• Blockquote

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

MENULIS PROFIL

Jumat, 15 Juli 2011 0 komentar

Kenapa infotainment begitu disukai?. Apakah benar seperti yang ditenggarai oleh MUI bahwa kita gemar membicarakan keburukan atau aib orang lain?. Sebenarnya tidak, sebab infotainment tidak selalu memberitakan tentang skandal atau keburukan dari subyek beritanya. Kenapa infotainment disukai, itu karena infotaintmen membicarakan ‘orang atau seseorang’. Mengungkap apa yang belum diketahui oleh orang banyak tentang seseorang (subyek). Para produser infotainment tahu persis bahwa pada galibnya manusia itu senang mengetahui perihal orang lain, kehidupan orang lain.
Tulisan yang mengungkap hal ihwal seseorang sebenarnya lazim dalam berbagai media mainstreams. Sebab kolom ini sekali lagi merupakan tulisan yang digemari atau dibaca oleh banyak orang. Ada yang menamai rubrik ini dengan nama dan peristiwa, pokok dan tokoh, sosok, sosialita, profil, wajah dan kata, tokoh dan pemikiran, tamu kita dan lain sebagainya. Setiap media menamai rubrik ini berbeda-beda tergantung dari gaya penulisan dan hal apa yang hendak ditonjolkan dalam tulisan itu.
Setiap media juga mempunyai kebijakan sendiri soal panjang pendeknya sebuah tulisan profil. Ada yang hanya terdiri dari 4 – 5 alinea, tetapi ada juga yang panjang sampai berkolom-kolom. Rubrik wawancara di beberapa majalah sebenarnya adalah tulisan profil, panjangnya bisa lebih dari dua halaman. Demikian juga di koran tertentu pada edisi minggu, biasanya profil ditulis dalam bentuk yang lebih panjang, bisa sampai setengah halaman koran.
Meski kita ingin menulis profil pendek, pada prinsipnya sama saja dengan ketika kita ingin menghasilkan sebuah profil yang panjang. Keduanya mempunyai proses dan langkah yang sama yaitu : menentukan ide (inventing), mengumpulkan data dan informasi (collecting), mengatur atau menata dara dan informasi (organizing), menulis naskah awal (drafting), memperbaiki (revisi), memeriksa kembali atau mengkoreksi.
Siapa yang pantas atau layak untuk diprofilkan?. Secara umum subyek yang biasa di tampilkan dalam rubrik profil adalah :
1. Seseorang yang memiliki nilai berita.
2. Seseorang yang terkenal atau dekat dengan khalayak.

Dengan dua kriteria diatas maka sebenarnya siapa saja bisa diprofilkan dengan syarat seseorang itu terkait dengan sesuatu yang layak diberitakan. Seperti mengalami kejadian yang luar biasa atau langka, misalnya pesawat jatuh dan dia adalah satu-satunya orang yang selamat. Melakukan sesuatu yang tidak banyak dilakukan orang lain, misalnya dengan inisiatif sendiri melakukan penghutanan lahan kritis, menanami bakau di sepanjang pantai . Perjuangan atau perjalanan hidupnya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain dan lain sebagainya.

Bagaimana sebuah tulisan profil bisa dikatakan bagus. Tidak ada ukuran yang pasti, namun profil dikatakan berhasil apabila tulisan itu mampu menarik orang untuk membacanya hingga habis. Tetapi tulisan profil tidak semata di sajikan untuk dibaca saja melainkan mampu memberikan impresi atau meninggalkan sesuatu di hati pembacanya. Pembaca profil diharapkan mampu terinspirasi, mengambil hikmah atau pelajaran, termotivasi dan berempati atau bersimpati pada subyek yang diprofilkan. Contohnya apabila yang diprofilkan adalah seorang bocah yang berprestasi, namun anak dari keluarga miskin dan menderita penyakit yang butuh banyak biaya, maka publikasi profilnya akan mendorong untuk membantu khalayak memberi bantuan pembiayaan untuk pengobatannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tulisan profil mampu mengikat pembaca, yaitu :
• Berhati-hati dalam memilih istilah atau kata sifat. Jangan malas mencari kalimat lain yang artinya sama namun lebih memberi pengambaran tentang apa yang kita maksudkan. Misalnya “Dia adalah orang yang sportif” akan lebih baik di tulis “Dia adalah orang yang berani mengakui kesalahan dan memuji kelebihan orang lain”.
• Tulis secara spesifik dan hindari generalisasi. “ Doni, seorang pendaki gunung” kalimat ini akan lebih menjelaskan siapa Doni sebenarnya dari pada dengan menuliskan “Doni menyukai petualangan”. “Aldi, ketua BEM” tentu akan lebih memikat dibandingkan dengan menyebut “Doni aktivis organisasi mahasiswa”.
• Gunakan kalimat-kalimat pendek. Katakan secara langsung, jangan menutup-nutupi, bertele-tele, berkotbah atau terus menerus memberi penjelasan.
• Tonjolkan sisi positif tetapi tidak berlebihan sehingga seperti menjilat. Kalaupun ada pengalaman yang tidak enak di masa lalu itu bisa disajikan sebagai energi positif pada saat ini. Ingat tak ada seorangpun yang sudi “kebusukannya” diumbar.
• Profil adalah pemapara apa adanya, bukan untuk menyombongkan seseorang tetapi juga bukan tempatnya menghina atau menjelekkan seseorang. Bukan tempatnya menjadikan ruang profil untuk menjual atau menjatuhkan seseorang.

Profil bukanlah biografi lengkap dari seseorang dimana kita bisa menceritakan keseluruhan pengalaman atau lika-liku hidupnya. Dalam profil kita menyajikan potongan-potongan sisi hidup yang menarik secara singkat namun membuat pembaca mampu mengenal seseorang yang kita profilkan. Penulis profil tidak cukup hanya sekedar mewawancarai untuk menghasilkan deskripsi yang tajam, kuat dan detail. Mengikuti kesehariannya, mewawancarai orang terdekat dan mengamati hubungan dengan orang lain perlu dilakukan agar penulis menangkap sisi-sisi menarik dari orang tersebut.

Tentu saja kehidupan seseorang akan sangat kompleks, maka dalam penulisan sebuah profil, kita perlu memilih bidang apa yang hendak kita tonjolkan. Pilihlah bidang itu berdasarkan waktu yang tersedia serta bahan yang bisa kita kumpulkan . Andai kita tidak terlalu mempunyai waktu untuk mengenal orang itu lebih dalam tentu jangan memilih bidang watak atau perasaan. Sebab andai kita memaksakannya kemungkinan deskripsi kita hambar atau kita menyajikan sesuatu yang sudah biasa bagi publik yang mengenalnya.

Berikut ini beberapa bidang yang kerap dideskripsikan dalam penulisan profil :
• Bidang Fisik. Fisik merupakan aspek yang paling mudah untuk memulai pendeskripsian tentang seseorang. Tujuannya memberi penjelasan tentang aspek fisik dari seseorang secara jelas dan mengenal secara utuh tampilannya. Pengambaran aspek fisik dalam tulisan profil harus dikaitkan dengan apa yang dikerjakan olehnya. Sekali lagi bukan untuk memuji-muji keindahan fisiknya atau bahkan merendahkan dirinya. Fisik bisa dikaitkan dengan style, gaya hidup, tuntutan pekerjaan atau profesi dan lain sebagainya. Perbandingan fisik juga bisa membuat pengambaran tentang seorang tokoh menjadi lebih segar, hidup dan mengagumkan. “Meski mungil tubuhnya, tak berarti nyali Romi juga kecil. Ombak setinggi tiga meter lebih di pantai D selalu mengoda dirinya untuk segera menahklukannya. Pengunjung pantai D selalu dibuat terpana oleh aksi Romi. Ombak seakan-akan menimang-nimang dirinya. Dan Romi seolah bagai daun ringan yang mengapung diatas air mengikuti lekuk alirannya”.
• Bidang milik. Apa yang dimiliki seseorang dengan mudah bisa digunakan sebagai pelatuk untuk membuat deskripsi tokoh yang hendak kita profilkan. Kita bisa dengan mudah mengangkat apa yang dimiliki, segala sesuatu yang melingkupi orang itu. Yang disebut dengan bidang milik bisa meliputi property, koleksi, aksesories, kendaraan, binatang peliharaan dan lain sebagainya. “Setiap hari, aktifitas pertama yang dilakukan oleh Dani adalah menenggok “Bellina”, kuda kesayangannya di kandang belakang. Selain untuk memberi rumput segar, pada pagi hari, Dani akan mengajak Bellina menghirup udara segar, dengan menungganginya menyusuri jalanan kecil di perkebunan kopi. Kebun kopi seluas hampir 50 hektar itu adalah peninggalan Bapak Dani yang meninggal tiga tahun lalu”.
• Bidang tindakan. Deskripsi tentang tindak tanduk atau perbuatan tokoh tertentu adalah salah satu bidang yang kerap diangkat dalam profil. Penulis umumnya mengikuti dengan seksama, aktivitas sang tokoh, mengamati gerak-geriknya dari waktu ke waktu, dari satu kesempatan ke kesempatan yang lain. Biasanya akan ada sesuatu yang unik atau khas dari tokoh tersebut yang menarik untuk diangkat. Anekdot atau cerita lucu dan langka bisa dipakai sebagai pelatuk untuk memulai deskripsi tentang sang tokoh. Bidang tindakan yang dimaksud disini adalah serangkaian tindakan yang melekat pada sang tokoh, bukan bersifat momental belaka atau hanya sekedar pernyataan tindakan belaka seperti “Ardi marah besar dan kemudian menonjok muka Rusdi”. Deskripsi bidang tindakan yang dimaksud bukanlah seperti kalimat ini. Bidang deskripsi tindakan yang dimaksud adalah “Lama Randi tidak mengunjungi kampung halamannya. Ternyata kampungnya banyak berubah, disana sini terlihat bukit yang terkupas. Konon tanah di kampungnya banyak mengandung emas. Randi melangkah kaki ke ladang pertambangannya, ditemuinya Toni teman sekolahnya dulu. Dengan berlumur lumpur Toni menemuinya. Randi dan Tomi bertukar kisah. Dari cerita Toni, Randi tahu betapa susahnya menjadi penambang emas, kerjanya tidak seindahnya kilaunya. Setiap hari Toni bertaruh nyawa, memasuki lubang sedalam puluhan meter dengan peralatan seadanya. Berkali-kali Toni lolos dari maut karena keberuntungan semata. Kisah kampung halamannya dan pertemuan dengan Toni kemudian difilmkan oleh Randi dengan judul “Kemilau Cinta Berlabur Duka.”.
• Bidang perasaan. Perasaan seseorang juga bisa dipakai sebagai pelatuk untuk memulai mendeskripsikan dirinya. Banyak peristiwa berkaitan dengan kehidupan seseorang. Di media dengan mudah kita menemukan rubrik profil yang berisi deskripsi perasaan tokoh tertentu kala menikah, putus paca, hail, punya anak, lulus sekolah, selesai meluncurkan album dan lain sebagainya. Perasaan akan jauh lebih terasa hidup apabila digambarkan dengan metafora dan perbandingan. Profil dengan bidang perasaan bisa dimulai dengan memberikan gambaran tentang hati yang gembira, perasaan bahagia dan jiwa yang tengah berbunga-bunga, semangat yang kian membara. “Gadis Ria Bagya, begitu nama panjangnya. Sehari-harinya terlihat ceria, menjalani hidup dengan ringan dan menatap masa depan penuh kegembiraan. Tak salah apabila dia dipanggil dengan nama Ria, sebab memang dia selalu “ria” menjalani hari-harinya.”.
• Bidang watak. Ini merupakan bidang yang paling sulit untuk menuliskannya. Sebab penulis mesti mengamati seseorang dari hari ke hari, mendengarkan kesaksian atau cerita orang-orang yang kenal dekat dengannya. Watak sering bersifat abstrak, perlu kejelian dalam mengamati dan butuh penafsiran. Watak pada dasarnya adalah sesuatu yang terus-menerus dilakukan hingga membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang terus dilakukan itulah watak. Persoalannya watak tidak selalu positif dan profil tidak selayaknya memuat hal-hal yang buruk atau menjelek-njelekkan seseorang di hadapan khalayak. “Romi mengakui tak mudah baginya untuk menghormati orang lain apalagi yang kelas sosialnya lebih rendah darinya. Kesombongan dan kebiasaan mencari perhatian berbuah petaka. Saat mengendarai mobil selalu tak mau didahului oleh orang lain. Hingga suatu saat dia memacu kendaraan, mengejar seseorang yang melewatinya. Karena kehilangan kontrol, mobinya terguling berkali-kali dan terhenti di saluran air. Mobil yang dikejarnya lari menjauh, Romi merintih pelan dalam kegelapan, hingga seorang gelandangan renta menyelamatkannya. Pertolongan dari gelandangan itu membuatnya sadar bahwa dia butuh orang lain dalam hidupnya. Sesederhana apapun orang itu.”.

Itulah bidang-bidang yang biasa dipakai sebagai pelatuk untuk mengawali atau merangkai sebuah tulisan profil. Tapi yang perlu diingat bahwa profil hanyalah sebuah cuplikan dari kisah kehidupan. Profil bukan biografi, jadi pilihlah deskripsi yang paling penting dan terutama mengulas salah satu aspek atau sisi kemanusiaan sang tokoh.

ESAI : Tujukkan Gayamu

0 komentar

Esai adalah tulisan non fiksi yang mengijinkan penulis menyertakan sudut pandang personal (subyektifitas) di dalamnya. Esai berasal dari kosa kata Perancis, essayer yang berarti “mencoba” atau “menantang. Michel de Montaigne (1533 – 1592) penulis dari Perancis, adalah pioner dalam penulisan esai. Dia, penulis pertama yang menyebut karyanya sebagai esai. Hingga kini Montaigne tetap menjadi “batu penjuru” bagi para esais terkenal. Dari Monteigne kita belajar bahwa esai selalu membawa misi atau tujuan khusus dari penulisnya. Esai ditujukan untuk memecahkan kebuntuan dengan daya gebraknya. Lewat esai, penulis menawarkan atau menguraikan pemikirannya perihal hal tertentu.

Di masa pergerakan sebelum kemerdekaan, R.M Soewardi Soerjoningrat dikenal sebagai esais yang terus menguncang praktek kolonialisme Belanda dengan memompakan semangat kebangsaan. Salah satu tulisan darinya berjudul “Als ik eens Nederlander was ..” (Seandainya Saya Orang Belanda). Kita juga mempunyai seorang penulis esai yang andai dikumpulkan akan menghasilkan buku berjilid-jilid. Goenawan Mohammad lewat rubrik catatan pinggir di majalah berita Tempo, selalu menawarkan pemikiran alternatif yang mendobrak kemampanan atas berbagai macam hal.

Struktur Esai
Karena bukan merupakan tulisan ilmiah yang penuh dengan catatan kaki dan taburan kutipan teori, maka tak ada rumus baku atau struktur dalam penulisannya.Yang terpenting dalam esai penulis mampu merangkai pemikiran yang dipadu padankan dengan pengalaman (pribadi maupun bersama) , observasi lapangan, anekdot, dan pergulatan batin (refleksi) tentang pokok yang ditulisnya.

Namun secara umum struktur sebuah esai terdiri atas tiga bagian utama yaitu :
1. Pengantar (introduction)
2. Pengembangan (development of idea)
3. Kesimpulan (conclusion)

Ingat bahwa rumus diatas bukanlah rumus baku. Andai kita terbiasa menulis esai maka urutan-urutan atau elemen itu bisa dibolak-balik komposisinya. Hal terpenting pada esai bukanlah struktur melainkan isi yang mampu menarik perhatian pembaca, melahap sampai habis dan menyisakan pengaruh (makna) di benak pembacanya.

Bagian pengantar merupakan pokok bahasan, tesis, pertanyaan utama yang disampaikan oleh penulis. Bentuknya bisa berupa pertanyaan paparan masalah yang berat, hal-hal yang kontroversial, fenomena aneh/tidak biasa, peristiwa yang mengejutkan atau ajakan refleksi.

Apa yang dipaparkan di bagian pengantar diurai dan diberi keterangan serta argumentasi pada bagian pengembangan. Disini penulis menyajikan pergulatan pemikiran dan gagasan untuk membangun sebuat tulisan yang kuat.

Kemudian diakhiri dengan kesimpulan atau penutup. Tidak selalu kesimpulan berupa sebuah jalan keluar, solusi atau tawaran alternatif bagi penyelesaian masalah secara final. Kesimpulan bisa jadi sebuah pertanyaan, ajakan untuk melakukan refleksi. Model penutup seperti ini justru mampu menghadirkan sesuatu yang segar dan mengejutkan. Adalah hal yang biasa bahwa sebuah tulisan justru diakhiri dengan pertanyaan balik atau ajakan reflektif untuk khalayak pembaca.

Bidik Angle Paling Menarik
Esai yang menarik selalu diawali oleh pemilihan angle yang tepat dan tajam agar tulisan fokus dan persoalan mampu dijelaskan dengan terang serta jernih. Mencari angle sekali lagi merupakan persoalan yang gampang-gampang susah. Selain berpikir jernih dan kreatif, butuh kejelian agar angle yang dipilih tidak biasa-biasa saja atau sudah ditulis oleh banyak orang lain.

Peristiwa antre yang berkepanjangan di Stasiun Pomba Bensin Umum (SPBU) di berbagai kota akhir-akhir ini bisa dilihat dari beberapa angle :
1. Siapa yang bertanggungjawab atas pola distribusi bahan bakar, apakah mereka tidak bisa memprediksikan kebutuhan sehingga berkali-kali antrean massal terjadi?.
2. Kenapa pertamina sebagai pemasok utama bahan bakar tidak segera menjawab persoalan, selalu memberikan jawaban normatif berupa gangguan pasokan karena angkutan terlambat?.
3. Pertamina adalah perusahaan negara yang mempunyai tanggungjawab melayani kepentingan umum, kenapa selalu cuci tangan, meyalahkan pihak lain dan tak pernah meminta maaf atas keterlambatan yang massif di seluruh negeri.
4. Apakah tidak ada seorangpun ahli di pertamina yang mampu membuat integrasi data pertumbuhan kendaraan bermotor dengan tingkat kebutuhan pasokan bahan bakar?.
5. Apakah antrean kendaraan untuk mengisi premium ini merupakan sebuah kesengajaan, pemilik kendaraan bermotor sengaja dibuat frustasi agar kemudian beralih menggunakan pertamax?.
6. Seberapa besar kerugian dan kehilangan produktifitas akibat mengantri premium, apakah pertamina tidak bangkrut jika harus menganti kerugian itu?.
7. Antrian pembeli premium, duka pengendara tapi pesta untuk para pengecer premium.

Cara yang termudah untuk membantu perumusan angle yang tajam adalah mengemasnya dalam kalimat tanya. Gunakan rumus 5W + 1 H untuk menggali berbagai sudut pertanyaan.

Outline, Sekali Lagi Outline

Setelah sudut pandang tulisan ditentukan, jabarkan dalam kerangka tulisan atau outline. Tentukan point-point utama yang hendak diuraikan secara rinci. Susun dengan alur atau plot tertentu entah berdasar pada kronologi, prioritas atau hubungan sebab akibat, masalah dan respon.

Lembar gagasan atau kerangka tulisan ini penting untuk dibuat agar penulis bisa mengungkapkan pendapatnya secara runtut, runut dan menarik. Uraian gagasan di jalin lewat paragraf demi paragraf yang sambung menyambung, logis, menyatu dan menarik. Dalam menyusun kerangka tulisan perlu dipertimbangkan jenis-jenis paragraf yang hendak kita susun agar tulisan dari paragraf menyambung dalam satu kesatuan. Setiap paragraf mesti terdiri dari kalimat utama, kalimat pendukung dan kalimat penutup.

Hubungan Antar Paragraf

Pada semua bentuk tulisan ada tiga bentuk hubungan antara ide, kalimat, dan paragraf yaitu :

a. Hubungan saling menjelaskan dan saling menguatkan, tipe “and”
b. Hubungan memberikan alternatif atau cara pandang lain, tipe “or”
c. Hubungan negasi terhadap ide pokok, tipe “but”

Hubungan tersebut biasanya tersambung dalam jembatan (bridging) antar paragraf, perpindahan dari satu paragraf ke paragraf lainnya bisa berupa:

1. Kata sambung seperti namun, selain itu, dengan demikian, oleh karena itu, sehubungan dengan itu, dan lain, sebagainya. Kata-kata sambung seperti ini membuat hubungan antar paragraf menjadi kaku kalau terlampau sering digunakan. Oleh sebab itu tidak dianjurkan untuk sering menggunakannya..

2. Paragraf dimulai dari kata inti atau kalimat terakhir dari paragraf sebelumnya. Dengan mengambil pokok atau mengulang kalimat inti, format tulisan akan menjadi lebih terasa mengalir dan lentur.

Tunjukkan Gayamu
Esai mewakili pandangan atau pemikiran penulis tentang suatu pokok tertentu. Meski membahas hal-hal yang sifatnya obyektif, dalam esai yang menonjol adalah subyektifitas penulisnya. Esai bukanlah paparan akan sesuatu dengan “apa adanya” melainkan sebuah usaha dari penulis (subyektifitas) untuk mempersuasi pembaca agar menerima atau mengadopsi pemikiran, sikap dan bahkan terdorong untuk bertindak sesuai harapan penulis.

Sifatnya yang subyektif membuat esai berbeda dengan opini ilmiah. Esai bukanlah tulisan yang panjang dan serius, menyajikan analisis yang dingin, juga bukan tepat menunjukkan kepintaran penulisnya. Justru karena subyektifitasnya esai memungkinkan untuk menulis dengan renyah, dibumbui dengan humor dan gaya atau karakter penulis di dalamnya. Esai yang baik adalah yang mampu dikunyah dengan mudah, karena ringkas, memakai bahasa yang mudah dimengerti, ringan karena disertai dengan humor tapi tetap bermutu.

Menulis esai adalah menulis dengan gaya dan karakter sendiri. Dengan demikian esai masuk dalam kategori penulisan kreatif, sebab kreatifitas penulis memang dituntut untuk menghasilkan sebuah tulisan yang memikat namun tetap bermakna. Disebut penulisan kreatif karena para penulis esai biasanya mengadopsi gaya penulisan fiksi seperti memakai dialog, narasi, anekdot, klimak dan antiklimak serta ironi dalam tulisannya.

Pingin menjadi penulis yang “dirindui” pembaca karena tulisannya stylist, nge-pop (mudah dipahami), menawarkan sudut pandang yang unik (orisinil)?. Tidak susah sebenarnya asalkan mampu bersikap dan menjaga mental berikut :
• Pelihara rasa ingin tahu. Seorang yang mempunyai keingintahuan yang tinggi akan selalu mencari tahu hal-hal yang berada di bawah permukaan, tidak terjebak pada gejala yang terlihat. Menggali lebih dalam entah dengan membaca buku referensi, riset atau observasi yang dalam. Selalu bertanya kenapa?. Mencari jawaban, menggali fenomena lebih dalam. Hasilnya adalah rangkaian temuan yang mungkin tidak dilihat orang lain. Temuan-temuan ini tentu akan menarik jika dibagi kepada orang lain. Sebelum memikat orang lain, kita mesti selalu terpikat oleh sesuatu.
• Semangat berbagi. Temuan akan berarti kalau dibagikan kepada orang lain, bukan disimpan sendiri sebagai sebuah rahasia. Untuk apa kita bekerja keras kalau hanya ingin memuaskan diri sendiri. Kita tentu ingin bahagia, temuan hal-hal yang baru selalu mengembirakan dan kegembiraan akan semakin besar apabila dibagikan. Kesediaan berbagi dengan orang banyak ditandai dengan gaya tulisan yang mudah dipahami oleh orang banyak. Menaburi tulisan dengan banyak istilah teknis tertentu atau terma pada bidang tertentu berarti kita tengah membatasi siapa yang pantas dan bisa membaca tulisan kita.
• Merasa senasib. Melihat kesekitaran kita dengan perasaan (peka) dan mau turut mengalami apa yang orang lain alami (terlibat). Bagaimana mungkin kita mau menulis tentang kemiskinan secara menyentuh apabila kita tak turut merasakan apa yang dirasakan kaum miskin. Penulis esai sosial yang memikat tentu saja orang-orang yang mau merasa senasib dan sudi bergaul dengan pengamen, pedagang kecil, petani pengarap, nelayan dan penjual sayur di pasar keliling. Tulisan bukan sekedar rangkaian kata-kata indah nan memikat tetapi juga menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.
• Memperluas Wawasan. Kita bisa saja sangat paham akan sesuatu hal. Namun apabila menghadirkan tulisan dengan perspektif tunggal, niscaya tulisan akan membosankan dan kering. Penulis esai bukanlah penulis yang memakai kaca mata kuda. Maka membaca apa saja itu perlu untuk memperkaya tulisan, memperluas hubungan antara satu persoalan dengan persoalan lain yang dimata orang nampak tak terkait sama sekali. Film yang ditonton, musik yang didengar selalu akan memperkaya bahan tulisan. Penulis esai bukanlah orang yang maha tahu, tetapi tahu dimana bahan-bahan tulisan bisa ditemukan. Dia adalah orang yang akrab dengan perpustakaan, toko buku, acara televisi, radio, rubrik koran dan internet.
• Pencerita bukan pengkotbah. Penulis esai adalah penutur cerita, bukan pengkotbah yang gemar menggurui pembacanya. Kotbah terbaik adalah dengan tidak berkotbah. Cara mempengaruhi orang lain bukan dengan menggurui tapi menyajikan melalui metafora, anekdot, ironi, alegori, narasi atau dialog layaknya dalam pertunjukkan drama, ketoprak atau panggung boneka.


Semua Hal Bisa Kita Tulis
Semua tema bisa dijadikan bahan tulisan esai. Salah kalau kita mengira bahwa esai hanya bermain di wilayah sosial politik. Kini banyak pula penulis esai kesehatan dan ekonomi yang secara rutin mempublikasikan tulisan yang dilahap oleh masyarakat banyak. Semua aspek kehidupan bisa ditulis dalam esai karena esai bicara tentang kehidupan dan kemanusiaan serta hal-hal yang terkait dengannya.

Kalau kita adalah “gosip mania” kenapa kita tidak mendalami urusan gosip menggosip sampai ke akar-akarnya. Kalau kita pengemar komik kenapa tidak meriset komik dari masa ke masa, memperbandingkan tren tema cerita, gaya pengambarannya dan lain sebagainya. Mulailah untuk belajar memfokuskan diri pada tema tertentu agar kita semakin cepat menemukan karakter dan gaya penuturan yang khas.

Ada banyak tema-tema besar yang kemudian bisa kita urai menjadi tema-tema kecil untuk kita dalami atau kita pilih menjadi spesialisasi agar kita bisa meraih pembaca atau pengakses dari segmen tertentu, seperti :
1. Politik lokal
2. Olah raga
3. Adat istiadat
4. Bisnis dan marketing
5. Keuangan
6. Teknologi Informasi
7. Media dan Telekomunikasi
8. Seni-Budaya
9. Pekerja migran (trafficking)
10. Kimia dan Fisika Terapan
11. Elektronika
12. Otomotif
13. Perilaku dan gaya hidup
14. Keluarga dan parenting
15. Psikologi dan kesehatan
16. Arsitektur, interior, gardening
17. Pertanian dan lingkungan
18. Tata ruang kota
19. Kuliner
20. Pendidikan dan lain sebagainya.

Membaca tulisan para esais ternama mungkin membuat kita gentar untuk bersaing, tapi jangan takut sebab setiap orang mempunyai pengetahuan, pengalaman dan cara pandang yang khas. Dan semua itu pantas untuk dibagikan kepada orang lainnya. Untuk menjadi berarti tidak selalu harus dengan mengirimkan tulisan ke media massa (koran). Sekarang kita bisa menjadi penulis sekaligus publisher, misalnya melalui blog, baik blog kita sendiri maupun blog komunitas semacam kompasiana atau blog detik. Jadi kalau kamu merasa punya gaya, kenapa tidak mulai menulis dari sekarang?.

Angle Tajam, Tulisan Menawan

0 komentar

Resep apa yang digunakan oleh seseorang sehingga mampu melahirkan tulisan yang menawan. Sederhana saja, ramuan jitu dalam menulis hanya satu yaitu “memilih sudut pandang yang tepat atau semua berawal dari angle”. Semakin tajam angle yang dipilih, maka tulisan akan semakin baik. Lalu bagaimana kita bisa memilih atau membidik angle yang tajam itu?. Untuk pertanyaan yang ini sebenarnya tidak ada rumus yang pasti. Merumuskan angle selalu saja merupakan sesuatu yang gampang-gampang susah. Setiap penulis begitu akan memulai tulisan pasti akan segera berhadapan dengan kenyataan ini.

Soal jurus memilih angle, biasanya para penulis akan memilih berdasarkan kriteria layak berita (layak tulis) mulai dari sisi aktualitas, kedekatan dengan khalayak, signifikasi (kepentingannya bagi publik), eklusifitas, human interest dan keunikan. Pertimbangan dengan keseluruhan kriteria itu, pilih mana yang menurut kita paling penting dan bakal menarik untuk para pembaca. Cara paling mudah adalah dengan menggunakan kalimat tanya. Contohnya : Mengapa para tersangka korupsi gemar melarikan diri ke Singapura?. Sejak kapan alasa sakit dipakai oleh tersangka korupsi untuk menghindarkan diri dari pemeriksaan?. Benarkah anak muda dan orang tua sekarang ini lebih permisif kepada hubungan seks sebelum nikah?. Apakah informasi yang disebar oleh Nazaruddin akan membuat para petinggi partai demokrat terjerat urusan hukum?.

Jika sudah menentukan sebuah angle, maka setialah pada sudut pandang yang sudah diambil. Satu tulisan adalah satu ide, satu angle. Memasukkan angle lain dalam tulisan akan membuat pejabaran menjadi terbelah, tulisan tidak fokus dan pembahasan menjadi tidak mendalam. Tulisan akan melebar kesana kemari dan membuat pembaca lelah atau bahkan bosan. Untuk menghindari hal itu, maka begitu angle telah ditentukan, segera jabarkan dalam outline atau kerangka tulisan. Kembangkan atau jabarkan angle dalam sebuah lembar gagasan, terutama untuk tulisan yang kompleks dan panjang. Dengan lembar gagasan akan diketahui bahan mana yang harus ditambah, entah lewat wawancara, observasi lapangan atau studi/riset pustaka dan internet.

Baik tulisan panjang maupun pendek semuanya butuh angle yang menarik. Fokus pada satu titik dengan kompleksitas tinggi perlu dijelaskan dalam penjabaran yang panjang, dibedah dari berbagai sudut sehingga tulisanpun akan panjang. Menentukan angle persis sama dengan seorang fotografer yang menangkap obyek lewat jendela bidik di kamera.

Topik penjual singkong, bisa jadi tulisan pendek apabila angle yang dipilih adalah profil sang penjual, akan tetapi bisa menjadi panjang apabila sudut pandang adalah pemikiran visionernya untuk menjadikan kedai singkongnya mendunia berhadapan dengan kedai global semacam KFC, Mc Donald dan lain-lain.

Jadi kalau ingin menghasilkan tulisan yang menawan, teruslah berlatih untuk membidik panorama di depan layaknya seorang fotografer. Realitas di hadapan mata bisa menghasilkan ribuan frame, point of view. Apa yang membedakan kita dan orang lain adalah kemampuan untuk menentukan frame yang menarik dan mampu bercerita. Itulah seni dalam menulis.

Islami Versus Kristiani

0 komentar

Tak lama lagi kaum muslimin akan memasuki bulan (masa) puasa. Tapi saya tak ingin membahas soal puasa sebab masa-masa di mana saudara muslimin bermati raga, justru menjadi saat-saat yang mengembirakan buat saya. Pertama tentu saja saya bisa ikut-ikutan buka puasa tanpa harus menahan lapar dan dahaga sebelumnya. Kedua ketika nafsu makan saya turun lantaran menu yang itu-itu saja, di bulan puasa ini bakal muncul aneka makanan dan masakan yang tak biasanya. Akan banyak kedai yang menyediakan aneka makanan dan jajanan dengan harga ‘orang beriman’. Dan masih berhubungan dengan soal harga, karena tidak diburu saat berbuka, maka saya akan membeli ketika masa buka sudah lewat, hasilnya adalah ‘harga perdamaian’.


Yang saya ingin bicarakan, menjelang hari puasa ini ramai para bintang (artis) baik penyanyi maupun pelakon mempersiapkan lagu dan sinetron rohani (Islami). Anang menciptakan lagu rohani untuk dinyanyikan oleh Ashanti yang berduet dengan Aurel, putri Anang hasil perkawinan dengan Kris Dayanti. Dalam video klipnya lagu itu, Azriel, adil Aurel ikut juga bermain sebagai pendukung. Sementara itu rekan duet mesra Anang dulu yaitu Syahrini, mengandeng Pasha Unggu untuk menyiapkan lagu rohani juga baginya. Lalu apa persoalannya untuk saya?. Bukankah menyambut hari puasa dengan lagu-lagu yang menyejukkan hati itu adalah sebuah ibadah juga?. Ya tidak ada persoalan sebenarnya, dan bahkan sungguh baik adanya. Yang mengelitik saya adalah soal penyebutan lagu Islami, itu maksudnya apa?.


Pertanyaan saya juga berlaku untuk lagu-lagu yang juga disebut sebagai lagu Kristiani. Maksudnya disebut Kristiani itu kenapa?. Apakah karena disitu menyebut-nyebut nama Yesus?. Pasti ada yang protes dengan pernyataan plus pertanyaan saya itu. Dan kemudian menjelaskan bahwa disebut sebagai Islami atau Kristiani karena isinya mencerminkan, mewartakan dan bernafaskan nilai-nilai Islami atau Kristiani. Lalu apa yang disebut dengan mencerminkan atau bernafaskan Islami?. Ya syairnya menunjukkan iman pada Allah, memuji kebesaranNYA serta mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan olehNYA. Nah, bukankah itu juga merupakan nilai-nilai Kristiani?.


Coba kita lihat dan rasakan syair ini “Kasih ..itu lemah lembut, kasih ..itu murah hati ….kasih…kasihMU oh Tuhan (Allah), luhur tiada batasnya”, nilai-nilai agama manakah yang dicerminkan atau menjadi nafas dari syair ini. Tentu bukan hanya nilai-nilai Kristiani saja yang mengakui bahwa kasih itu lemah lembut, murah hati serta kasih Tuhan (Allah) tiada batasnya. Mungkin ada yang menawarkan jawaban yang lebih sakti, “Lagu Islami adalah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh orang Islam”. Dan demikian pula dengan lagu Kristiani. Wah kalau begitu banyak lagu harus dikeluarkan dari daftar kidung Gereja. Sebab saya yakin banyak notasinya yang tidak diciptakan oleh orang Kristiani. Banyak lagu, nadanya diambil dari kidung-kidung rakyat yang tak jelas siapa penciptanya, beragama atau tidak.


Masalah seperti ini bukan hanya soal lagu tapi juga merembet ke urusan tulis menulis, karya tulis entah itu cerpen, novel, skenario maupun dongeng. Munculnya novel “Ayat-Ayat Cinta (AAC)” karya Habiburrahman El Shirazy mendorong lahirnya novel-novel serupa yang dilabeli dengan istilah novel Islami. Bahkan banyak pengarang lain mengekor sampai urusan nama agar lebih kelihatan Islami dengan menambahkan El di depan namanya. Kenapa disebut novel Islami?. Mungkin jawabannya adalah tokoh atau karakter utama dalam novel itu adalah sosok yang rajin sholat lima waktu. Kalau begitu dengan mudah saja novel ini menjadi novel Kristiani, karena tinggal menganti settingnya dari Mesjid ke Gereja, dari rajin sholat lima waktu menjai rajin ibadah harian dan misa atau ibadah di hari minggu. Dan kenapa pula cerpen AA Navis, yang berjudul “Robohnya Surau Kami” tidak disebut sebagai cerpen Islami?. Yang andai diganti setting menjadi “Robohnya Kapel Kami”, pasti tak akan disebut pula sebagai cerpen Kristiani.


Lalu apa kesimpulan saya, mungkin ada yang bertanya begitu. Apakah tidak ada karya yang Islami, Kristiani, Budhis, Hindui, Konfusianis, Bahaii dan lain sebagainya?. Yang pasti bagi saya jelas Al Quran adalah Islami, Injil adalah Kristiani, sementara yang lain-lain saya masih bingung. Intinya adalah kenapa sih kita masih terus membawa-bawa pertarungan antar agama sampai masuk ke urusan nyanyi menyanyi atau tulis menulis. Dan bukan itu saja karena lama-lama setelah baju atau pakaian, barangkali besok kita akan ribut soal tas, sepatu, kursi, jendela, genteng, kran air, motor, mobil, listrik dan air sebagai yang entah Islami atau tidak, Kristiani atau tidak. Penting nggak sih?.


Salam Bingung

@yustinus_esha


NB : Andai saya “pedagang” kemungkinan besar akan menjawab bahwa hal itu penting.

Jannah, Jun dan Dani, Doaku untukmu

Jumat, 08 Juli 2011 0 komentar

Pagi menjelang siang, seperti biasa laku pertama setelah bangkit dari peraduan adalah mencari rokok dan koran.  Sebetulnya hari ini tak terlalu bernafsu untuk segera membacanya sebab saya menduga headline beritanya tak akan jauh-jauh dari Nazzarudin, mantan bendahara dari partai yang tanda gambarnya mirip lambang mobil ternama dari Jerman.  

Menyedot rokok dengan dalam dan menyeruput kopi dingin sisa semalam, membuat perut meniup tanda untuk segera melangkah menuju jamban. Tapi langkah kaki tertahan, ketika mata tertumbuk pada judul berita halaman pertama, koran Tribun Kaltim, Jum’at, 8 Juli 2011. Anak Saya tak Kembali : 3 Bocah Tewas di Kolam Bekas Tambang. Sontak hilang rasa ke belakang, luruh tersaput panas dan sesak yang mencengkeram di dada. Hati siapa yang tidak panas membaca berita itu, mata siapa yang tak akan meneteskan buliran duka melihat wajah tiga bocah yang tengah menikmati masa-masa liburan sekolah yang hampir berakhir itu kini telah tiada.

Muhammad Junaidi dan Ramadani adalah kakak beradik, bersama Miftahul Jannah dan teman-temannya, murid Sekolah Dasar di RT 05 Kelurahan Sambutan bermain di sekitar kolam bekas tambang. Barangkali mereka bukanlah anak-anak yang bisa menikmati liburan sekolah dengan berenang di kolam hotel berbintang atau waterpark yang kini marak di kota ini. Orang tua yang sibuk bekerja barangkali tak bisa menemani mereka menyusuri tempat bermain di mall-mall yang adem. Kemungkinan besar mereka juga bukan bocah yang sudah akrab dengan aneka gadget terbaru yang memungkinkan langlang buana tanpa meninggalkan rumah. Mereka hanyalah bocah-bocah kampung yang taat memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar mereka untuk menuruti naluri bermain yang memang kuat di dalam diri anak-anak.

Saya membayangkan bahwa saat mereka melihat kolam bekas tambang yang konon berukuran 6 x 25 meter, di benak mereka pasti muncul keinginan untuk mencebur dan menikmati segarnya. Anak-anak selalu mempunyai dunia sendiri dan dengan cepat mengimajinasikan genangan air yang seadanya itu sebagaimana layaknya kolam-kolam indah yang kerap mereka saksikan di layar televisi. Soal waspada terhadap resiko bahaya tentu tak ada dalam benak mereka. Genangan air yang barangkali jernih, tidak berombak dan tenang ibarat lambaian tangan yang mengajak bocah-bocah menceburkan dirinya.

Niat bergembira yang berubah jadi petaka. Tiga bocah itu tenggelam tak lama sesudah menceburkan dirinya dalam kolam bekas tambang itu. Teman-teman seusianya yang lain, namun belum turut menceburkan diri tak kuasa menolong, ketiga bocah yang ‘megap-megap’ melepas diri dari luruh ke dasar kolam. Usaha mencari pertolongan dari rekan-rekannya pada orang dewasa, terlambat sudah. Ketiganya ditemukan meninggal dengan badan berlumur lumpur tambang.

Saya tidak mengenal ketiga bocah itu, wajah mereka yang riang menatap masa depan baru pertama saya lihat di halaman koran. Saya juga tidak tahu bagaimana lingkungan mereka tinggal di Sambutan sana. Tapi yang saya tahu bahwa tambang batubara di Samarinda telah berkali-kali memakan korban, baik kolektif maupun individual. Sehari yang lalu, saya juga menatap wajah di lembaran koran dengan cukup lama, foto Nazaruddin yang kini entah lari kemana. Ingin rasanya diri ini meludah di mukanya. Tapi hari ini tak kuasa saya berlama-lama menatap wajah ketiga bocah yang lugu itu. Hidup dan kematian adalah kuasa Tuhan, tapi siapa yang mampu dengan mudah menerima kematian ketiga bocah yang sedang senang-senangnya menikmati kehidupannya. Membangun cita-cita dan meniti masa depannya yang barangkali seadanya. Andai Tuhan bisa didemo dan mau mengembalikan kehidupan ketiga bocah itu, saya akan berdiri pada barisan paling depan untuk memintanya.

Saya ta ingin memanfaatkan kematian ketiga bocah ini untuk mengingatkan para pemangku kepentingan yang berurusan dengan dunia tambang di Samarinda maupun Kalimantan Timur pada umumnya. Sebab tanpa diingatkanpun, andai anda sekalian tidak buta huruf dan buta hati berita di Koran Tribun Kaltim dan pasti juga ada di media lainnya akan menyuarakan peringatan itu dengan sendirinya. Meski hati anda sekalian telah membatu, namun tangis orang tua, sanak kerabat, saudara dan teman-teman ketiga bocah itu akan melumerkan batu sekeras apapun.

Kematian ketiga bocah ini adalah “teriakkan tanpa bunyi” memungkasi aneka suara yang selama ini dihamburkan oleh berbagai pihak, betapa perilaku para pengusaha tambang di Samarinda begitu serampangan. Suara yang oleh para pengambil kebijakan ditanggapi dengan acuh tak acuh, jawaban yang normatif “yang baik kita apresiasi, yang nakal kita amputasi” sembari tak lupa menganggap para pengkritiknya sebagai “tak paham dan menghambat laju pembangunan”. 

Kepulangan ketika bocah pada hadirat Tuhan pemilik kehidupan, adalah penanda bahwa para pemangku kepentingan yang bertanggungjawab atas aktivitas pertambangan di kota ini telah “membunuh peradaban”. Aktivitas investasi yang mengemukkan pundi-pundi kekayaan pemerintah kota dan dipuji mengerakkan roda pembangunan ternyata tak mampu menyediakan teman bermain yang nyaman dan aman untuk anak-anak. Anak-anak adalah mahkluk tanpa prasangka dan tak peduli resiko, adalah tugas bagi penanggungjawab masyarakat untuk menyediakan dan memfasilitasi kebutuhan mereka. Menyalahkan bocah dan orang tuanya adalah tanda bahwa kita menghindari tanggungjawab kolektif dalam membesarkan dengan benar para penerus bangsa.

Kota ini abai mendidik warganya akan resiko yang ada di kesekitaran mereka. Papan peringatan hanya gemar melarang-larang dan menakut-nakuti warganya. Tak ada sebuah papanpun yang dengan jujur mengatakan misalnya “sungai ini telah tercemar dengan aneka polutan. Mohon tidak menggunakan airnya sebab akan berisiko menimbulkan gangguan pada kulit, pernafasan, pencernaan dan lain-lain”. Tanda peringatan yang gemar dipasang selalu berisi “jangan membuang sampah sembarangan”, “dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan”, “awas listri tegangan tinggi”, “awas anjing galak”, “pemulung di larang masuk”, “ngebut benjut” dan lain sebagainya.

Usaha pertambangan bukanlah usaha siluman maka tak pantas seperti layaknya maling yang “masuk tidak diundang (tanpa permisi) dan pergi diam-diam”. Tak perlu berkelit bahwa aktivitas tambang adalah penyumbang terbesar kerusakan alam. Tidak perlu kita berdebat dengan memakai aneka undang-undang dan peraturan, kembali saja pada rumusan sederhana yang mungkin kita pandang bodoh bahwasannya “Siapa yang merusak, dia yang harus memperbaiki. Kalaupun tidak bisa mengembalikan pada kondisi semula, sekurang-kurangnya tidak meninggalan bahaya”.

Para pemangku kepentingan yaitu pengambil kebijakan dan pengusaha tambang (pekerja di level manajemen) bisa dipastian bukan sekumpulan orang bodoh dan tolol. Sebagian besar telah menamatkan pendidian kesarjanaannya, bahkan pasti ada yang bergelar master dan tak sedikit yang telah mencapai tingkat doktoral. Maka tentu saja tidak sulit untuk memahami dan mengerti ayat bodoh dan rumus termudah di atas. 

Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan turut berduka bagi keluarga Jun dan Dani serta keluarga Jannah. Semoga Tuhan menerima ketiga anak ini dalam pangkuanNYA dan memberikan tempat bermain terindah dalam haribaanNYA. 

Akhirnya untuk para pengambil kebijakan, pelaksana pemerintahan di kota ini, para pemimpin, pelaksana teknis dan wakil rakyat, jangan hanya gemar mempersoalkan dan ingin mengeruk dana CSR saja. Tugas anda bukan hanya “mengemis” dana CSR dari maskapai tambang, melainkan mengharuskan mereka untuk menghormati kehidupan, mengeruk kekayaan alam dengan “beradab”. Tanggungjawab bukan hanya pada manusia saja melainkan juga alam dan kehidupan lainnya. Berkaitan dengan dunia anak-anak, berhentilah memasang baliho yang memameran senyum manis kalian seolah mengatakan dan menyatakan bahwa “KOTA INI LAYAK ANAK”. Kematian ketiga bocah adalah affirmasi bahwa senyum anda tak lebih dari seringai vampir atau zombie yang menghisap kehidupan.

Salam Hancur Lebur
Batu Lumpang, 8 Juli 2001
@yustinus_esha

JURNALISME WARGA : MERETAS JALAN PERUBAHAN

Selasa, 05 Juli 2011 0 komentar

Parni Hadi pernah menyatakan kalau jurnalis adalah salah satu profesi yang paling diemohi oleh calon mertua. Konon karena jam kerjanya tidak jelas sehingga para mertua khawatir putrinya yang dikawini oleh jurnalis bakal kesepian, sendiri dirumah karena sering ditinggal suami pergi berburu berita. “Sudah kerap ditinggal, uang belanja yang dikasih kecil lagi” begitu barangkali yang ada di benak para mertua. Disamping itu profesi sebagai pewarta dianggap berbahaya karena kerap bersinggungan dengan penguasa.  Pada regim  pemerintahan yang otoriter, jurnalis adalah salah satu musuh terbesar penguasa.

Soal resiko sampai saat ini pekerjaan jurnalis terutama pada media yang menerapkan jurnalisme kritis, tentu saja masih sama berbahayanya. Tulisan atau reportase jurnalis masih berpotensi untuk memancing kemarahan atau ketidaksukaan banyak pihak yang mungkin saja berujung pada kekerasan. Tapi kalau soal citra, saat ini profesi jurnalis adalah salah satu profesi bergengsi yang didamba oleh para calon mertua.

Kini banyak orang ingin jadi jurnalis dan ruang untuk itu memang terbuka lebar karena industri media berkembang tidak hanya di ibukota dan kota-kota besar saja. Selain media-media mainstreams, pertumbuhan media internal dan media komunitas juga besar serta butuh sumberdaya. Namun untuk mereka yang ingin melakukan kerja-kerja jurnalistik tanpa harus menjadi jurnalis ruang dan sarana untuk itu juga tersedia secara luas. Kini istilah jurnalisme warga (citizens journalist) semakin populer dan mudah dipraktekkan. Meski bukan praktek yang baru, pada masa ini jurnalisme warga semakin luas cakupannya dan tidak lagi tergantung kepada media mainstreams untuk mempublikasikannya.

Dari Mana Datangnya Berita
Kerja seorang jurnalis adalah mencari informasi, mengumpulkan dan kemudian menuliskannya menjadi sebuah berita. Sumber berita bisa berupa peristiwa atau penjelasan dari orang/lembaga tertentu (narasumber). Berbeda dengan jurnalis profesional, jurnalis warga tidak bisa mengandalkan bahan berita atau sumbernya pada konperensi pers, siaran pers atau pertemuan/kegiatan pemerintah. Akses kepada sumber-berita yaitu tokoh-tokoh kemungkinannya juga kecil. Maka jurnalis warga harus mencari sumber-sumber yang tidak lazim.

Tapi jangan khawatir, sumber atau bahan berita tersedia dimana-mana. Bahkan tanpa keluar dari rumahpun kita bisa saja menulis berita. Mulai saja dari kamar mandi atau dapur, dimana air PAM tidak mengalir berhari-hari, atau mengalir hanya dimalam hari itupun keruh airnya.  Atau soal aliran listrik yang mati hidup sampai menimbulkan kerusakan pada alat-alat elektronik.  Ketika telepon rusak dan kita memberitahukan ke telkom namun responnya lambat, butuh waktu berhari-hari untuk datang memperbaikinya, ini juga bahan berita yang bagus.

Saat kita keluar rumah, suasana jalanan juga merupakan kabar yang baik. Dimana saja jalan yang rusak dan macet. Belum lagi aksi ugal-ugalan dari pengendara di jalanan, kecelakaan dan lain sebagainya. Pendeknya banyak sekali peristiwa disekitar kita yang bisa jadi bahan berita.
Belum lagi kalau kita browsing atau berselancar di dunia maya. Disana tersedia bahan berita yang tiada habis-habisnya. Status facebook, kicauan di twitter atau video di youtube, berkali-kali menjadi pemberitaan yang dahsyat di media mainstreams. Bukanlah hal yang tabu lagi kalau kini media-media mainstreams mengambil bahan berita dari media sosial atau situs berbagi entah teks maupun audiovideo.

Menyajikan Berita
“Saya secara rutin meng-update tulisan berita di blog, tapi tetap minim pengunjung”, keluhan seperti ini diungkapkan oleh banyak blogger pemula. Semangat saja memang tidak cukup untuk membuat orang tertarik pada apa yang kita sajikan. Sebagaimana jurnalis profesional, seorang jurnalis warga juga dituntut untuk menyajikan informasi yang relevan untuk publik. Informasi yang relevan tidak selalu berkaitan dengan besarnya sebuah peristiwa. Berita meledaknya gunung Merapi yang kemudian menyapu beberapa wilayah kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, adalah berita besar. Tapi kita tak memilih untuk memberitakannya sebab hampir semua media secara terus menerus memberitakannya (running news).
Soal relevansi ini memang butuh kejelian untuk menentukannya. Parameter yang dipakai untuk menentukan apakah suatu peristiwa atau informasi itu relevan atau tidak, dengan menanyakan siapakah sasaran utama yang hendak kita jangkau, siapa mereka?.  Dimana mereka tinggal?. Apa kebutuhan informasi mereka? Dan kategori –kategori lain seperti kelas sosial, tingkat pendidikan, umur dan lain sebagainya. Berarti sejak awal kita harus menentukan atau membuat segmentasi,kelompok mana yang hendak menjadi target paparan informasi.

Orang akan membaca informasi kita bila merasa bahwa pokok itu diperlukan oleh mereka, entah untuk menambah pengetahuan, memberi hiburan, memperingatkan, memberikan petunjuk praktis atau menguatkan perilaku tertentu. Selain relevansi, informasi yang kita sajikan juga harus mempunyai kedekatan (proximity) dengan kelompok sasaran. Secara tradisional konsep kedekatan sering dikaitkan dengan aspek geografi atau lokalitas. Berita di katakan menarik apabila menyajikan apa yang terjadi di sekitar wilayah atau lingkungan pembacanya. Tak heran jika salah satu grup media secara massiv mendirikan koran-koran lokal sampai tingkat kabupaten.

Namun kini konsep kedekatan sudah berkembang melampaui batasan-batasan geografi. Kedekatan bahkan bisa diciptakan melalui kepedulian yang sama. Kini banyak media mengembangkan diri menjadi media yang khusus, menyasar kelompok tertentu (narrows casting).  Pilihan ini yang sebenarnya cocok untuk para pewarta warga, fokus pada issue tertentu. Dengan fokus pada pokok tertentu kemungkinan besar kunjungan berulang atau perhatian dari khalayak akan lebih mudah diperoleh.

Pada microblogging twitter ada beberapa account anonym yang di follow oleh banyak pengguna twitter. Account ini banyak men-twitt informasi-informasi yang tidak diungkap di media massa. Informasi yang kerap menjadi latar dari apa yang diberitakan di media mainstreams. Maka selain mempunyai relevansi, informasi yang di ‘kicau’ kan terasa dekat dengan keseharian. Bukankah sering kali kita digempur oleh berita tertentu, pagi, siang, malam dan berhari-hari, kasus Century misalnya.  Informasi di balik apa yang terungkap di media massa menjadi menarik untuk banyak orang yang bosan dengan pemberitaan itu-itu saja.

Berlagak Bego Tapi Jangan Mau Di Bego-Bego-in
Seorang pewarta adalah penanya yang baik, maka yang paling utama harus dipelihara adalah rasa ingin tahu yang tinggi. Mempertanyakan segala sesuatu dan tidak mudah percaya (kritis dan skeptis).  Selalu mempertanyakan apa yang dilihat, didengar, dibaca dan dikatakan oleh orang lain, bahkan terhadap apa yang diyakini oleh dirinya sendiri. Cek dan ri-cek begitu selalu atas apapun yang diterima. Seorang pewarta yang malas bertanya dan mempertanyakan kembali lalu mempublikasikan beritanya akan menyesatkan para pembacanya. Berkali-kali masyarakat kita diguncang oleh berita yang sumbernya tidak jelas, berita yang “katanya” dan kemudian beredar lewat SMS, BBM lalu mulut ke mulut.  Awalnya mungkin pengirim pertama berniat baik, mengabarkan sesuatu, tetapi tidak melakukan validasi atas isi beritanya sehingga niat baik justru berujung pada kekacauan.

Sikap selalu bertanya dan tidak mudah percaya itu secara bergurau diterjemahkan dalam slogan “Berlagak Bego Tapi Jangan Mau Di Bego-Bego-in”. Seorang yang bego digambarkan selalu bertanya-tanya, seolah tak tahu ini atau itu. Bertanya sampai yang ditanyai tak punya jawaban lagi. Tapi meski berlagak bego, jangan mau di bego-begoin, ini artinya jangan percaya begitu saja pada ucapan seseorang meski di adalah presiden misalnya. Tapi terus dipertanyakan secara kritis sambil terus menggali bukti.

Banyak kejadian di sekitar kita andai didalami sampai ke akarnya ternyata menarik, meski awalnya nampak biasa-biasa saja. Sekumpulan anak-anak bermain layang-layang di lapangan dengan banyak bapak-bapak duduk sambil memperhatikan, adalah pemandangan yang biasa. Tapi karena penasaran seorang teman memperhatikan dengan seksama. Ternyata bapak-bapak yang duduk di belakangnya bukanlah orang tua anak-anak itu, bahkan tak ada hubungan keluarga. Dengan sabar teman itu memperhatikan, dan ketika layang-layang dua anak beradu dan satu putus, bukan hanya sekumpulan anak yang bersorak girang, ternyata sebagian bapak-bapak juga. Tapi sebagian lain tertunduk lesu dan setelah itu ternyata bapak-bapak yang lesu, membuka dompet dan menyerahkan sejumlah uang pada bapak-bapak yang bersorak. Ternyata permainan layang-layang dijadikan ajang perjudian.

Kejelian teman itu melihat apa yang terjadi di sekitarnya adalah salah satu contoh yang disebut investigasi. Bermula dari rasa penasaran, terus mempertanyakan, tahan dan sabar mengamati hingga kemudian diperoleh “kabar” besar, yaitu Judi Lewat Adu Layang-Layang. Berita ini menjadi menarik apabila dikaitkan dengan pernyataan pihak kepolisian yang merasa sudah mampu memberantas perjudian. Namun ternyata ketika satu moda judi dilarang, para penjudi selalu mempunyai akal untuk meneruskan kesenangannya bahkan lewat cara yang tidak terduga sebelumnya. Penjudi selalu punya cara, melakukan apa yang belum atau bahkan tidak terpikirkan oleh polisi. Rasa ingin tahu atau penasaran akan membuat kita tertarik pada sesuatu hal. Ketertarikan akan memancing kita mencari atau menggali informasi lebih dalam dan hasilnya terkadang sesuatu yang mengejutkan. Persis sama dengan para pecinta fotografi macro yang kerap terkejut melihat hasil jepretannya.

Dr. Ron Ross penulis Handbook for Citizen Journalist menuliskan enam sifat yang harus dimiliki oleh seorang pewarta warga, yaitu :
  1. Sikap Penasaran. Seorang jurnalis harus memelihara sikap ini sehingga terus siaga dan siap menggali cerita baru. Penasaran adalah darah seorang jurnalis.
  2. Peka atau Sadar Situasi. Menaruh perhatian pada apa yang terjadi disekitarnya. Pasang mata, telinga dan hati agar tidak terjebak pada peristiwa-peristiwa besar saja.
  3. Ahli bertanya. Seperti  jurnalis pada umumnya selalu berpegang pada 5 W dan 1 H. Tapi jangan hanya puas sampai disitu saja, terus lengkapi kalau perlu dengan 1 S (solution).
  4. Pendengar yang baik.  Memperhatikan dan menyimak dengan baik apa yang dikatakan baik secara tersurat maupun tersirat. Jangan karena terlalu bersemangat untuk bertanya sampai tak memperhatikan uraian atau jawaban dari yang ditanya.
  5. Berpikir kritis.  Yang dimaksudkan dengan kritis adalah tidak percaya begitu saja apa yang disampaikan orang. Selalu dipertanyakan sehingga jelas apakah yang dikatakan itu jawaban yang jujur, opini atau bahkan propaganda.
  6. Ahli kisah. Apa yang pertama harus direbut oleh jurnalis warga adalah perhatian pembaca, untuk itu berita yang disajikan mesti menarik.  Menarik baik dari sudut pandang, kaitan dengan kejadian lain (konteks dan sintesis), sederhana, ringkas dan jelas serta dituturkan dengan runtut (lancar dan mengalir). Membuat gambaran atau ilustrasi, untuk menyampaikan fakta agar tidak terdengar rumit.

Sekali Lagi : Tanya Kenapa?
Dalam modul in house training untuk calon jurnalis harian Kompas, yang pertama-tama ditekankan adalah sikap kritis, atau bahkan disebut dengan gaya jurnalisme skeptis. Selalu mempertanyakan sampai mendapat bukti yang meyakinkan. Andai bertanya jangan cepat puas dengan jawaban narasumbernya, seorang jurnalis adalah penyaji informasi yang terbaik untuk para pembacanya. Termasuk di dalamya adalah kegigihan untuk memburu narasumber yang penting. Kejar terus meski dia menolak,  berhenti jika sudah lebih dari tigabelas kali berusaha ( itu kenapa ada ujaran : celaka tiga belas).

Apa yang dikejar oleh jurnalis adalah fakta dan batu uji atas fakta adalah sikap kritis yaitu tidak begitu saja percaya melainkan melakukan cek atau validasi atas fakta yang diungkapkan itu. Layaknya anak-anak muda, saat ada lawan jenis yang bilang sayang, janganlah langsung diterima atau percaya. Cek dulu apakah dia sayang karena tertarik pada kita atau hanya ingin memanfaatkan apa yang kita punya. Berpikir kritis perlu diasah dan dibiasakan. Terlalu banyak godaan yang membuat kita menjadi tidak waspada. Banyak sekali sumber berita yang mampu “berakting” sehingga kita bisa bertekuk lutut, tahkluk dan percaya begitu saja apa yang dinyatakannya.

Maka berlatih untuk berpikir kritis harus terus dilakukan agar kemudian terbiasa dan konsisten menerapkannya dalam berbagai situasi. Leonard Downie, Jr dan Miceal Sculdson dalam Columbia Jurnalism Review memberikan panduan lima teknik berpikir kritis, yaitu :
  1. Fokus pada menggali seba, hindari jebakkan untuk berhenti pada gejala yang kelihatan (symptom).
  2. Cek, timbang dan reka ulang bukti-bukti yang dikumpulkan.
  3. Kenali para pemangku kepentingan (stakeholder).
  4. Selalu gunakan pertanyaan untuk menggali yaitu “Mengapa”.
  5. Selalu menguji ulang kesimpulan.

Selalu mempertanyakan dan tidak mudah percaya itu adalah inti dari jurnalisme kritis. Pewarta warga mesti menjaga sikap ini agar bisa berarti, menjadi penyambung suara masyarakatnya sendiri. Berharap kepada media mainstream untuk melakukan hal ini selalu tidak memuaskan. Sebuah institusi media selalu mewakili banyak kepentingan dan tidak selalu masyarakat menjadi yang utama.  Selain sikap yang selalu meragukan (mempertanyakan), tidak percaya begitu saja, seorang pewarta warga juga berlaku seperti detektif, tekun mengumpulkan potongan-potongan fakta, sekecil apapun. Seorang detektif ulung mampu mengenali seseorang itu kidal atau tidak dari puntung rokok yang ditemukannya. Pewarta warga bekerja secara mandiri, maka perlu benar-benar menelaah fakta atau bukti yang diperoleh. Tak perlu tergesa-gesa, konfirmasikan kembali apa yang belum jelas kepada pihak yang berkompeten. Agar informasi menjadi valid, pada pokok-pokok yang mempunyai bukti pendukung atau referensi, maka semua itu harus disertakan dan diperhatikan sedari awal.

Jurnalis warga adalah penyampai berita, ingat berita bukanlah opini. Sebab berita menyajikan informasi sementara opini berisi persuasi atau argumentasi. Berita selalu mempunyai banyak sudut pandang sementara opini hanya menyampaikan sudut pandang narasumbernya sendiri. Dalam berita yang berbicara adalah fakta sementara opini berisi argumentasi. Penulis berita melepaskan diri, subyektifitas dan personalitasnya dari berita yang ditulisnya.

Menggali Issue : Berita Bisa Datang Darimana Saja.
Informasi datang dari mana saja, kita sekarang bahkan seperti ditimbun oleh gunungan informasi (overload). Semua bersaing untuk menjadi yang terdepan dalam memberikan informasi pertama dan eklusif. Media mainstreams berlomba untuk menyajikan berita langsung/real time. Bukan hanya televisi dan radio, melainkan juga media cetak lewat situs beritanya. Resikonya adalah informasi yang disampaikan menjadi dangkal, tidak punya konteks dan hanya mampu menangkap unsur yang dilihat oleh pewartanya saat itu. Berita menjadi tidak lengkap atau hanya mewakili penggalan fakta. Ini merupakan peluang bagi pewarta warga, untuk menyajikan berita yang lebih awet dengan cara menulis berita yang lebih dalam dan tidak dikejar oleh deadline.

Pewarta warga tidak perlu takut bersaing atau ketinggalan berita dengan para jurnalis profesional. Percayalah bahwa berita ada di mana saja, bahkan tanpa meninggalkan rumah, sesungguhnya pewarta warga tetap bisa menyajikan berita yang tak kalah dengan jurnalis profesional. Untuk melakukan penelusuran berita agar menjadi lebih dalam, pewarta warga bisa menggunakan teknik sebagaimana yang dipakai jurnalis profesional, yaitu :
  1. Penelusuran berita di media. Media massa adalah sumber berita andai kita mampu menggali secara lebih dalam. Banyak berita hanya ditulis sekilas atau dalam sudut yang terbatas, semua itu masih bisa ditindaklanjuti. Berita yang dangkal bisa diberi konteks sehingga lebih menarik dengan tambahan data baru atau dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa lainnya.
  2. Studi dokumen. Kebanyakan jurnalis profesional/media mainstreams tak cukup punya waktu untuk melakukan studi atas dokumen. Mereka kerap dituntut untuk menghasilkan berita yang cepat (harian). Hasil riset, dokumen laporan tahunan, dokumen anggaran daerah dan lain sebagainya adalah sumber berita yang menarik apabila di analisa dengan baik.
  3. Menggali informasi dari narasumber atau wawancara. Berita yang baik adalah yang bersuara. Maka sumber berita menjadi penting, terutama dari sisi kompetensi dan relevansi. Wawancara yang cukup pada orang yang tepat akan memperkuat berita.
  4. Browsing di internet. Internet merupakan sumber berita yang tiada batasnya. Banyak tersedia data dan narasumber di internet. Mulai dari situs web, blog sampai microblogging atau jejaring sosial.
  5. Observasi lapangan. Setiap kita keluar rumah dengan kesadaran akan lingkungan sekitar maka akan selalu menjadi kegiatan lapangan karena kita melihat, mendengar, berada dan merasakan apa yang terjadi di sekitar kita.Dengan menggunakan keseluruhan indera, kita akan mampu mengumpulkan banyak bahan untuk menjadi berita.

Menulis Berdasar Pemberitaan Media
Jurnalis warga pada mulanya adalah konsumen berita, yang kemudian menjadi seorang produsen. Pada mulanya memang banyak jurnalis warga yang hanya meng-coppy paste berita media mainstreams untuk di upload ke blog atau situs tertentu. Namun kini semakin banyak jurnalis warga yang bertindak sama dengan jurnalis profesional, memproduksi berita sendiri, meski berdasar berita-berita di media mainstreams. Berita di media massa memang bisa menjadi sumber atau inspirasi pemberitaan pewarta warga. Dengan cara ditulis kembali lewat sudut pandang yang berbeda, atau didalami dengan data dan fakta-fakta lain yang belum disertakan.

Sumber berita tidak selalu dari media mainstreams, melainkan juga dari media sosial yang kini bertebaran di mana-mana. Bahkan kini bukan hal yang aneh apabila apa yang diangkat di media sosial kemudian muncul dan menjadi besar di media mainstream. Kicauan Tifatul Sembiring di account twitternya berkali-kali menjadi bahasan panjang di media mainstreams. Demikian juga kasus Prita yang awalnya beredar dalam millis. Kasus Bibit dan Chandra memperoleh sudut pandang lain dengan geliat yang luar biasa di facebook. Ibaratnya media sosial yang mengaum dan kemudian media mainstream yang mencakar.

Kini bahkan muncul istilah “desktop journalism”, sebuah istilah untuk menyebut para pewarta yang menghasilkan berita tanpa beranjak dari kursi di rumahnya. Informasi digali melalui komputer dengan sambungan internet. “Googling” demikian istilah untuk menyebut pencarian bahan atau sumber melalui mesin pencari google. Komputer (sekarang bisa saja HP, BB, IPAD, dan lain-lain) yang terkoneksi dengan internet mampu menjadi perangkat yang memungkinkan kita menggali informasi, kunjungan lapangan dan wawancara. Banyak situs bukan hanya menyajikan informasi berupa teks, melainkan juga audio visual yang memungkinkan kita melihat kawasan atau obyek tertentu seperti layaknya kita berkunjung kesana. Aplikasi yang memungkinkan kita untuk melakukan wawancara atau komunikasi langsung dengan narasumber juga banyak, seperti Yahoo Mesengger, Googletalk, Skype, Facebook (chat) dan lain-lain. Dengan meng-add atau follow tokoh tertentu, kita bisa mulai berkomunikasi dengannya andai dia berkenan dan punya kesempatan online pada saat yang sama.

Dengan fasilitas sambungan internet yang semakin cepat dan kuat sumber berita di internet semakin luas pula. Kini mulai bermunculan siaran radio dan televisi online. Berbeda dengan siaran radio dan televisi pada umumnya, kita bisa memilih berita atau program yang kita perlukan (playlist). Semua kemungkinan ini membuat kegiatan mengumpulkan bahan pemberitaan melalui internet menjadi lebih mudah dan efisien.

Mengkaji Dokumen atau Pustaka
Banyak lembaga, sebut saja salah satu contohnya adalah LSM yang mempunyai dokumen-dokumen laporan kegiatan atau studi namun tersimpan di rak atau almari. Dokumen seperti ini merupakan bahan atau sumber berita yang menarik. Dokumen yang bisa dipelajari kemudian ditulis lagi menjadi berita tentu saja tidak terbatas yang ada di LSM, melainkan juga di lembaga pemerintah dan perusahaan swasta. UU Kebebasan Informasi Publik membuka peluang kepada siapapun untuk mengakses informasi di lembaga-lembaga pemerintahan atau lembaga lain yang mendapat pembiayaan dari publik.

Untuk yang mengemari penulisan investigatif, kini di internet muncul situs-situs yang mengunggah dokumen-dokumen yang peredarannya terbatas ke internet. Salah satu yang populer dan kerap menguncang adalah wikileaks. Dokumen yang diunggah ke internet umumnya bisa dimanfaatkan secara gratis dengan demikian siapa saja bebas untuk memanfaatkannya.

Selain dokumen di lembaga tertentu dan internet, kita juga bisa memanfaatkan dokumen yang ada di perpustakaan. Umumnya perpustakaan menyediakan dokumen-dokumen hasil riset atau penelitian. Andai itu tidak tersedia, banyak hasil penelitian yang telah dibukukan. Maka kita bisa membaca buku itu untuk mempelajari dan memperoleh informasi yang menjadi bahan tulisan atau berita kita. Di perpustakaan juga tersedia berbagai macam jurnal yang memfokuskan pada bidang tertentu. Jurnal umumnya memuat karya-karya ilmiah yang merupakan hasil penelitian atau kajian dari orang-orang yang mempunyai kompetensi tinggi atas disiplin ilmu tertentu.

Dokumen dari perusahaan atau sektor swasta juga merupakan bahan  penulisan berita. Setiap perusahaan (terutama perusahaan publik) akan menerbitkan laporan tahunan. Biasa mereka membagikan dalam expo atau pameran tertentu. Namun kita juga bisa mengakses dari situs atau web perusahaan. Sebagian besar laporan tahunan bisa di download dalam format pdf.

Berita yang merupakan hasil kajian atas dokumen tidak banyak tersedia baik di media mainstream maupun blog jurnalis warga. Padahal kajian dokumen anggaran pembangunan misalnya pasti akan menarik bagi banyak pihak. Selain itu lewat kajian dokumen APBD misalnya kita bisa mendidik masyarakat pembaca untuk kritis terhadap penggunaan anggaran publik dan mungkin saja bisa membongkar skandal atau penyelewengan anggaran sejak dini. Berkaitan dengan dokumen untuk bahan penulisan, jurnalis warga juga terikat oleh kode etik menyangkut cara mendapatkan dokumen itu. Dokumen yang akan dianalisa hendaknya diperoleh dengan cara yang sah atau legal, dokumen yang akan digunakan hendaknya bukan dokumen curian. Prinsipnya perbuatan atau niat baik harus menggunakan cara yang baik pula.

Wawancara : Bukan Sekedar Nanya-Nanya
Cara yang paling mudah dan aman untuk memperoleh bahan berita adalah dengan melakukan wawancara atau perbincangan dengan orang tertentu yang kompeten untuk pokok yang akan kita tulis. Untuk jurnalis warga mungkin lebih sulit menemui narasumber yang merupakan tokoh pemerintah atau politik. Sebab kedudukan jurnalis warga mungkin dipandang kurang seksi oleh para narasumber tersebut.  Selain kesulitan itu , dalam wawancara kerap kali narasumber tidak mau memberikan informasi yang kita butuhkan dan kita tidak bisa memaksanya.

Jika kita perlu melakukan wawancara maka yang pertama ditentukan adalah apa tujuan wawancara itu, pokok-pokok apa yang hendak diketahui. Dari tujuan itu maka tentukan point-point utama yang menjadi pertanyaan.  Panduan pertanyaan ini penting, agar jika kesempatan wawancara tersedia maka tidak ada hal terlewatkan sehingga kita perlu kembali mewawancarai narasumber dengan kemungkinan dia menolak atau kurang senang. Penting juga untuk mempersiapkan peralatan yang membantu kita mendokumentasikan wawancara secara efektif. Misalnya alat tulis dan alat perekam suara, serta kamera jika kita perlu mendapatkan fotonya.

Wawancara bisa dilakukan dimana saja, tetapi akan lebih baik jika dilakukan di tempat yang nyaman untuk narasumber dan tidak banyak gangguan di sekitarnya. Situasi yang nyaman akan membuat wawancara menjadi lancar, mengalir layaknya obrolan biasa saja. Sebagai pewawancara, kita harus sabar mendengarkan uraian narasumber, biarkan moodnya berkembang. Jangan sering memotong karena mengejar point-point yang hendak kita tanyakan. Perbincangan yang hidup justru sering menghasilkan pengakuan-pengakuan yang tak terduga sebelumnya. Terlalu terpaku pada daftar pertanyaan akan membuat pembicaraan kaku dan kering.  Lama kelamaan kita dan narasumber bisa sama-sama bete.

Jaga irama atau ritme wawancara, sesekali perlu diajukan pertanyaan yang agak nakal atau nyeleneh agar karakter asli narasumber muncul.  Tidak perlu takut dimarahi atau bahkan diusir oleh narasumber, itu adalah bagian dari resiko menggali bahan berita. Namun kalau itu terjadi minta maaf sesudahnya. Pada persoalan tertentu, kerap kali narasumber menyembunyikan sebagian informasi. Mainkan trik tertentu, misalnya katakan kita pingin informasi yang lebih, tapi tidak akan dicatat atau direkam, kepentingannya agar kita bisa menulis berita dalam konteks yang lebih baik.

Menyangkut informasi hasil wawancara, kita harus memperhatikan kode etik dalam arti meminta ijin atau memberitahukan sejak awal bahwa hasil wawancara ini akan kita publikasikan. Kita harus menghormati catatan dari narasumber menyangkut hal-hal tertentu yang misalnya dia menginginkan agar tidak dipublikasikan. Dan sebagaimana yang berlaku di media mainstreams, nama-nama pelaku kejahatan, korban kejahatan atau orang-orang yang harus dilindungi, harus disamarkan demi kepentingan tertentu.

Observasi Lapangan : Lihat, Tinggal dan Rasakan
Sebagaimana tulisan yang lain, berita yang baik adalah yang punya roh atau ditulis dengan segenap indera. Datang atau hadir di tempat kejadian untuk melakukan liputan lapangan adalah cara yang terbaik agar bisa memperoleh data dan fakta untuk menyusun tulisan berita. Berbagai jenis informasi bisa ditemukan di lapangan, fakta kejadian, gambar atau rekaman peristiwa, wawancara dengan aktor/narasumber utama dan orang lainnya. Kita juga bisa melakukan pengamatan yang akan memperkaya baik konteks maupun pengambaran dalam tulisan kita.

Deskripsi atau penggambaran peristiwa dalam berita amatlah penting. Berita tulispun bisa hadir layaknya layar televisi apabila kita mampu mendeskripsikan peristiwanya dengan baik. Deskripsi yang baik akan mampu menyentuh indera pembacanya, seperti ikut merasa, mendengar, melihat atau mengalami kejadian. Mood atau suasana bisa dihadirkan dalam sebuah tulisan sehingga berita terasa berirama. Meski kamera televisi bisa meghadirkan detail visual, namun tetap punya keterbatasan yaitu frame atau cara pandang juru kamera sehingga berpotensi untuk menghasilkan bias atau potongan peristiwa yang tidak lengkap. Itulah kenapa berita tulis masih tetap bisa bersaing dengan berita gambar.

Dengan hadir secara utuh di lapangan kita akan bisa menuturkan peristiwa dengan detail serta kemungkinan sudut pandang yang beragam atau yang tidak tertangkap orang lain. Dengan demikian berita menjadi khas, berbeda dari yang dituliskan oleh orang lainnya. Oleh sebab itu kunjungan lapangan selalu penting untuk dilakukan. Selain memperkaya bahan dan warna informasi, kita juga bisa melakukan validasi, menge-cek data atau informasi yang kita peroleh dari sumber lain dengan kondisi sesungguhnya di lapangan. Apa yang tetap dan apa yang berubah, dengan demikian kita bisa meng-update informasi.

Sama dengan kegiatan lainnya, kunjungan atau observasi lapangan perlu dipersiapkan dengan baik. Lengkapi diri peralatan yang diperlukan, informasi kontak atau sumber-sumber yang bisa membantu disana dan juga pertimbangan soal resiko yang mungkin timbul apabila daerah yang kita datangi ada dalam kondisi yang bergolak atau tak mudah menerima kehadiran orang luar. Pertimbangan juga soal waktu berdasarkan akses transportasi kesana, apakah mudah atau tidak, perlu menginap atau tidak. Semua perlu dipertimbangkan agar kita tidak menjatuhkan diri dalam kesulitan akibat ketidaksiapan.

Selamat, Anda Adalah Pewarta
Menjadi pewarta sejatinya adalah fitrah setiap manusia. Kita selalu ingin membagi apa yang kita peroleh pada orang lainnya. Informasi akan berguna apabila kita sebarkan dengan tujuan masing-masing. Entah untuk membuat orang lain mendapat pengetahuan atau pemahaman baru, memperoleh penghiburan, mendapat semangat atau inspirasi baru atau merasa mendapat perhatian serta dukungan karena kepedulian dari orang yang lainnya. Pewarta warga telah membuktikan dalam banyak peristiwa, bahwa apa yang dibagikan olehnya secara sukarela telah mendatangkan manfaat untuk orang-orang tertentu.

Meskipun pewarta warga bertindak atas dasar volunterism tidak berarti melupakan kaidah dan norma-norma jurnalistik pada umumnya. Dalam pemberitaan isi tidak dibedakan sebagai amatir atau profesional, sebab yang dijunjung adalah kebenaran. Pewarta warga tetap dituntut bertindak “profesional” dalam melakukan proses dan tahapan pemberitaan. Sebab berita bukan sekedar rangkaian kata-kata belaka melainkan juga mampu memberikan dampak kepada masyarakat pembacanya. Berita yang tidak benar akan meresahkan atau bahkan membahayakan.

“Setiap warga adalah pewarta (journalist)” begitu motto dari situs “ohmynews.com” dari Korea Selatan. Dengan motto itu situs pewarta warga ini mampu menempatkan diri menjadi media online terpercaya dengan tingkat kunjungan (hit’s) yang sangat tinggi mengalahkan situs-situs berita lainnya. Dengan berpijak pada prinsip-prinsip jurnalisme yang benar ternyata pewarta warga mampu menyajikan berita yang berkualitas dan menjadi bahan rujukan.

Berita yang baik bukan lahir dari ilmu atau pengetahuan sang jurnalis belaka, melainkan dari keingintahuan yang besar, ketekunan mengumpulkan serpihan fakta, memberi warna dan konteks atas fakta-fakta itu sehingga menjadi informasi yang berguna. Menjadi seorang yang terbuka, gemar berkomunikasi dengan siapa saja, mencatat hal-hal yang menarik dan rela mendengarkan suara orang lain adalah sikap yang harus terus dipupuk oleh siapapun yang ingin menjadi pewarta warga. Berita kita akan bermakna bukan karena seberapa banyak dan seberapa sering kita mengikuti pelatihan jurnalistik atau penulisan berita. Sikap adalah yang paling utama dan ketekunan untuk terus menulis berita. Hanya dengan menulis dan menulis, seorang pewarta warga bisa membangun kompetensinya dan bersaing dengan jurnalis profesional.

Banyak ruang yang masih tersedia bagi kita untuk mulai menjadi seorang pewarta warga. Kita bisa memilih untuk mulai menekuni berita-berita yang tidak dilirik atau dianggap kurang seksi oleh media mainstreams. Tak perlu ikut-ikutan mengangkat apa yang sudah diberitakan oleh media mainstreams agar kita mencapai tingkatan seperti mereka. Banyak problem atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat marjinal yang belum mempunyai ruang yang layak di kolom atau rubrik media mainstreams, kenapa kita tidak mengambil wilayah itu?. Dengan kata-kata kita bisa berarti untuk dunia. Banyak kejadian bisa membuktikan bahwa kata-kata mampu menjadi pemantik untuk meretas perubahan di dalam masyarakat menuju kondisi yang lebih baik.

Batu Lumpang, 6 Juli 2011
Salam Kata Kita
@yustinus_esha

Bermedia Secara Sehat : Mengasah Otak Dengan Berita

0 komentar

Agar pikiran senantiasa sehat, otak harus senantiasa digunakan. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengasah otak secara terus menerus adalah menulis. Karena pada saat menulis kita akan mendayagunakan keseluruhan kemampuan kerja otak untuk berpikir dengan cara mengingat atau mengeluarkan yang kita ketahui (alami, dengar, lihat, dll), mempertimbangkan, membanding-bandingkan atau menganalisa, menyusun sebuah kerangka yang logis (berlogika), memutuskan dengan alasan, menyimpulkan dan lain sebagainya. Otak bagaikan mesin, apabila tidak selalu digunakan akan menjadi lelet atau kurang lancar kinerjanya.

Otak yang selalu diasah akan menghasilkan pemikiran yang tajam dan dalam. Tulisan yang dihasilkan oleh pemikiran yang tajam dan dalam akan mempunyai pengaruh atau dampak pada siapapun yang membacanya. Kata-kata yang terangkai ibarat pedang yang tajam menghujam ke jantung kesadaran, atau silet yang mampu mengiris-iris perasaan. Pada sisi lain juga karena kedalamannya mampu menjadi air yang menyejukkan, angin yang membuai dan pelukkan yang menghangatkan.

Ada banyak hal yang bisa dituliskan agar kita bisa secara terus menerus mengasah pikiran melalui karya tulis. Sekali lagi setiap orang adalah unik, maka pandangan atau cara melihat (point of view) terhadap sesuatu hal akan berbeda-beda. Oleh karenanya sebuah tema akan bisa terus menerus diproduksi atau direproduksi dengan banyak sudut pandang dan tetap menarik seta relevan untuk disajikan. Meski demikian masih banyak orang yang kebingungan ketika diminta atau ingin menulis. Ide tidak mudah untuk datang dan ketika ditunggu ternyata tak muncul juga. Menulis adalah aksi yang aktif, menunggu datangnya ide atau ilham sering kali identik dengan membuang-mbuang waktu dengan sia-sia. Atau sebenarnya kita tengah berdamai dengan kemalasan.

Menulis Berdasarkan Berita
Cara terbaik untuk terus menerus mendatangkan gagasan atau ide penulisan adalah menulis berdasarkan berita. Setiap hari dihadapan kita tersaji aneka berita baik lewat media cetak (koran dan majalah), elektronik (televisi dan radio), pesan instan (SMS dan BBM) maupun dotcom (situs berita dan jejaring sosial). Apa yang tersaji lewat semua moda komunikasi dan informasi di atas menyediakan banyak bahan untuk dijadikan tulisan
Tulislah mulai dari apa yang kita senangi, begitu kira-kira nasehat kaum bijak. Kalau kita menyenangi dunia gaya hidup (life style) televisi atau majalah menyediakan bahan yang berlimpah ruah. Life style berspektrum luas mulai dari pakaian (mode), musik, pergaulan atau hubungan antar manusia, kuliner, wisata, dunia hiburan, tubuh aksesories, gadget dan lain sebagainya. Dalam tulisan life style biasanya disajikan soal trend/kecenderungan tertentu, yang terkini (up date), tip dan triks, dinamika psikologi pelaku, faktor-faktor pendorong dan lain sebagainya.

Rubrik Parodi di harian Kompas (hari Minggu) adalah salah satu contoh tulisan life style yang secara rutin ditulis oleh Samuel Mulia. Tema yang banyak itu bisa diperluas dengan melakukan segmentasi baik berdasarkan umur, kelas sosial, geografis maupun tingkat pendidikan. Moammar Emka dengan Jakarta Undercover, menguak gaya kelompok tertentu dalam dunia hiburan malam termasuk perilaku seksual mereka. Penglihatan atas fenenomena ini bisa diperluas lagi lewat gaya penulisan. Moamaar Emka misalnya menulis seperti dia melihat semua itu, terlibat di dalamnya entah sebagai “pengintip” atau bahkan pelaku. Sementara Wahyudin dalam bukunya berjudul Pengakuan Pelacur Jogya menempatkan diri sebagai seorang pendengar yang baik. Dia membiarkan mucikari dan anak-anak asuhnya menceritakan dirinya, menyanyikan atau menuturkan “Parikan” secara lepas. Ridho “Bukan” Rhoma menceritakan apa yang dilihat, didengar, dialami dan dibaca tentang perilaku seksual berbagai kelompok dalam buku Jogja Edan, Bro. Ada juga Adre Syahreza, yang menuliskan laporan jurnalistik secara mendalam tentang perilaku manusia Jakarta dalam buku The Innocent Rebel : Sisi Aneh Orang Jakarta dan kemudian disusul dengan Black Interview.

Barangkali kita tidak bisa seintens atau terlibat dalam apa yang kita amati seperti mereka-mereka itu. Namun dengan menyimak berita-berita di televisi maupun media cetak terutama dalam kolom atau program yang berkaitan dengan gaya hidup, akan ada banyak hal yang bisa kita tuliskan. Lewat rubrik atau program infotainment kita bisa menyaksikan berbagai polah kaum selebritas. Konflik dan perseteruan, trik dalam mempertahankan popularitas termasuk ideologi apa yang mendasari karya-karya mereka. Konflik antara kelompok dangdut sealiran Rhoma Irama dengan Inul Daratista serta pengekornya ditulis dengan sangat bagus oleh Farukh HT dalam sebuah artikel berjudul “Biarkan Kami Bergoyang”.

Tingkah polah atau perilaku yang juga selalu menarik adalah yang ditampilkan lewat berita-berita politik (politisi). Berita seputar politik dan politisi di media masa ibarat sumber yang tak pernah kering meski kemarau panjang sekalipun. Banyak sekali tulisan yang lahir atas dasar amatan tingkah dan polah para politisi baik secara institusional maupun personal. Kemungkinan temanya menjadi sangat luas karena kita bisa bermain dari sudut persepsi masyarakat atas apa yang dilakukan oleh kaum politisi. Satjipto Wirosardjono, Sukardi Rinakit, Budiarto Shambazy merupakan contoh yang baik untuk belajar bagaimana menuliskan tema yang berkaitan dengan dunia politik secara populer. Sementara Burhanudin Murtadi dan Eep Syafulloh Fattah secara memikat mampu melahirkan tulisan-tulisan atas dasar riset persepsi publik. Sementara dengan gaya yang lebih liar dan imajinatif, kita bisa belajar dari AS Laksana.

Persoalan lain yang tidak kalah menariknya adalah korupsi. Setiap hari kita selalu dikejutkan oleh berbagai drama yang berkaitan dengan tema ini. Banyak kejutan, sesuatu yang tidak terduga atau bahkan kita tidak pikirkan sama sekali ternyata bisa terjadi. Tema tentang korupsi justru berpotensi dekat dengan kita, barangkali ada sosok yang kita kenal sebab berita-berita di tingkat lokal juga tak kurang banyaknya. Fenomena berkaitan dengan hal ini terjadi di depan kita. Kalau kita masih ingat misalnya dalam kasus Suwarna AF, di berbagai penjuru muncul spanduk-spanduk bertuliskan kata-kata yang memintanya keluar dari Kaltim. Atau ketika Bupati Kutai Kartanegara Syaukanie HR tersangkut kasus korupsi, banyak sekali drama tersaji di hadapan kita. Bukan hanya spanduk dan baliho saja melainkan juga munculnya berbagai posko-posko dukungan untuknya. Dan itu sampai melintasi wilayah Kutai Kartanegara.  Yang terakhir dan mungkin masih segar di ingatan kita adalah hujan spanduk yang menghujat perilaku penegak hukum (kejaksaan) saat Irianto Lambrie, Sekretaris Daerah Propinsi Kaltim ditetapkan sebagai tersangka korupsi.
Daftar tema yang bisa diangkat dari sajian media masih terus bisa diperpanjang. Bahkan kalau kita punya kecenderungan analitik, gaya pemberitaan juga merupakan sumber yang bisa kita terus gali. Gaya atau model pemberitaan pada masing-masing media bisa merupakan tema tulisan yang menarik. Tulisan dengan model seperti ini penting, baik untuk memberi pandangan kritis pada media dan mendidik konsumen media untuk tidak terjebak dalam gaya pemberitaan. Bukankah kita menyaksikan bahwa berkali-kali masyarakat terguncang oleh pemberitaan dan bahkan ada yang mengambil langkah keliru atau merugikan karena pemberitaan.

Dokumentasi dan Pendalaman
Untuk menuliskan tema-tema yang kita ambil dari pemberitaan tentu saja tidak berbeda dengan penulisan sebagaimana umumnya. Ketika sudah menentukan atau mengambil pilihan perihal apa yang hendak kita tulis, langkah berikutnya adalah mengumpulkan bahan. Yang paling umum dilakukan adalah dengan mendokumentasi pemberitaan itu. Untuk media cetak bisa kita kliping secara tematis. Sementara untuk media elektronik atau radio, bisa kita buat catatan, sebab untuk mendokumentasi dalam bentuk rekaman butuh sumberdaya yang besar atau merepotkan.

Rumit dan buang waktu, bisa jadi kita akan berpikir begitu. Jangan khawatir ada cara lain yang tak kurang efektifnya yaitu dengan mengumpulkan bahan melalui internet. Hampir keseluruhan media cetak mempunyai situs pemberitaan dan biasanya berita yang berkaitan sudah dihimpun atau diindeks dalam kluster tertentu sehingga mudah bagi kita untuk membaca urutan-urutannya. Jadi bukalah internet dan ambil pokok-pokok yang kita perlukan atau baca-baca agar kita mempunyai kerangka dan konteks dalam melakukan penulisan.
Internet juga merupakan sarana sekaligus pustaka untuk melakukan pendalaman atas pokok-pokok yang hendak kita angkat. Dengan menuliskan kata kunci melalui mesin pencari, kita bisa mendapatkan bahan bacaan (pustaka) yang berguna untuk memperdalam tulisan kita. Tentu saja butuh kejelian dan ketrampilan untuk mengorganisasikan bahan-bahan itu. Sebab internet adalah ruang terbuka sehingga kita mesti selektif dan memperhatikan akurasi informasinya.

Tulisan yang didasarkan pada pemberitaan selalu memerlukan analisa atau perbandingan baik menyangkut urutan kejadian, perubahan dari waktu ke waktu, kaitan dengan isu yang lain dan sebagainya. Maka diperlukan riset kecil-kecilan untuk pendalaman agar tulisan semakin kaya dan berbeda dengan tulisan lain yang mengambil pokok pada persoalan serupa. Salah satu cara yang termudah adalah dengan mendiskusikan atau memperbincangkan pokok itu dengan teman-teman kita. Dari diskusi itu kita bisa menarik point-point apa yang menarik, apa pendapat atau persepsi orang lain tentang pokok persoalan itu. Catat semua itu dan kemudian susun dalam lembar gagasan sebagai panduan penulisan.

Internet juga merupakan sarana untuk melakukan riset secara mudah. Ketik pokok, tema atau kata kunci kita di mesin pencari. Pusatkan perhatian pada 10 situs pertama yang muncul dalam mesin pencari. Cermati isinya, siapa yang bicara, bagaimana nadanya (positif, negatif atau netral) dan point-point apa yang paling menarik, banyak disebut atau diulang. Dari analisis ini kita bisa menghasilkan kesimpulan atau tawaran-tawaran tertentu andai pokok yang kita angkat adalah problem atau persoalan yang mesti diatasi secara bersama.
Salah satu gaya yang tidak banyak dilirik adalah profil. Kebanyakan orang berpikir bahwa itu hanya ditulis oleh jurnalis untuk mengisi rubrik pokok dan tokoh. Padahal profiling atas orang tertentu bisa ditulis oleh penulis non jurnalis dan bukan untuk kepentingan pemberitaan. Kita bisa menuliskan rekam jejak seseorang untuk berbagai kepentingan. Dan andai orang itu adalah orang terkenal namun kita tidak mengenalnya atau tak punya akses untuk mendapat informasi langsung darinya maka sekali lagi riset profiling bisa dilakukan melalui internet.

Pada akhirnya tulisan ini hanya mau mengatakan bahwa kita tak perlu menunggu datangnya sebuah ide untuk memulai tulisan. Di hadapan kita setiap hari tersaji berbagai macam berita menyangkut berbagai hal yang bisa dijadikan sumber atau bahan untuk membuat tulisan. Dengan duduk manis di hadapan televisi kita bisa memunggut serpihan-serpihan peristiwa untuk kita rangka menjadi sebuah tulisan yang menyehatkan pikiran dan mendayagunakan otak. Dengan demikian kita telah turut mengembangkan perilaku bermedia, bertelevisi dan berinternet secara sehat.

Batu Lumpang, 4 Juli 2011
Salam Sehat
@yustinus_esha

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

 
BORNEO MENULIS © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum