lahan yang tersisa. Keluarga Ilent masih bercerita di ruang dapur. Ibu Ilent mulai memperingati Ilent soal hubungannya dengan Handoko, dia mulai menceritakan bagaimana ia disiksa oleh orang-orang PT KEM. Ibunya merasa malu jika ternyata salah seorang petinggi PT KEM menjalin hungan sebagai kekasih dengan anaknya. Yohana adalah salah seorang yang dikenal menentang dan selalu menyuarakan bagaimana perlawanan terhadap PT KEM.

Suasana keluarga ini masih belum cair, muncul pula keinginan Handoko untuk melamar Ilent tepat sebulan setelah tamat dari SMU Sendawar. Sebelum Handoko benar-benar datang melamar, ia mengutus seseorang untuk bertemu ayah Ilent dan ayahnya pun merespon serta mempersilahkan keluarga Handoko untuk datang melamar anaknya. Pertanyaannya bagaimana dengan sikap Ibunya Ilent? Pak Jelamuk mengatakan bahwa ia akan berusaha menjelaskan kepada istrinya dan menurutnya paling-paling juga dia nanti setuju.

Berbekal persetujuan ayah Ilent, rombongan kecil keluarga Handoko dan beberapa petinggi PT KEM datang melamar setelah Ilent tamat dari sekolahnya. Rombongan itu diterima keluarga Pak Jelamuk di rumah mereka di desa Murung Baru. Ibu Ilent berusah melayani dengan baik. Ia sadar kalau keluarga Handoko datang dengan baik maka ia pun harus menyambutnya dengan ramah. Keluarga Handoko pun menjelaskan kedatangan mereka. Tak lupa mereka juga memperlihatkan cincin emas, sebagai cicin pertunangan mereka. Cincin yang juga hasil dari produksi PT KEM di Kelian.

Orang tua Ilent bergantian mengucapkan terima kasih kasih atas kedatangan dan niat baik dari Handoko serta meminta waktu untuk membicarakan hal ini apakah niat Handoko diterima atau tidak. Karena masih harus ada lagi rembuk keluarga. Dalam rapat keluarga Yohana Seting Menjelaskan mengapa ia menolak ini semua.

“ Cincin emas yang di bawa oleh mereka, kita harus kembalikan. Ini demi leluhur dan demi kehormatan kita. Kita harus menyampaikan kepada mereka bahwa sebelum mendapatkan emas mereka terlebih dahulu mengusir kita dari kampung, menggusur kuburan, menyiksa, mengikat di tiang bendera, membakar rumah dan pondok, pemerkosaan, bahkan membunuh. Semua itu terjadi di kampung kita ini. Bagaimana mungkin hati ini bisa menerima ini semua?”.

Pak jelamuk terdiam saja atas alasan istrinya. Namun, ia tetap pada pendiriannya untuk menikahkan anaknya dengan Handoko.

Sebulan setelah Handoko melamar Ilent, Justru pertengkaran semakin hebat terjadi dalam keluarga Pak Jelamuk. Ibu Ilent tetap bersikukuh untuk menolak Handoko. Bahkan mulai ada ucapan untuk bercerai jika suaminya menerima anak muda asal Jawa Tengah itu. Yohana tak main-main, ia meninggalkan desa Murung Baru ke Barong tempat saudaranya.

Belum lagi selesai persoalan ini, muncul masalah besar baru. Luciana, baru terkuak bahwa ia sedang hamil dua bulan. Ia diperkosa oleh Mack salah seorang ahli bendungan di PT KEM asal Autralia. Ibunya marah besar dan mulai mengamuk serta bermaksud mencari Mack di kantor PT KEM namun usahanya untuk sampai ke kantor itu di gagalkan di pos keamanan yang sangat ketat. Ia kemudian mencaci-maki orang-orang yang menjaga di pos.

Susana seperti ini, membuat Ilent mengikuti Ibunya dan menyatakan tidak akan berhubungan lagi dengan Handoko. Ia menolak kehendak ayahnya untuk menikah dengan Handoko. kedua orang tua Ilent bertengkar hebat, hingga di depan para tetuah adat mereka sepakat untuk mengakhiri perkawinan yang sudah berusia 22 tahun ini. Jelamuk benar-benar bercerai dengan istrinya.

Pasca perceraian suami istri ini, keluarga Jelamuk tercerai berai. Luciana masih harus sibuk menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya. Sementara ayahnya sekarang sakit-sakitan dan Ibunya, Yohana yang kini tinggal di Barong masih menaggung kesedihan yang dalam setelah keluarganya hancur berantakan. Luciana harus menanggung malu karena Mack tidak mau bertanggung jawab dan hanya mau mengganti rugi pada kasus pemerkoasaan ini. Di saat hatinya hancur karena tahu bahwa cintanya tak akan berlanjut ditambah dengan kenyataan pahit kehancuran keluarga, kehidupanya pun semakin menyedihkan saat mengetahui kondisi kakaknya. Ilent menghilang dan hingga saat ini tak ada satu pun yang tahu ia berada di mana.

Abdallah Naem
Gunung Kelua Samarinda, Gerhana di bulan Juni 2011

FEATURE : Memberi Roh Pada Berita

Rabu, 27 Juli 2011 0 komentar

Musuh dari koran yang mendasarkan oplah pada penjualan eceran adalah hujan seharian. Jika hujan terus menerus menguyur bisa dipastikan para loper enggan berhujan-hujanan untuk menjajakan koran. Koran yang tak terjual itu hanya akan jadi bungkus kacang goreng atau bumbu dapur di lapak-lapak pedagang pasar. Ya, umur berita di koran hanya 24 hari, setelah itu tak berguna lagi kecuali untuk para tukang kliping berita dan analis media. Saluran media yang begitu beragam dan sebagian mampu menghadirkan berita siaran langsung dan ditempat (real time and on the spot news) membuat persaingan pemberitaan menjadi begitu ketat.

Tebaran berita dimana-mana, sepotong-sepotong dan terkadang dihadirkan tanpa konteks atau background membuat konsumen media menjadi kurang terpuaskan. Ada kebutuhan untuk membaca berita yang lebih dalam (in depth) dan punya sentuhan kemanusiaan. Media bisa dikutuk sebagai pemicu kekerasan apabila terus menyajikan berita kerusuhan atau konflik antar komunitas tanpa konteks. Demikian juga bisa dianggap melanggengkan pelecehan seksual atau ketidakhormatan pada perempuan apabila memberitakan sekadar peristiwa kekerasan seksual belaka. Maka agar sebagian berita menjadi awet dan untuk memenangkan persaingan merebut konsumen, beberapa media mulai menambah berita-berita feature.

Batasan Feature
Feature adalah tulisan berita yang memanfaatkan materi straight/spot news dengan memberikan unsur atau sentuhan manusiawi dibalik peristiwa yang terjadi. Interpretasi diberikan kepada sebuah peristiwa dengan menempatkannya pada konteks atau perspektif tertentu. Dengan demikian feature merupakan artikel berita yang kreatif dan bersifat subyektif dengan memberi sentuhan emosional dengan menggunakan materi yang menarik meski tidak selalu penting. Selain menghibur, feature juga dimaksudkan untuk memberi informasi tentang sebuah kejadian, keadaan atau situasi yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia.

Berbeda dengan penulisan berita pada umumnya, butuh kreatifitas dari penulis untuk menghasilkan sebuah feature. Kreatifitas penulis terwujud dalam “menciptakan” cerita dari sebuah berita. Meski demikian kreatifitas penulis tetap terbatas dalam kerangka fakta, bahan yang ditulis bukanlah “cerita khayalan atau berita fiktif”.

Subyektifitas penulis feature dalam tulisannya tercermin dalam pola atau gaya penceritaan. Penulis menuturkan cerita berdasarkan emosi dan pikirannya sendiri. Tetapi tidak selalu subyektifitas dituturkan dalam bentuk “aku”, sebab hal ini bisa memancing penulis untuk menonjolkan dirinya sendiri dalam tulisan. Ada pedoman yang umumnya ditaati, jika kita bukan merupakan tokoh utama, jangan sebut atau tonjolkan diri dalam tulisan itu.

Informasi Yang Menghibur
Ada banyak kejadian yang dianggap tidak mempunyai nilai berita jika dilihat sepintas lalu. Hal yang nampaknya biasa saja karena kita sering temui dimana-mana. Anak penjual koran perempatan, pengemis di jalanan, orang gila yang berkeliaran, museum yang sepi pengunjung atau taman hiburan/kebun raya yang tak terawat.

Kejadian-kejadian yang biasa seperti diatas barangkali tidak menarik untuk para penulis berita biasa (straight/hard news). Tapi dibalik kejadian itu sebenarnya ada aspek kehidupan yang dibiarkan. Kondisi seperti ini ditangan para penulis feature akan mampu dirubah menjadi sebuah tulisan yang mampu mengelitik nurasi, hati dan perasaan manusia. Bahkan mungkin bisa menjadi sebuah pemicu untuk perubahan yang konstruktif.

Sampah, dalam pemberitaan sehari-hari selalu dikaitkan dengan perilaku jorok, tidak terangkut, dibuang sembarangan dan menumpuk pada hari-hari tertentu. Sampah adalah limbah yang membuat pusing para pemimpin kota, membuat kehidupan warga tidak nyaman dan menutupi saluran air sehingga menyebabkan air got meluap kala hujan deras. Tapi ditangan seorang penulis feature, sampah diceritakan sebagai penghasil uang untuk banyak orang. Dengan memberikan contoh para pemulung dan aktifitas daur ulang sederhana, mengajarkan tentang betapa sampah ternyata berharga. Apa yang diemohi, dianggap tidak berguna ternyata di tangan orang tertentu bisa menjadi berharga. Penulis feature menuturkan aktivitas “merubah sampah menjadi rupiah” dalam tulisannya.

Dengan memberi konteks dan perspektif yang lain tema tentang “sampah” mampu memberikan inspirasi, pendidikan tentang pengelolaan dan pengolahan sampah tanpa menakut-nakuti warga akan resiko yang ditimbulkan oleh sampah.

Dalam pemberitaan salah satu cara untuk meraih pembaca adalah menjaga ekslusifitas. Pokok persoalan boleh sama, tetapi apabila ditulis dalam bentuk feature maka eklusifitasnya akan terjaga. Karena feature akan memberikan sesuatu yang lebih dalam dari apa yang disampaikan oleh sebuah berita langsung. Dibalik sebuah peristiwa selalu ada cerita. Itulah yang ditangkap dalam sebuah tulisan feature. Tulisan feature akan memberi warna lain, informasi yang lebih mempunyai nilai kebaruan, menyegarkan, menghibur dan menyentuh indera pembacanya.

Batasan Waktu
Setiap media bersaing untuk memberitakan berita sebagai yang pertama dan utama. Ini membuat para jurnalisnya berjibaku layaknya pasukan perang. Bergerombol kesana kemari mirip kawanan domba mengejar pengembalanya (narasumber). Tapi usaha kerasnya itu kemungkinan besar hanya akan berumur 24 jam, setelah itu luruh dan menjadi tidak penting lagi. Koran dengan halaman berita straight news, keesokan harinya turun derajadnya menjadi tumpukkan keras yang hanya menyesaki ruangan.

Hal ini tidak berlaku untuk halaman koran yang berisi tulisan feature. Pembaca tidak perlu tergesa-gesa untuk membacanya karena takut ketinggalan berita. Feature bukan tulisan yang mudah “punah” dalam semalam. Feature bisa disimpan lebih dari 24 jam, bahkan berhari-hari sampai berminggu-minggu. Dalam hitungan berbulan-bulanpun feature masih relevan dan tetap up to date untuk dibaca. Jika kita seorang publisher, maka naskah feature bisa merupakan cadangan pengisi kolom berita. Dan kita tak takut untuk mencadangkannya karena tahu bahwa tulisan itu tak akan dimakan usia.

Menjadi penulis feature biasanya juga lebih nyaman dibandingkan penulis berita biasa. Sebab tidak dikejar oleh deadline. Berita biasa harus segera ditayangkan agar tidak basi, penundaan satu atau dua hari sama hampir sama besarnya dengan pembatalan publikasinya. Karena tekanan waktu yang tidak besar, maka penulis feature cukup leluasa untuk mengadakan riset, pengamatan atau observasi lapangan untuk melengkapi bahan sehingga tulisannya akan semakin bermutu. Dengan menulis feature seorang penulis akan mengasah kemampuan dan kreatifitasnya untuk “menceritakan” sebuah kejadian.

Karena sifatnya yang bukan sekedar informatif maka tekanan feature ada pada fakta-fakta penting, fakta yang merangsang emosi pembaca entah itu menghibur, memunculkan simpati, mendorong empati publik sehingga merasa senasib misalnya dengan para korban bencana dan lain-lain. Dengan warna seperti itu maka feature sering disebut dengan kisah human interest, kisah yang berwarna, berita yang bercerita atau mempunyai roh karena mampu menggerakkan.

Teknis Penulisan
Dibandingkan dengan menulis straight news, feature memang lebih sulit. Dalam menulis berita biasa kita tak perlu bersusah-susah menyusunnya. Urutannya sudah jelas mulai dari yang paling penting makin ke bawah makin tidak penting. Unsur berita atau rumusnya sudah jelas yaitu 5 W dan 1 H. Pembukaan berita (lead) biasanya juga dimulai dari orang atau terakhir ini mulai muncul kecenderungan mulai dari kesimpulan.

Dalam menulis feature, unsur berita yaitu 5 W dan 1 H tetap harus ada tetapi harus lebih dari sekedar itu. Feature selalu mempunyai unsur lain yaitu cerita di balik berita, selalu ada latar belakang dalam sebuah kejadian. Kisah di balik berita atau latar belakang di balik sebuah kejadian itulah yang penting untuk digali dan dirangkai kaitannya dengan kejadian yang nampak di permukaan.

Feature selalu dimulai dari penentuan angle yang tajam dan ketat. Layaknya seorang memotret melalui sebuah kamera, sudut mana yang akan kita ambil, belakang, depan, kanan, kiri, atas atau bawah. Fokuskan pada sesuatu yang paling menarik. Angle yang tajam akan membuat kita fokus pada bahan atau sumber mana yang harus digali, dilengkapi dan didalami. Menulis feature ibarat kita pergi ke sebuah pameran buku dan kita sudah tahu buku apa yang hendak kita beli.

Menulis berita sama dengan menyusun fakta-fakta, sementara menulis feature berarti menuturkan rangkaian fakta dalam konteks tertentu. Oleh sebab itu penulis feature dituntut untuk mengembangkan struktur dan alur kisah (plot) dengan lancar dan kontektual. Feature adalah kisah, maka perlu “tokoh” yang akan bercerita atau berkisah dalam cerita kita. Selain mempunyai warna, feature juga dituntut mempunyai irama. Kalimat ditulis dengan runtut, lancar, mengalir dan menarik dengan dibumbui peribahasa, anekdot, humor, metafora atau gaya bahasa lainnya.

Meski secara generik ada struktur pembuka, isi dan penutup, namun tetap saja ada keleluasaan bagi penulis untuk keluar dari struktur itu. Struktur disesuaikan dengan alur yang hendak dibangun. Alur kronologis dan kilas balik misalnya mungkin lebih mudah, namun kemungkinan besar kurang mempunyai daya kejut dan ruang kreatif untuk memainkan gaya tulisan menjadi tidak leluasa.

Penulis feature yang terampil sebenarnya banyak mengadopsi gaya penulisan fiksi (sastra) sehingga plot atau alurnya menjadi menarik. Ada alur yang sifatnya konvergen, dimana ada banyak kisah terpisah dan kemudian disatukan di akhir pada sebuah peristiwa yang punya kaitan atau pertalian sama. Atau alur divergen yang bermulai dari satu peristiwa kemudia menyebar menjadi berbagai kisah.

Terakhir sebuah tulisan feature apabila terlepas dari newspeg-nya (cantelan berita) atau disebut feature lepas, harus diberi konteks agar pembaca punya alasan untuk merasa perlu membacanya. Konteks bisa berkaitan dengan waktu, misalnya kisah seorang anak veteran yang menjadi tukang parkir dikaitkan dengan peringatan hari perjuangan nasional. Atau alasan soal daya tarik misalnya banyaknya aborsi di kalangan pelajar SMU beberapa bulan setelah usai liburan sekolah. Alasan yang lebih mudah tentu dikaitkan dengan kepentingan umum atau pelayanan publik, seperti soal korupsi, penegakan hukum, persediaan air bersih dan energi, kenaikan harga barang dan lain sebagainya.

Dan sama seperti tulisan lainnya, feature juga harus mempertahankan fokus, perlu ada batasan agar tulisan tidak lari kesana kemari, ngelantur tanpa arah. Meski menulis feature ibarat melukis di kanvas untuk menghidupkan imajinasi tapi tetap ada batasan atau pagar yang tak boleh dilanggar. Apa gunanya sebuah cerita yang menarik tapi membuat pembaca lelah karena tidak jelas ujung pangkalnya.

Macam-Macam Feature


Berikut ini beberapa jenis tulisan feature yang biasa di muat atau dipublikasikan melalui media massa :

Profil
Feature profil berisi kisah yang mengungkapkan sisi menarik dari seorang tokoh. Menarik karena kisahnya istimewa, dramatik, melalui berbagai macam liku-liku tapi tetap bertahan dan lain sebagainya. Seorang yang “istimewa” itu diceritakan dengan penuh warna. Maka profil tidak sekedar berisi daftar riwayat sukses dan tanggal-tanggal penting belaka. Dalam profil yang terutama diangkat adalah karakter, tingkah laku dan pemikirannya. Termasuk tanggapan dari orang-orang disekitarnya atau yang mengenalnya.

Untuk memperoleh informasi yang kaya tentu saja tokoh yang menjadi pokok tulisan harus diamati dengan seksama, kalau perlu diikuti kesehariannya. Wawancara yang mendalam perlu dilakukan agar memperoleh kutipan-kutipan kalimat langsung darinya yang mengambarkan siapa dia sesungguhnya. Untuk memperkaya tulisan, wawancara kepada orang yang dekat atau sahabat-sahabatnya juga perlu dilakukan. Kerap kali wawancara semacam ini akan melahirkan kejutan, seperti munculnya rahasia yang belum pernah diungkap, kisah-kisah lucu atau konyol dari subyek profil kita.

Tidak semua cerita yang didapat perlu untuk ditulis, barangkali ada yang mau menceritakan tapi meminta untuk tidak dituliskan. Hal itu tidak menjadi masalah, sebab informasi bukan semata untuk menjadi bahan tulisan tetapi menjadi sumber penting bagi kita untuk mengambarkan tokoh tersebut.
.

Sejarah - Memorabilia
Banyak peristiwa penting yang punya pengaruh pada masyarakat. Semua itu bisa ditulis kembali pada saat memperingatinya Namun feature sejarah bukan semata menuliskan tentang peringatan atas peristiwa tertentu saja. Kisah masa lalu sering pula dikaitkan dengan kejadian di saat ini. Peristiwa bencana sering dikaitkan dengan kejadian serupa di masa lalu.

Feature sejarah juga berisi pengambaran atau lukisan tempat-tempat bersejarah (landmark) entah berupa monumen, gedung dan lain sebagainya. Namun sejarah tidak selalu berkaitan dengan perjuangan melainkan juga sejarah penemuan, sejarah hiburan, film, pengobatan (medis), pola perumahan, kuliner, industri, agama, migrasi dan sebagainya.

Setiap daerah, organisasi, institusi atau lembaga pasti memiliki catatan menarik dalam perjalanan sejarahnya. Semua bisa menjadi tulisan yang menarik dengan cara mempelajari dokumen-dokumen tertulis serta mewawancarai saksi mata atau mereka yang terlibat di dalamnya.

Expedisi – Petualangan – Survival
Kisah perjalanan yang menantang seperti mendaki gunung, mengarungi samudera, memanjat tebing atau menyusuri sungai akan melahirkan lukisan pengalaman yang istimewa apabila dituliskan dalam bentuk feature. Disana ada kisah tentang perjuangan untuk mencapai sesuatu, bahkan perjuangan antara hidup dan mati. Kisah disini termasuk pengalaman seseorang selamat dari sebuah bencana besar, kecelakaan atau peristiwa lainnya.

Pada feature jenis ini kutipan dan deskripsi suasana adalah sangat penting. Cerita direkonstruksi dari pelau atau saksi mata. Dilengkapi dengan berbagai dokumen lain yang terkait. Feature jenis ini biasanya dimulai dari aksi atau momen yang paling menarik atau dramatis.
.
Seasonal - Musim
Yang dimaksud dengan musim tidak semata berkaitan dengan iklim. Musim disini dalam arti luas seperti musim buah, musim liburan, musim ujian, kelulusan sekolah, penerimaan murid baru dan lainnya. Termasuk juga hari-hari besar seperti lebaran atau natal. Karena ini merupakan peristiwa yang biasa atau terus berulang, maka tingkat kesulitan penulisan feature ini menjadi lebih tinggi.

Kesulitan menulis feature seasonal adalah mencari angle atau sudut pandang yang jarang dilihat oleh orang lain tetapi sekaligus tetap menarik. Feature jenis ini lebih menuntut penulis untuk terlibat langsung didalamnya agar bisa menangkap peristiwa atau kejadian yang unik dalam berbagai peristiwa tersebut.

Interpretatif (analisis berita)
Kajian atas pemberitaan yang telah lalu melahirkan jenis tulisan feature interpretatif. Lewat tulisan ini diberikan deskripsi dan penjelasan yang lebih detail dan komprehensif terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Lewat feature interpretatif akan diberikan konteks baik institusional, programatik atau aksi, trend atau kecenderungan dan tujuan-tujuan dari aksi tertentu. Munculnya kelompok musik dalam bentuk band yang sekarang mengejala bisa diterangkan dengan trend di dunia, menguatnya kolektifitas, atau menurunnya figur yang kuat dalam bermusik dan lain sebagainya.

Kekerasan yang mengejala di mana-mana, bisa ditinjau dari sisi afiliasi organisasi, gagasan atau ide di balik kekerasan, tujuan dan perjuangan pelaku kekerasan serta alasan yang mendasari aksinya. Menulis feature berdasarkan berita jauh lebih mudah karena gagasannya telah tersedia. Kesulitannya justru mengungkap fakta-fakta di balik itu. Untuk aksi-aksi tertentu, narasumber tidak mudah untuk ditemukan dan juga tak mudah untuk diajak berbicara.

Tip dan Trik – Panduan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan aplikasi sangatlah cepat. Tidak semua orang punya waktu dan kesempatan untuk mempelajari itu semua. Bayangkan hampir setiap hari muncul berbagai tipe gadget, kendaraan atau perabotan lainnya. Jenis pengetahuan lain seperti kuliner dalam bentuk resep juga muncul setiap saat.

Feature jenis ini secara praktis membeberkan tentang bagaimana melakukan sesuatu hal. Bagaimana kiat membeli peralatan elektronik, bagaimana menurunkan berat badan secara cepat, bagaimana memelihara tanaman tertentu atau bagaimana melakukan pembiakan silang. Pendek kata banyak sekali bidang yang bisa di tulis dengan model panduan atau kiat. Bidangnya tidak sekedar terbatas pada persoalan material belaka melainkan masuk ke wilayah psikologi dan emosional. Termasuk di dalam jenis ini adalah kiat menarik lawan jenis, membina hubungan yang hangat dalam perkawinan, memelihara anak dan lain sebagainya.

Banyak orang butuh tahu ini dan itu, namun mereka tak ingin dianggap bodoh, digurui dan dinasehati. Maka sekalipun nampak sederhana, feature jenis ini justru sulit penulisannya sebab penulis dituntut menjelaskan hal yang sulit menjadi mudah untuk siapa saja. Namun juga dituntut untuk rendah hati, membebaskan diri dari merasa pintar sendiri. Menunjukkan sesuatu dengan bahasa yang netral atau tidak menggurui merupakan satu kesulitan tersendiri. Feature jenis ini cocok ditulis oleh seseorang yang mempunyai latar belakang pengetahuan tertentu atau seseorang yang sangat mencintai atau mengemari bidang tertentu. Seseorang dengan jam terbang yang tinggi dalam dunia IT misalnya akan mampu membagikan kiat-kiatnya yang mungkin tidak dipunyai oleh kebanyakan ahli IT lainnya.

WAWANCARA : Bukan CNN (Cuma Nanya Nanya)

Jumat, 15 Juli 2011 0 komentar

Berita merupakan produk aktivitas jurnalistik atas dasar informasi yang berdasar pada fakta. Jika sang jurnalis hadir atau berada dalam sebuah kejadian maka dia bisa mengunduh fakta melalui dirinya sendiri. Tetapi fakta selalu berdimensi banyak dan tidak tunggal maka memperkaya fakta melalui subyek atau tokoh lain perlu untuk dilakukan. Jalan untuk mengumpulkan informasi atau bahan pemberitaan ditempuh melalui wawancara. Tidak semua subyek mau diwawancarai, kalaupun mau belum tentu memberikan informasi yang kita perlukan. Oleh karenanya diperlukan penguasaan teknik wawancara agar subyek, tokoh atau narasumber mau berbicara.

Ketrampilan wawancara sebagaimana ditunjukkan dalam media televisi dan radio bahkan menjadi mata program atau acara sendiri. Pembawa acara (host) yang menguasai teknik wawancara dengan baik mampu menghadirkan “tontonan” yang menarik dan disukai oleh penonton atau pendengar. “Oprah Wimprey Show” adalah salah satu yang sangat terkenal di dunia. Kick Andy, Just Alvin, Satu Jam Bersama Tokoh dan lain-lain adalah beberapa acara yang berbasis wawancara di televisi Indonesia. Host yang kuat, mengajukan pertanyaan yang tepat, menggali lebih dalam membuat wawancara (Talk show) menjadi memikat untuk ditonton karena banyak informasi baru akan disampaikan oleh narasumbernya.

Pertunjukan model “Talk Show” ini bahkan kini sudah merambah dalam program-program off air. Berbagai diskusi atau sessi edukasi publik kini banyak disajikan dalam model talkshow atau memakai teknik wawancara untuk menggali informasi dari narasumbernya. Jika kita rajin menyaksikan semua tontonan itu, aka terlihat bahwa setiap host (pewawancara) mempunyai style tersendiri dalam mengajukan pertanyaan dan melakukan pendalaman atas apa yang disampaikan narasumber. Dan memang benar sebab dalam sebuah sessi wawancara, seorang pemburu informasi harus mampu berhadapan dengan sesuatu yang dinamis, suasana yang tidak terduga. Maka seorang pewawancara mesti bersikap fleksibel.

Kenapa diperlukan sebuah wawancara
Berita, ketika disampaikan (dipublikasikan) ke publik harus memenuhi unsur keberimbangan. Jadi siapapun yang hendak mempublikasikan sebuah berita ke wilayah publik harus bertanggungjawab untuk menjaganya. Keberimbangan ini hanya akan terbangun apabila kita menuliskan berita yang disusun atas dasar informasi dari berbagai sumber. Dan wawancara adalah jalan satu-satunya untuk melakukan hal itu.

Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, maka wawancara tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk face to face (tatap muka). Dengan bantuan berbagai alat komunikasi, kini wawancara bisa dilakukan melalui telepon, instan messenger (sms, bbm, ym dll), email (wawancara tertulis), chat box atau bahkan melalui video calling (misalnya skype). Pendek kata banyak jalan untuk melakukan wawancara.

Penulis berita bukanlah orang yang maha tahu, maka setelah memproyeksikan berita yang hendak ditulis langkah berikutnya adalah mengumpulkan data atau informasi dari sumber berita. Dalam sebuah proyeksi biasanya diperbincangkan tema atau pokok yang hendak ditulis, tujuannya untuk apa, point-point apa yang hendak diangkat (fokus) dan siapa narasumbernya. Kedudukan narasumber dalam penulisan berita sangat penting, sebab dia terkait dengan substansi pemberitaan. Pemilihan narasumber yang tidak tepat, penggalian informasi yang kurang atau gagal membuatnya bicara, akan membuat berita yang ditulis menjadi tidak kredibel, validitas dan akurasinya dipertanyakan. Berita bukanlah rangkaian opini (pemikiran) dari penulisnya melainkan kumpulan fakta-fakta (data dan informasi) dari narasumber yang diorganisasi dengan tujuan tertentu oleh penulisnya.

Proses dan Tahapan Wawancara

Persiapan
Ketika tema atau fokus penulisan sudah ditentukan, maka berikutnya adalah menentukan siapa yang hendak diwawancarai. Penentuan menyangkut siapa yang hendak diwawancarai mesti disesuaikan dengan tujuan dari penulisan. Jika kita ingin memaparkan sebuah peristiwa atau kejadian, maka akan mencari orang yang terlibat langsung dalam peristiwa itu, orang yang terkena dampak peristiwa dan saksi mata. Sebaliknya kalau kita ingin mencari tahu siapa yang bertanggungjawab atas sebuah kejadian, maka kita akan mewawancarai pihak penyelidik, atau ahli pada bidang tersebut.

Ketika kita sudah mempunyai daftar narasumber, pertimbangkan kesulitan yang akan dihadapi dan bagaimana cara kita mengatasinya. Kemungkinan pertama adalah narasumber menolak untuk bicara dengan alasan tidak punya waktu. Ada juga narasumber yang tidak mau bicara karena takut atau segan untuk memberikan keterangan. Bisa juga narasumber tidak mau memberi keterangan karena merasa tidak tahu apa yang akan kita tanyakan. Dalam banyak hal, narasumber yang mempunyai kedudukan, upaya kita untuk menemuinya sering dihambat oleh birokrasi (sekretaris, humas, ajudan atau bahkan pengawal).

Semua kesulitan ini tentu harus diatasi agar kita mampu mendapatkan bahan untuk menghasilkan informasi yang benar. Kepada mereka yang mengatakan tidak punya waktu, kita bisa menanyakan kapan mereka mempunyai waktu luang, mintalah sedikit waktu, atau tawarkan bentuk wawancara lain, entah lewat telepon atau tertulis. Untuk mereka yang merasa enggan memberikan informasi, kita harus memahami perasaan itu sambil membesarkan hati mereka, mengatakan bahwa informasi dari mereka sungguh penting. Atau mungkin kita mengatakan pada mereka bahwa kita ingin bertemu, ngobrol atau cerita-cerita tentang topik tertentu. Soal birokrasi bisa diatasi dengan janji pertemuan, mengajukan surat permohonan resmi untuk bertemu, atau coba temui saat mereka melakukan kegiatan lain di luar kedinasan. Kita bisa meminta bantuan orang-orang yang mempunyai akses kepada mereka.

Sebelum melakukan wawancara, kita perlu mengenal orang yang hendak kita wawancarai. Kenali orang tersebut dari berbagai sumber, lakukan riset atau pengamatan kecil-kecilan sehingga kita tahu latarbelakangnya, hal ini akan membantu kita saat melakukan wawancara.

Ketika hendak menemui narasumber, selain peralatan untuk mencatat atau menyimpan informasi (recorder) kita harus membekali diri dengan daftar pertanyaan. Pertanyaan disusun tergantung kepada tujuan kita. Apakah wawancara untuk mendapat informasi yang faktual tentu saja mempunyi pertanyaan yang lebih banyak dan tajam dibanding dengan wawancara yang bertujuan untuk meminta konfirmasi atau reaksi orang terhadap peristiwa tertentu.

Wawancara
Setelah persiapan selesai, maka saatnya wawancara tiba. Sebelum menemui, pastikan kembali kesiapan narasumbernya. Buat janji yang pasti soal jam dan tempat untuk melakukan wawancara (pada wawancara tatap muka). Pastikan kita mempunyai peralatan yang memadai untuk mendukung wawancara (alat pencatat dan perekam). Jika diperlukan bawa juga alat pendukung tambahan yaitu kamera. Dan yang paling tidak boleh dilupakan adalah daftar pertanyaan.

Kebanyakan orang yang diwawancarai bukanlah sosok yang dikenal oleh pewawancaranya, selain itu banyak pula orang yang tidak mau “diberitakan” Maka agar wawancara berjalan efektif, diperlukan langkah-langkah berikut :
1. Buat janji dan tentukan tempat yang nyaman. Wawancara perlu direncanakan soal waktu dan tempat agar narasumber merasa nyaman. Tempat akan sangat mempengaruhi kondisi psikologis narasumber. Rasa tidak nyaman membuat aliran informasi dari narasumber menjadi tidak lancar. Minta narasumber untuk menentukan tempat atau beri tawaran padanya. Hindari tempat yang ramai atau gaduh, agar narasumber tidak terganggu konsentrasinya. Tempat umum juga kurang cocok untuk narasumber yang terkenal, sebab bisa saja orang yang kenal akan “nimbrung” menyapa atau mampir ngobrol sejenak.
2. Nyatakan tujuan wawancara. Setiap wawancara mempunyai tujuan yang beragam. Sampaikan hal-hal apa yang kita harapkan dari narasumber, entah itu berupa penjelasan, konfirmasi, latar sebuah pokok persoalan atau informasi yang lebih dalam tentang sesuatu hal. Penyampaian tujuan ini penting agar narasumber juga mempersiapkan diri dengan berbagai bahan yang menurutnya penting. Namun yang terpenting adalah agar wawancara tidak “melantur” kesana-kemari.
3. Fleksibel dan buat seperti percakapan. Sebelum wawancara kita mesti menyiapkan point-point yang hendak ditanyakan dalam wawancara untuk mencegah pokok tertentu dilewatkan atau lupa ditanyakan. Tapi wawancara bukanlah sekedar tanya jawab (kita bertanya, narasumber menjawab), melainkan sebuah perbincangan, seperti obrolan dua orang yang asyik membahas sesuatu hal. Wawancara yang berhasil adalah yang mengalir dan hidup dimana kita dan narasumber saling mengimbangi dalam membahas pokok tertentu. Dengan demikian meski kita telah menyiapkan point pertanyaan tertentu, jangan terlalu kaku atau terpaku dengannya. Jangan sampai “ketaatan” kita pada point-point pertanyaan membuat narasumber kehilangan nafsu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita.
4. Pertimbangkan peralatan bantu. Alat bantu standar adalah pencatat atau perekam, namun tetap diperlukan persiapan lain tergantung pada tujuan akhir dari produk wawancara kita. Informasi yang diperoleh akan dipublikasikan dalam bentuk apa?. Tulisan, suara atau gambar hidup (audio visual). Setiap model publikasi menuntut teknik wawancara yang berbeda karena aspek tertentu yang hendak ditonjolkan juga berbeda.
5. Sibuk sendiri. Seorang narasumber tentu ingin disimak dan dihargai, maka hindari kesibukan yang berlebihan. Persiapkan diri dengan benar agar kita tidak terganggu dengan alat yang kita pakai. Sikap berlebihan yang menganggu seperti asyik menulis yang dikatakan narasumber, apapun ditulis sehingga kita lupa menjaga kontak mata dan memperhatikan bahasa tubuh narasumber. Atau justru kita sibuk memotret sehingga membuat konsentrasi narasumber terganggu dan merasa tidak nyaman. Sikap yang berlebihan membuat kita nampak tidak profesional di hadapan narasumber, akibatnya dia bisa malas untuk meneruskan wawancara, menjawab sekenanya saja dan ingin wawancara segera berakhir.
6. Sesekali ajukan pertanyaan nakal dan usil. Pertanyaan yang datar akan membuat narasumber memberi jawaban-jawaban yang normatif. Padahal kita perlu jawaban-jawaban yang menarik, oleh sebab itu kita perlu memancing narasumber agar mengeluarkan atau menunjukkan sifat aslinya. Dengan demikian omongan yang keluar dari mulutnya bukanlah jawaban yang ditujukan untuk pecintraan diri (jaga image). Usahakan atau pancing agar narasumber mengatakan apa yang selama ini disimpan, opini pribadinya bukan jawaban karena kedudukan atau posisi yang harus dijaganya. Jawaban-jawaban “resmi” selalu bisa diduga dan tak akan menarik untuk khalayak. Kita perlu jawaban orisinil yang mewakili sisi “kemanusiaan” dari narasumber.
7. Pancing narasumber untuk menunjukkan kompetensinya. Umumnya narasumber akan bersemangat menjawab atau melayani wawancara, apabila diminta untuk menunjukkan kemampuan, pikiran atau gagasan yang berdasar pada keahliannya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya mengeluarkan simpanan pengetahuan atau pengalamannya.
8. Jaga irama wawancara. Untuk wawancara yang mendalam, kita perlu menjaga irama wawancara. Semangat narasumber harus dipertahankan. Atur pertanyaan dengan baik, tempatkan pertanyaan yang mengugah, bawa narasumber pada masa-masa yang penting dalam hidupnya. Beri juga kesempatan hening atau jeda. Jangan cepat melontarkan pertanyaan kembali saat narasumber terdiam.
9. Kontrol atas tujuan kita. Pada saat tertentu jika kita merasa narasumber belum menjawab pertanyaan kita, atau jawabannya kurang dalam, ulangi kembali pertanyaan kita dengan kalimat yang berbeda. Pertanyaan berulang juga penting untuk menjaga konsistensi jawaban. Bisa jadi pada pertanyaan pertama dia menjawab A, lalu ketika diulang dengan kalimat berbeda dia akan menjawab B.
10. Hormati hak narasumber. Pada kasus atau jawaban tertentu sering kali narasumber mau memberikan informasi tapi tidak ingin dinyatakan sebagai narasumber. Hormati hal itu dan informasi yang diberikan olehnya tetap berguna sebagai latar penulisan. Pada persoalan yang bisa menimbulkan resiko baik fisik maupun psikologis, narasumber juga harus dilindungi. Ini penting agar niat baik kita tidak menimbulkan resiko untuk orang lain.
11. Basa-basi di awal dan akhir wawancara. Diawal wawancara, basi-basi adalah hal yang biasa, untuk menciptakan suasana akrab, memecahkan kebekuan atau tembok penghalang. Sementara di akhir wawancara, basa-basi juga penting. Terkadang justru setelah wawancara selesai, saat bersiap pulang (berpisah) lontaran pertanyaan tertentu akan membuat narasumber kembali mengungkapkan hal-hal yang penting secara bebas. Saat akhir wawancara bisa menjadi langkah awal untuk membina hubungan baik sehingga pada kesempatan berikut kita bisa lebih mudah jika ingin menemui dan mendapatkan informasi darinya.
12. Lengkapi data narasumber. Sebelum wawancara berakhir pastikan kita meminta narasumber untuk mengisi biodata lengkap. Biodata ini penting baik sebagai database narasumber juga sebagai sarana bagi kita untuk mengenalnya lebih dalam. Pada dasarnya narasumber akan senang jika kita mengetahui latarbelakangnya, tahu apa yang disenangi dan apa yang tidak dimauinya. Sebagai pewawancara kita perlu membangun “raport kepercayaan” di hadapan narasumber. Pewawancara yang sok menduga-nduga, pura-pura akrab atau menjilat akan mempunyai nilai negatif di hadapan narasumbernya.
Tujuh Jenis Pertanyaan
Edward Jay Friedlander, Harry Marsh dan Mike Masterson menuliskan panduan dalam Excellent in Reporting, 1987, tentang tujuh jenis pertanyaan yang biasa diajukan jurnalis dalam sessi wawancara:

1. Pertanyaan pembuka
Merupakan pertanyaan yang bertujuan mencairkan suasana sebelum masuk dalam bagian untuk mengorek informasi dari narasumber. Pertanyaan bisa seputar kecintaan atau hobby yang kelihatan.

“Kebanyakan koleksi perpustakaan Ibu buku-buku filsafat. Rupanya Ibu mencintai filsafat ya?. Siapa filsuf favoritnya?.”

2. Pertanyaan langsung
Pertanyaan ini diajukan setelah wawancara berkembang. Arahnya adalah langsung ke pokok persoalan.

“Bagaimana perkembangan realisasi pembangunan jalur kereta api, Pak?”

3. Pertanyaan tertutup
Pertanyaan jenis ini mengarah kepada detail layaknya sebuah interogasi.

“Berapa alokasi dana APBD yang telah terserap untuk pembangunan jalan tol?”

4. Pertanyaan menyelidik
Untuk mendapat alasan atau keterangan yang lebih dalam perlu pertanyaan menyelidik. Pertanyaan yang menuntut jawaban lebih spesifik.

“Mengapa alokasi anggaran sektor perhubungan tiga kali lipat dari anggaran pendidikan?”

5. Pertanyaan bipolar
Pertanyaan jenis ini ditujukan untuk dijawab “ya” atau “tidak”.

“Apakah status hukum Gubernur jadi diumumkan besok, Pak?”

6. Pertanyaan cermin
Untuk beberapa jawaban tertentu, perlu dilakukan pendalaman kembali, kita perlu menegaskan kepastian jawaban dari narasumber.

“Jadi lewat pembangunan tol, dermaga dan maskapai penerbangan, bapak hendak menyatakan bahwa propinsi Kaltim memprioritaskan sektor perhubungan daripada sektor pertanian?”

7. Pertanyaan Hipotetif atau Sugestif
Pada akhir wawancara, sering kali perlu diajukan pertanyaan spekulatif. Jika beruntung pertanyaan ini akan menghasilkan informasi yang mungkin tidak diduga sebelumnya.

“Apakah tidak pernah terlintas dalam benak bapak, untuk merealisasikan dulu pemenuhan anggaran 20% bagi sektor pendidikan dibandingkan dengan pembangunan jalan tol?”

Pada dasarnya keberhasilan sebuah wawancara akan tergantung pada pertanyaan yang kita kembangkan. Seorang penulis berita yang berhasil adalah seorang penanya yang baik. Pertanyaan yang jelas dan terarah akan membantu narasumber untuk membuka atau memberi informasi yang kita inginkan. Bisa jadi data dan informasi yang kita kumpulkan kurang memenuhi keinginan karena kita salah memberikan pertanyaan. “Belajar bertanya, bukan menjawab” begitu nasehat seorang filsuf. Itu artinya belajarlah terus menyusun pertanyaan yang baik untuk menuntun seseorang yang ditanya memberi jawaban terbaik.

Sukses Melakukan Wawancara
Untuk meningkatkan kemampuan wawancara dan menilai hasilnya, kita perlu rajin membaca transkrip dan mengevaluasi hasil wawancara. Hal ini penting untuk dilakukan agar kita mampu mengembangkan pertanyaan yang jitu dan menembus kebuntuan saat melakukan wawancara.

Selain terus belajar dan mengasah kemampuan, sebelum melakukan wawancara kita juga harus mempersiapkan diri dengan pemahaman dan penguasaan atas materi yang hendak kita bahas dalam wawancara. Tanpa pemahaman dan latar belakang yang cukup akan banyak topik yang terlewatkan atau bahkan narasumber enggan membeberkan persoalan secara dalam karena menganggap kita tidak paham.

Berikut catatan akhir yang penting untuk menunjang suksesnya sebuah sessi wawancara :
1. Selalu menggunakan kalimat tanya yang membuat narasumber memberikan jawaban yang obyektif.
2. Susun dan ungkapkan pertanyaan dengan kalimat yang ringkas dan mudah dimengerti.
3. Tanyakan kembali hal-hal yang belum jelas untuk kita mengerti.
4. Peka terhadap situasi, mengenali bahasa tubuh narasumber agar momentum pertanyaan kita pas. Menanyakan hal-hal yang tidak membuat dia menutup diri dan bertanya dengan gaya bahasa yang sesuai dengan suasana.
5. Hindari mengajukan pertayaan yang bernada menggurui atau menginterogasi seolah-olah narasumber adalah pesakitan.
6. Tunjukkan empaty kita pada wawancara yang menyangkut sisi kemanusian.
7. Pada pokok yang rumit, komplek atau sensitif, perlu dijelaskan lebih dahulu latar persoalan yang hendak kita pertanyakan.
8. Hindari pertanyaan yang bersifat mengadu domba.
9. Gugah kemampuan, daya nalar, ingatan dan perspektif narasumber.

Catatan ini bisa terus diperpanjang, namun semua itu tak akan menjadi sebuah jaminan sukses tidaknya sebuah wawancara jika tidak diimbangi oleh kemampuan untuk mengimplementasikannya. Akhirnya diluar semua yang telah dituliskan diatas, jangan sekali-kali mendatangi narasumber dengan tangan dan kepala yang kosong.

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum