• Blockquote

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

AKU INGIN PULANG, NYANYI PERANTAU JELANG RAMADHAN

Selasa, 26 Juli 2011 0 komentar

Satu minggu menjelang puasa, bulan yang penuh magfirah.

Para manager dan event organiser pada berbagai tempat hiburan malam di Samarinda berlomba memanfaatkan waktu tersisa. Berbagai acara dengan label “ Closing Party” digelar agar bisa mendulang pengunjung untuk terakhir kali. Sebab satu atau dua hari menjelang puasa, semua tempat hiburan malam harus meliburkan diri dan buka kembali setelah hari lebaran nanti.

Bukan hanya para manager dan event organizer saja yang mulai sibuk, counter-counter penjualan tiket juga mulai lebih sering menerima telepon menanyakan harga tiket ke sini atau kesana. Perbincangan soal tiket mulai mudah terdengar di berbagai sudut kota.

“Dapat yang harga berapa tiketnya?”.
“Saya waktu itu iseng bertanya, begitu disebut ada yang 700 ribu, langsung saya bayar”.
“Wah, murah itu, saya dapat yang 1 juta 90 ribu”.

Tiket ramai diperbincangkan karena para PERANTAU hendak PULANG ke kampung halaman saat bulan ramadhan nanti untuk merayakan lebaran di tanah kelahirannya. Pulang atau kemudian dikenal sebagai mudik selalu meramaikan suasana bulan ramadhan. Rangkaian mulai dari ramadhan sampai lebaran adalah sebuah peristiwa eksistensial, peristiwa yang sangat penting. Maka tak heran jika setiap orang yang menjalaninya ingin merayakan dalam kebersamaan di “RUMAH”.

PULANG ke RUMAH bagi PERANTAU bukan berarti kembali ke tempat tinggal, ruang tempat mereka istirahat selepas bekerja. Mereka ingin pulang ke tempat dimana hati dan pikiran menyatu. Tempat dimana mereka dilahirkan, dibesarkan dan mengalami berbagai macam peristiwa yang meninggalkan pengalaman positif. Dengan merantau mereka telah meninggalkan rumah itu, dan dalam jangka waktu tertentu muncul panggilan jiwa untuk bernostalgia. Nostalgia merupakan panggilan kerinduan akan sesuatu yang hilang dan hanya akan dapat ditemui kembali apabila kembali ke rumah.

Semakin besar kenangan, tabungan kejadian hidup yang baik dan menyenangkan terjadi disana maka kerinduan akan semakin besar. Dorongan untuk pulang menjadi sangat dominan, maka pulang ke rumah di masa ramadhan adalah sebuah keharusan. Sebuah peristiwa eksistensial yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kebahagiaan menjalani sisa hari ramadhan dan merayakan hari raya idul fitri akan terasa lengkap apabila dilakukan di rumah tempat nyamannya badan dan hati terjadi. Hari raya lebaran akan terasa buram apabila dilaksanakan di tempat yang jauh dari sanak saudara, jauh dari tempat kita dilahirkan, dibesarkan tempat segala kenangan indah dalam album kehidupan.

Perjalanan pulang dari tanah rantau ke rumah (kampung halaman) adalah perjalanan spitual, perjalanan untuk kembali “menjadi”. Spirit yang pararel dengan teologi puasa atau mati raga. Puasa sesungguhnya merupakan perjalanan atau laku spiritual agar siapapun yang menjalaninya kembali menjadi “Insan Allah”. Orang atau sosok yang beriman karena menjalankan perintah dan petunjuk Allah dengan sukarela dan penuh kesadaran agar mencapai kondisi hidup berada dalam naungan dan ridhoNYA
Orang beriman adalah para perantau, yang selalu rindu pulang lewat peziarahan untuk kembali berjuang menemukan tempat asalinya. Puasa adalah sebuah perjuangan untuk “mematikan” diri dari kecenderungan baik badani maupun pikiran yang menjauhkan diri dari rumah ALLAH. Lewat puasa seseorang sedang mempersiapkan diri agar kelak jika sewaktu-waktu harus melakukan perjalanan pulang yang terakhir (mati) maka akan sampai tempat tujuan atau rumah yang sesungguhnya yaitu SURGA. Pulang ke surga berarti kembali ke rumah bersama-sama ALLAH.

Realitas PERANTAU, PUASA dan RUMAH (pulang) adalah sebuah pengembaraan yang belum berakhir. Di tanah rantau, para perantau rela bekerja keras, tak kenal waktu, berjuang dan jarang bersenang-senang demi mengumpulkan materi untuk dibawa pulang nanti. Kerja keras selama setahun di tanah rantau akan dinikmati dengan penuh keriangan di rumah saat lebaran nanti. Dan pada saat itulah keberhasilan material menjadi sama dengan keberhasilan spiritual.


Salam Marhaban Ya Ramadhan
Batu Lumpang, 26 Juli 2009
@yustinus_esha

Balada Konser Tikus : Potret Buram Petani di Negeri Agraris

Senin, 25 Juli 2011 0 komentar


Pak Sastro hanya bisa tercenung saat terpaksa harus memanen padi di sawahnya yang tak begitu luas. Tikus telah menyerbu sawahnya dan hanya menyisakan seperempat dari hasil yang biasanya. “Tikus-tikus sekarang sudah begitu pandai sehingga bisa membedakan mana umpan yang beracun dan tidak, maka susah dibasmi. Satu-satunya cara adalah dengan menangkap satu persatu dan membunuhnya”, begitu keluh Sastro. Dan memang sulit menangkal aksi tikus itu jika harus menangkap satu persatu karena sebelum tikusnya habis terbasmi jelas padi di sawahlah yang lebih dulu akan disikat habis olehnya. Jadi Sastro dan kawan-kawannya hanya bisa pasrah memanen sisa-sisa pesta dari sang tikus yang makin berani karena tetap bertandang meski sawah sudah ditunggui. Sembari bersiap-siap untuk menjalani hidup dibawah penderitaan pada hari-hari ke depan karena hasil panen tak bakal cukup untuk menopang kehidupannya bersama anak istri. Utang untuk modal tanam musim lalu pasti takkan terbayar; dan akan semakin besar karena untuk musim tanam berikutnya pasti harus kembali berutang terutama untuk membeli pupuk yang meroket harganya di kala jelang musim tanam.

Nasib yang menimpa pak Sastro adalah gambaran umum dari petani kita yang semakin hari lahannya semakin menyempit (atau bahkan hanya mengarap lahan orang lain), bertani dengan teknologi yang rendah, produksi tergantung pada hujan dan hidup pas-pasan sehingga gangguan terhadap proses produksi lahan berpotensi untuk semakin memerosokkan mereka dalam jurang kemiskinan. Dengan kondisi seperti ini maka sulit dibayangkan bahwa petani kita di Indonesia akan bersaing mengejar ketertinggalan dari negara lain yang pertaniannya kian bertambah maju. Pada jaman dimana banyak subsidi masih dinikmati oleh kaum tani, hidup mereka saja sudah sedemikian sulit; apalagi di saat ini dimana subsidi sudah mulai dipreteli satu persatu maka jumlah petani yang semakin miskin akan semakin banyak. Dengan demikian proses pemberdayaan petani menuju pertanian yang mensejahterakan petani akan menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Sebab pertanian modern akan membutuhkan bibit unggul, pupuk, obat-obatan pembasmi serangga-hama dan peralatan berteknologi lainnya yang tentu saja akan meningkatkan ongkos produksi sehingga akan dirasakan semakin mahal oleh petani. Dan mahalnya ongkos produksi tidak akan dijamin oleh pendapatan yang diperoleh dari penjualan hasil karena selama ini harga hasil olahan petani tetap stabil rendah.

Sebagai salah satu penandatangan perjanjian GATT, Indonesia harus membuka pasarnya bagi produk-produk pertanian dari luar negeri. Dengan demikian posisi petani kita yang lemah akan menjadi semakin sulit karena harus berhadapan vis a vis dengan produk pertanian luar negeri yang umumnya dihasilkan oleh sistem industri pertanian yang sudah mapan dan effisien. Mereka telah mempunyai sistem dan jaringan pemasaran yang amat luas sehingga harganyapun menjadi terjangkau dan persediaan (stok) selalu terjaga. Kita mungkin bisa berkilah bahwa segmen atau pangsa yang dituju oleh produk pertanian dan hasil olahan lainnya dari luar negeri adalah kelas masyarakat menengah keatas. Sementara hasil pertanian tradisional biasanya lebih banyak dibeli dan dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah. Namun justru disinilah letak persoalannya, karena petani tradisional akan kehilangan potensi pasar dari konsumen yang mempunyai daya beli tinggi yang mana bisa meningkatkan tingkat penghasilan mereka. Sebab jika produk pertanian tradisional tetap dibeli oleh masyarakat kelas bawah yang daya belinya juga rendah maka kecil kemungkinan bagi petani untuk meningkatkan pendapatannya. Asumsi bahwa produk pertanian luar negeri hanya menyasar kelas menengah ke atas terbukti juga tidak benar karena dengan mudah sekarang ini kita temukan beras dari Thailand atau Myanmar ( termasuk apel dari New Zealand, pir dan jeruk dari China, pepaya dari Hawai dan durian dari Thailand) telah dijual oleh lapak-lapak kakilima di pinggir jalan dan pasar tradisional. Dengan demikian segmen pasar tradisional yang tadinya milik petani perlahan mulai digerus oleh agen/distributor produk pertanian negeri yang tentu saja mempunyai sistem penjualan yang lebih menarik dibanding petani tradisional.

Selain beras, Indonesia mungkin masih mempunyai komoditi buah dan bunga local yang mempunyai kekhasan tersendiri atau exotic. Sehingga mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai komoditi unggulan. Sayang tantangannya juga besar karena Indonesia juga bukan penghasil satu-satunya sebab Thailand dan Philipina juga mempunyai buah-buah tropis yang sama dengan kita. Dan pertanian di Thailand sudah lebih maju dimana mereka sudah bisa mengatasi kendala musim buah sehingga buah-buah tertentu pasokannya sudah terjaga sepanjang tahun di pasaran. Riset dan pengembangan agricultural belum menjadi perhatian bagi pemerintah kita, kalaupun ada hasilnya juga tidak dimassalkan kepada para petani. Akibatnya petani hanya berkutat pada produksi padi yang hasilnya juga tidak pernah mendudukkan petani sebagai pemenang, karena tahun demi tahun petani dihajar sampai babak belur dengan merajalelanya beras import dari Thailand, Myanmar dan Vietnam.

Rezim telah silih berganti tapi nasib dan wajah petani tetap buram. Pada jaman perjuangan untuk meraih kemerdekaan, petani berdiri dibelakang pejuang dengan menyediakan makanan dan minuman lewat dapur-dapur umum agar pejuang bisa bertempur dengan tenaga penuh. Namun setelah memasuki masa-masa kemerdekaan, pelan-pelan posisi petani mulai dilemahkan lewat ekperimentasi kebijakan pembangunan rezim berikutnya. Lewat revolusi hijau petani dijadikan bemper agar Indonesia bisa masuk dalam percaturan politik kapitalisme global dengan memobilisasi teknologi pertanian yang mencabut petani dari budaya, pengetahuan dan praktek pertanian local. Revolusi hijau lewat intensif dan ektensifikasi membuat petani kehilangan kekuasaan atas alat produksi, mereka bukan lagi produsen melainkan konsumen dari bibit dan pupuk serta teknologi yang dikuasai oleh penguasa kapital global. Petani akhirnya menjadi kelompok ‘massa mengambang’ yang kehilangan kekuatan cultural, social dan politik.

Kini di masa reformasi, sosok petani adalah sosok yang benar-benar kalah dan lemah. Keberadaan organisasi berbasis petani atau mengatasnamakan petani belum menunjukkan manfaat serta kekuatan bagi petani untuk meraih kembali kekuatan politik, social dan kulturalnya. Organisasi yang seharusnya menjadi jembatan untuk memperjuangkan aspirasi petani untuk dirumuskan dalam kebijakan politik pembangunan pemerintah justru lebih sering lebih banyak menjadi alat perjuangan politik pribadi petingginya. Independensi organisasi-organisasi berbasis petani juga patut dipertanyakan. Alhasil untuk mempertahankan kehidupannya banyak petani yang mengambil pilihan untuk menggadaikan atau bahkan menjual lahannya yang sama artinya dengan menjual hidupnya. Kemudian mereka menjadi pekerja di bekas lahan miliknya yang telah berpindah menjadi milik orang lain. Atau hanya bisa memandang bangunan rumah atau gedung mewah yang berdiri megah diatas bekas lahan mereka yang kini jadi lahan menanam duit para investor. Maka wajar jika disaat tidak ada pekerjaan (bukan musim tanam atau panen) mereka akan berbondong-bondong untuk pergi ke kota untuk mencari pekerjaan sampingan dengan menjadi pekerja musiman di sector informal. Bahkan ada yang datang ke kota untuk mengais rejeki dengan menjadi pengemis. Pendek kata apapun akan ditempuh untuk mempertahankan kehidupan meski dengan risiko kehilangan harga diri karena dianggap sebagai pendatang haram sehingga akan menjadi buruan satpol PP.

Bulog yang awalnya mempunyai kedudukan strategis dalam politik perberasan nasional dengan tugas untuk menjaga keseimbangan harga panen dengan cara membeli beras petani saat kondisi surplus beras lewat peraturan pemerintah nomor 7/tahun 2003, telah berubah fungsinya. Melalui peraturan ini Bulog berubah menjadi perusahaan umum (Perum Bulog), karena fungsi Bulog sebelumnya dianggap monopolis sehingga dianggap bertentangan dengan liberalisasi pasar sehingga akan mengakibatkan distorsi harga. Konsekwensi perubahan menjadi perum berakibat Bulog tidak lagi mendapatkan bantuan dana khusus dari pemerintah untuk mendukung kinerjanya. Dengan demikian Bulog menjadi tidak berbeda dengan perusahaan-perusahaan lain yang didirikan untuk mencari rente dan harus berusaha mencari dukungan finansial sendiri melalui pinjaman kepada bank-bank komersial yang berbunga tinggi. Jelas kini bahwa perani menjadi korban dari derasnya arus neoliberalime yang digulirkan di Indonesia oleh agen-agen pengembang pembangunan macam Bank Dunia, ADB dan IMF yang dulu-dulunya dianggap ‘dewa penolong’ karena memberi pinjaman untuk pembangunan irigasi dan skema-skema kredit bantuan pertanian. Padahal bantuan-bantuan itu ternyata merupakan ‘topeng’ bagi kepentingan korporatokrasi global, untuk memasukkan dan memasarkan hasil koorporasi barat lewat program intensifikasi pertanian dengan mempergunakan pupuk anorganik (Zat Kimia)dan bibit-bibit rekayasa genetik.

Jebakan bantuan lembaga-lembaga pengembang ini akhirnya membuat negara kita jatuh dalam belitan utang yang berkepanjangan. Posisi sebagai negara ‘pengutang berat’ menjadikan kebijakan pertanian yang dihasilkan oleh pemerintah bukan lagi bercorak untuk ‘mensejahterakan’ petani melainkan untuk untuk kesejahteraan konsumen atau dengan kata lain bukan ketahanan pertanian melainkan ketahanan pangan. Sementara itu di lapangan persawahanan diindikasikan bahwa penggunaan kimiawi secara terus menerus dan penerapan komposisi yang tidak tepat akan membuat kondisi tanah menjadi kritis atau tingkat kesuburan alami tanah turun secara drastic. Tanah pertanian menjadi rakus pupuk, maka lama kelamaan akan terjadi penumpukkan endapan atau residu pupuk kimia di dalam tanah. Efek lainnya adalah hama (serangga atau gulma) makin lama juga semakin kebal terhadap obat pemberantasnya. Siklus pertahanan alamipun menjadi terputus sehingga binatang penganggu berkembang biak tanpa diimbangi oleh perkembangan predator alaminya.

Pemerintah mungkin saja tidak menutup perhatian pada petani, namun sayang perhatiannya tidak terfokus pada pembuatan kebijakan pertanian sehingga petani mampu bertahan dan mengembangkan diri dalam kancah persaingan global. Perhatian yang diberikan oleh pemerintah terutama hanya menempatkan petani dalam konteks agenda pemberantasan kemiskinan dimana memang petanilah yang kebanyakan menjadi sasarannya. Namun kebijakan ini akan tetap sekedar menjadi program rutin setiap rezim dan tidak pernah berujung pada keberhasilan yang bermakna. Bahkan lama-kelamaan kemiskinan justru akan berkembang menjadi komoditi untuk mendongkrak citra aktor-aktor politik agar bisa digambarkan sebagai sosok yang populis. Agenda pemberantasan kemiskinan yang abai terhadap permasalahan petani dan kebijakan pertanian yang sesungguhnya tidak akan pernah menolong petani bangkit dari keterpurukkannya. Petani perlu diberdayakan untuk mewujudkan hasil pertanian yang punya nilai ekonomis tinggi dengan meningkatkan ketrampilan kewirausahaan yang kreatif dan inovatif agar tidak tergusur dalam menghadapi kecenderungan pasar yang kian liberal.

Jika tidak demikian maka kehidupan Pak Sastro dan kawan-kawan tidak sekedar diburamkan oleh polah tikus ‘beneran’ di sawahnya, melainkan juga tikus ‘jadi-jadian’ di lapangan kehidupannya sebagai warga negara. Pak Sastro mungkin sudah takut bermimpi untuk menjadi berkecukupan dalam segala kebutuhannya, namun membangun kehidupan persis di atas garis kemiskinan akan sangat membantunya untuk mempertahankan martabatnya sebagai manusia dan warga negeri ini. Sehingga mereka tidak terus-terusan menjadi ‘obyek penderita’ akibat nafsu eksplotitatif dari pemangku kebijakan dan pelaku bisnis yang sekedar memburu rente, koruptif dan tidak memerdekakan.

Salam Cangkul Tumpul
@yustinus_esha

KORUPSI, KONSUMSI dan PERTUMBUHAN EKONOMI

0 komentar


Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi, Anto bukanlah mahasiswa yang baik di kacamata orang tuanya. Penampilannya selalu kurang (kurang rapi, kurang mandi,kurang tidur, kurang sopan,kurang sehat, dll), bahkan bisa disebut sebagai kurang ajar karena sebagai mahasiswa Anto tidak menunjukkan semangat luar biasa dalam mempelajari hal yang seharusnya dipelajari olehnya sebagai mahasiswa. Kalau soal buku tentu saja Anto rajin membaca buku, kalau soal diskusi tentu Anto termasuk kategori macam diskusi, kalau soal jaringan (ingat network penting dalam ekonomi) tentu Anto tak kurang apapun bahkan mirip laba-laba jarena jejaringnya dimana-mana. Cuma sayang apa yang dibaca, apa yang didiskusikan dan apa yang dijejaringkan bukanlah ekonomi mainstreams sebagaimana didapat di bangku kuliah. Bayangkan saja bagaimana muka bapaknya saat bertanya “apa itu IMF?’ , dan dijawab dengan nada geram oleh Anto “Internasional Masacre Fund, itu”. Dan mulai saat itu tak ada lagi perbicangan diantara mereka.

Meski sibuk demo sana-sini toh suatu saat Anto sadar bahwa dia harus menyelesaikan kuliahnya agar tidak terus menerus terkungkung dalam status mahasiswa. Setelah segenap persyaratan dipenuhi dan dengan debat sana-sini, proposal penulisan skripsi selesai diketiknya untuk dibawa kepada dosen pembimbing. Dengan penampilan yang agak berbeda dari biasanya, Anto membawa proposal berjudul Korupsi, Konsumsi dan Pertumbuhan Ekonomi : Sebuah Tinjauan Kritis Atas Perilaku Mahkluk Ekonomi di Indonesia Pasca Krisis.

Belum sempat membaca bagian setelah judul, sang dosen dengan muka tidak mendidik langsung mengeluarkan sumpah serapah “Apa-apapun kamu ini!!”.
“Baca dulu boss!!” jawab Anto tenang saja, sambil melanjutkan “ Begini saja, daripada boss lelah membaca, bagian setelah judul akan saya terangkan”. Dan mulailah Anto menerangkan kegelisahannya mencermati pertumbuhan ekonomi yang konon mencapai antara 3 – 5 % per tahun sebagaimana yang diungkapkan para ekonom (yang sebagian adalah dosen di Universitas-nya) lewat berbagai macam acara talk show yang bertebaran di televisi saat ini. Pertumbuhan itu setinggi itu sebenarnya tidak perlu disyukuri karena berbasis pada ekonomi ekspansif dan bukan distributive atau terbagi merata untuk kesejahteraan rakyat. Pada titik ini Anto setuju, namun keberatan dengan pernyataan yang mendasarkan pertumbuhan ekonomi pada agregat konsumsi belaka. Dimata Anto pertumbuhan ekonomi perlu juga dijelaskan dari agregat korupsi, karena korupsi akan memacu konsumsi.

Meski diam-diam tertarik pada penjelasannya, sang dosen masih dengan galak bertanya “Basis teori ekonomi mana yang kamu pakai untuk melakukan analisa korupsi memacu konsumsi?”.
Kembali Anto menjelaskan bahwa korupsi di Indonesia bukan dipicu oleh kebutuhan melainkan keserakahan dan ini dibuktikan bahwa yang melakukan korupsi umumnya adalah mereka yang berkecukupan atau bahkan sudah berlebihan hingga mampu memberi warisan kesejahteraan pada anak cucunya. Dan terbukti biar ada kenaikan gaji berkali-kali toh tetap saja korupsi jalan terus. Nah, ditengah kondisi ekonomi negara yang kembang kempis, banyak pengangguran,investasi produktif nol besar, tapi kok toko-toko tidak pernah sepi. Mall dibangun dimana-mana, ruko-rukan bak cendawan, perumahan mewah laris manis, pusat-pusat grosir bermunculan dimana-mana, ini menandakan bahwa sector konsumsi tumbuh dengan baik yang ditandai pula dengan pertumbuhan perusahaan pembiayaan untuk kredit konsumsi. Ini kan yang perlu ditanyakan, siapa yang mampu membiayai hobby belanja di tengah susahnya memperoleh uang saat ini?. Tentu saja orang-orang yang bisa memperoleh uang dengan gampang. Mereka ini bisa saja para pemenang undian yang ibarat dapat uang jatuh satu karung, pemenang kontes-kontes popularitas, para artis atau bintang entah nyanyi,sinetron, film atau komedi, atau barangkali para penerima ganti rugi terutama yang tanahnya jadi konsensi perusahaan tambang atau pembangunan proyek komersial, termasuk didalamnya tentu saja para penerima warisan apalagi kalau warisan berupa perusahaan yang sehat dan menguntungkan. Namun pada akhirnya yang paling dinamis mengerakkan sector konsumsi adalah para koruptor.

Kembali sang dosen masih belum percaya walau sedikit terpana, “Coba kamu langsung saja pada intinya, tunjukkan persisnya bagaimana korupsi memacu konsumsi”.
Anto makin bersemangat, mengetahui diam-diam dosennya tertarik. Korupsi bukanlah sebuah tindakan tunggal dan berdiri sendiri. Dalam korupsi selalu ada lingkaran yang saling terkait dan ini menjelaskan kenapa korupsi susah diberantas. Korupsi biasanya merugikan negara tapi sering menguntungkan banyak orang. Dalam proyek pembangunan fisik korupsi bisa menebalkan kantong mulai dari pemberi pekerjaan, pimpro, pemborong (mulai dari pemilik sampai mandor) dan penyedia jasa lainnya yang berkaitan dengan proyek apalagi kalau proyeknya dibiayai oleh APBN (yang biasanya berasal dari utangan luar negeri). Masing-masing koruptor ini punya lingkaran tersendiri baik yang ke atas maupun ke bawah, lingkaran ini harus dipelihara untuk memastikan keamanan ibarat sebuah bumper yang bisa dipakai untuk melindungi jika ada tabrakan. Biaya ‘keamanan’ atau apapun namanya secara tidak langsung menjadi cara distribusi hasil korupsi ke berbagai pihak, namun distribusi hasil korupsi tidak selalu terjadi dalam bentuk seperti itu. Distribusi hasil korupsi bisa muncul dilakukan dalam berbagai cara baikyang berbau politik, social atau bahkan religius. Di tangan koruptor inilah tergantung hidup banyak orang baik yang benar-benar untuk hidup atau sekedar untuk bersenang-senang.

Sebagai negara dengan predikat koruptif kelas wahid, tentu saja jumlah koruptornya berjibun, demikian pula jumlah uang yang dijadikan ‘bancakan’.Oleh karenanya banyak orang ikut menikmati, mencicipi dan kemudian membelanjakannya. “Sehingga dengan semakin banyaknya orang yang korupsi maka akan semakin banyak pula orang yang berbelanja dan hasilnya pertumbuhan ekonomi negara akan meningkat” demikian penjelasan dari Anto mengakhiri sesi diskusinya dengan sang dosen pembimbing. Dengan sikap yang cukup tenang sang dosen mengatakan bahwa apa yang dikemukakan Anto sangat menarik dan baik sambil tak lupa menambahkan apa yang menarik dan baik belum tentu bisa dilakukan. Sang dosen kemudian berdiri dan mengulurkan tangan sembari mengatakan “Coba, cari tema lain yang lebih sesuai dengan teori yang kami ajarkan”.

Meski agak kecewa, pada akhirnya toh Anto bisa menerima sambil berguman “Apa boleh buat , toh pada dasarnya hidup dan kehidupan universitas ini serta yang ada didalamnya bisa jadi terlibat juga dalam lingkaran korupsi”.

Salam Merampok Negeri
@yustinus_esha

METAMORFOSA : Dari Pejabat Bisnis ke Pejabat Publik

0 komentar


Kini banyak dari mereka yang duduk sebagai penyelenggara pemerintahan atau bilang saja sebagai pejabat adalah orang-orang yang berasal dari kalangan eksekutif bisnis yang dikenal ‘sukses’. Mereka adalah para pengelola usaha, pemimpin yang handal dan cakap dalam dunia bisnis. Orang-orang yang layak disebut sebagai yang dihormati, disegani dan diakui mampu membesarkan sebuah usaha bisnis local menjadi usaha yang multinasional. Kini mereka meninggalkan jabatan di kelompok usaha mereka untuk berkecimpung dalam bidang politik dan meraih jabatan publik. Ada yang kemudian melepaskan kaki tangannya dari wilayah bisnis, ada yang menyerahkannya pada istri, anak atau menantu, tetapi tentu saja masih ada yang diam-diam mengendalikan bisnisnya dari tempat dimana dia duduk sekarang.

Masuknya para pebisnis handal dalam bidang politik tentu saja bukan sesuatu yang tidak disengaja. Institusi politik di masa reformasi banyak merekrut para pebisnis handal untuk turut menyumbangkan sumberdaya mereka dengan mengisi pos-pos strategis, utamanya dalam wilayah pengembangan ekonomi. Tentu saja jelas,motivasi merekrut mereka dalam wilayah ini karena selama ini mereka terbukti atau bisa menunjukkan keberhasilannya dalam membangun ‘kerajaan bisnis’ yang mampu menguasai perekonomian dalam tingkatan tertentu. Bagi kalangan bisnis, panggilan untuk menjadi pejabat publik tentu saja sebagai bagian tanggungjawab social mereka sebagai warga negara untuk tidak sekedar mensejahterakan diri mereka dan kelompok bisnisnya melainkan juga masyarakat yang lebih luas. Dan tentu saja ini bagian dari ‘balas jasa’ atas ‘very good governance’ dari pemerintah selama ini yang melindungi mereka lewat berbagai kebijakan dimasa krisis; dimana pemerintah betul-betul baik hati karena mengelontori dunia bisnis dengan uang triyulnan rupiah agar mereka tidak bangkrut.

Masuknya pebisnis dalam wilayah jabatan publik kerap menghasilkan sebutan ‘the dream team’ di pemerintahan. Sebutan ini membutakan kenyataan bahwa misi utama dari pemerintahan adalah melakukan kebaikan dan bukan menghasilkan uang sebanyak mungkin. Dan bak memimpin sebuah ‘kerajaan bisnis’ para mantan pebisnis ini sehari-hari sangat sibuk untuk berusaha sebanyak mungkin ‘mencari’ uang untuk menutup dan menambal APBN yang bolong disana-sini alias defisit. Kalau perlu APBN tertutup sehingga punya cadangan devisa sebagai mana layaknya deposito di bank. Alhasil dengan berbagai trik dan manuver, dan kalau perlu lobby sana-sini ketetapan dan restu untuk menjual asset negara (yang layak jual) dengan judul program privatisasi disetujui. Tentu saja kaum yang tergolong nasionalis dan patriotis tidak setujui, menjual asset negara ke swasta apalagi asing bagi mereka sama dengan jual tanah air, menjual kedaulatan negeri ini. Dan seperti biasa para pebisnis selalu berpatokan pada peraturan bukan perasaan (termasuk didalamnya cinta tanah air), apabila ketetapan politik sudah diambil maka tindakan itu legal dan konstitusional, titik. Kalau soal ada perlawanan itu biasa karena para ‘pelawan’ itu tidak sungguh-sungguh mengerti bagaimana mencari uang untuk negeri ini. Bagi pejabat mantan pebisnis ini bukan tempatnya mencampuradukan kepentingan mengumpulkan uang dengan perasaan atau romantisme terhadap negara. Pendek kata apapun harus dilakukan selama itu legal, konstitusional dan menguntungkan.

Gigihnya perlawanan terhadap usaha yang ‘tidak nasionalis’ ini terus bergulir sampai sekarang. Dan seiring dengan pergantian pemerintah, pejabat mantan pebisnispun berganti, ada yang berganti jabatan tetapi ada pula yang berganti orangnya. Tetapi nafsu untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk negara tidak berubah hanya berganti saja caranya. Barangkali tidak lagi menjual ini itu yang sudah jadi, tetapi dengan membuat lapangan dan kemudian mengundang para pemain untuk bermain didalamnya. Dan biar banyak pemain terkenal datang ke lapangan, mereka diiming-imingi dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang memudahkan mereka mengembangkan permainannya. Melihat tawaran menarik para pemain terkenal ini biasanya bergabung untuk membentuk klub agar bisa menciptakan strategi permainan yang baik dan efektif alias cantik namun yang penting bisa menang lawan siapapun kalau perlu menang lawan yang punya lapangan. Permainan klub ‘luar’ yang cantik dan menjanjikan kemenangan, tak mungkin membuat tumbuhnya klub local. Ibarat sebuah pertaruhan maka tak ada petaruh yang akan menjagokan ‘ayam’ yang jelas-jelas akan lari karena tidak punya taji.

Tapi bukan mantan pebisnis namanya, kalau para pejabat negeri ini tidak mampu berkilah. “Nggak soal, biarpun bukan punya kita toh mereka bermain disini, kalau pertandingannya bagus kan banyak yang nonton. Kita bisa sediakan jasa lain seperti lahan parkir plus tukang parkirnya, jual makanan dan minuman, sediakan penginapan, tempat hiburan, mengelola dan mengolah sampah, dan jasa-jasa lainnya yang tak terbilang jumlahnya”.
“Bagaimana mungkin, kok jadinya seperti itu?”.
“ Ya mungkin saja, apa sih yang tak mungkin di negeri ini!!”.

Alamak!!!, Err…ruar biasa memang eksekutif mantan pebisnis kita.

Salam Double Koin
@yustinus_esha

Mall : Mereguk Bahagia Dunia

0 komentar

Mendengar kata filsafat, rata-rata orang akan berpikir tentang situasi yang rumit, berbelit-belit dan melampaui atau menjauhi kenyataan. Benarkah demikian, mestinya tidak sebab filsafat sebenarnya sesuatu yang dekat dengan keseharian hidup kita. Setiap orang hidup pasti pernah mempertanyakan sesuatu tentang hakekat diri, siapa aku?, apa tujuan hidup?, Benarkah Tuhan ada?, Apa itu kebenaran?, dan lain sebagainya. Sadar atau tidak, pertanyaan essensial seperti itu kerap datang entah diundang atau tidak. Orang juga cenderung mencari jawab atas berbagai fenomena yang ditemui sepanjang hidupnya.

Pemikiran dan ajaran filsafat dari berbagai jaman berserak dimana-mana. Banyak nama dikenal dan dikenang sebagai filsuf besar, baik mewakili periode jaman maupun kategori/aliran filsafatnya. Namun dari antara semua itu, ada satu pemikiran yang paling kerap dikutip atau populer sampai sekarang. Cogito ergo sum demikian dinyatakan oleh Rene Decartes salah satu filsuf yang mengusung paham esksitensialisme. Kutipan ini amat sering didengar terutama saat orang bicara soal eksistensi. Pernyataan ini menegaskan bahwa segala sesuatu patut diragukan apabila tidak disertai proses berpikir. Kenyataan ada karena kita berpikir.

Meski populer, tesis filsuf Perancis ini layak diuji kembali saat ini. Benarkah orang ada (bertindak) karena berpikir, sebab banyak bukti yang menunjukkan orang bertindak karena trend, karena iklan dan apa kata orang. Maka wajar apabila ada yang memlesetkan ayat suci Decartes menjadi 'saya berbelanja maka saya ada'. Dan mereka yang merasa berarti atau hidup dikala belanja kemudian dijuluki sebagai 'shophaholic' alias keranjingan belanja.

Trend dan konsumerisme telah menjadi 'iman' baru bagi para jemaah pembelanja dengan menjadikan mall sebagai pusat peribadatannya. Di kalangan atas, aktifitas keranjingan belanja bisa menghabiskan uang diluar nalar. Singapore, Paris, New York, Hongkong dan Ghuangzo adalah surga. Dan dengan enteng puluhan bahkan ratusan juta dihabiskan per bulan untuk segala sesuatu yang kebanyakan tidak diperlukan atau hanya disimpan di dalam almari. Pada kelompok yang kurang mampu, ada berita seorang gadis menjual keperawanannya demi membeli handphone model terbaru. Rupanya semakin banyak orang 'gatal' kalau melihat iklan promosi barang baru.

Penanda yang paling fundamental dari pencitraan konsumerisme adalah mall. Mall, tumbuh dimana-mana dengan kecepatan yang luar biasa. Jarak antara satu dengan yang lainnya semakin dekat. Secara rinci, mall didesain agar pengalaman hidup sepenuhnya dinikmati dalam satu tempat. Udara yang sejuk, lorong memanjang dengan pemandangan indah di kanan kiri, bermacam outlet yang menyediakan barang maupun jasa dari yang paling penting sampai yang hanya berguna untuk orang tertentu. Cafe, food court, game zone dan lainnya yang bakal membuat waktu berlalu tak terasa. Pendek kata jika hidup kita hanya terpaku pada memuaskan nafsu dari kelima panca indera, maka mall adalah jawaban yang sempurna. Paul Mazursky pembuat film 'Scene from The Mall' mengatakan : Apapun yang bisa terjadi dalam hidup anda, bisa terjadi di mall.

Di Samarinda ini apa sih hiburan untuk kita selain pergi ke mall, itu sebuah ungkapan seseorang ketika ditanya kenapa doyan sekali pergi ke mall. Dan tepat, mall memang bukan sekedar tempat belanja. Tapi juga tempat lari dari kepenatan hidup, sejenak meredam stress, menghilangkan bete daripada diam di rumah membaca koran atau menonton televisi yang isinya berita korupsi tiada henti. Mall lebih cepat menyajikan realitas imajiner yang memuaskan hati, ketimbang berbagai rencana pemerintah membangun bandara, jalan tol, pelabuhan dan sebagainya. Mall diam-diam dibangun dan jadi. Sementara rencana pemerintah terus ribut kanan kiri dan tak pernah jelas kapan akan terwujud.

Pernyataan bahwa hanya mall yang bisa menjadi hiburan mungkin dengan gampang bisa dibantah. Bukankah di Samarinda juga ada KRUS (Kebun Raya Unmul Samarinda), ada taman membentang di sepanjang tepian Mahakam, ada Desa Budaya Pampang, ada Museum dan Taman Budaya serta Water Park. Benar begitu, namun kebanyakan tempat tadi semakin hari semakin tak terurus, fasilitas dan keindahannya memudar tanpa sentuhan baru, bukannya dapat kesenangan melainkan lebih banyak merepotkan. Itu berbading terbalik dengan mall yang semain hari tambah semakin lengkap fasilitasnya. Mall semakin merepresentasi diri sebagai one stop shopping, entertaining dan bahkan educating.

Jika kita jeli mengamati kehidupan di mall maka sesungguhnya kita tengah mengamati potongan kehidupan masyarakat kontemporer. Dan yang pasti buat sebagian laki-laki, mall adalah tempat memelihara kesehatan mata juga kesehatan hati. Berada di mall tak bakal membuat hati jadi beku, sebab dalam satu jam kita (kaum laki-laki) bisa jatuh cinta berkali-kali.

Salam Belanja Meski Tak Ada

@yustinus_esha

Tato : Dari Apo Kayan ke Samarinda

0 komentar

Masihkan orang berpikir bahwa tato adalah penanda bagi mahkluk yang cenderung kriminal dan tindik (piercing) adalah peradaban massa silam?.
Minggu, 24 Juli 2011, bertempat di gedung PKM Universitas Mulawarman Samarinda digelar event eksibisi tato. Siapapun yang hadir di tempat itu dengan segera akan merubah persepsi atau pandangan tentang tato dan tindik. Kurang lebih ada 10 tato artist (penato atau tukang tato) yang membuka “lapak” untuk menunjukkan kemampuan dan gaya tato-nya. Dan mayoritas yang di tato adalah perempuan yang wajah dan lagaknya sama sekali tidak seram. Aura yang merebak malah mencerminkan bahwa tato adalah seksi.

Bumi Borneo dan Mentawai adalah daerah yang menyimpan narasi penting dalam catatan perjalanan sejarah tato di Nusantara. Di Borneo, masyarakat Dayak terutama sub etnis Dayak Kenyah (Kayan) dan Dayak Iban mempunyai tradisi menoreh tanda di tubuh. Pada masyarakat Kayan, adalah lazim seorang perempuan di tato. Upacara penatoan dilakukan tatkala si anak perempuan mulai menginjak masa dewasa, atau saat sudah mengalami haid yang pertama. Upacara tato yang rumit dan panjang dimaksudkan untuk memberi penanda tubuh bagi perempuan agar terhindar dari serangan roh jahat. Motif tato yang merupakan perpaduan antara kehidupan manusia, binatang dan tetumbuhan di sekitarnya adalah lambang sekaligus ekpresi harapan atas kesuburan, keamanan (keselamatan), kebajikan dan kesehatan.

Tato pada masyarakat Dayak juga melambangkan harmonisasi antara kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Lewat upacara penatoan, seseorang mendekatkan diri pada yang transeden. Entah kepada para dewa maupun roh nenek moyangnya yang mereka hormati. Tubuh yang ditato bukanlah tubuh kontemporer, melainkan tubuh yang berhubungan dengan kosmos atau dunia, dunia atas, tengah dan bawah.

Meski termasuk sebagai salah satu pioner budaya tato, kini tak banyak lagi masyarakat Dayak yang terampil melakukan tato tradisional mereka, generasi mudanya juga tak lagi sudi ditato layaknya kakek dan nenek mereka. Tato Dayak tergerus oleh modernitas, “tubuh yang bertato” di pandang sebagai tubuh masa silam yang bercorak primitif dan tak cocok untuk masa sekarang. Dan terbukti dalam ekshibisi tato yang diselenggarakan di PKM Unmul tak ada satupun penato tradisional Dayak yang bisa dihadirkan.

Melihat gelaran ekshibisi yang mayoritas di hadiri anak-anak muda dengan “dres code” hitam-hitam, tato di saat ini adalah kontinuitas sekaligus diskontinuitas dari rajah tradisional suku-suku di Nusantara maupun dunia. Kontinuitas karena tato (permanen) dari dulu sampai sekarang adalah sama yaitu memasukkan (dengan berbagai cara) zat pewarna di lapisan bawah kulit tubuh manusia. Sementara diskontinuitas terjadi karena tradisi tato dulu dan sekarang tak lagi berhubungan baik dalam ritual penatoan maupun tujuannya.

Tato kini banyak dilakukan oleh masyarakat urban atas pilihan sukarela atau bebas. Tato tidak lagi dimandatkan oleh aturan atau tradisi dalam sistem kepercayaan atau sosial tertentu. Andaipun ada spirit dibalik penatoan, maka mereka sesungguhnya memilih untuk keluar atau melawan budaya mainstreams lingkungan terdekatnya (keluarga, sekolah, tempat kerja).

Lepas dari itu semua dari dulu sampai sekarang, sesungguhnya tubuh tidak pernah netral. Tubuh selalu diintepretasi sesuai dengan jamannya. Tubuh selalu dijaga, dirawat dan diperindah dengan berbagai cara. Yang paling normal dan biasa adalah ritual bersih-bersih, mandi, keramas, creambath, facial dan lain-lain hingga di lindungi dan diperindah dengan pakaian serta perlengkapan lainnya. Namun sejak jaman dulu pula ada kecenderungan tubuh direkayasa, entah dengan mengurangi atau menambahkan sesuatu.

Semua itu adalah sebuah proses dialog, manusia berdialog dengan tubuhnya sendiri untuk mendapatkan tubuh yang nyaman untuk dirinya sendiri dan syukur-syukur bagi orang lain. Dan tato sebagaimana seseorang merubah (mencat) warna rambut, rebounding dan krol untuk merubah bentuk rambut, memutihkan atau mengelapkan kulit, menyedot lemak agar langsing, merubah bentuk hidung,mengencangkan payudara, mengembalikan keperawanan, merubah kelamin agar selaras antara fisik dan psikis adalah sebuah proses internal, perjalanan mencari jati diri agar seseorang merasa menjadi dirinya sendiri. Kenyamanan pertama adalah ketika kita merasa nyaman dengan tubuh (diri) kita sendiri.

Salam "Tatu" (terluka)

Batu Lumpang 24 Juli 2011

MEDIA : Menyeret Tato Ke Pop Culture

0 komentar

Media memegang peran penting dalam dinamika sosio kultural di masyarakat. Di tengah iklim yang menindas, media bisa menjadi corong dari penguasa untuk menekan masyarakat agar bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan penguasa. Namun dalam iklim demokratis atau kebebasan informasi media kerap kali menjadi corong terdepan memicu tumbuhnya budaya altenatif, budaya baru di luar mainstream atau pakem sebelumnya.

Aspek gaya hidup adalah salah satu bagian dari pemberitaan yang menduduki porsi tinggi dibaca atau ditonton oleh konsumen media. Dan tidak sedikit pula media yang mengkhususkan diri untuk menyorot persoalan gaya hidup. Kini banyak lahir media yang jelas-jelas membranding dirinya sebagai “life style magazine” atau “life style channel”. Selain media mainstreams, muncul pula media-media komunitas yang fokus pada isu-isu tertentu.

Tato dengan segala dinamikanya di masa silam, diuntungkan oleh keadaan ini. Tato hadir sebagai “tubuh yang mendunia” di halaman dan lembar media. Tubuh-tubuh bertato di berbagai belahan dunia hadir tersaji di hadapan mata, entah lewat film layar lebar, keping vcd, layar televisi atau lembar-lembar halaman majalah. Tato kembali mengeliat dalam sejarah modern lewat penampilan “Kelompok Gitar Rancak” Guns and Roses di penghujung tahun 80-an. Gaya tato dari Axel Rose dan kawan-kawannya segera menginspirasi kaum muda urban untuk menirunya. Selain Guns and Roses, kelompok musik lain macam Mutley Cruel, Megadeth, Poison, Sepultura hingga White Lion, para personelnya menghiasi tubuhnya dengan tato.

Gaya tato lain diperkenalkan oleh Jonathan Davis, vokalis Red Hot Chili Peppers (RHPC) yang menghiasi tubuhnya dengan motif tribal’s. Dan setelah itu muncul pula sosok-sosok selebritas yang segera menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk menandai tubuhnya dengan tato. Dunia selebritas (artis musik, film dan model) memang menjadi kiblat bagi anak-anak muda perkotaan untuk menampilkan citra diri sebagai kaum modern, kaum pengikut budaya populer.

Epigon kaum muda perkotaan tidak selalu mengarah ke pemain musik atau bintang film barat, tetapi juga selebritas asia dan lokal. Gaya model kondang Karenina yang mengikuti “one point tato” Drew Barimore segera diikuti oleh gadis-gadis lainnya. Selebritas perempuan lain yang gemar menato dirinya adalah Melani Subono dan Nafa Urbach. Luna Maya mengemparkan jagad pemberitaan lewat tato kecilnya yang terekam dalam video skandal seksualnya dengan Ariel Peterpan.

Namun tato tidak sekedar berkaitan dengan selebritas dari dunia seni, tato juga turut dipopulerkan oleh para olahragawan Pemain basket NBA dengan jelas menunjukkan rajah yang menghiasi tubuhnya, Dennis Rodman adalah salah satunya. Dari dunia olahraga tentu saja David Beckham adalah ikon yang paling populer dari menularkan demam tato. Gaya yang sama diikuti pula oleh Wayne Rooney yang menato nama anak di tubuhnya. Para petinju juga banyak yang menghiasi tubuhnya dengan tato, Mike Tyson bahkan merajah bukan hanya bagian tubuhnya melainkan sampai ke wajahnya.

Daftar selebritas baik dunia maupun Indonesia yang gemar menato tubuhnya dengan mudah bisa diperpanjang. Dan para selebritas inilah yang setiap hari mengisi jagad pemberitaan media lewat berbagai macam acara maupun kolom. Segenap aktivitas pemberitaan membuat media telah menempatkan tato dalam jagad budaya populer. Banyaknya selebritas yang “sangat feminim” tapi tak ragu untuk menato tubuhnya meruntuhkan stigma bahwa tato hanya berkembang pada kelompok maskulin yang sangar dan kriminal (liar). Sadar atau tidak, media telah menempatkan bahwa tato pada perempuan bercitra “sexy”.


Salam Coret Tubuh
Batu Lumpang, 25 Juli 2011
@yustinus_esha

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum